Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-83


__ADS_3

Pola di ruangan itu bersinar semuanya. Begitu juga dengan tubuh Xika, Huo Bing dan Heiliao.


Mereka menutup mata masing-masing, jadi tidak melihat tubuh mereka juga ikut bersinar. Meskipun begitu, mereka menyadari sensasi yang muncul di tubuh mereka. Terutama Heiliao. Serigala itu merasakan sensasi familiar di tubuhnya. Ia sering mengalaminya ketika hendak berpindah tempat dengan jarak yang cukup jauh.


Formasi meredup. Bersamaan dengan tiga mahkluk yang tinggal di situ sebelumnya.


--------------------------


Xika membuka matanya dan melihat langit biru yang sudah lama sekali belum ia lihat. Kemudian ia melihat ke arah bawah dan tersadar bahwa ia tengah berada di ketinggingan 700 meter diatas tanah.


Waktu tidak menunggu, tentu saja. Xika belum selesai menghitung berapa jarak antara dirinya dengan tanah di bawahnya, tapi ia sudah meluncur ke bawah.


Untuk sesaat, Xika lupa bahwa ia punya sayap. Saat berikutnya, barulah ia mengepakkan sayap-sayapnya.


Xika berhenti sekitar 300 meter di atas tanah. Ia mengepakkan sayapnya secara perlahan dan mendarat dengan aman di bawah.


Ia menoleh ke kanan dan menemukan Huo Bing yang entah kenapa tampak terluka.


Xika mendekat dengan hati-hati, siapa tahu ada musuh yang menyerang Huo Bing hingga membuatnya seperti itu.


"Ada apa?" tanya Xika perlahan.


Huo Bing tahu apa yang ada di pikiran Xika.


"Tenang saja." katanya, "Tidak ada musuh disini. Sepertinya aku terluka ketika formasi itu memindahkanku. Energi formasi itu berbenturan dengan tubuh qi ku ini. Lain kali aku akan masuk dulu ke dalam dantianmu."


Xika mengangguk lega. Syukurlah Huo Bing tidak apa-apa.


"Heh, burung bodoh."


Terdengar suara Heiliao dari belakang kepala Xika. Heiliao tengah duduk di bahu Xika. Xika tidak tahu bagaimana ia sampai ketika dipindahkan oleh formasi itu, tapi yang pasti ia sudah cukup terbiasa berpindah tempat seperti itu.


Heiliao naik ke kepala Xika kemudian duduk.


"Di mana kita sekarang?" tanyanya.


"Tentu saja di hutan bodoh! Apa kau buta?" kata Huo Bing yang kesal karena diejek Heiliao sebelumnya.


"Sialan! Aku juga tahu ini hutan. Yang kutanyakan adalah di mana tepatnya posisi kita berada?"


Xika melihat sekelilingnya dan menemukan begitu banyak pohon.


"Apa kita kembali ke hutan dekat makam?"


"Sepertinya tidak. Meskipun sama-sama hutan, tapi pohon-pohon yang disini beda jenisnya dengan hutan itu."


Xika mengangguk-angguk mendengar penjelasan Huo Bing.


"Baiklah, ayo jalan."


Setelah mengatakan itu Huo Bing terbang kemudian mengecilkan ukuran tubuhnya dan hinggap di bahu kiri Xika. Ia mematuk Heiliao yang berada di kepala Xika hingga serigala itu terjatuh ke pundak kanan Xika.


Sementara Xika masih bingung dengan apa yang dilakukan Huo Bing, burung itu tersenyum dengan puas.


"Sekarang sama." ucapnya membicarakan posisi mereka di tubuh Xika. Sebelumnya posisi Heiliao lebih tinggi dari Huo Bing karena ia berada di atas kepala Xika. Kini ia berada di pundak kanan Xika dan posisinya sama dengan Huo Bing.


Heiliao hanya mendecakkan lidahnya.


Xika hanya diam saja. Ia berjalan dengan burung dan serigala yang berada di kiri dan kanan pundaknya.

__ADS_1


Huo Bing mengangkat kepalanya. Matanya memicing seolah melihat ke arah yang cukup jauh. Dan memang itulah yang dilakukannya.


"Ada sebuah kota tidak jauh dari sini. Jaraknya beberapa puluh kilo."


Ia berhenti untuk melihat ke atas. Saat ini kira-kira tengah hari. Ia melanjutkan,


"Mungkin besok kita bisa sampai."


"Kenapa harus besok kalau bisa hari ini?" tanya Xika percaya diri.


Sebelum sempat bertanya, Xika mengepakkan sayapnya. Dalam sekejap ia menempuh puluhan kilometer.


Xika melebarkan sayapnya untuk menghentikan dirinya maju lebih jauh. Pundak kiri kanannya sudah kosong sekarang.


Tapi tidak untuk waktu yang lama.


Lubang hitam muncul dan Heiliao keluar darinya dengan ekspresi santai. Sangat berbeda dengan Huo Bing yang mendekat dengan wajah kesal.


"Bocah sialan! Setidaknya beritahu dulu kalau mau melaju cepat!"


"Kau kan juga punya sayap." jawab Xika tidak peduli.


Di tengah jalan tadi, saat Xika sedang mengepakkan sayapnya, Huo Bing dan Heiliao terlempar dari pundaknya.


Tapi Heiliao tidak menyentuh tanah. Ia membuat lubang hitam di udara yang membawanya menuju pundak Xika. Tapi Huo Bing tidaklah bisa berpindah tempat seperti Heiliao, jadi ia terpaksa menyusul dengan sayapnya.


Xika mengecilkan ukuran sayapnya sampai tertutupi bajunya. Kemudian ia maju menuju kota di depannya dengan Huo Bing yang masih menggerutu di pundaknya.


Ia sampai di gerbang kota dan melihat antrian yang panjangnya jauh melebih kota-kota yang pernah ia kunjungi sebelumnya. Begitu juga dengan ukuran gerbang kotanya.


Ia berjalan menuju antrian.


Xika yang melihat jalan terbuka di depannya langsung maju meskipun cukup bingung. Orang-orang yang menyingkir terdiri dari berbagai golongan. Tapi mereka semua berasal dari kalangan bawah. Terbukti dari pakaian mereka yang memiliki beberapa bolong di sana-sini.


Ketika Xika tinggal beberapa meter lagi dari petugas yang menjaga gerbang, ia mendengar teriakan di belakangnya.


"Bocah! Minggir kalau tidak mau mati!"


Xika berbalik dan melihat kusir kereta kuda itu yang berbicara. Kemudian ia tersenyum percaya diri.


"Heh. Coba saja kalau bisa."


Setelah itu ia membalikkan badannya dan berjalan mendekati petugas penjaga.


"Aku ingin masuk. Berapa biayanya?"


"E-eh.....anu......." jawab penjaga itu yang ragu karena kereta kuda sudah tinggal beberapa meter lagi dari Xika.


Xika menaikkan sebelah alisnya bingung kenapa penjaga itu bersikap seperti itu.


DUAKKK!!!


DAR!


Kereta itu menabrak Xika, kemudian terlempar mundur seolah menabrak penghalang berkekuatan tinggi.


Penjaga dan kusir kereta kuda melebarkan matanya karena bingung.


Orang-orang yang sebelumnya mengantri juga bingung dengan keadaan yang baru saja terjadi. Kereta itu menabrak Xika, tapi bukannya Xika yang terdorong tapi malah kereta itu yang terdorong?

__ADS_1


Xika bahkan tidak menoleh.


"Jadi? Berapa biaya yang harus kubayar untuk masuk kota?"


"Ehh........"


Penjaga itu cukup bingung dan sedikit takut dengan Xika yang tampaknya cukup kuat. Belum sempat ia berbicara lebih lanjut, terdengar suara yang berasal dari dalam kereta kuda.


"Sialan!"


Suara itu tidak terdengar senang. Kemudian pemilik suara itu keluar dari keretanya dan memaki kusirnya.


"Dasar tidak berguna! Apa kau tidak bisa menyetir dengan benar?"


"Mo-mohon maaf tuan muda. Masalahnya tadi ada anak muda yang menghalangi jalan." kata kusir kuda itu sambil membungkuk.


"Lalu kenapa? Tabrak saja. Kalau ia tahu diri ia pasti menghindar."


"........."


Kusir kuda itu tidak menjawab. Wajahnya terlihat ragu.


Tuan muda yang tadi disebut oleh kusir kuda itu melihat wajah bawahannya. Kemudian ia melihat sekelilingnya dan menemukan banyak orang yang mengelilingi mereka.


Awalnya dia senang karena berpikir orang-orang itu kagum dan takut padanya. Tapi kemudian ia sadar bahwa bukan dirinyalah yang mereka lihat. Mereka melihat orang lain.


Pemuda yang berdiri di samping penjaga kota menunggu dirinya diperbolehkan masuk.


Kemudian ia bertanya pada kusir kuda itu.


"Bicara! Apa yang sebenarnya terjadi?"


"A-anu......tadi saya sudah memperingati anak muda itu untuk memberikan jalan, tapi ia menolak. Saya pikir ia hanya bermain-main dan pasti akan menyingkir bila saya maju. Jadi saya meminta kuda-kuda ini untuk maju, namun siapa sangka bahwa pemuda itu begitu sombong. Ia memamerkan kemampuannya dan membuat kereta kami mundur."


Raut wajah pria yang disebut Tuan Muda itu tidak begitu bagus. Kurang lebih ia juga seumuran dengan Xika. Hanya saja pakaiannya jauh lebih baik dibanding Xika. Meskipun Xika tidak bisa dibilang miskin karena pakaiannya, tapi bila dibandingkan dengan Tuan Muda itu tentu saja bagaikan bumi dan langit.


Tuan Muda itu menoleh menatap Xika kemudian berkata,


"Apa yang dikatakan dia benar?"


Xika tetap berdiri di tempatnya. Menatap penjaga yang mulai ketakutan. Ia tidak mempedulikan pria itu.


"Apakah kota ini tidak memiliki biaya masuk?"


Penjaga itu menggeleng karena masih takut untuk berbicara. Terlebih ketika melihat raut wajah Tuan Muda di belakang yang semakin memburuk karena Xika mengabaikannya.


"Jadi berapa biaya masuknya? Aku tidak bisa masuk bila aku tidak membayarnya bukan?"


Penjaga kota itu mengangguk dengan takut. Ketika ia hendak bicara, Tuan muda itu sudah lebih dulu bicara.


"Bocah sialan! Aku bicara denganmu!"


Tapi Xika tetap tidak mengacuhkan pria itu. Ia hanya berdiri sambil menunggu jawaban dari penjaga kota itu tentang berapa biaya masuknya.


"Sialan!"


Tuan Muda itu tidak tahan lagi dengan sikap Xika. Ia membuka telapak tangannya dan memunculkan bola api. Kemudian melemparkannya menuju Xika.


WHOSHHH!!!!!

__ADS_1


__ADS_2