
"......................."
Hening. Tak ada yang berbicara. Ucapan Xika itu terdengar sangat sombong. Memang sejauh ini ia sudah menunjukkan betapa sombong dirinya, tapi pernyataan terakhirnya itu benar-benar melampaui batas. Tian Yin? Jenius nomor satu dari Dinasti Lin disebut sebagai bajingan oleh Xika? Siapa sebenarnya anak ini?
Apa ia merasa hebat setelah mengalahkan perwakilan dari sekte-sekte besar sehingga merasa mampu mengalahkan siapa saja?
Setelah terdiam beberapa saat, tetua dari Sky Devouring Castle kembali bicara.
"Nak, sudah terlambat untuk menarik perkataanmu. Kau sadar bahwa kau telah membuat Jenius nomor satu Dinasti Lin, bahkan seluruh Sky Devouring Castle menjadi musuhmu, kan?"
"Heh. Memangnya kenapa? Aku dan Sky Devouring Castle sudah bermusuhan sejak lama. Dan, masih belum jelas siapa Jenius nomor satu Dinasti Lin yang sebenarnya." Xika membalas masih dengan senyum sinis.
Di belakangnya, Huo Bing mengangguk-ngangguk sambil tersenyum bangga. Rupanya Xika sudah besar. Ia senang karena Xika tak lagi takut dengan Tian Yin atau masalah yang dihadapinya. Berbeda dengan pertemuan pertama mereka ketika Xika hanya bisa diam di hadapan Tian Yin.
"..............."
Sadar bahwa anak muda di depannya tak akan mengambil langkah mundur, tetua dari Sky Devouring Castle memilih untuk membuang nafas dan berunding dengan perwakilan sekte besar lainnya. Sebenarnya masih ada dua sekte besar lagi selain dari Burning Abyss Sect, Sky Devouring Castle, Di Clan, dan Immortal Pearl Pavillion, yaitu Northern Light Palace dan Divine Array Clan.
Namun Divine Array Clan tidak berpartisipasi dalam kompetisi kali ini sedangkan Northern Light Palace, sekalipun tak dapat dianggap berhubungan baik dengan Xika, tapi juga tak bisa dibilang buruk. Jadi saat ada ide pengadilan terhadap Xika, mereka hanya diam saja tidak peduli.
Selama beberapa saat, suasana kembali hening. Han Li membuat penghalang ruangan yang kedap suara sehingga perbincangan mereka tak terdengar oleh tamu lain. Meskipun tak mampu mendegar, namun Xika dapat melihat bahwa beberapa kali raut wajah tetua-tetua itu menekuk buruk.
----------------
"Kita tak bisa membiarkan bocah ini begitu saja. Kalau tidak, gelar sekte besar yang kita miliki tak akan ada gunanya." ucap tetua dari Sky Devouring Castle.
"Aku setuju." jawab tetua dari Immortal Pearl Pavillion. "Tapi bagaimana kita bisa memberinya pelajaran? Bahkan bila kita meminta ia bertarung dengan salah satu tetua, kekuatannya kurang lebih akan setara."
"Heh. Aku punya rencana." ucap Han Li yang sebelumnya hanya diam menyimak. Kali ini ia bicara dengan senyum licik nan sadis di wajahnya. Tampaknya ia sangat percaya diri dengan rencananya.
Sementara itu, tetua dari Di Clan hanya diam tanpa bicara sepatah katapun. Sejujurnya, ia cukup bimbang saat ini. Murid dari klannya, Di Lang di habisi dengan cukup keji, sekalipun itu juga kesalahan Di Lang sendiri. Martabat dari Di Clan-nya akan tercoreng kalau ia diam saja. Tapi sebelum perjamuan ini dimulai, putra ketiga dari Patriach Di Clan, Di He mendatanginya dan memintanya agar tidak memberikan hukuman berat pada Xika.
Kalau ia tidak mengambil tindakan, Di Clan akan ditertawakan banyak orang. Tapi kalau ia mengambil tindakan berarti ia melanggar permintaan putra Patriachnya dan entah apa yang akan terjadi. Sekalipun hanya putra ketiga dan tak banyak menimbulkan kehebohan, tapi rasanya anak itu menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang berbahaya yang kalau bisa tak ingin ia ganggu.
__ADS_1
Jadi sepertinya pilihan yang bisa ia buat hanyalah diam. Kalau ia tak ikut diskusi ini, maka ia akan dianggap tak melakukan apa-apa. Namun ketika diskusi, ia hanya diam. Dengan demikian setidaknya ia telah menyelamatkan martabat Di Clan sekaligus melaksanakan permintaan Di He.
---------------------------
SYASH!
Han Li melambaikan tangannya dan menghilangkan penghalang kedap suara yang ia buat. Ia berbalik dan menghadap Xika dengan senyum kemenangan di wajahnya. Sementara tetua-tetua lainnya tampak masih agak terkejut atau tidak yakin dengan keputusan mereka namun mereka tak memiliki pilihan lain.
"Bocah, karena kau sangat percaya diri dengan kemampuanmu, mengapa kau tak melawan salah satu dari kami? Tidak, lawan saja aku. Bukankah kau sangat pandai bicara? Mari kita lihat apakah kemampuan bertarungmu sebanding dengan lidahmu."
Ucapan Han Li itu segera menimbulkan kehebohan dan bisik-bisik di sana-sini. Apa ia sudah gila? Sekalipun Xika sangat kuat, bukan berarti ia dapat mengalahkan Han Li. Kalau seperti ini, sekalipun Han Li menangpun tak akan bisa mendapatkan kembali wajah mereka yang hilang.
Xika juga memiliki pikiran yang sama dengan orang banyak. Apa yang bajingan tua ini rencanakan sebenarnya? Bahkan sekalipun banyak orang membicarakannya, Han Li masih tersenyum percaya diri.
"Heh. Kau juga kelihatannya sangat percaya diri. Kenapa tidak kau saja yang lawan aku?" Di saat Xika terdiam harus menjawab apa, Huo Bing melangkah maju membalas ucapan Han Li.
Han Li mengerutkan keningnya memandang pria berpakaian mencolok di hadapannya.
Dengan senyum percaya diri ditambah wajah sombongnya, Huo Bing menjawab,
"Orang yang memiliki api yang lebih panas darimu."
"Oh?"
BLAR!
"Mari kita buktikan perkataanmu."
Han Li melangkah maju dengan api di seluruh tubuhnya. Ia tak bisa menahan diri lagi. Sebelumnya Xika sudah kurang ajar. Dan sekarang ada satu bocah lagi yang kurang ajar? Sekalipun ia dapat merasakan aura yang tak biasa dari bocah mencolok itu, tapi bukan berarti ia akan melangkah mundur ketika ditantang seperti ini.
"Hehehe......"
Tanpa rasa takut, Huo Bing juga melangkah maju dengan api di sekujur tubuhnya. Kebetulan, ia juga butuh lawan untuk mengetes dirinya yang sudah naik tingkat.
__ADS_1
SYUT!
Han Li mengayunkan tangannya yang berkobar menuju Huo Bing. Tapi sebelum Huo Bing sempat membalas, sesosok sinar melesat tepat di antara Huo Bing dan Han Li. Sinar tersebut menahan pukulan Han Li.
"Saudara Han, tampaknya tidak pantas bagimu untuk bertarung dengan salah satu muridku, bukan?"
Sinar itu meredup dan mewujud menjadi sebuah sosok yang cukup dikenal oleh seluruh tamu yang hadir di tempat itu. Kepala Akademi dari Mu Zhan Academy, tuan rumah dari kompetisi penyambutan murid baru kali ini, pemilik tempat perjamuan yang mereka hadiri saat ini, Jing Wei.
Alih-alih marah, Han Li tersenyum melihat kedatangan Jing Wei, seolah ia sudah menduga kedatangan pria botak itu. Meskipun kehadiran dan kekuatan Huo Bing di luar ekspetasi Han Li, tapi dengan munculnya Jing Wei maka rencananya pasti berhasil.
"Saudara Jing, kau terlambat." ucap Han Li masih dengan senyum di wajahnya.
"Aku minta maaf atas hal itu. Tapi kelihatannya kau juga melakukan hal yang tak pantas bukan? Meminta salah satu anak didikku bertarung denganmu? Apakah itu adil? Saudara Han, kau harus mencari lawan yang sesuai denganmu." Jing Wei menjawab dengan tenang tapi kelihatannya ia sudah siap kalaupun Han Li ingin bertarung dengannya saat ini.
Berbanding terbalik dengan bayangan Xika, Han Li tidak menolak dan bersikeras agar Xika melawannya bahkan rubah tua itu malah mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"Tampaknya apa yang dikatakan Saudara Jing cukup masuk akal. Namun muridmu disini telah melukai perwakilan dari sekte-sekte kami dengan keji. Kau tentu tak akan membiarkannya tanpa pendisiplinan, bukan?"
Jing Wei menatap Han Li dengan tenang. Kelihatannya bajingan ini sudah mengetahui keadaannya sejak awal. Itulah sebabnya ia melawan Huo Bing. Rubah sialan ini sengaja untuk menarik dirinya keluar. Selain itu, saat ini ia tak bisa menyatakan Xika tak bersalah begitu saja, sekalipun sebagian besar luka memang karena kesalahan masing-masing perwakilan seperti yang Xika katakan.
Pada titik ini, Han Li tak akan menyerah sampai Xika dihukum. Dan tampaknya Han Li juga tak akan terima bila hukuman Xika diberikan oleh Jing Wei.
"Kalau begitu apa saranmu?"
Senyum licik Han Li semakin besar. Ia sudah menunggu Jing Wei mengatakan hal itu.
"Begini, aku yakin Saudara Jing juga mendengar ucapan muridmu yang sombong ini sebelumnya. Ia mengatakan Tian Yin, jenius nomor satu Dinasti Lin ini sebagai bajingan. Karena ia sangat percaya diri dengan kemampuannya sampai berani berbicara lancang seperti itu, mengapa tak ia lawan saja Jenius Nomor Satu itu secara langsung? Tentunya Saudara Jing tak akan keberatan, bukan? Bagaimanapun juga ini lebih baik daripada melawanku. Tapi terserah bila Saudara Jing merasa lebih baik aku yang memberi pelajaran pada muridmu ini."
Xika tersenyum sinis dalam hatinya. Jadi ini rencana Han Li sejak awal. Ia sudah menyadari kehadiran Jing Wei sejak awal. Ia sengaja meminta Xika melawan dirinya, karena tahu Jing Wei pasti akan keluar dan mengatakan itu berlebihan.
Dengan begitu ia akan dapat memaksa Xika melawan Tian Yin tanpa Xika bisa menolak dengan alasan bahwa melawan Tian Yin lebih baik daripada melawannya. Selain itu, Xika juga sudah menghina Tian Yin sehingga ia tak punya aslaan lagi untuk menolak.
Bagi orang lain, mungkin itu adalah musibah. Tapi bagi Xika, ia sudah menunggu momen itu sejak lama. Kau ingin aku melawan Tian Yin? Tentu, bawa dia kemari. Akan kubuat ia menyesal karena tidak membunuhku selagi bisa.
__ADS_1