Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-193


__ADS_3

"Ukh....."


Wanita itu menggertakkan giginya menahan amarah. Ia ingin sekali maju dan menghajar Xika. Tapi ia sadar ia tak mampu untuk melakukan itu. Akhirnya ia melambaikan tangannya dan naga air di sampingnyapun menghilang.


"Tunggu saja. Mereka tak akan membiarkanmu begitu saja." Ancam wanita itu.


"Mereka? Siapa yang kau sebut mereka?"


Mendengar pertanyaan Xika, wanita itu tersenyum. Tapi bukan senyum yang baik, melainkan senyum yang penuh dengan dendam dan kepuasan karena dendam itu akan terbayarkan.


"Seratus Murid Dalam Terkuat."


"Seratus Murid Dalam Terkuat? Yah, siapapun itu aku akan menyambutnya. Tapi tolong katakan, datangnya jangan satu-satu ya? Soalnya aku malas." Xika masih tak gentar sekalipun para Murid Dalam terkuat akan mencarinya.


"Xika, tunggu sebentar. Sepertinya aku punya ide bagus."


"Ide apa?"


Wanita pengguna elemen air itu tidak pergi karena ia juga penasaran dengan ide yang akan dibicarakan Huo Bing. Huo Bing sendiri tidak terlalu peduli dengan gadis itu. Baginya, gadis itu dapat disingkirkan kapanpun ia mau.


"Apa kau sadar kenapa kau diserang terus-menerus?"


"Karena aku terlalu menarik perhatian?"


"Yah, bisa dibilang begitu. Dan apa kau ingat beberapa saat sebelumnya yang penuh dengan kedamaian? Apa kau ingat kenapa kita bisa melalui masa damai itu?"


"Hmmm.......karena aku mengalahkan sepuluh murid sialan itu? Tunggu dulu! Jadi maksudmu adalah, kalau aku mengalahkan Seratus Murid Dalam Terkuat atau apalah itu, tak akan ada yang berani menggangguku?"


"Akhirnya kau mengerti." Huo Bing tersenyum karena apa yang dikatakan Xika barusan memang sama dengan apa yang ia pikirkan.


"Gila......kalian pasti sudah gila......mengalahkan Seratus Murid Dalam Terkuat.....?"


Wanita itu tak bisa mempercayai apa yang didengar telinganya. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Gila atau tidak, harus dibuktikan dulu, bukan?"


Ucapan Huo Bing itu tak dibalas. Sebaliknya, wanita itu berlari pergi sambil menggelengkan kepalanya dan terus mengatakan 'gila'.


"Tidak. Kau tidak perlu mengalahkan semua murid itu." Heiliao melangkah maju.


"He? Kau juga mau mengatakan aku gila?" ucap Xika bercanda.


"Bukan. Itu terlalu merepotkan. Kau kalahkan saja Murid Dalam nomor satu. Pasti tak akan ada yang mengganggumu lagi."


"Ah! Benar juga. Itu jauh lebih mudah. Kalau begitu ayo kita kalahkan murid nomor satu itu."


Xika melangkah maju penuh dengan kepercayaan diri. Disampingnya, berdiri Huo Bing, Heiliao, serta Xingli menemaninya.


Setelah bertanya pada beberapa murid, Xika mengetahui bahwa Murid Dalam nomor satu bernama Hua Zhantian. Sayangnya ketika ia bertanya di mana kediaman Hua Zhantian, tak ada yang mengetahuinya.


"Yah, kurasa itu wajar saja. Kalau tempat tinggalnya diketahui semua orang, pasti akan dipenuhi banyak orang setiap harinya bukan? Baik mereka yang mengaguminya ataupun mereka yang ingin menantangnya seperti kita."


"Masuk akal." kata Xika sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kalau tak bisa menemuinya, kenapa tak buat ia datang sendiri saja?" usul Heiliao.


"Datang sendiri? Bagaimana?"


"Sebarkan saja berita kau menantang seluruh Murid Dalam Terkuat. Pasti semut-semut akan datang terlebih dahulu. Setelah itu, yang lebih besar akan datang perlahan-lahan. Ketika Hua Zhantian merasakan posisinya terancam, ia akan datang kepadamu."


"Ide bagus. Tapi kenapa tidak bilang bahwa aku menantang Hua Zhantian langsung saja? Bukankah itu lebih mudah dan menghemat waktu?"

__ADS_1


"Kalau kau jadi Hua Zhantian, apa kau akan menjawab tantangan dari seorang bocah antah berantah yang tak memiliki nama ataupun gelar?" Heiliao bertanya balik.


"Tidak. Tentu saja Hua Zhantian tidak akan melakukan itu. Jadi agar kau bisa menantang Hua Zhantian, kau harus membuat nama untuk dirimu sendiri. Caranya adalah dengan mengalahkan para Murid Dalam yang termasuk seratus terkuat." jawab Huo Bing.


"Begitu ya.....Kalau begitu sebaiknya kita sebarkan sekarang juga. Lebih cepat lebih baik."


Tapi tanpa mereka ketahui, kabar bahwa Xika menantang Seratus Murid Dalam Terkuat sebenranya sudah tersebar. Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah wanita pengguna elemen air itu. Setelah linglung beberapa saat, kepalanya mulai jernih.


Dan menurut akal sehatnya, sekuat apapun Xika, tak mungkin Xika dapat mengalahkan Seratus Murid Dalam Terkuat itu. Jadi apa yang dikatakan Xika pastilah omong kosong. Tentu saja, ia ingin melihat Xika dipermalukan karena asal bicara.


Jadi dengan sukarela ia menyebarkan berita itu.


Kembali ke Xika dan kawan-kawan. Saat ini pria yang menggunakan pedang telah sadar. Kebetulan ia mendengar percakapan Xika tentang menantang Hua Zhantian dan Murid Dalam lainnya.


"Heh. Lupakan saja. Kau tak akan bisa mengalahkan Hua Zhantian sekalipun kau bisa mengalahkan sembilan puluh sembilan murid lainnya. Tidak, bahkan mengalahkan Sepuluh Besar saja sudah mustahil."


"Ho? Memangnya kenapa?"


"Seratus Besar Murid dalam terdiri dari murid yang memiliki berbagai macam kekuatan. Tapi Sepuluh Besarnya, masing-masing berada di tahap Forming Qi 9. Dan kau? Bahkan Forming Qi 8 saja belum. Mimpi saja sana!" ejek pria itu.


"Bisa atau tidaknya......."


BLAR!


"Harus dicoba dulu, dong!"


Pada saat itu, aura Xika mengalami perubahan. Kini ia tak lagi berada di Forming Qi 5. Ia sudah menerobos ke tingkat 6. Sekalipun hanya satu tingkat, Xika dapat merasakan perubahan yang ada pada tubuhnya. Tak heran orang mengatakan bahwa mustahil menantang lawan dengan tingkat kultivasi yang lebih tinggi.


"Kau menerobos?! Bagaimana bisa........menerobos semudah itu-"


DUAK!


"Mimpi saja sana!" ucap Huo Bing sambil menginjak kepala pria itu dan membuatnya kembali tak sadarkan diri. Burung itu kesal karena pria berpedang tersebut meremehkan Xika. Beraninya ia meremehkan orang yang ia pilih?


"Apa kau tidak salah bicara? Bukannya menantang peringkat seseorang, tapi menantang semuanya?"


"Ya. Kabarnya memang seperti itu."


"Heh. Aku bertanya-tanya murid mana yang melakukan hal gila seperti itu."


Dalam akademi, sudah menjadi hal yang wajar bagi seorang murid untuk menantang murid lainnya. Meskipun pembunuhan tak diizinkan, tapi perkelahian diizinkan, seperti yang Xingli katakan. Begitu juga dengan pada Murid Dalam yang berada dalam Seratus Besar, atau biasa disebut Seratus Murid Dalam Terkuat.


Tentu saja peringkat itu tidak akan tetap dan selalu berganti. Biasanya, murid yang peringkatnya rendah akan menantang murid yang peringkatnya lebih tinggi. Kalau menang, si penantang mendapatkan peringkat murid yang ditantangnya. Sementara murid yang kalah, peringkatnya akan turun satu.


Ada juga kasus dimana murid yang tak memiliki peringkat menantang murid yang memiliki peringkat. Kalau si penantang menang, maka si penantang akan mendapat peringkat dari murid yang ditantang sementara peringkat murid yang kalah akan turun satu. Tapi dalam kasus ini, biasanya murid yang ditantang adalah murid di peringkat akhir, yaitu di peringkat 90-100.


Tapi kabar yang beredar adalah Xika menantang seluruh murid yang memiliki peringkat itu? Tak pernah ada yang melakukan itu dan tak ada yang berani memikirkannya. Jadi tak heran Xika disebut gila.


"Oh? Kabarnya sudah tersebar? Kalau begitu ini akan lebih mudah. Harusnya sebentar lagi akan ada semut yang tergoda." Meskipun Huo Bing tak tahu bagaimana kabar ini bisa tersebar, tapi itu adalah hal baik, jadi ia merasa senang dan tak sabar menunggu para murid Seratus Besar ini datang.


"Itu dia murid yang menantang Seratus Besar. Meskipun ia gila, tapi kudengar ia memberikan cukup banyak kejutan di Ujian Peringkat."


"Kejutan? Apa ia membuat kerusuhan saat Ujian Peringkat sedang berlangsung?"


"Tidak. Ujian Peringkat tahun ini dipimpin oleh Penatua Fen. Ia membuat peraturan bahwa hanya ada dua puluh murid yang akan lolos. Dan semua murid yang hadir di sana diwajibkan untuk bertarung, sekalipun mereka bukan Murid Luar yang ingin menjadi Murid Dalam.


Kau tahu apa yang terjadi? Menurut kabar yang beredar, ada sekitar empat puluh sampai lima puluh murid yang berada di Halaman Utama itu. Selain Dewi Xingli dan dua teman murid baru itu, semua murid yang tersisa bekerja sama untuk mengalahkan dia."


"Apa? Ia pasti cukup kuat sampai bisa memaksa mereka semua bekerja sama. Lalu bagaimana akhirnya? Meskipun kuat, ia pasti akan kalah juga kan pada akhirnya?"


"Tidak, kau salah. Murid baru itu yang menang."

__ADS_1


"Melawan empat puluh lebih murid? Dan menang? Apa kau bercanda?"


"Tidak sama sekali. Lalu ada yang berbeda untuk ujian tahap kedua. Biasanya, setelah dipilih dua puluh orang terkuat, maka kedua puluh orang itu akan menentukan siapa yang paling kuat dan lemah di antara mereka masing-masing.


Tapi hal itu tak berlaku karena si murid baru itu sudah mengalahkan semua murid yang hadir kecuali Dewi Xingli dan dua temannya."


"Walau begitu pertarungan harus tetap diadakan bukan?"


"Sayangnya tidak. Sebelum memulai Ujian Peringkat, Penatua Fen mengatakan bahwa lima besar dari keseluruhan akan medapatkan hadiah darinya. Jadi yang dipedulikan oleh semua orang adalah siapa lima orang terkuat tersebut."


"Hmm......meskipun murid baru itu kuat, tapi tidak mungkin semua temannya sekuat dia juga kan?"


"Kau salah lagi. Murid baru itu, dua orang temannya, dan Dewi Xingli. Totalnya sudah empat orang. Jadi mereka hanya membutuhkan satu orang lagi untuk memenuhi lima besar, setelah itu barulah pertarungan dimulai untuk menentukan peringkat masing-masing."


"Tapi kalau begitu pasti akan ada banyak yang protes terhadap dua teman murid baru itu bukan? Mereka kan tidak ikut bertarung dan menunjukkan kemampuan. Kalau Dewi Xingli sih, tidak perlu diragukan lagi."


"Karena itulah, kedua teman murid baru itu menunjukkan kekuatan mereka. Katanya, keduanya hanya berjalan saja mendekati sisa dua puluh murid yang berhasil lolos. Dan sisa dua puluh murid itu semuanya mulai berjatuhan seiring mendekatnya kedua orang itu hingga hanya menyisakan satu orang yang masih berdiri.


Satu orang itulah yang akhirnya menjadi murid peringkat ke lima."


"Lalu? Lalu? Bagaimana selanjutnya?"


Kini banyak murid yang mendekat untuk mendengarkan obrolan itu. Masih ada beberapa murid yang belum tahu kejadian beberapa saat lalu. Jadi mereka ingin mendengarnya, lagipula ceritanya cukup seru.


"Hebatnya, Penatua Fen tidak protes dengan tindakan keduanya. Bahkan, Penatua Fen bertanya pada mereka, bagaimana mereka ingin ujian kedua dilaksanakan. Hasilnya? Kedua murid itu akan saling berhadapan, sementara murid baru dan Dewi Xingli juga akan berhadapan.


Kalian pasti ingin tahu bukan bagaimana hasil dari pertarungan kedua murid misterius itu?"


Pertanyaannya dijawab oleh banyak anggukan semangat dari kerumunan murid.


"Sayangnya keduanya menolak untuk menunjukkan kekuatan mereka. Mereka memutuskan peringkat mereka dengan suit."


"Yahhhhh........"


Kerumunan langsung kecewa.


"Sama seperti kalian, aku juga kecewa. Tapi kekecewaan itu akan terhibur dengan pertarungan berikutnya. Pertarungan antara si murid baru dan Dewi Xingli."


"Tidak mungkin kami terhibur. Sudah pasti Dewi Xingli yang menang. Ia kan sudah menjadi Murid Dalam. Lagipula kekuatannya sudah diakui banyak orang."


"Benar, benar."


"Kalian semua salah. Murid baru itu bertarung seimbang dengan Dewi Xingli. Baik dalam teknik senjata maupun kekuatan fisik, keduanya setara."


"Apa? Lalu bagaimana hasilnya? Siapa yang menang?"


"Itulah yang ingin kuketahui."


"Apa maksudmu?"


"Setelah pertarungan sengit, Dewi Xingli dan murid baru itu berhenti secara tiba-tiba. Lalu keduanya saling menatap satu sama lain untuk waktu yang cukup lama. Akhirnya mereka menatap Penatua Fen, tapi bahkan Penatua Fen tidak bisa memutuskan siapa yang menjadi pemenangnya. Dan ia menghilang tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut."


Bagian akhir itu menuai berbagai respons dari kerumunan. Tapi mayoritas meragukan kabar bahwa Xika dapat bertarung seimbang dengan Xingli. Lagipula banyak kabar yang dilebih-lebihkan. Mungkin saja ini salah satunya.


"Yah, kalau kalian penasaran, kenapa kalian tidak tanya langsung orangnya? Ia ada disitu." tunjuk murid yang daritadi berbicara.


Dan seketika itu juga perhatian para murid langsung tertuju pada Xika.


"Hahaha......jadi ini rasanya dibicarakan orang......" Xika tertawa kering.


Sayangnya, atau mungkin untung bagi Xika, sebelum kerumunan para murid itu dapat bertanya, aura kuat muncul dan memaksa mereka menutup mulut.

__ADS_1


"Kudengar kau menantang Seratus Besar?"


__ADS_2