Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-159


__ADS_3

Seminggu berlalu dengan cepat. Xika masih berkultivasi seperti sebelumnya. Tidak banyak perbedaan yang terjadi. Selain mengurangi porsi makan mereka agar tidak terlalu membuat para warga resah dan beberapa warga yang berusaha menyerang mereka, sisanya biasa saja.


Xika kini sudah berada di tahap Forming Qi. Ia sudah melatih auranya saat bersama para serigala, tapi Huo Bing memintanya berlatih lagi.


Burung itu menjelaskan bahwa terkadang pertarungan antara dua kultivator tingkat tinggi tidak dilakukan dengan serangan melainkan hanya mengadu aura. Untuk itu Xika harus berjaga-jaga seandainya suatu hari nanti ia perlu menggunakan auranya.


Huo Bing memulai dari hal yang dasar, yaitu melebarkan auranya untuk memeriksa keadaan sekitar. Meskipun teknik ini yang paling dasar, tapi teknik ini cukup penting. Terutama saat kau hendak memeriksa suatu tempat tanpa ketahuan.


Kalau aura milikmu cukup kuat maka kau tak akan ketahuan. Tapi kalau ada seseorang yang lebih kuat darimu berada di tempat itu, maka ia akan merasakan auramu dan tahu keberadaanmu. Karena itu Huo Bing meminta Xika meluaskan auranya selebar dan setipis mungkin agar tidak ketahuan.


Kadang-kadang, ia berhasil mengelabui lawan yang lebih tinggi kultivasinya dengan teknik itu. Jadi Huo Bing bersikeras mengajarkan Xika teknik itu.


"Pejamkan matamu. Fokuskan indramu. Sebarkan aura perlahan-lahan. Ingat, perlahan-lahan. Setelah itu....."


Xika duduk di tanah memejamkan matanya. Ia hanya mendengarkan sebagian perkataan Huo Bing, sisanya ia abaikan. Entah mengapa, ia sedang tidak dalam suasana hati yang bagus untuk belajar, jadi ia tidak terlalu mendengarkan Huo Bing.


Perlahan-lahan, suara Huo Bing yang-menurut Xika-sangat berisik mulai menghilang. Sekelilingnya menjadi sunyi senyap. Dari keadaan yang senyap itu, perlahan-lahan terdengar suara belalang yang bernyanyi. Dilanjut dengan kepakan sayap capung yang terdengar seperti irama.


Xika cukup menikmati sensasi itu. Ia mulai bersantai dan tidak berusaha fokus terlalu keras. Tubuhnya ia rebahkan perlahan membuat Huo Bing yang melihat melotot lebar.


"Ahahaha....tangkap aku...."


Mendadak terdengar suara tawa anak kecil. Dan bukan hanya satu, tapi dua.


"Fan Mu, jangan lari terlalu jauh!"


Sebenarnya suara tawa anak kecil itu dapat membuat suasana hati menjadi lebih baik. Tapi sayangnya Xika tidak terlalu menyukai anak kecil. Karena mereka mengingatkannya dengan desanya yang terbakar. Ditambah, anak-anak ini seumuran dengannya ketika orangtuanya pergi.


Srat!


Xika langsung membuka matanya. Sudut matanya menangkap dua anak yang sedang kejar-kejaran. Tadinya ia ingin mengusir mereka, tapi melihat senyum mereka yang begitu bahagia, Xika tak tega merusaknya. Tidak mudah untuk tersenyum begitu indah, apalagi setelah mengalami berbagai masalah dalam hidup. Jadi selagi bisa, maka ia akan membiarkan mereka.


Matanya kembali terpejam, masih mengabaikan Huo Bing yang sedang mengomel di sampingnya. Sensasi itu kembali datang. Sensasi di mana ia merasa cukup dekat dengan alam. Dan terlebih, dengan ibunya. Suara tawa itu masih ada, tapi tidak terlalu keras jadi Xika masih mengabaikannya.


"Kakak, ayo kejar aku....."


"Fan Mu, pelan-pelan..."


Tapi......kenapa suara itu semakin keras?


"Lihat, aku jadi kupu-kupu!"


"Hei, jangan begitu!"


Tidak, tidak. Abaikan saja, abaikan.


"Sekarang aku jadi belalang. Lihat, aku melompat!"


"Pelan-pelan, nanti kepalamu pusing!"


Biarkan mereka tertawa bahagia.


"Ahaha.....kau tak bisa menangkapku....!"


"Fan Mu, jangan ke sana!"


Anggap saja tidak ada. Anggap saja tidak ada.


"AW!"


Xika langsung membuka matanya dan melihat mahkluk kecil yang menginjak kakinya.


Bruk!


"Huwaaa......."


"Fan Mu!"


Gadis kecil itu terjatuh karena menginjak kaki Xika. Kakaknya langsung berlari dengan khawatir.


Xika sangat ingin memberikan pandangan haus darah pada gadis kecil itu, tapi sekali lagi, ia berusaha mengabaikan mereka.


"Fan Mu, kau tak apa?"


"Huwaa...gendong...." ucap gadis kecil itu sambil merentangkan kedua tangannya meminta sang kakak menggendongnya.


Si kakak berjongkok dan membiarkan adiknya memanjat punggungnya. Disaat itu ia baru menyadari keberadaan Xika. Ia menyapa Xika dengan sopan.


"Kakak, apa kau baik-baik saja?"


Xika hendak mengangkat sudut bibirnya membentuk senyum, tapi ia tak bisa mengangkat lebih dari satu senti hingga membentuk senyum tak ikhlas.


"Ya, tak apa."


Si kakak memandang Xika. Ia baru sadar bahwa ia tak pernah melihat sosok Xika. Meskipun masih kecil, tapi ia ingat wajah semua penduduk yang tinggal di desa.


"Kakak, kau dari mana? Kenapa aku tak pernah melihatmu?"


"Yah, karena penduduk desamu mengusirku. Jadi kau tak pernah melihatku."


Si kakak memasang ekspresi bingung, sementara si adik hanya memperhatikan Xika dengan mata bulat penasaran nan besarnya.


"Kupikir harusnya aku yang bertanya. Aku sudah berkunjung ke desamu dua kali. Kenapa aku tak pernah melihat anak kecil sepertimu? Apa penduduk desa tak punya anak lagi?"


Xika bicara dengan agak kasar. Ia hanya ingin anak itu cepat pergi. Tapi sayangnya harapannya tidak terkabul. Si kakak mendudukkan adiknya di sebelah Xika, kemudian dirinya duduk tidak jauh dari adiknya.

__ADS_1


Si kakak kembali bicara, namun kali ini dengan wajah sedih.


"Selain kami berdua, hanya ada empat orang lagi yang seusia dengan kami. Sisanya hanya orang dewasa."


"Tidak ada yang seumuran denganku?"


Si kakak memandangi Xika beberapa saat mencoba menebak umurnya, kemudian menggeleng.


"Tidak ada. Dari antara kami berenam, aku yang paling tua. Umurku berbeda tiga puluh tahun lebih dari paman yang paling muda."


Rasa kesal Xika mulai hilang digantikan rasa penasaran.


"Hm? Kenapa tak ada yang lebih muda? Apa penduduk desa tidak mau memiliki anak?"


Kali ini bukan hanya si kakak saja yang memasang wajah sedih, adiknya juga turut menekuk mukanya.


"Bukannya tidak mau, tapi tidak bisa."


"Tidak bisa? Kenapa?" tanya Xika sambil mengerutkan keningnya.


Si kakak menoleh ke kiri kanan memastikan tak ada yang mendengar, kemudian mendekat pada Xika. Adiknya juga ikut mendekat.


"Aku pernah mendengar ayahku bicara dengan ibuku. Katanya, banyak bibi yang tidak bisa melahirkan lagi. Semuanya karena serbuan binatang buas bertahun-tahun yang lalu. Kakak jangan ceritakan pada siapa-siapa ya? Nanti aku dimarahi ayah."


Si gadis kecil mengangguk-ngangguk mendukung kakaknya. Keduanya menatap Xika dengan tatapan memohon.


"Kenapa aku harus menceritakan pada yang lain? Lagipula aku tak boleh masuk desamu."


"Ehhh....? Kenapa?"


"Paman dan bibimu mengusirku. Mereka takut padaku."


"Takut? Kenapa? Padahal kakak terlihat baik."


"Karena aku bersaudara dengannya," Xika menunjuk Heiliao, "Dan saudaraku ingin memakan adikmu itu," ucap Xika sambil memasang senyum yang dibuat menakutkan.


Si kakak langsung menunduk takut.


"K-kakak....tolong jangan makan adikku. Nanti aku dimarahi ayah. Makan saja aku......tapi yang cepat ya?"


Tapi si gadis kecil malah berlari mendekati Heiliao dengan senyum lebar melupakan kakinya yang terluka habis jatuh tadi.


"Anjing! Yey! Anjing lucu!"


Heiliao yang sudah memamerkan taring buasnya terdiam bingung.


"Fan Mu!"


Gadis kecil itu tak menghiraukan panggilan kakaknya dan terus berlari sampai ia memeluk Heiliao.


"........"


"........"


"BAHAHAHAHA.............Sudah kubilang tampangmu tidak menyeramkan! BAHAHAHAHA......."


Heiliao menatap Huo Bing dengan kesal. Serigala itu hendak membalas ucapan Huo Bing tapi ditahan oleh tangan kecil yang memeluk mulutnya. Entah sejak kapan gadis itu berpindah ke mulutnya, dan kini pantat gadis itu menutupi wajah Heiliao.


"HANTU!"


"AHHH!"


"........."


Teriakan gadis kecil dan kakak lelakinya itu membuat Huo Bing terdiam. Ia memang berpikir dirinya lebih keren dibanding Heiliao, tapi ia tak mengharapkan reaksi ini.


Gadis kecil itu masih memeluk mulut Heiliao dengan erat, sementara kakaknya memeluk kaki Xika dan bersembunyi di belakangnya.


"Kakak......ada hantu....."


"Ehh.....ya......hantu itu juga saudaraku....."


"Apa? Jadi kakak juga hantu? Huwa......"


"B-bukan itu maksudku....."


Tapi si kakak sudah menangis dan apapun yang dikatakan Xika tak berhasil  menghentikan tangisnya. Adiknya juga menatap Xika dengan mata yang berair.


SYUT!


Xika berbalik dan memberikan tatapan tajam pada Huo Bing.


"A-apa?"


"Hibur dia! Cepat!"


"T-tapi...."


"Cepat!"


Dengan terpaksa Huo Bing menaikkan si kakak ke atas punggungnya, lalu membawanya terbang berputar. Awalnya si kakak ketakutan, tapi setelah beberapa saat, ia menikmati pemandangan di atas punggung hantu ini. Burung dwiwarna itu menoleh dan menemukan Heiliao juga sedang melakukan hal yang serupa dengan gadis kecil Fan Mu itu.


Tak butuh waktu lama, keduanya menyukai mahkluk di punggung mereka. Huo Bing sudah bisa memberikan sedikit senyum, begitu juga dengan Heiliao. Sementara Xika kembali menikmati sensasi yang sempat terganggu setelah melihat kedua anak itu berhenti menangis.


Matahari sudah hampir terbenam tapi Huo Bing dan Heiliao masih terjebak dengan dua mahkluk di punggung mereka. Kedua anak itu tidak memberikan mereka istirahat. Huo Bing hendak meminta tolong pada Xika, tapi si kakak tak membiarkannya. Begitu juga ketika Heiliao hendak mendekati Xika, si adik melarangnya.

__ADS_1


Jadi Xika dapat bersantai berjam-jam tanpa diganggu. Kadang-kadang ia mendengar teriakan minta tolong dari serigala atau burung, tapi ia mengabaikannya.


"Fan Mu! Fan Ao! Dimana kalian?"


Xika membuka matanya. Tidak jauh darinya, ia merasakan beberapa warga mendekat.


"Ayah! Ibu! Kakak hantu, ayo kita kesana!"


Si gadis kecil Fan Mu juga memberikan tatapan memohon pada Heiliao. Tapi Xika langsung berdiri dan melarang keduanya.


"Fan Ao, Fan Mu!"


"Ah, kakak sudah bangun!"


"Ekhem! Ya, aku sudah bangun. Ayo turun. Kalian harus pulang."


"Tidak mau!"


"Fan Mu mau anjing! Empuk!"


Xika berpikir sebentar. Sepertinya Fan Ao-si kakak laki-laki-lebih mudah dibujuk. Jadi ia mendekati Huo Bing.


"Fan Ao, kemari sebentar."


Fan Ao berusaha menjauh tapi Huo Bing terbang mendekati Xika.


"Dengar, kawan kecil. Apa kau mau naik kakak hantu lagi nanti?"


"Ya, aku mau!" Fan Ao mengangguk penuh semangat.


"Bagus. Kalau begitu pulanglah. Ajak adikmu, oke? Jangan katakan apapun pada orangtuamu atau penduduk desa lainnya. Jangan ada yang tahu kau bertemu dengan kami. Oke?"


Fan Ao menggelengkan kepalanya.


"Tidak mau. Kalau aku pergi, nanti aku tak bisa bertemu dengan kakak lagi."


Xika mengelus puncak kepala Fan Ao.


"Kakak akan tetap disini. Oke? Kalau kau tidak kembali sekarang, kau tidak bisa bermain lagi dengan kakak hantu."


Fan Ao memajukan bibirnya, tapi ia tidak menjawab.


"Kalau kau kembali sekarang, besok kakak akan menunjukkan sesuatu yang menarik. Bagaimana?"


"Lebih menarik dari kakak hantu?"


"Tentu saja!"


Akhirnya, dengan wajah tak rela, Fan Ao turun dari punggung Huo Bing. Ia membujuk adiknya turun. Kedua anak itu pulang setelah Fan Mu mencabut bulu Heiliao, tak rela berpisah dengannya.


Tidak lama setelah keduanya pergi, Xika merasakan para warga mulai menjauh. Ia tersenyum lega. Setelah itu berbalik dan menemukan dua tatapan tajam diarahkan pada dirinya.


----------------------


Seorang pria yang mengenakan jubah dengan corak sisik ular berjalan dengan santai tak mempedulikan penjaga-penjaga yang menatapnya penuh dengan waspada.


Pria itu terus berjalan sampai tiba di depan pria paruh baya yang memancarkan aura luar biasa. Wajah pria paruh baya itu tidak berbeda jauh dengan Tian Yin, seperti versi lebih tuanya Tian Yin.


"Bukankah aku sudah melarangmu datang?"


"Aku menemukan yang kau minta."


Pria dengan aura luar biasa itu mengerutkan keningnya.


WHUSH!


SYUT!


Ia menangkap kertas yang dilemparkan pria berjubah itu, kemudian memandangnya lekat-lekat.


"Lokasi desa yang kau minta." tambah pria berjubah sisik ular itu.


"Berapa lama pasukanmu siap?"


"Aku bukan bawahanmu. Kau hanyalah sekutu. Jangan memerihntaku." Pria berjubah itu masih tersenyum, tapi matanya tidak menunjukkan senyum.


"..........."


"Sekitar beberapa hari. Tapi perjalanan akan membutuhkan sekitar beberapa bulan."


Setelah terdiam cukup lama, pria paruh baya itu kembali bicara.


"Jangan sisakan satupun."


"Sudah kubilang jangan memerintahku."


Selesai bicara, pria berjubah itu berjalan pergi. Bagian belakang jubahnya berkibar menunjukkan gambar yang sama yang ada di pakaian pria paruh baya itu.


 


 



Source: Google.

__ADS_1


__ADS_2