Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-116


__ADS_3

"Hm?"


Huo Bing menoleh dan menemukan apa yang dilihat Xika.


"Apa lagi? Tentu saja kotoranmu."


Anehnya, Xika malah terlihat tertarik dengan benda hitam berbentuk bulat itu. Ia keluar dari kolam dan berjalan mendekati benda itu. Tapi baru dua langkah, ia sudah mengerutkan alisnya dan menahan nafasnya. Ia kembali berjalan mundur dan Huo Bing menertawai dirinya.


"Untuk apa kau mendekat?"


"Aku ingin memperhatikannya lebih dekat."


"Apa yang mau diperhatikan?" tanya Huo Bing sambil menggeleng-geleng.


Xika tidak menjawab Huo Bing. Ia berusaha memperhatikan benda itu dari jarak sedekat mungkin yang ia bisa.


"Hei, menurutmu benda ini bisa digunakan?"


"Tentu saja. Kau bisa melarikan diri dari musuh kalau kau melemparinya benda ini."


"Bukan itu maksudku. Aku membicarakan pil atau semacamnya."


"Entahlah. Aku bukan ahli pil. Tapi kalau kau ingin membuat racun sepertinya akan berhasil."


"Racun? Benar juga. Sudah lama aku tidak bereksperimen."


"Apa maksudmu dengan eksperimen?"


"Tentu saja mencampur-campur berbagai racun dan menemukan kombinasi yang tepat."


"Sejak kapan kau bisa membuat racun? Apa asap yang kau lemparkan sebelumnya juga buatanmu? Aku ingat kau juga pernah melemparkannya padaku."


Huo Bing teringat saat pertama kali mereka bertemu. Ia sempat ingin bertanya mengenai kabut itu tapi kelupaan karena banyak hal terjadi.


"Yah, asap-kabut itu bukan ciptaanku. Ayahku yang mengajarinya. Tapi waktu itu ia membuatnya dengan bahan seadanya karena desa kami tidak begitu subur seperti tanah para serigala ini. Kemudian aku mulai belajar meracik sendiri. Sedikit demi sedikit aku mulai memahaminya dan aku bisa mencampur beberapa bahan untuk membuatnya lebih mematikan."


"Jadi kau sudah belajar racun sejak kecil?"


"Begitulah."


"Apa ayahmu tidak takut kau teracuni atau semacamnya?"


"Tidak. Aku tidak bisa diracuni. Sama seperti ayahku."


Huo Bing menatap Xika dengan tidak percaya.


"Tidak mungkin."


"Kenapa tidak?"


"Jangan bercanda denganku."


"Aku serius."


Burung itu menatap Xika dan tidak menemukan sedikitpun sorot jahil dalam pandangannya.


"Apa kau serius?"


"Kenapa aku tidak serius?"


Huo Bing memalingkan wajahnya. Ia tidak percaya dengan fakta yang baru diketahuinya. Ia baru tahu ada manusia yang kebal terhadap semua racun.


"Aku tidak percaya."


"Hah? Kenapa?"


"Tunjukkan padaku!"

__ADS_1


Xika memberikan pandangan aneh pada Huo Bing. Sudah jelas ia tidak mau. Itu hanya berarti satu hal.


"Jadi benar kau bohong."


"Aku tidak bohong."


"Kalau begitu coba racuni dirimu sendiri."


"Tidak mau."


"Kenapa?"


"Karena rasanya tidak enak."


"........"


Huo Bing terdiam mendengar jawaban Xika. Ia pikir anak itu benar-benar bohong, tapi kalau ia berbohong, ia tidak akan menggunakan alasan seperti itu. Sepertinya bagi anak itu, racun hanya masalah enak atau tidak.


"Kalau begitu coba cari racun yang enak."


"Tidak mau. Tidak ada racun yang enak. Enaknya hanya di awal saja, setelah itu pasti akan pahit di lidah. Namanya juga racun. Kalau enak namanya makanan."


Huo Bing semakin bingung mendengar jawab Xika. Sepertinya anak itu tidak benar-benar berbohong. Tapi kalau ia bicara seperti itu berarti ia sudah pernah memakan racun? Ia tidak menebak dan langsung bertanya.


"Kau bicara seperti itu berarti kau sudah pernah memakan racun?"


"Tentu saja sudah. Kalau tidak, bagaimana aku bisa tahu rasanya? Ayahku yang memberinya padaku."


Kini Huo Bing memberikan tatapan tidak percaya. Ayah macam apa yang meminta anaknya memakan racun? Semakin diingat, ayah Xika ini benar-benar orang yang unik ke titik ekstrim.


Xika melihat tatapan Huo Bing dan tahu apa yang dipikirkannya.


"Kata ayah, aku harus tahu berbagai rasa racun baru bisa meraciknya."


Huo Bing tidak bisa lebih bingung lagi. Metode meracik racun macam apa itu? Kalau semua ahli racun menggunakan metode itu, maka tidak akan ada yang namanya ahli racun di dunia ini.


Kemudian anak itu berjalan sambil menatap sekelilingnya dengan seksama. Siapa tahu ia menemukan racun baru.


"Bagaimana dengan itu?" tanya Huo Bing sambil menunjuk sebuah rumput berwarna ungu yang memiliki duri di sekelilingnya. Rumput itu tumbuh di sekeliling sebuah pohon yang berwarna sama. Tapi Xika tidak menyadarinya.


"Boleh juga. Aku tidak pernah melihat tanaman itu. Sayangnya tidak ada Heiliao di sini. Kalau tidak ia pasti bisa membedakan mana tanaman beracun atau tidak."


"Jadi apa yang akan kau lakukan dengan tanaman itu? Memakannya langsung?"


"Tentu saja tidak." Xika menatap Huo Bing dengan aneh. "Tanaman seperti itu harus direbus terlebih dahulu. Bagaimana kau bisa hidup di alam liar tanpa tahu pengetahuan dasar tentang racun seperti ini?"


"Diam dan tunjukkan saja padaku."


Sebenarnya apa yang Xika bicarakan memang tidak meleset. Huo Bing memang hampir tidak memiliki pengetahuan apapun tentang racun. Ia bisa hidup selama itu karena darah ibunya, Sang Phoenix. Api abadi yang mengalir dalam dirinya menetralisir sebagian racun yang diterimanya, jadi ia tidak terlalu pusing-pusing dengan racun dan tidak berniat mempelajarinya.


Tapi apa yang tidak diketahui Huo Bing adalah 'pengetahuan dasar' yang disebutkan Xika sama sekali tidak termasuk dasar. Butuh waktu beberapa tahun agar orang awam bisa mengetahui karakteristik dan cara penggunaan racun seperti yang Xika lakukan barusan. Ayahnya mengatakan itu adalah hal dasar, jadi Xika juga mengatakan hal yang sama. Ia pasti akan menyebabkan banyak ahli racun batuk sampai mati kalau mendengarnya bicara seperti itu.


Xika memetik setangkai rumput ungu itu kemudian mengeluarkan mangkok yang terbuat dari besi dari cincin spasial rampasannya. Ada banyak benda berharga yang yang tidak ia duga namun berguna berada dalam cincin-cincin itu. Salah satunya adalah mangkok ini.


Jaraknya saat ini tidak terlalu jauh dari kolamnya tadi, jadi ia dapat mengendalikan air dengan mudah untuk mengisi mangkok itu. Kemudian ia membuat api unggun dan meletakkan mangkok besi itu di atasnya. Xika sempat lupa mengecilkan apinya tapi mangkok itu baik-baik saja, sepertinya kualitasnya cukup tinggi.


Dibawah tatapan tidak sabar dan penasaran Huo Bing, akhirnya Xika selesai merebus rumput ungu itu. Air yang digunakannya menjadi berwarna ungu. Kemudian ia mengeluarkan rumput tersebut yang kini sudah berganti warna menjadi putih. Xika menatapnya dengan bingung.


Tapi ia tidak terlalu memperdulikannya. Ia mencium air rebusan berwarna ungu itu dan ia langsung tahu bahwa tanaman itu memang beracun. Ia menyodorkan mangkok itu pada Huo Bing, untuk diperiksa.


"Cium baunya."


Huo Bing mendekatkan kepalanya dan mulai mengendus.


"Ya, ini memang racun." ucap burung itu mengkonfirmasi.


"Kalau aku meminumnya dan tidak terjadi apa-apa, apa itu sudah cukup untuk meyakinkanmu?"

__ADS_1


"Mmm, ya." Huo Bing berbicara dengan ragu.


Berbeda dengan Huo Bing, Xika meminum mangkok itu tanpa ragu, dan langsung meminumnya sampai habis tak bersisa sedikitpun. Huo Bing melebarkan matanya, tidak menyangka Xika akan meminumnya begitu saja.


"Ahhh........." Xika bersendawa. "Apa itu sudah cukup? Uh, rasanya manis di awal, pahit di akhir."


Huo Bing mengamati Xika dengan seksama selama beberapa menit dan tidak menemukan sesuatu yang tidak beres atau terluka. Tapi ia masih tidak percaya. Ia kembali ke dantian Xika dan memeriksa tubuh anak itu dari dalam. Semua saraf-sarafnya, sel-selnya, setiap otot yang ada di tubuh Xika ia periksa seluruhnya dan tidak satupun terlewat. Semuanya baik-baik saja, berjalan seperti sebagaimana seharusnya.


Burung itu kembali membentuk tubuhnya dan memberikan tatapan tidak percaya pada Xika.


"Jadi........kau tidak bohong......."


"Tentu saja tidak. Untuk apa aku berbohong padamu?"


"Entahlah. Aku hanya tidak percaya saja ada manusia yang kebal terhadap racun. Ah! Benar juga! Bisa juga kau sepertiku. Kau memiliki sesuatu dalam tubuhmu yang menetralisir sebagian racun. Tidak mungkin ada manusia yang kebal terhadap semua racun. Kau hanya kebal terhadap sebagian racun."


Huo Bing juga sadar meskipun ia memiliki api abadi, api tersebut tidak bisa menetralkan semua racun. Mungkin saja Xika juga sepertinya. Anak itu mengerutkan alisnya sebentar kemudian menghela nafas. Sepertinya apa yang ia tunjukkan tidak cukup.


"Baiklah, baiklah. Pilih saja beberapa tanaman yang dapat meyakinkanmu. Aku akan meminumnya. Kau pergi sendiri. Aku tunggu disini saja. Aku malas jalan."


Huo Bing tidak keberatan. Ia mengepakkan sayap semi-transparannya dan terbang menjelajahi hutan. Ia mengambil tanaman-tanaman yang memiliki bentuk serta warna yang aneh dan mencolok sebelum kembali ke Xika. Kira-kira dua belas tanaman yang ia ambil.


"Apa kau segitu tidak percayanya padaku?" tanya Xika melihat banyaknya tanaman yang Huo Bing ambil.


"Aku benar-benar tidak yakin. Bukan tidak percaya, tapi hal seperti kebal terhadap racun benar-benar masalah besar. Dan aku harus memastikannya. Kau akan dalam bahaya kalau orang lain tahu tentang hal ini. Itupun kalau kau memang benar."


Dan Xika kembali menghela nafas. Ia tidak bicara lagi dan langsung mengolah tanaman-tanaman yang Huo Bing bawa dengan cara yang berbeda-beda untuk mengeluarkan semua racunnya. Butuh waktu setengah jam untuk benar-benar mengolah semuanya sampai selesai.


Ia memberikannya pada Huo Bing untuk diperiksa. Jadi burung itu tidak dapat mengatakan bahwa ia bohong. Semua tanaman itu benar-benar beracun. Dan Xika memakan semuanya dengan santai, tanpa keraguan sama seperti sebelumnya.


Huo Bing melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Ia memeriksa luar dan dalam tubuh Xika. Dan mendapati hasilnya sama.


"Mustahil........Tidak mungkin.....Ini tidak mungkin.........Bagaimana kau melakukannya?"


"Melakukan apa?"


"Menetralisir semua racun itu!"


Xika berpikir sebentar kemudian menggeleng.


"Entahlah. Aku tidak tahu."


Huo Bing masih tidak puas dengan jawaban Xika dan menoba mencari alasan yang masuk akal. Tapi Xika tidak terlalu peduli. Pikirannya malah teralihkan pada hal lain.


"Eh, Huo Bing. Rasanya rumput ungu itu semakin banyak, ya?"


Pertanyaan Xika itu membuat Huo Bing menoleh. Sebelum burung itu menemukan alasan yang masuk akal, Xika sudah memanggilnya. Ia melihat rumput ungu yang ia temukan sebelumnya.


"Benar juga. Rumput itu jadi lebih banyak."


"Lihat, warna ungu itu semakin menyebar."


Sama seperti yang Xika katakan, warna ungu di rumput berduri itu menyebar dan mengubah rumput biasa menjadi rumput ungu yang berduri.


Huo Bing mulai merasa ada yang tidak beres.


"Xika. Mundur. Sekarang."


Xika melangkah mundur dengan waspada. Tatapannya tidak pernah meninggalkan rumput-rumput ungu aneh itu. Kemudian Huo Bing melihat sesuatu. Sambil bertengger di pundak Xika, burung itu berkata,


"Xika. Pohon yang terletak di tengah itu terlihat aneh. Apa menurutmu racunnya berasal dari situ?"


Xika jadi ikut memperhatikan pohon yang dibicarakan Huo Bing. Ia bisa melihat riak samar-samar di pohon itu.


"Kau benar. Sepertinya racunnya berasal dari pohon itu. Aku merasa pohon itu tertutupi sesuatu. Bisa kau memeriksanya?"


Burung itu mengangguk. Ia terbang dan menyabetkan cakarnya di sekitar pohon itu. Awalnya tindakannya itu membuat Xika bingung. Tapi kemudian ia mengerti alasannya. Cakar Huo Bing merobek sesuatu yang kelihatannya semacam pelindung. Dan sesuatu terjatuh dari pelindung yang telah robek itu.

__ADS_1


BRUK!


__ADS_2