
Han Shan. Salah satu dari tiga murid terkuat yang masuk tahun ini. Ia berasal dari Burning Abyss Clan, salah satu kekuatan utama yang ada di ibukota. Keputusannya memasuki akademi ini dipertanyakan banyak orang karena biasanya Burning Abyss Clan tidak membiarkan anggotanya belajar di tempat lain. Mereka percaya bahwa merekalah yang terbaik, tidak butuh kekuatan lain untuk mengajar anggota mereka.
Dari keputusan itu saja sudah menunjukkan betapa sombongnya Burning Abyss Clan. Beberapa orang yang lebih cerdas menduga bahwa ada sebuah konspirasi di balik tindakan ini.
Tapi apapun yang melatarbelakangi masukanya Han Shan ke Mu Zhan Academy, itu tidak mengubah fakta bahwa dia termasuk tiga murid terkuat tahun ini.
Melihat Elder Hong Qian yang memanggil Han Shan, orang banyak tahu bahwa Xika mencari masalah dengan orang yang salah. Tamat sudah riwayat Xika. Elder Hong Qian terkenal dengan sifatnya yang buruk dan reputasinya diwarnai banyak darah.
Meskipun begitu, ia selalu menyangkal dan bersikeras bahwa tangannya tak pernah dikotori orang tak bersalah.
Han Shan maju selangkah untuk memberi hormat pada ketiga elder sebelum melangkah sampai tiba di depan Xika. Di wajahnya terpampang senyum arogan yang penuh dengan kesombongan. Sama seperti orang banyak, ia juga berpikir Xika sedang menggali kuburnya sendiri.
Bagaimana mungkin Xika yang hanya seseorang tanpa identitas yang jelas dapat dibandingkan dengan dirinya, murid dari Burning Abyss Clan? Ketika elder Hong Qian memanggilnya, Han Shan tahu bahwa ia harus memberi Xika pelajaran untuk mengerti posisinya.
Dengan begitu ia dapat memberi tahu orang kekuatan Burning Abyss Clan sekaligus mendapatkan hati elder Hong Qian. Membunuh dua burung dengan satu batu. Ketika memikirkan hal itu, tanpa sadar Han Shan tersenyum lebar. Senyum yang menurut Xika adalah senyum orang bodoh.
"Han Shan." Pemuda itu memperkenalkan dirinya, tapi ia tidak menunduk atau mengajak Xika bersalaman. Dari sikapnya, ia bukan ingin memperkenalkan dirinya pada Xika, tapi lebih kepada orang banyak.
"Xing Xika." Melihat Han Shan tidak repot-repot membungkuk atau mengajaknya berjabat tangan, Xika juga tidak akan melakukan hal itu.
"Bagus. Ingat ini, tinju dan tendangan tidak memiliki mata, jadi menderita luka itu wajar. Kalau kalian takut terluka lebih baik mundur sekarang." Meskipun berkata seperti itu, Elder Hong Qian hanya menatap Xika seolah mengejek dirinya.
Xika, yang ditatap elder Hong Qian, menatapnya balik tanpa mundur selangkahpun. Melihat sikap Xika, Elder Hong Qian berpura-pura tidak peduli, tapi dalam hatinya ia senang karena tahu Xika akan jadi karung tinju tidak lama lagi.
"Kalau begitu kalian bisa mulai sekarang."
"Heh. Akan membosankan bila kau kalah terlalu mudah. Majulah. Akan kuberi kau kesempatan menyerangku lebih dulu."
"Oh? Kalau begitu aku tidak akan sungkan." Selesai bicara, Xika langsung menghilang dan muncul kembali di belakang Han Shan dengan tinjunya yang sudah bersarang di perut pemuda itu.
"Apa?"
DUAK!
Tap! Tap! Tap!
Han Shan mundur tiga langkah akibat serangan Xika. Ia menelan darahnya yang hampir keluar kemudian menatap Xika dengan marah bercampur kaget.
"Heh. Kau bisa maju lebih dulu. Akan membosankan bila kau kalah terlalu mudah." Xika mengembalikan kata-kata Han Shan pada pemuda itu sendiri.
Wajahnya semakin memerah ketika mendengar ucapan Xika.
"Bagus, bagus sekali. Setidaknya kau memiliki kemampuan untuk menantang Tuan Muda ini. Sekarang lihat baik-baik bagaimana aku akan mengalahkanmu."
"Aku menunggu." balas Xika dengan senyum di wajahnya.
BRAK!
Han Shan menghentakkan kakinya dengan keras sampai lantai retak. Kemudian ia memasang kuda-kuda siap memukul. Qi mulai berkumpul di tangannya yang terkepal. Han Shan mengangkat kepalanya penasaran dengan reaksi Xika.
"Lama sekali. Kalau kau menggunakan teknik itu di pertarungan sungguhan, kau sudah mati berkali-kali."
"Sialan! Makan ini!"
Pemuda itu langsung melayangkan tangannya yang dipenuhi Qi menuju Xika. Sementara Xika hanya menatap serangan itu dengan bosan. Baik persiapan ataupun pelaksanaannya, Han Shan terlalu lama. Ia memutar badannnya menghindari serangan Han Shan dengan mudah.
__ADS_1
"Apa? Dia bisa menghindari serangan Han Shan semudah itu?"
"Tidakkah kau lihat bagaimana pemuda itu menyerang Han Shan sebelumnya? Sudah pasti dia orang berbakat yang menyembunyikan dirinya."
"Tidak, belum tentu. Bisa saja itu hanya kebetulan."
Banyak orang kembali berdikusi ketika melihat Xika dapat menyerang dan menghindar sesuka hatinya. Mereka jadi penasaran dengan identitas Xika. Apakah dia benar-benar memiliki kemampuan? Atau tadi itu hanya sebatas keberuntungan saja?
Tapi beberapa orang yang tajam matanya dapat melihat bahwa itu bukan keberuntungan. Itu murni kekuatan Xika. Dan Elder Bai adalah salah satunya. Meskipun ia terkenal karena kebaikan hatinya, bukan berarti ia bodoh. Ia dapat melihat bahwa Xika sudah tahu jalur serangan Han Shan sebelum pemuda itu melayangkan serangannya.
Selain itu, apa yang dikatakan Xika memang benar. Han Shan terlalu lama dalam menggunakan tekniknya dan hal itu dapat membuatnya terbunuh berkali-kali bila berhadapan dengan musuh. Tapi berapa banyak pertempuran yang ia hadapi sampai bisa berkata seperti itu? Pastinya lebih dari ratusan, bahkan mungkin ribuan. Dan diantaranya adalah pertarungan yang mempertaruhkan nyawanya.
"Sialan! Jangan menghindar terus kalau kau berani! Serang aku!" ucap Han Shan yang kesal karena serangannya tidak berhasil mengenai Xika sedari tadi.
Xika hendak memberi serangan menerima tantangan Han Shan ketika sebuah aura familiar kembali dirasakannya. Ia berhenti untuk menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari pemilik aura itu tapi tidak menemukannya. Mendadak sebuah ide terbersit di kepalanya.
DUAK!
"Ahhh!"
Han Shan berhasil memukul Xika tepat di perutnya.
Hal itu menimbulkan berbagai reaksi dari berbagai penonton. Ada yang menjadi semakin yakin bahwa sebelumnya Xika hanya beruntung. Tapi Elder Bai dan beberapa orang yang memiliki kemampuan menilai tajam tahu bahwa Xika tidak mengandalkan keberuntungan.
Xika dapat menghindar dan menyerang Han Shan memang berdasarkan kemampuannya, bukan karena keberuntungan. Mereka juga sadar bahwa pukulan tadi itu disengaja. Xika bisa menghindar, tapi ia tidak melakukannya.
Sebelumnya, Elder Bai tahu bahwa Xika telah melihat pukulan Han Shan dan tahu ke arah mana pemuda itu akan memukul. Jelas-jelas Xika bisa menghindar, tapi kenapa ia tidak melakukannya? Apa yang membuatnya menerima pukulan Han Shan?
Han Shan tentu saja tidak tahu bahwa Xika sengaja tidak menghindar. Ia berpikir bahwa keberuntungan Xika telah habis dan inilah saatnya ia unjuk diri. Dengan pikiran itu, ia melangkah perlahan sambil tersenyum lebar.
Berbanding terbalik dengan Xika, Han Shan yang diperkirakan berada di atas angin malah memiliki penampilan berantakan. Padahal seharusnya pakaiannya lebih rapi dibanding Xika yang hanya mengandalkan keberuntungan.
Pada saat itu banyak orang kembali ragu. Apa benar Xika tidak mengandalkan keberuntungannya dan memang memiliki kemampuan?
Han Shan kini hanya berjarak beberapa langkah dari Xika.
"Kenapa? Tidak lari lagi? Keberuntunganmu sudah habis ya?" ejek Han Shan
Xika hanya berdiri dengan tenang. Tampaknya ia menunggu kehadiran seseorang, meskipun tak banyak yang menyadari hal itu.
Melihat Xika yang hanya diam saja, Han Shan mengira Xika ketakutan dan tak mampu menjawab. Jadi dengan senyum lebar ia mengayunkan tinjunya. Tepat ketika tinju Han Shan akan mengenai Xika, sebuah lubang putih kecil muncul dan memuntahkan pisau yang berhasil menggores wajahnya.
"Sialan!"
Han Shan langsung menghentikan serangannya itu dan menoleh kiri kanan mencari siapa yang melempar pisau. Semula ia mengira bahwa pelakunya adalah seorang pria ganas yang telah berani mengganggu pertarungannya.. Tapi ternyata bukan seorang pria yang melemparnya. Sebaliknya, itu adalah seorang gadis. Seorang gadis yang sangat rupawan bagaikan dewi dan memiliki ekspresi layaknya embun beku di pagi hari yang tak kunjung mencair.
"No-nona, bisakah saya tahu alasan anda menyerang saya?" tanya Han Shan dengan alis berkerut. Paras gadis itu memang mampu membuat banyak lelaki termasuk Han Shan tunduk kepadanya. Kalau dalam situasi biasa, Han Shan pasti akan melupakan segalanya dan berfokus mengejar gadis itu, tapi saat ini bukan kondisi biasa. Selain itu ia merasakan aura berbahaya terpancar dari gadis itu.
Tapi gadis itu tidak menjawab pertanyaan Han Shan. Sebaliknya, ia terus melayangkan serangan bertubi-tubi yang tentu saja tak bisa ditahan oleh Han Shan. Hanya beberapa detik berlalu tapi kini tubuh Han Shan sudah dipenuhi luka sayat dari pisau gadis itu.
"Kau....."
Elder Hong Qian hendak melangkah maju dan memberi pelajaran pada gadis yang berani mengganggu pertarungan, tapi Elder Bai mengangkat tangan menghentikkan dirinya. Hong Qian menoleh untuk menanyakan alasan tapi yang ia dapatkan hanyalah gelengan yang tak bisa dibantah.
Jadi ia terpaksa menonton dalam diam ketika gadis itu menghajar Han Shan. Begitu juga dengan para penonton. Mereka penasaran dengan identitas gadis ini terutama dengan parasnya karena posisi gadis itu saat ini sedang membelakangi mereka.
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan para penonton yang terkejut melihat Han Shan dihajar oleh gadis misterius, Xika berusaha keras mengingat siapa gadis itu.
"Hmm....punggungnya terasa tidak asing.....rambutnya juga terlihat familiar......apalagi lubang putih yang memunculkan pisau. Rasanya aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Tapi dimana ya?"
BRUK!
Akhirnya gadis itu berhenti setelah puas menghajar Han Shan. Ia meninggalkan Han Shan yang setengah berlutut di lantai begitu saja dengan tatapan tak peduli seolah apa yang terjadi dengan pemuda itu tidak ada hubungan dengan dirinya.
Kemudian gadis itu berbalik dan tahulah Xika siapa dia.
"Ah! Gadis cacat!"
Benar. Identitas gadis misterius yang muncul secara tiba-tiba dan memukuli Han Shan adalah Yin Xingli. Pantas saja Xika merasa tidak asing dengan punggung gadis itu sebelumnya. Ia sudah pernah bertarung beberapa kali bersama sehingga ia cukup familiar dengan punggungnya ketika bertarung.
Tapi sayangnya ia tak berhasil menyaring kata pertama yang keluar dari mulutnya. Xingli menatapnya dengan tajam sama seperti ketika mereka pertama kali bertemu. Dan kejadian itupun kembali terulang.
Tanpa aba-aba Xingli mengayunkan pisaunya dan menyerang Xika.
"Hei-hei! Kenapa kau menyerangku?"
Xingli menatapnya dengan pandangan aneh, kemudian kembali menyerang Xika. Di belakangnya, Huo Bing dan Heiliao sedang tertawa terbahak-bahak. Sudah lama sejak mereka menonton kebodohan Xika menghadapi wanita.
Ngomong-ngomong, Huo Bing dan Heiliao tiba tidak lama setelah Xika. Mereka agak terlambat karena Heiliao datang dengan penampilan barunya, wujud manusia. Kalau Huo Bing memiliki penampilan mencolok dengan warna biru merah dalam wujud manusianya, maka Heiliao berbanding terbalik dengannya.
Ia mengenakan pakaian yang seluruhnya hitam. Penampilannya sama sekali tak mencolok dan tak akan banyak yang memperhatikannya bila ia tidak berdiri bersama Huo Bing. Ketika melihat Heiliao dan Huo Bing berdiri bersisian, maka akan tercipta sebuah pemandangan aneh yang sulit dikatakan.
Tapi Xika terlalu sibuk untuk bisa melihat penampilan baru Heiliao. Ia sedang menghindari tusukan mematikan Xingli dan sesekali memberikan serangan balasan dengan pisau yang serupa yang diberikan Lian Minjie.
Xingli cukup terkejut melihat pisau yang digunakan Xika terlihat amat familiar dengan pisaunya. Tapi seperti biasa, ia tak mengatakan apa-apa dan terus melanjutkan serangannya pada Xika.
"Aku tidak ingat kau semahir ini menggunakan pisau. Seingatku kau hanya menggunakan pedang dan jarum. Kau semakin hebat ya." ucap Xika sambil menangkis pisau Xingli dengan pisaunya.
Seperti biasa, Xingli tidak mengatakan apa-apa, bahkan tidak ada perubahan di wajahnya. Tapi hanya Xika seorang yang tahu bagaimana membaca pikiran gadis itu, yaitu dengan matanya. Dan dari tatapannya, sepertinya Xingli cukup senang dengan pujian Xika.
Kalau penonton sudah terkejut ketika melihat Xika dapat menghindari semua serangan Han Shan dengan mudah, maka saat ini mereka tidak mempercayai pemandangan yang dilihat mata mereka.
Ketika Xingli berbalik, banyak orang mengetahui identitasnya. Meskipun tak banyak yang mengetahui wajahnya, tapi kabar bahwa ia mempunyai wajah yang sangat rupawan sudah tersebar luas. Selain wajahnya, kekuatannya juga diakui oleh banyak orang sebagai tingkat atas. Bahkan, ada yang menyebutnya Dewi Perang, karena kekuatannya tidak kalah sama sekali dengan kecantikannya.
Karena itulah para penonton tidak percaya ketika melihat Xika dapat bertarung dengan seimbang ketika melawan sang Dewi Perang.
Tapi Xika tidak terlalu mempedulikan tanggapan orang banyak. Ia menikmati pertarungannya, sama seperti gadis itu. Meskipun terlihat sengit, tapi sebenarnya mereka berdua tidak mengeluarkan seluruh kemampuan mereka.
Akhirnya, setelah bertukar beberapa serangan lagi, keduanya berhenti. Masing-masing menatap mata satu sama lain dan tenggalam dalam pikiran masing-masing.
Banyak orang bingung ketika melihat keduanya saling bertatapan tanpa mengedipkan mata, bahkan ada yang curiga bahwa keduanya adalah sepasang kekasih.
"Lama tidak bertemu. Mana pelukan selamat datanganya?" tanya Xika memecah suasana sambil merentangkan kedua tangannya.
Duak!
Alih-alih pelukan, Xika mendapatkan tendangan selamat datang yang telak di perutnya. Tapi senyum Xika tak kunjung hilang dari wajahnya.
Pada saat itu, keduanya memikirkan hal yang sama.
Langit telah mengizinkan kita bertemu. Apakah kita memang ditakdirkan satu sama lain?
__ADS_1