Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-219


__ADS_3

Wu Liao sedang berjalan mengelilingi akademi di pagi hari. Untuk hari ini, ia tidak ada kelas, jadi ia hendak menikmati liburnya sebentar, berharap mungkin saja menemui seseorang......


Tanpa sadar kakinya, melangkah ke tempat yang sama saat ia berjalan dengan Xika waktu itu. Ia melihat penjual es krim yang Xika datangi beberapa waktu lalu. Ia masih ingat Xika tak perlu bertanya pada Xingli untuk tahu es krim apa yang gadis itu inginkan.


Jujur, ia sedikit iri. Mungkin. Sejak bertemu Xika, hatinya menjadi tak karuan. Kadang-kadang ia terbangun dengan senyum di pagi hari setelah memimpikan Xika. Kadang-kadang ia terbangun di malam hari setelah memimpikan Xika yang dihajar oleh Tian Yin.


Tatapan yang diberikan Xika saat melangkah keluar dari kota sangat.......rumit. Ia tak tahu bagaimana menjelaskannya. Apakah disana ada kemarahan? Kekecewaan? Kesedihan? Harapan? Ia benar-benar tak tahu apa yang ada dalam tatapan Xika waktu itu.


Ia berusaha menenangkan hatinya setelah itu. Usahanya berjalan dengan baik, menurutnya. Sangat baik, sampai ia bertemu lagi dengan Xika di Mu Zhan Academy. Entah mengapa, ia merasa senang. Ia tak bisa berhenti bicara tentang Xika pada Qing Hu.


Tapi perasaannya kembali bergolak ketika melihat Xika bersama Xingli. Kalau tak salah gadis itu juga termasuk salah satu dari Empat Gadis Tercantik di Ibukota. Ia juga termasuk, tapi entah kenapa dihadapan Xingli, dirinya merasa tidak percaya diri.


Entah bagaimana orang lain akan menilai kalau mereka berdua dibandingkan, tapi ia merasa Xingli berada di atas dirinya dalam semua hal. Gadis itu sangat anggun, sekalipun di mulutnya masih ada sisa es krim, atau sekalipun ia menatap Xika dengan lelucon konyolnya. Gadis itu tetap anggun. Pantas saja Xika menyukainya.


Tunggu! Kenapa ia jadi memikirkan hal itu? Bukan urusannya Xika suka pada Xingli. Kenapa ia harus memikirkannya? Apa ia ingin disukai Xika? Tidak, tidak. Itu tidak mungkin..............Benar, itu tidak mungkin.


Wu Liao menendang kerikil dekat kakinya karena kesal. Ia kembali berjalan. Berkeliling akademi selalu bisa menjernihkan pikirannya kalau sedang pusing. Tapi rasanya kali ini tidak begitu. Bahkan, saat ini kakinya menuntun dirinya ke tempat Xika bertarung.


Saat itu, beberapa murid senior bergabung dan menyerang Xika. Ia sangat panik. Apa salah Xika? Kenapa mereka harus menyerang Xika? Ia berusaha melindungi Xika. Ia berusaha mencegah mereka bertarung. Tapi........kenapa? Kenapa Xika menatapnya seperti itu?


Ia benci kakinya yang melangkah mundur tanpa izin. Ia benci dirinya yang membeku tak bisa mengejar Xika. Ia benci dirinya yang hanya bisa melihat punggung Xika semakin menjauh ditemani Xingli. Ia melihat raut wajah bingung Qing Hu yang tak tahu harus melakukan apa. Ia juga merasakannya, hanya saja banyak perasaan lain bercampur.


Setelah hari itu, ia menghabiskan berhari-hari untuk merenung. Apakah ia salah? Ia hanya ingin melindungi Xika. Kenapa Xika menatapnya seperti itu? Atau.......pikirannya kembali menerawang ke masa pertarungan Xika dan Tian Yin. Apakah itu bisa dikatakan pertarungan?


Apakah yang dilakukannya saat itu salah? Ia berusaha tak mengingat hal itu. Perasaannya selalu menjadi buruk setiap kali mengingat hal itu. Ia berharap hal itu tak pernah terjadi. Ia berharap semuanya baik-baik saja. Ia berharap Xika masihlah sama dengan pria antah berantah yang sopan tapi luar biasa memukau.


Ia berharap........tunggu dulu. Ia merasa mendengar langkah kaki. Sepertinya ia telah mendengarnya cukup lama. Apa ia diikuti? Sejak kapan? Gara-gara terlalu memikirkan Xika ia jadi tak menyadari hal lainnya.


Jadi ia mulai berjalan lebih cepat. Berbelok ke gang-gang sepi dan berliku hingga akhirnya langkah itu tak terdengar lagi. Apa ia berhasil? Apakah orang itu kehilangan dirinya? Syukurlah. Ia tak pernah diikuti sebelumnya sehingga membuatnya cukup panik.


Lagipula ia tak pernah menyakiti siapapun. Tidak ada yang mendendam padanya. Semua pria yang menyatakan perasaannya ia tolak dengan halus hingga ia yakin mereka tidak sakit hati. Siapa yang tega melakukan itu padanya?


Harusnya tak ada orang waras yang mengikuti gadis baik-baik seperti dirinya bukan? Sayangnya ia salah. Orang seperti itu memang ada. Dan orang itu sedang berdiri di hadapannya saat ini. Di belakangnya, terbentuk tembok tanah yang menghalangi jalan keluarnya.


Perlahan, pria itu melangkah mendekat. Wu Liao mulai berjalan mundur. Ia melihat sebuah gang lain di sebelah kirinya. Ia harus melewatinya sebelum pria itu menutup jalan keluarnya.


Tap!


Tap!


Tap!


Syukurlah ia berhasil. Ada beberapa gang lain yang letaknya cukup terbuka. Pria itu tak akan berani melakukan sesuatu di tempat terbuka bukan? Wu Liao menoleh untuk melihat pria itu, namun ketika ia membalikkan wajahnya, pria itu sudah berjarak kurang dari satu meter dengan dirinya.


Sejak kapan pria itu sedekat ini? Wu Liao langsung mundur menjaga jarak. Ia menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari bantuan. Berusaha mencari jalan keluar dari gang lain yang ia lihat sebelumnya. Sayangnya, tak ada orang yang lewat. Tak ada yang melihatnya.


Bagaimana bisa tidak ada orang padahal hari masih siang begini? Ia menoleh lagi. Jaraknya terlalu jauh dengan gang-gang lain. Pria itu terlalu dekat. Sekarang ia tidak punya jalan keluar lain.


Perlahan, Wu Liao melangkah mundur. Pria itu berjalan perlahan, menikmati ketakutan dan kepanikan yang dirasakan Wu Liao. Ia menunggu gadis itu melangkah mundur. Sedikit lagi. Dan....Hap! Gadis itu jatuh ke dalam jebakannya.


Pria itu menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan tak ada yang melihat, kemudian berjalan menuju tembok tempat Wu Liao menghilang sebelumnya.

__ADS_1


--------------------------


Syut!


Wu Liao tidak menabrak tembok. Kakinya menginjak tanah yang dipenuhi daun-daun kering. Ia menoleh dan menemukan bahwa sekelilingnya telah berganti. Sebelumnya ia berada di Akademi yang penuh dengan jalan dan gang di sana sini. Bagaimana ia bisa berada di hutan?


Tapi sepertinya ia harus memikirkan masalah itu nanti saja. Kalau ia bisa ke hutan ini, berarti pria yang mengikutinya tadi bisa juga ke hutan ini. Ia harus cepat melarikan diri sebelum-Terlambat!


Pria itu melangkah keluar dari kekosongan. Mendadak kakinya muncul tidak jauh dari Wu Liao, kemudian detik berikutnya seluruh tubuh pria itu sudah berada di depannya, lengkap dengan senyum menjijikannya dan wajah bajingannya.


Tunggu. Ia mengenali wajah bajingan itu.


"Kau?! Hua Zhantian?!"


Hanya itu yang berhasil Wu Liao ucapkan setelah melihat identitas pria yang mengikutinya dari tadi. Sebelumnya, di gang-gang, wajah pria itu tertutup bayangan tembok-tembok jalanan hingga Wu Liao tidak dapat melihat dengan jelas. Namun kini, di tengah hutan dimana sinar matahari menyorot langsung wajahnya, Wu Liao dapat langsung mengenalinya.


"Hahaha.......Apa kau terkejut melihatku?"


"K-kau.....A-apa yang kau lakukan? K-kenapa kau mengikutiku?" Wu Liao berusaha tak memperlihatkan ketakutannya.


"Aku? Bukankah sudah jelas? Aku mengikutimu, tentu saja."


Wu Liao berharap pria di depannya tak melihat tangannya yang gemetar. "A-apa yang kau mau dariku?"


"Darimu? Aku tak menginginkan apa-apa. Kurasa kau salah memberikan pertanyaan. Lebih tepatnya, apa yang aku mau?" Pria itu mengangguk, "Ya, itu lebih cocok. Kalau kau bertanya seperti itu aku akan menjawab 'aku menginginkan dirimu.'"


Tep!


Wu Liao mulai melangkah mundur. Berharap Hua Zhantian tak menyadarinya.


Dan Wu Liao berlari secepat yang ia bisa. Beberapa kali kakinya tersandung akar pohon. Tubuhnya menembus semak-semak hingga tangannya tergores di sana-sini. Tapi ia tetap berlari.


Namun Hua Zhantian tidak melihatnya sebagai ancaman. Ia hanya diam saja melihat Wu Liao berlari. Tidak, ia tertawa. Ia tertawa melihat perjuangan terakhir Wu Liao yang sia-sia.


"Tidakkah kau mengerti? Kau telah jatuh tepat ke dalam jebakanku. Seluruh gunung ini adalah jebakanku untukmu."


Hua Zhantian bicara dengan suara yang cukup keras, sehingga Wu Liao yang telah berlari menjauhpun masih bisa mendengarnya. Gadis itu mulai merasa panik. Sekarang berbeda dengan sebelumnya. Sebelumnya ia masih berada di akademi. Selama ia bertemu seseorang, maka ia selamat.


Tapi saat ini, ia berada di gunung. Kalau gunung ini adalah perangkap seperti yang dikatakan Hua Zhantian....... Tidak. Ia tak mau memikirkan hal itu. Pasti masih ada jalan keluar. Tak mungkin tak ada orang di gunung sebesar ini.


"Hahahaha...........Melihatmu yang masih berusaha berlari, sepertinya kau masih belum mengerti ya? Aku sengaja membawamu ke gunung ini. Apa kau tahu gunung apa ini? Ini adalah area khusus yang hanya bisa diakses oleh para Murid Inti dan beberapa Murid Dalam yang terpilih seperti diriku. Kau bisa berlari sesukamu, tapi tak akan ada yang menyelamatkanmu."


Hua Zhantian mulai berjalan menuju arah Wu Liao pergi. Ia berjalan dengan santai, tak berusaha buru-buru sama sekali.


Wu Liao berusaha menutup telinganya. Ia berusaha untuk tak mempercayai apa yang dikatakan Hua Zhantian.


Kakinya terasa berat setelah mendengar Hua Zhantian, tapi ia memaksakan dirinya untuk terus berlari. Kakinya menuntunnya pada sebuah danau. Harusnya danau itu bisa menyembunyikannya bukan?


Gadis itu mulai mendekati danau itu. Ketika ia hendak memasukkan kakinya ke dalam danau, kakinya menyentuh benda keras. Sesuatu yang keras dan dingin.


Danau itu membeku.

__ADS_1


Tapi bagaimana? Ini bukan musim dingin dan matahari masih bersinar terang di atas sana. Sayangnya, kultivasi adalah jalan yang menentang akal sehat. Di hadapan Wu Liao saat ini, terdapat sebuah danau beku yang cukup lebar.


Dan tampaknya danau itu membeku sampai dalam. Ia mulai bisa merasakan dinginnya danau itu menusuk tulangnya. Ia tak bisa berada di sini terus. Pasti ada semacam hewan spiritual tingkat tinggi yang menjaga danau ini. Ia harus pergi sebelum hewan itu menyadari keberadaannya. Dan sebelum Hua Zhantian menyusulnya.


Jadi Wu Liao kembali berlari. Setelah danau es, ia tak menemukan hal aneh lainnya. Suara Hua Zhantian juga sudah tak terdengar lagi. Aneh. Rasanya terlalu mudah. Hua Zhantian tak akan membiarkannya pergi begitu saja.


Tepat di saat Wu Liao berpikir seperti itu, tanah di depannya melonjak naik hingga membentuk sesosok manusia. Hua Zhantian.


"Hahahaha.......tidak perlu kaget seperti itu. Apa kau tidak tahu aku adalah Kultivator Tanah? Dimanapun kau berada aku dapat menghampirimu dalam sekejap mata."


Wu Liao menatap Hua Zhantian dengan mata lebar. Ia tidak percaya usahanya sejauh ini sia-sia.


"Lagipula, bukankah kau tahu sejak awal bahwa kau tak akan bisa melarikan diri dariku?"


"Keluargaku akan mencari tahu tentang hal ini. Mereka tak akan tinggal diam." ucap Wu Liao menahan air matanya.


"Keluargamu? Wu Clan maksudmu? BAHAHAHA...........kau sungguh lucu." Hua Zhantian memasukan tangannya ke dalam saku jubahnya, lalu mengeluarkan sesuatu yang berhasil membuat Wu Liao membelalakan matanya.


"T-token partriark......Tidak....ini tidak mungkin....Apa yang kau lakukan? Apa yang kau lakukan pada keluargaku?"


"Aku tak melakukan apapun. Patriarkmu yang mendatangiku sendiri. Ia yang memintaku menikahimu."


"Tidak! Itu tidak mungkin........itu tidak mungkin........Kau bohong!"


"Aku tidak memaksamu untuk percaya. Itu kebenarannya. Sepertinya Partriarkmu tahu bahwa klan kecil seperti Wu Clan-mu tak dapat bertahan tanpa seorang jenius yang kuat." ucap Hua Zhantian dengan senyum sombongnya.


Wu Liao menggelengkan kepalanya. Ini semua tidak mungkin. Ia tidak percaya keluarganya menjual dirinya.


"Heh. Patriarkmu membuat keputusan yang tepat. Berhenti menolak, Wu Liao. Jadilah wanitaku. Pertama, aku akan menguasai Wu Clan. Setelah itu, Mu Zhan Academy. Berikutnya, Dinasti Lin. HAHAHAHAHA................" Hua Zhantian tertawa seperti orang gila.


"K-kau tidak akan bisa menguasai Akademi. Masih ada yang lebih kuat darimu. Lagipula kau bukan siapa-siapa."


"Maksudmu para Murid Inti? Cepat atau lambat mereka akan menjadi batu loncatanku. Dan tunggu saja. Sekarang aku memang bukan siapa-siapa, tapi beberapa tahun lagi, kau akan mengetahui siapa diriku sebenarnya."


"Tidak. Ada seseorang yang tak bisa kau lampaui tidak peduli siapa dirimu sebenarnya."


"Tidak bisa? Maksudmu dia? Kuakui, dia memang hebat. Bahkan akupun bukan tandingannya, saat ini. Tapi tenang saja, Dinasti Lin terlalu sempit. Ia akan melebarkan sayapnya tidak lama lagi. Pada saat itu, aku akan menguasai Akademi. HAHAHAHAHA........................."


Wu Liao terdiam. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Tak pernah dirinya merasa tak ada harapan seperti ini. Dan lagi, kenyataan bahwa keluarganya menjual dirinya benar-benar menghantam hatinya hingga hancur lebur.


"Bagus. Seperti itu. Berhentilah melawan. Jadilah gadis yang baik dan penurut."


Sentuhan Hua Zhantian berhasil membuat Wu Liao tersadar dari lamunannya. Namun ia sudah terlambat. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Tingkat kultivasi Hua Zhantian jauh di atasnya. Ia hanya bisa pasrah melihat kesuciannya direngut dengan memalukan seperti ini.


"Wah, kau benar-benar layak menjadi salah satu dari Empat Gadis Tercantik di Ibukota. Lihat kulit mulusmu ini. Apa aku yang pertama melihatnya? Aku merasa terhormat."


Setetes air mata jatuh di wajah Wu Liao. Bahunya bergetar hebat menerima sentuhan tangan Hua Zhantian pada kulitnya secara langsung. Bajunya tak dapat melakukan apa-apa pada Hua Zhantian. Sepertinya ini akhir kisahnya. Entah mengapa di saat seperti ini ia teringat Xika. Wajahnya mendadak muncul di kepalanya. Ia bahkan merasa bisa mendengar suaranya meneriakkan,


"Cap-sah Technique, First Way"


SYUT!

__ADS_1


"Single!"


SLASH!


__ADS_2