Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-96


__ADS_3

Wu Liao hanya bisa terpana melihat Xika memakan semua pesanannya. Setidaknya ada lebih dari sepuluh macam makanan yang ada di tempat ini dan Xika memakan semuanya.


Yah, sebenarnya tidak semuanya di makan Xika. Diam-diam ia memberikan beberapa pada Huo Bing dan Heiliao. Wu Liao tidak menyadarinya, tentu saja. Gadis itu terlalu terkejut dengan suasana yang baru ia pertama kali alami ini. Penjual yang duduk satu meja dengan pembeli dan saling mengobrol, suara-suara aneh yang di keluarkan Xika ketika ia makan, bagaimana sikap penjual yang lain dan betapa tidak sopannya mereka semua.


Wu Liao tidak pernah melihat hal seperti itu ketika di restoran, tentu saja. Para pelayannya akan menendang semua pedagang ini kalau mereka berani menunjukkan dirinya di depan Wu Liao. Kali ini adalah kasus khusus. Kalau bukan karena Xika, ia tidak akan pernah ke tempat ini.


Di belakang, Yan Fu hanya menatap Xika yang makan dengan penuh semangat dan Wu Liao yang kebingungan. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan. Semuanya terjadi begitu cepat. Ia adalah seorang pelayan dari Immortal Pearl Pavillion, banyak orang akan membungkuk hormat padanya. Meskipun perkerjaan yang ia terima memiliki resiko berupa tamu-tamu kaya yang kurang ajar, tapi hal itu jarang terjadi.


Suatu hari, datanglah seorang pemuda miskin yang beruntung dapat memasuki lantai dua Immortal Pearl Pavillion. Ia bersikap seperti yang seharusnya. Apa lagi selain menyadarkan pemuda miskin sialan itu bahwa ia hanyalah beruntung dapat naik ke lantai dua?


Pemuda itu membual bahwa ia bisa menghancurkan sebuah artefak pedang. Tentu saja ia bohong. Tapi ternyata pemuda itu benar-benar bisa melakukannya. Atasannya datang. Tapi bukannya marah, Kepala Gong malah bersikap ramah bahkan sopan pada pemuda itu.


Setelah itu semuanya terjadi begitu cepat dan ia tidak bisa mengingatnya dengan jelas lagi. Hidupnya yang selama ini berada di kasta atas, mendadak jatuh ke kasta paling bawah. Ia menjadi budak dari pria miskin sialan yang bahkan tidak tahu Wu Liao, salah satu dari Empat Gadis Tercantik di Ibukota.


Dan sekarang pemuda itu sedang berjalan dengan Nona Wu. Bukan hanya tidak bersikap sopan, ia bahkan berkali-kali menyinggung Nona Wu. Tapi Nona Wu tidak terlihat tersinggung. Ia bahkan memperlakukan pemuda sialan itu dengan baik.


Kini ia sedang berdiri 50 meter dari pemuda sialan itu, jarak terjauh yang bisa ia tempuh. Ia berusaha sejauh mungkin dari pemuda itu tapi beberapa kali lehernya terasa terbakar dan ia terpaksa maju mendekat. Ia lebih baik terbakar daripada harus melayani pemuda itu. Tapi belum saatnya ia menyerah. Masih ada Nona Wu. Ia pasti akan menolong. Nona Wu terkenal karena kebaikan hatinya.


Tapi sayangnya apa yang dipikirkan Yan Fu tidak akan pernah terkabul. Wu Liao sudah tidak memiliki belas kasihan lagi ketika ia mengetahui hal yang sebenarnya. Jadi pada dasarnya Wu Liao tidak akan membantu Yan Fu sedikitpun.


Waktu berlalu dan kini semua piring di depan Xika kosong melompong membuat Wu Liao sekalipun tidak mempercayai matanya. Gadis itu cukup menikmati makanannya meskipun itu kali pertama ia makan sesuatu yang bernama 'nasi goreng'. Tapi nafsu makannya hilang ketika ia melihat Xika menghabiskan berbagai makanannya. Untungnya Wu Liao sudah hampir menghabiskan makanannya.


"Saudara Xing? Kemana sebaiknya kita akan pergi?"


"Hm? Entahlah. Saudari Wu, aku sedikit kekenyangan. Bagaimana kalau kau pergi duluan? Aku akan menyusul tidak lama lagi."


"Pergi! Pergilah! Tinggalkan diriku sendiri. Aku akan langsugng lari setelah kau menghilang dari pandangan!"


Tapi Wu Liao tidak menyetujui saran Xika. Ia bahkan terlihat sedikit khawatir. Wajar saja merasa khawatir ketika kau melihat temanmu menghabiskan lebih dari sepuluh piring sendirian.


"Benarkah? Apakah kau merasa sakit, Saudara Xing? Haruskah aku membeli obat?"


Xika tertawa kering. Sebenarnya ia tidak merasa kekenyangan. Ia bahkan bisa menambah beberapa piring lagi sekalipun Heiliao dan Huo Bing tidak membantunya. Ia berkata seperti itu agar bisa kabur dari Wu Liao. Tapi tampaknya gadis itu tidak bisa dienyahkan apapun yang ia lakukan. Jadi ia menyerah berusaha kabur dari gadis itu dan pasrah sepenuhnya pada nasib.


"Ah? Oh, tidak terlalu. Sepertinya aku sudah merasa baikan. Ayo kita jalan lagi."


Xika tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Tapi ia harus mengatakan hal itu kalau tidak Wu Liao akan curiga.


Xika langsung berdiri dan berjalan. Wu Liao langsung mengikuti sementara Yan Fu kembali terbakar di belakang sana. Tapi Xika tidak peduli. Pelayan itu tidak menunjukan perubahan sikap sedikitpun sejak awal. Ia tidak akan peduli bahkan jika pelayan itu sekarat.


Wu Liao masih tidak percaya bahwa Xika baik-baik saja. Tapi ia terpaksa mengikuti Xika karena pria itu sudah jalan duluan. Ia tidak curiga sedikitpun bahwa Xika berbohong, tentu saja. Siapa yang akan mengira bahwa masih ada pria di dunia ini yang akan berusaha menjauhkan dirinya dari salah satu Empat Gadis Tercantik?

__ADS_1


"Kemana kau akan pergi?"


"Entahlah." jawab Xika tidak sepenuhnya benar. Ia melihat beberapa gerobak yang menjual makanan ringan. Ia hendak membelinya kalau tidak ada gadis ini. Wu Liao baru saja melihatnya menghabiskan lebih dari sepuluh piring. Ia akan langsung tahu bahwa Xika berbohong bila Xika membeli makanan lagi.


"Bagaimana kalau ke toko itu?" tunjuk Wu Liao pada sebuah toko dengan papan bertuliskan 'Moonlight Jewellery Store' di atasnya.


Xika mengerutkan keningnya. Tapi Wu Liao tidak membiarkannya protes. Gadis itu sudah menarik tangannya memasuki toko perhiasan.


Wu Liao melepaskan tangan Xika setelah keduanya memasuki toko. Wu Liao menatapnya selama beberapa detik seolah Xika akan kabur bila Wu Liao melangkah masuk lebih dalam. Dan memang itulah yang akan dilakukan XIka bila Wu Liao tidak menatapnya.


Akhirnya setelah memberikan tatapan 'aku akan menunggu disini' dengan berat hati, Xika terbebas dari Wu Liao, meskipun hanya untuk sementara.


Xika menunggu selama beberapa menit sebelum Wu Liao akhirnya keluar. Dalam beberapa menit itu, otak Xika berputar sangat keras bagaimana ia bisa kabur dari Wu Liao. Ternyata ia belum menyerah. Wu Liao keluar setelah berbelanja perhiasan, setidaknya itulah yang Xika pikirkan.


Tapi ia salah. Gadis itu keluar hanya untuk menanyakan pendapatnya tentang kalung mutiara yang ia kenakan. Setelah mendapat jawaban setengah hati, Wu Liao masuk kembali ke toko itu dan meninggalkan Xika yang kembali sibuk memikirkan cara untuk kabur.


Satu jam berlalu dan tidak ada yang terjadi. Wu Liao keluar beberapa kali hanya untuk menanyakan pendapatnya mengenai perhiasan yang dipakainya. Setelah itu ia masuk lagi.


Xika sudah bosan setengah mati namun tampaknya Wu Liao masih akan berada di dalam sana selama beberapa jam lagi.


Untungnya, atau sialnya, Xika melihat seseorang. Mungkin lebih tepatnya dua orang. Dua orang yang membangkitkan amarahnya sampai-sampai ia akan melayangkan tinjunya bila Heiliao tidak menahannya.


Xika mengepalkan tangannya erat-erat. Ia kesal. Tapi apa yang dikatakan Heiliao memang benar. Dengan berat hati ia menahan amarahnya dan berbalik.


Tapi sepertinya ia tidak perlu berbalik. Kedua orang itu sudah menatapnya sebelum ia berbalik.


Hei Bao terlihat sedikit ragu, tapi bocah merah itu tidak ragu sedikitpun. Ia langsung berjalan menuju Xika. Pandangannya tidak teralihkan dari Xika sedikitpun.


Karena sudah begini, maka percuma saja ditahan lagi. Xika juga berjalan maju, mengabaikan ucapan Heiliao dan Huo Bing.


Kedua pemuda itu menuju satu sama lain. Mereka berhenti ketika jarak antara mereka tinggal satu meter. Pemuda berbaju merah itu mengangkat dagunya. Sementara Xika menatapnya dengan penuh amarah.


Selama beberapa saat, keduanya tidak mengatakan apapun.


Tapi ada sesuatu yang terjadi. Perlahan tapi pasti, tatapan Xika berubah. Dari amarah dan benci menjadi takut dan putus asa.


Semakin lama ia menatap pemuda itu semakin ia teringat kembali dengan kenangan menyakitkan yang terus menghantuinya selama sepuluh tahun ini. Perasaan yang sama kembali merayapi tubuhnya. Rasa takut dan putus asa ditambah betapa tidak berdaya dirinya.


Xika mulai menurunkan kepalanya. Pemuda itu tersenyum melihat Xika melakukan sesuatu yang memang sudah seharusnya ia lakukan sejak awal.


Xika tidak lagi berani memandang mata pemuda itu. Ia memandang sepatunya. Bahkan ketika sepatu pemuda itu terangkat, ia tidak menyadarinya. Pikirannya sudah lama meninggalkan tubuhnya, berkelana kembali ke masa lalu. Masa dimana pertama kalinya ia merasakan ketakutan dan keputusasaan. Masa di mana hidupnya yang begitu indah, hancur dalam sekejap.

__ADS_1


DUAKK!!!


Sepatu mahal yang dikenakan pemuda itu mendarat di dagu Xika dan membuat pemuda itu terjatuh.


Bahkan setelah itu terjadi, pandangan mata Xika masih kosong. Di belakangnya, Wu Liao berlari mendekatinya. Gadis itu keluar untuk menanyakan pendapatnya namun yang ia lihat adalah seorang pria menendang Xika.


"Saudara Xing? Kau tidak apa-apa?" Kemudian Wu Liao berbalik dan melihat dari siapa tendangan itu. "Apa yang kau lak-"


Ucapannya terhenti ketika melihat wajah si pelaku. Matanya melebar.


Tian Yin (天阴), pemuda paling jenius di Ibukota. Dikenal sebagai masa depan Tian Clan. Tidak ada satu orangpun yang akan meragukan dirinya sebagai jenius nomor satu. Tapi selain itu, ia juga dikenal karena karakter buruknya. Ayahnya, Tian Yue (天月) naik ke kursi Patriark setelah membunuh Patriark sebelumnya. Ialah orang terkuat dalam Tian Clan. Tapi sayangnya Tian Yue tidak memiliki hubungan yang baik dengan anaknya.


Entah sejak kapan, Tian Yin mulai merasa bahwa ayahnya tidak lagi memperhatikan dirinya. Mungkin memang sudah begitu sejak lahir. Dari kecil, ayahnya melatihnya dengan keras. Bila seseorang bertanya kalimat apa yang selalu diucapkan ayahnya, maka Tian Yin akan menjawab,


"Latihan yang benar, bodoh! Aku tidak bisa membiarkanmu kalah darinya! Kau tidak bisa kalah darinya! Anakku tidak akan kalah dari anaknya!"


Demikianlah, Tian Ying hidup di bawah bayang-bayang seseorang yang tidak ia ketahui sejak kecil. Awalnya, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk membuat ayahnya memandang dirinya. Tapi beberapa tahun berlalu dan usahanya tidak membuahkan hasil. Ia mulai menyerah. Perlahan, ia tidak lagi bersikap seperti sebelumnya.


Tian Yin yang selalu menurut apapun yang dikatakan ayahnya, menjadi Tian Yin yang selalu membangkang perintah ayahnya. Ia menggunakan berbagai cara untuk membuat ayahnya marah. Setiap kali ayahnya marah, ia merasa senang. Karena selama itu ayahnya benar-benar melihat dirinya. Tapi tidak untuk waktu yang lama. Ayahnya kembali mengungkit anak itu.


Anak yang selalu dibicarakan ayahnya setiap kali ia berlatih. Anak yang telah membayangi hidupnya selama beberapa tahun. Sampai akhirnya ia mengetahui siapa anak itu.


Pada suatu hari, ayahnya mengirim dirinya bersama lima pembunuh untuk memusnahkan sebuah desa. Awalnya ia tidak peduli dengan desa itu. Tapi di perjalanan ia mendengar pembicaraan para pembunuh itu dan akhirnya mengetahui bahwa desa yang sedang mereka tuju adalah desa tempat di mana anak yang selalu disebut ayahnya tinggal.


Ia mulai bersemangat. Ia ingin tahu bagaimana anak itu. Namun ketika mereka sampai, ia tidak melihat siapa-siapa kecuali bocah cengeng yang tidak bisa apa-apa.


Ia bertanya pada para pembunuh itu, tapi mereka tidak salah orang. Pada saat itu, kekecewaan besar memenuhi hatinya. Anak yang selama ini membayangi hidupnya bukanlah siapa-siapa selain bocah cengeng? Untuk pertama kalinya, Tian Yin membenci seseorang selain ayahnya.


Anak itu tidak layak dibandingkan dengan dirinya. Anak itu tidak layak membayangi hidupnya. Anak itu tidak layak untuk disebutkan dalam ucapan ayahnya. Anak itu tidak layak untuk hidup di dunia yang sama dengannya.


Dan kebencian Tian Yin kian dalam baik pada ayahnya maupun pada anak itu.


Ketika Hei Sha bertanya padanya apa yang harus dilakukan terhadap anak itu, ia menjawab terserah. Tapi sebenarnya bukan itu yang ia pikirkan. Ia hendak membunuh anak itu dengan tangannya sendiri.


Tapi bila anak itu mati, maka ayahnya akan senang. Ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan anak itu menghirup udara yang sama dengannya. Jadi pilihannya adalah terserah pada pembunuh-pembunuh itu.


Mereka memilih menyiksanya sebelum membunuhnya. Siapa yang akan menyangka bocah sialan itu masih hidup, bahkan berdiri di depannya saat ini?


Bocah sialan itu menunduk setelah ditendang. Memang itulah yang harusnya dilakukan anak itu sejak dulu.


Dan sekarang, saatnya untuk bersenang-senang.

__ADS_1


__ADS_2