Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-89


__ADS_3

"Ah, benar juga. Bagaimana dengan pelayan itu? Kapan kau akan menyerahkannya padaku?"


Di tengah jalan, Xika teringat kembali dengan pelayan wanita yang selalu menghinanya. Ia ingin tahu bagaimana ekspresinya sekarang.


"Ki-kira-kira beberapa hari lagi prosesnya akan selesai."


Xika mengerutkan keningnya mendengar jawaban Gong Tao.


"Beberapa hari? Kudengan Paviliun terkenal akan kecepatan dan efisiensinya. Sepertinya aku salah lagi."


Xika mendesah kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"A-ah! Apa tadi saya bilang beberapa hari? Sepertinya saya salah bicara. Maksud saya satu hari. Besok Tuan Muda Xing dapat membawa pelayan itu."


Xika mengangguk-angguk dengan wajah yang berkata 'lumayan.'


"Satu lagi. Kau memberikannya padaku sebagai pelayan atau sebagai budak? Kalau sebagai pelayan, berapa gaji yang harus kubayar?"


Gong Tao terdiam. Ia menjawab setelah beberapa saat berpikir.


"Mengenai hal itu, kami akan mendiskusikannya terlebih dahulu. Kami akan memberitahu Tuan Muda besok."


"Baiklah. Sampai jumpa."


Xika melangkah pergi. Tapi baru dua langkah, ia sudah berhenti dan berputar membuat Gong Tao bingung.


"Kudengar Paviliun tidak hanya menjual barang."


Raut muka Gong Tao berubah menjadi lebih serius. Ini bukan masalah biasa. Ia bertanya dengan hati-hati,


"Apa yang Tuan Muda maksud?"


"Informasi."


Gong Tao diam.


"Ini bukan transaksi biasa. Apa Tuan Muda ingin mencari tahu tentang seseorang selain paman anda? Saya akan membantu sebisa mungkin."


Pandangan Xika menajam. Cukup tajam hingga membuat Gong Tao terkejut dan berpikir apakah ia salah bicara. Xika mendekatkan kepalanya.


"Apa kau tahu yang barusan kau katakan itu mengungkapkan informasi tentang siapa diriku? Rupanya kabar bahwa Paviliun menjaga kerahasiaan anggotanya itu salah."


Gong Tao meneteskan keringat dingin. Kali ini ia benar-benar salah bicara.


"Mohon maaf Tuan Muda. Saya akan pastikan hal ini tidak akan terjadi lagi. Kami berutang tiga kompensasi pada Tuan Muda sekarang."


Xika menatap tajam Gong Tao selama beberapa saat sebelum melangkah pergi meninggalkan Gong Tao yang masih berkeringat dingin.


---------------


Di Makam Tetua Agung tempat Xika tinggal selama setahun........


Terlihat beberapa sosok berjubah. Mereka memeriksa ruangan bawah tempat pertarungan antara Xika dan ketiga ular itu.


Masing-masing berpencar menuju bekas-bekas pertarungan. Mereka menelitinya dengan seksama. Setelah beberapa saat mereka kembali berkumpul. Salah seorang dari mereka yang tampaknya merupakan pemimpin bertanya,


"Bagaimana?"


Sisanya menggeleng.


"Memang sulit diselidiki. Tapi yang pasti ketiganya menemui lawan yang tangguh sampai berhasil memunsnahkan mereka tanpa tersisa."


Mereka semua berasal dari kaum ular. Beberapa memiliki mata kuning yang besar, sementara beberapa mengeluarkan lidahnya yang terbelah menjadi dua meskipun tidak bicara.


Tapi sepertinya mereka salah mengira kekuatan Huo Bing, Xika, dan Heiliao. Sebenarnya mereka bertiga nyaris kalah. Perbedaan antara menang dan kalah cukup tipis. Selain itu, meskipun menang, Tiga Serangkai itu (Xika, Heiliao, dan Huo Bing) tidak memusnahkan ular-ular yang mereka lawan.


Mereka hanya berhasil membunuhnya. Lalu sisa dagingnya dimakan sedikit demi sedikit sampai tidak ada lagi yang tersisa, sementara tulang-tulangnya dimasukkan Xika ke dalam cincin spasial.

__ADS_1


"Bagaimana dengan mayat Tetua Agung?" tanyanya lagi.


Ia mendapat jawaban yang sama, gelengan kepala.


"Tubuh Tetua Agung harusnya tidak bisa dipindahkan dengan mudah. Selain itu harusnya masih ada formasi khusus untuk membangkitkan tubuh dan jiwanya. Kalaupun tubuhnya tidak bisa bangkit, setidaknya akan ada beberapa hewan liar yang datang ke formasi. Dan itu cukup untuk membangkitkan jiwa Tetua Agung. Kenapa aku tidak bisa merasakannya sama sekali?"


Yang lain juga sama bingungnya.


"Sepertinya lawan mereka bukan hanya ahli dalam bertarung, tapi kekuatan pikirannya juga tidak bisa diremehkan."


Ia diam sesaat kemudian berkata lagi,


"Apa kalian menemukan formasi khusus itu?"


Dan jawaban yang didapat adalah gelengan, lagi.


"Cari lagi. Harusnya tidak mungkin formasi itu dihancurkan. Pasti ada jejaknya."


Sisanya mengangguk kemudian mencari jejak formasi itu. Sesekali, sosok si pemimpin akan mendekati anak buahnya dan ikut memeriksa, kalau-kalau anak buahnya melakukan kesalahan.


Kali ini ia berjalan menuju anak buahnya yang sedang berjongkok. Anak buahnya sedang meneliti goresan dari berbagai macam senjata yang berada di tanah.


"Bagaimana?"


Anak buah itu menggeleng. Kemudian ia berkata,


"Sulit diidentifikasi, Tuan. Ada berbagai macam jenis senjata yang digunakan untuk menggores, tapi saya tidak tahu apa saja."


Kening si pemimpin sedikit berkerut.


"Berbagai senjata? Berapa totalnya?"


"Untuk sementara lebih dari empat. Sisanya masih diselidiki tapi sepertinya akan sulit."


Kerutan di wajah si pemimpin masih belum hilang.


"Saya tidak tahu, Tuan."


Si pemimpin berpikir sebentar. Kemudian ia berkata,


"Sudahlah, tinggalkan saja. Mungkin saja lawan mereka gila karena terlalu senang berhasil membunuh kaum ular. Cari di tempat lain."


Anak buahnya mengangguk kemudian melangkah ke tempat lain. Sementara si pemimpin masih menatap goresan-goresan itu. Setelah beberapa saat, iapun melangkah pergi karena tidak berhasil mendapati sesuatu.


Tanpa sadar, perintahnya tadi merupakan sebuah kesalahan besar. Kesalahan yang akan ia sesali di masa depan.


Kemudian si pemimpin bergerak menuju bagian tengah ruangan. Beberapa anak buahnya sedang berjongkok di sana.


"Ada apa?"


Mereka sedang mengelilingi piringan bulat yang menjadi kunci untuk formasi teleportasi.


"Kami menemukan sesuatu."


Salah satu dari mereka mengambil piringan itu dan menyerahkannya pada di pemimpin. Pemimpin itu menerimanya kemudian melihatnya baik-baik. Tapi karena mata ular memang kurang baik, ia tidak menemukan apa-apa. Jadi ia beralih ke penciumannya.


Dan ia menemukan sesuatu. Sesuatu yang berhasil membuatnya menyeringai dingin.


"Hehehe........Huo Bing, kita akan bertemu lagi. Tunggu saja."


Huo Bing sudah menyerang piringan itu cukup sering. Meskipun sedikit, tapi auranya menempel di piringan itu. Aura Xika dan Heiliao juga ada, tapi hanya sedikit. Tapi si pemimpin tidak mengetahui siapa mereka berdasarkan auranya. Satu hal yang pasti, Xika, Huo Bing, dan Heiliao telah melakukan kesalahan, yaitu meninggalkan jejak.


Kemudian salah satu anak buahnya yang meneliti pola formasi di dinding memanggilnya.


"Kami sudah mengetahui formasi apa ini, Tuan. Ini formasi teleportasi."


Si pemimpin hanya diam. Anak buahnya kembali bertanya,

__ADS_1


"Haruskah kami mengaktifkan formasi ini untuk mengejar pembunuh Coral, Viper, dan Cobra, Tuan?"


Ia menggeleng.


"Tidak perlu. Formasi ini mengirim secara acak. Kita tidak akan menemukan mereka meskipun menggunakan formasi ini."


Anak buahnya mengangguk mengerti. Si pempimpin masih menatap dindng-dinding penuh pola formasi itu selama beberapa saat kemudian berbalik.


"Kembali. Kita sudah cukup menyelidiki. Kita tidak akan menemukan apapun lagi meskipun menyelidiki lebih lama. Pantau berita terbaru tentang burung itu."


Setelah mengatakan itu, si pemimpin beserta seluruh anak buahnya membolongi tanah kemudian pergi.


--------------


Setelah keluar dari Immortal Pearl Pavilliun, Xika berjalan mengelilingi kota. Sambil berjalan, ia berdiskusi dengan Huo Bing dan Heiliao. Tentu saja mereka berkomunikasi dengan jiwa mereka, jadi percakapan mereka tidak bocor.


"Apa sikapku tadi sudah cukup untuk membuatnya waspada?"


Xika sengaja bersikap seperti itu di Paviliun. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terlihat lemah, hal buruk pasti akan terjadi. Ke depannya pun ia harus bersikap kurang lebih seperti itu. Saat ini ia tidak memiliki latar belakang. Bila ia bertemu lagi dengan Cao Ping dan pemuda itu berniat balas dendam menggunakan latar belakangnya, Xika pasti kalah. Jadi yang bisa ia lakukan adalah bersikap misterius. Meskipun tidak bisa membuat Cao Ping dan jenius muda lainnya takut, tapi cukup untuk membuat mereka waspada.


"Lumayan. Tapi kalau mereka berhasil menyelidikimu lebih jauh sikapnya akan jauh berbeda." jawab Heiliao.


"Aku tidak yakin mereka akan berhasil menyelidiki lebih jauh." ucap Huo Bing percaya diri.


"Bagaimana kau bisa yakin?"


"Mereka hanya berhasil mengumpulkan informasi tentangmu ketika kau tinggal di klan pamanmu. Kejadian sebelumnya tidak diketahui, dan kurasa tidak akan pernah diketahui. Mereka tidak akan tahu siapa dirimu dan identitas orang tuamu.


Mereka tahu tentang penyerangan yang terjadi ke klan pamanmu dan saat ini masih menyelidiki lokasi masing-masing. Aku yakin salah satu tujuan mereka melakukan itu untuk menyelidikimu lebih jauh. Tapi selain pamanmu, tidak akan ada yang tahu siapa dan dimana kau sebelumnya. Dan pamanmu tidak akan memberitahu mereka."


"Tepat sekali." ucap Xika.


Huo Bing melanjutkan.


"Setelah itu kau menghilang selama beberapa waktu dan muncul lagi Kota Yi Lang, tempat kau merampok. Setelah itu kau menghilang lagi dan muncul kembali di Kota Sheng Niao. Kau memasuki makam di dekat kota itu kemudian menghilang. Dan akhirnya kau muncul lagi di kota ini."


"Wow! Dari mana kau tahu itu semua?"


"Yah, aku mengeluarkan auraku kemudian membaca laporan yang diberikan anak buahnya."


"Kerja bagus."


Huo Bing tersenyum bangga sementara Heiliao tidak terlalu peduli soal itu kali ini. Ia bertanya,


"Sekarang kita mau kemana?"


Huo Bing dan Xika terdiam. Xika juga bingung karena ini pertama kalinya ia berpetualang sendiri. Sebelumnya ada Xingli atau Stellar Joker yang menemaninya. Yah, meskipun bersama Xingli hampir tidak ada bedanya dengan bepergian sendiri.


Huo Bing melihat ke atas, ke langit biru yang bersinar terang. Kemudian ia menyadari sesuatu.


"Karena hari masih terang, kita dapat berjalan-jalan dahulu. Setelah itu kita akan menginap. Ingat, pesanlah kamar yang cukup mahal agar orang-orang dari Paviliun tidak bisa memastikan identitasmu."


"Orang-orang Paviliun? Darimana mereka tahu kamar apa yang akan kupesan?"


"Dari orang-orang di belakangmu."


Xika tidak menoleh. Tapi jalannya melambat. Samar-samar ia merasakan ada beberapa orang yang mengikutinya.


"Bagaimana kalau kita bermain sedikit dengan mereka?" tanya Heiliao mendadak.


"Yah, boleh juga untuk mengetes kekuatan Paviliun." Huo Bing menyetujui.


"Tidakkah Gong Tao akan tahu?"


"Ia akan tahu. Tapi kau kan tidak tahu mereka berasal dari mana? Bisa saja mereka berniat buruk bukan?" tanya Huo Bing sambil tersenyum.


Xika balas tersenyum.

__ADS_1


"Ide bagus."


__ADS_2