Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-224


__ADS_3

Xika berbalik.


"Aku? Bukan. Kau salah orang."


"Eh? Benarkah? Maaf, kupikir kau Xing Xika. Kalau begitu siapa namamu?"


Xika melirik pria itu dengan kesal. Kenalkan dirimu dulu sebelumnya menanyakan identitas orang lain. Dengan malas, ia menjawab,


"Yin Xingli."


Pria itu tidak terlihat curiga. Ia mengangguk-ngangguk.


"Ah! Lalu, apa kau tahu di mana dia biasa berada, Xingli?"


"Entahlah. Aku jarang melihatnya." Xika tidak bohong. Ia memang jarang bercermin, jadi ia memang jarang melihat dirinya sendiri.


"Begitu ya. Sayang sekali. Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya. Ah! Terima kasih ya. Maaf aku membuang waktumu."


"Kenapa kau ingin bertemu dengannya, kalau aku boleh tahu?"


"Hm, kenapa ya? Entahlah. Tak ada alasan khusus, sih. Aku mendengar banyak kabar tentangnya, jadi ingin memastikan bagaimana sosoknya yang asli."


"Begitu ya. Kalau begitu aku permisi dulu."


Xika berjalan pergi. Pria itu menyembunyikan sesuatu. Tapi apa? Dan bagaimana murid dari klan dan sekte lain bisa mengetahui tentangnya? Seingatnya ia hanya menggemparkan Akademi saja, tidak seisi Ibukota. Tunggu, sepertinya tidak.


Ia sempat bertarung beberapa kali dengan murid dari kekuatan lain. Apa karena itu berita tentangnya menyebar dengan cepat? Apa itu artinya ia sudah terkenal sekarang? Apa ia harus menyamar kalau mau berjalan-jalan di Ibukota?


Sudahlah. Kalau ia terkenal karena kekuatannya, harusnya tak ada masalah saat berjalan di Ibukota. Ia mengabaikan pria mencurigakan tadi dan lanjut berjalan menuju Perpustakaan. Ia ingin menjernihkan pikiranya dengan membaca buku.


Penjaga perpustakaan mengangguk saat melihatnya masuk. Sementara murid-murid yang lain langsung berbisik dan menunjuk dirinya. Ia tak mempedulikan mereka. Ia sedang tak ingin mempedulikan apapun. Ia hanya ingin mengalihkan pikirannya. Dan buku adalah cara terbaik.


Ia mengambil buku secara acak yang kalau tidak salah berjudul 'Sejarah Dinasti Lin' lalu membacanya di sudut ruangan. Xika berhasil menyelesaikannya dalam beberapa jam. Matahari sudah berada di atas kepalanya. Tapi ia masih tak bergerak untuk makan. Ia tidak nafsu makan. Ia berdiri untuk memilih buku yang lain.


Sayangnya, hari ini tak sedamai yang ia harapkan. Ia memang tidak pernah hidup damai di Akademi, sih.


Dari balik rak buku tempatnya mengembalikan 'Sejarah Dinasti Lin', sebuah mata menatapnya lekat-lekat. Mata seorang bajingan yang pernah Xika lihat di suatu tempat entah di mana.


Srak!


Pemilik mata bajingan itu menggeser buku-buku agar ia dapat melihat wajah Xika secara langsung. Dan Xika-pun ingat di mana ia pernah melihat mata sialan itu. Hua Zhantian.


"Wah, wah, wah. Disini rupanya kau bersembunyi. Aku menghabiskan sehari penuh untuk mencarimu, bocah sialan!"


"Tampaknya kau lebih bodoh dari pikiranku."


"Bagus, bagus. Bicara saja terus. Aku ingin melihat bagaimana dirimu berbicara saat aku memotong lidahmu."


Xika mengerutkan keningnya. Hua Zhantian yang ia temui di hutan sebelumnya tidak banyak bicara dan langsung menyerang. Kenapa sekarang ia jadi banyak bicara lagi?


"Ikut aku keluar. Kau tidak akan bersembunyi di perpustakaan selamanya kan?"


Ada larangan untuk tidak bertarung di Perpustakaan. Hua Zhantian sekalipun harus mematuhi peraturan itu. Pria itu menoleh untuk melihat Xika yang masih belum melangkah.


"Kenapa? Sudah tak ada gadis untuk dilindungi, jadi sekarang kau menampilkan sifat aslimu? Pengecut!"


Tadinya Xika tidak ingin meladeni Hua Zhantian. Lagipula tubuhnya tidak dalam kondisi yang menguntungkan. Tapi tampaknya pria itu tidak akan tutup mulut kalau tidak di beri pelajaran.


Di luar Perpustakaan, sudah ada banyak orang berkumpul. Tampaknya berita bahwa ia akan bertarung dengan Hua Zhantian sudah menyebar. Mungkin murid di Perpustakaan yang menyebarkannya.


"Kupikir kau akan bersembunyi selamanya di Perpustakaan." ejek Hua Tianming melihat Xika melangkah keluar dari Perpustakaan.


Syut!


Xika mengubah Space Shifter menjadi tongkat, lalu langsung menerjang Hua Zhantian.


Wush!


Pukulannya gagal mengenai kepala Hua Zhantian. Pria itu menghindar dengan mudah. Sepertinya serangannya sudah terbaca dari awal. Ia memberikan beberapa serangan lagi tapi tampaknya Hua Zhantian mampu menghindarinya dengan mudah.


"Kenapa? Kau tak bersemangat karena tak ada gadis yang menonton? Haruskah kubawa gadis yang kemarin itu?"


Ah. Sialan. Dia membahas Wu Liao lagi. Padahal Xika sedang berusaha tidak memikirkan siapapun saat ini.


Blar!

__ADS_1


Kedua ujung tongkat Xika terbakar, lalu ia memutar-mutar tongkatnya sambil melempar bola-bola api yang berasal dari ujung tongkatnya.


Hua Zhantian tidak menganggap serangan Xika. Ia melipat tangannya, kemudian menghentakkan salah satu kakinya, dan tanah melompat naik menahan bola-bola api Xika.


"Bola api? Hanya itu yang kau bisa?"


DASH!


Hua Zhantian menendang tanah hingga debu beterbangan di sekitarnya, lalu debu itu berubah menjadi lebah-lebah dengan sengat yang tajam. Ketika lebah-lebah itu terbang menyerbu Xika, Hua Zhantian meleleh dan menyatu dengan tanah di bawahnya.


Xika memukul lebah-lebah itu satu persatu hingga hancur menjadi tanah kembali. Jumlahnya cukup banyak, tapi ia sudah terbiasa menghadapi serangan seperti ini. Apalagi lebah Hua Zhantian tampaknya tidak bertenaga, mereka semua hancur dengan satu pukulan.


DUAK!


Hua Zhantian muncul dari tanah di belakangnya dan berhasil menghantam telak punggungnya.


"AHK!"


Bruk!


Xika terlempar beberapa meter sebelum akhirnya jatuh tersungkur ke tanah. Ia melihat banyak orang di sekelilingnya berbisik-bisik.


"Xika melawan Hua Zhantian. Menurutmu siapa yang akan menang?"


"Sudah pasti Hua Zhantian. Bukan tanpa alasan ia berhasil menjadi Murid Dalam Terkuat selama bertahun-tahun."


"Benar juga sih. Tapi aku tetap berharap pada Xika. Anak itu kan pandai mengejutkan semua orang."


"Kau berharap pada Xika? Kau tidak lihat ia sedang terbaring di tanah sekarang? Sekalipun anak itu hebat, tapi tetap tidak mungkin ia bisa mengalahkan Hua Zhantian. Itu mustahil. Lihat saja perbedaan kultivasi mereka."


"Benar, benar. Menurutku tak akan lama lagi sampai Xika menyerah. Dua puluh serangan lagi."


"Dua puluh? Kau terlalu meremehkan Hua Zhantian. Aku bertaruh sepuluh."


"Aku bertaruh lima!"


Dan orang-orang di sekelilingnya mulai bertaruh berapa banyak serangan yang bisa ia terima sebelum akhirnya kalah.


"Heh."


Xika melirik Hua Zhantian. Tampaknya pria itu tidak terburu-buru untuk menghabisinya. Ia sengaja melakukan itu untuk menarik perhatian penonton. Untuk menunjukkan kekuasaannya.


Xika berdiri. Ia langsung mengarahkan kedua tangannya menghadap Hua Zhantian. Ia bermaksud menekan seluruh tubuh Hua Zhantian dengan angin sampai pria itu mati. Persetan dengan aturan Akademi.


Wajah Hua Zhantian menegang ketika melihat Xika mengangkat tangannya. Tapi ketika ia menyadari angin yang menekannya, ia langsung rileks. Kedua kakinya ia tancapkan di tanah kuat-kuat.


Bagi murid yang lemah, tindakan Xika tampaknya tidak berpengaruh. Tak ada yang terjadi sama sekali. Jadi mereka bertanya-tanya apa yang Xika lakukan.


"Sebenarnya apa yang ia lakukan?"


Murid yang lebih kuat menjawab, "Xika bermaksud menekan Hua Zhantian dengan elemen angin. Tapi ia tak berhasil. Hua Zhantian melindungi dirinya dengan qi dan Xika tak mampu menembusnya."


"Meskipun tak berhasil, Xika cukup hebat. Lihat saja retakan yang terbentuk di tanah di bawah Hua Zhantian. Mungkin hanya Xika yang berhasil memaksa Hua Zhantian sampai seperti itu."


"Huh! Apa gunanya retakan tanah? Intinya adalah ia tidak berhasil memberikan luka pada Hua Zhantian."


Dalam hati, Xika mengumpat. Perbedaan kultivasi di antara mereka tampaknya membuatnya berkali lipat lebih sulit untuk menekan Hua Zhantian.


"Heh. Hanya itu yang kau bisa? Jujur saja, aku kecewa, Xing Xika!"


Hua Zhantian kembali menghentakkan kakinya. Kali ini tanah naik menahan kaki Xika.


"Sialan. Hanya seperti ini aku juga-"


JLEB!


Sebuah duri yang besar muncul dari tanah menusuk perut Xika. Tapi alasan Xika terkejut bukanlah itu. Beberapa saat sebelum duri itu mengenainya, ia hendak melepaskan tanah yang menahan kakinya. Tapi ia gagal.


Mengapa?


Melihat Xika yang hanya diam tak bergeming seperti itu membuat Hua Zhantian tertawa puas. Ia berlari dan memberikan tendangan di dagu Xika.


BUK!


Xika terhempas ke tanah. Duri di perutnya sudah kembali menjadi tanah, tapi darahnya masih terus menetes. Namun tatapannya masih tidak fokus. Ia masih tidak mengerti. Kenapa? Kenapa ia tidak bisa mengendalikan tanah? Sebelumnya ia bisa, kenapa hari ini tidak?

__ADS_1


BAK!


Hua Zhantian menginjak perut Xika. Ia tertawa dengan bangga.


"Hahahahaha! Xing Xika! Hanya ini yang kau punya dan kau berani menantangku?"


Darah muncrat keluar dari mulut Xika akibat injakan Hua Zhantian. Hinaan dan ejekan dari sekitarnya memenuhi telinga Xika. Tawa cemooh memenuhi udara dengan Hua Zhantian yang berdiri bangga di atasnya.


Sialan. Ia sudah bisa berkultivasi. Ia sudah berbeda dengan Xika yang dulu. Ia bukan lagi Xika yang lemah yang menjadi bahan ejekan semua orang.


BUK!


Xika menendang perut Hua Zhantian. Pria itu melangkah mundur. Tapi tampaknya serangan Xika itu tak memberikan luka berarti baginya.


"Oh? Masih mampu melawan? Baiklah, akan kuberi kau kesempatan. Berlututlah dan cium kakiku. Mungkin aku akan berbaik hati mengampuni nyawamu. Oh, dan jangan lupa bawa gadis yang kemarin. Aku masih belum selesai bersenang-senang."


Tawa cemooh kembali terdengar. Mereka semua setuju dengan Hua Zhantian. Bahwa ia tak akan bisa mengalahkan Hua Zhantian, jadi sebaiknya ia menyerah saja pada pria itu.


Penghinaan. Sudah cukup ia hidup bertahun-tahun dengan penuh hinaan. Ia tak akan membiarkan dirinya di hina lagi. Akan ia tunjukkan bahwa ia berbeda dengan dirinya yang dulu. Ia bukanlah bahan ejekan.


Xika berdiri. Ia menatap Hua Zhantian dengan tajam. Beberapa hari yang lalu, orang akan takut melihat tatapannya seperti itu. Tapi kini, mereka tertawa melihat tatapannya dan meneriakinya agar menyerah.


Sekali lagi, Xika mengangkat kedua tangannya. Dan orang-orang kembali tertawa. Mereka menunggu dirinya kembali gagal seperti sebelumnya. Bahkan Hua Zhantian-pun tertawa geli.


Heh. Lihat saja. Mereka boleh menertawakannya. Tapi ia akan menunjukkan harga yang harus dibayar untuk meremehkannya.


Mengabaikan hinaan dan ejekan semua orang, Xika mengepalkan kedua tangannya. Namun yang terjadi berikutnya tidak sesuai dengan bayangan semua orang.


Darah mengalir dari kedua mata Hua Zhantian.


"Eh?"


Sebelum para penonton sempat bertanya, darah kembali menetes dari tempat lain. Kali ini dari telinga Hua Zhantian.


"AHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!"


Hua Zhantian berteriak kesakitan sambil mencengkram kepalanya. Matanya terasa perih. Pandangannya kabur. Dan telinganya berdenging.


Xika tersenyum keji melihat hal itu. Ia melangkah maju perlahan-lahan.


Tes!


Hidung Hua Zhantian juga mengeluarkan darah. Kemudian mulutnya juga. Orang banyak berteriak ngeri melihat pendarahan yang dialami Hua Zhantian di tujuh lubang.


"AHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!"


Hua Zhantian berteriak sambil berguling-guling. Hidungnya terasa aneh. Mulutnya asam. Seluruh tubuhnya seakan menolak dirinya. Ia tak bisa mengendalikan darah yang keluar. Seakan ia tak lagi berkuasa atas tubuhnya.


Xika berdiri di dekat Hua Zhantian yang masih berguling-guling. Senyuman dingin menghiasi bibir Xika. Ia mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan menghantamkannya tepat ke perut Hua Zhantian.


"GAHK!"


Darah muncrat keluar lebih banyak dari mulut Hua Zhantian. Beberapa murid wanita yang hadir memejamkan mata mereka tak mampu melihat pemandangan mengerikan itu.


Syush!


Blar!


Xika mengangkat tangannya dan telapak tangannya terbakar. "Kau benar. Memang hanya ini yang kubisa. Bola Api."


Dan hantaman tangan Xika yang terbakar itu berhasil membuat Sang Murid Dalam Terkuat menjerit kesakitan hingga seluruh Akademi mendengarnya.


"Gila. Ini gila! Xing Xika sudah gila!"


Beberapa teriakan lain yang sejenis terdengar. Mereka menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Ia tak lagi dipandang sebagai bahan ejekan, melainkan sesuatu yang menakutkan.


Grep!


Sret!


Xika menjambak Hua Zhantian, kemudian menyeretnya dengan kasar tanpa mempedulikan tubuhnya yang gosong dan masih mengeluarkan darah.


Bruk!


Ia melemparkan Hua Zhantian ke sebuah tembok. Kemudian menulis sebuah kalimat dengan darah Hua Zhantian.

__ADS_1


'Dikalahkan oleh Xing Xika'


__ADS_2