Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-170


__ADS_3

Ledakan besar terdengar sampai ke tempat Heiliao dan Huo Bing bertarung. Ledakan itu berhasil menghentikan pertarungan mereka dan memaksa semuanya memandang arah suara ledakan itu berasal.


Di balik wajah kusam nan kotor Heiliao, sebersit senyum muncul secara samar-samar di wajahnya. Begitu juga dengan Huo Bing. Sekalipun dirinya kelihatan hampir tembus pandang, wajahnya masih memberikan senyum cerah.


Anak itu berhasil, pikirnya.


Berbanding terbalik dengan wajah cerah yang ditunjukkan Huo Bing dan Heiliao, para ular tidak memiliki wajah yang begitu baik. Mereka mengerutkan kening dan menatap satu sama lain. Kelimanya bisa merasakan perasaan tidak enak yang muncul entah dari mana.


Kelimanya tidak melanjutkan pertarungan lagi. Mereka langsung melesat bergegas mencari tahu penyebab ledakan itu.


Huo Bing, yang melihat hal itu, tidak tinggal diam. Ia juga melesat tidak kalah cepat dengan para ular. Mendengar dari ledakan yang dihasilkan, pasti Xika menghabiskan qi yang tidak sedikit, bahkan mungkin semua qinya. Kalau memang benar begitu, ia harus melindungi anak itu dari para ular ini.


Namun, Heiliao tidak bergerak dari tempatnya. Ia tidak menyusul Huo Bing maupun para ular. Ia hanya diam menatap langit selama beberapa saat. Kemudian rahangnya terbuka mengeluarkan raungan tajam yang ganas.


Bersamaan ketika raungan itu terdengar, muncul lubang hitam besar di udara. Heiliao meraung selama beberapa saat sebelum berhenti. Tapi sekalipun sudah berhenti, para ular masih merasa mendengar suara Heiliao di kepala mereka.


Banyak tatapan takut diarahkan pada serigala hitam itu. Sementara yang ditatap hanya diam saja dengan senyum puas tergantung di wajahnya.


Tak berselang lama setelah raungan itu terdengar, sebuah sosok muncul dari lubang hitam itu. Seekor serigala. Tapi itu belum selesai, bahkan mendekatipun tidak.


Setelah serigala pertama, serigala-serigala lain mulai keluar satu-persatu dari lubang hitam di langit itu. Mereka mendarat dengan sigap kemudian melihat keadaan sekitar mereka yang berantakan, dan akhirnya menemukan sang serigala hitam yang tengah berdiri di atas tumpukan mayat ular.


"Bunuh semua ular."


Hanya itu yang keluar dari mulut sang serigala hitam. Namun serigala-serigala yang baru datang itu langsung melaksanakan perintahnya tanpa bertanya. Mereka membunuh semua ular yang ada di pandangan mereka. Kemudian, setelah tak ada yang tersisa, mereka langsung berpencar dan mencari ular untuk melaksanakan perintah pemimpin mereka.


Setelah para serigala berpencar, hanya tinggal Heiliao sendiri yang ada di tempat itu. Tapi lubang hitam di langit masih terbuka tanpa menunjukkan tanda menutup.


Kemudian, sebuah cakar melangkah melewati lubang itu, dan perlahan muncullah sosok serigala yang mengeluarkan aura berwibawa.


"Lang Shan."


Serigala yang dipanggil Lang Shan itu mendekati Heiliao dan hanya berhenti ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa langkah. Serigala itu menekuk satu kaki depannya dan menundukkan kepalanya.


"Aku membutuhkan bantuanmu."


"Saya mendengarkan."


Lang Shan, salah satu serigala yang paling setia pada Heiliao. Sewaktu penguasa ruang itu menghilang dulupun, hanya Lang Shan dan beberapa serigala yang tidak meragukan dirinya. Saat ini, sekalipun dirinya lebih kuat secara kultivasi dari Heiliao, di matanya tak ada kesombongan sedikitpun. Yang ada hanya sikap penuh rasa hormat.


"Beberapa ratus meter dari tempat ini ada ular di tingkat High-Jack, Xika berada di dekatnya, lindungi dia apapun caranya. Lalu aku ingin kau menangkap ular itu kalau bisa tanpa membunuhnya. Sisanya, jangan beri ampun."

__ADS_1


Lang Shan menunduk sekali lagi sebelum berlari pergi. Heiliao menatap arah kepergian Lang Shan dengan ekspresi rumit.


"Burung sialan........aku kalah......"


Setelah mengatakan itu, Heiliao menutup matanya dan tubuhnya terjatuh menghantam tanah.


Huo Bing disisi lain, masih belum tahu kedatangan para ular. Jadi burung itu berusaha terbang secepat mungkin mendahului para ular yang juga bergegas ke arah yang sama. Ia sadar kalau berusaha menghentikan mereka disini akan lebih sulit dan memakan banyak tenaga.


Lebih baik menghentikan mereka ketika sudah menemukan Xika. Lagipula ia juga ingin tahu keadaan Xika sekaligus melihat sebesar apa dampak dari ledakan yang ditimbulkan anak itu.


----------------------


Xika, setelah berhasil memberikan tebasan penuh dengan lima elemen, merasakan betapa lemah dirinya. Tubuhnya saat ini benar-benar kosong tanpa ada sedikitpun qi di dalamnya. Seluruh qinya sudah ia habiskan pada serangan terakhir tadi.


Harapannya memang terkabul. Si pemimpin ular terganggu dan akhirnya formasi penyegelan ruang dibatalkan. Masalahnya sekarang ia tidak punya qi sedikitpun untuk sekedar berlari menyelamatkan nyawanya.


Di hadapannya seekor ular sebelas meter mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Xika dapat melihat kebingungan melintas sesaat di matanya kemudian berganti menjadi niat membunuh di saat berikutnya.


Ular itu tak bertanya apa-apa pada Xika. Dengan tingkat kekuatannya saat ini ular itu sudah dapat melihat keadaan sekitarnya dengan mudah. Entah mengapa, ular itu mengerutkan keningnya dan-meskipun sedikit-itu cukup membuat Xika lega.


Setidaknya situasi tidak berjalan sesuai harapan si pemimpin ular. Entah apakah Heiliao sudah menyadari hilangnya Formasi Penyegel Ruang dan memanggil para serigala atau belum. Seharusnya tak lama lagi para serigala akan datang.


Tepat setelah Xika menghela nafas lega, ia merasakan hantaman keras di perutnya. Lebih keras dari hantaman yang diberikan ular putih sebelumnya. Beruntung, ia sempat membungkus tubuhnya dengan sepasang sayap biru kehijauan, namun hal itu sepertinya tidak berhasil mencegah beberapa tulangnya patah. Darah mengalir dari mulutnya. Entah sudah berapa jauh ia terbang dan berapa rumah yang ia hancurkan temboknya karena hantaman itu.


BRUK!


Akhirnya, Xika berhenti setelah menabrak sesuatu yang cukup keras dan kokoh untuk menghentikannya. Xika tak sempat melihatnya karena kelopak matanya terasa sangat berat dan sekujur tubuhnya menolak bergerak. Hal terakhir yang ia lihat adalah kabut dua warna yang mendekatinya, setelah itu pandangannya menggelap.


-----------------------


Huo Bing, meskipun sudah berusaha terbang secepat mungkin, pada akhirnya masih kalah dengan para ular. Ia sudah menggunakan banyak qi untuk bertarung tadi. Tubuhnya yang hampir transparan merupakan bukti nyata akan hal itu.


Ia sudah merasakan aura sang Pemimpin Ular di kejauhan. Sayangnya, ia mungkin tak akan cukup cepat untuk melindungi Xika dari Pemimpin Ular.


Tepat saat ia berpikir seperti itu, sesosok manusia melesat melewatinya. Sosok itu tidak terlihat seperti sedang terbang, sebaliknya seperti terlempar. Pasti si Pemimpin Ular yang melempar Xika. Ketika Huo Bing hendak terbang berusaha membalas Xika, sesosok serigala melesat melewatinya.


Serigala itu langsung bertarung dengan Pemimpin Ular, dan serigala itu lebih unggul. Huo Bing ragu sesaat sebelum berbalik. Dilihat dari kekuatan serigala, seharusnya tak jadi masalah untuk menangani Pemimpin Ular.


Kemudian ia mengepakkan sayapnya dan menuju arah Xika pergi, atau lebih tepatnya terlempar tadi.


Tak butuh waktu lama untuk menemukan Xika. Pemuda itu dalam kondisi yang mengenaskan. Tapi sayangnya, kondisinya saat ini juga tidak lebih baik. Tubuhnya mengabur menjadi kabut dua warna yang berputar-putar beberapa kali sebelum akhirnya masuk ke dantian Xika.

__ADS_1


Dan dengan itu, Huo Bing, Heiliao, dan juga Xika, yang telah mempertahankan desa ini dengan taruhan nyawa, akhirnya mendapat istirahat setelah bertarung tanpa henti dari tadi.


Butuh beberapa saat bagi para serigala sebelum berhasil membunuh semua ular sesuai perintah Heiliao. Lang Shan, dengan beberapa luka di tubuhnya, berhasil menangkap Pemimpin Ular hidup-hidup, meskipun kini kondisinya sekarat.


Mereka kembali setelah membunuh semua ular kecuali pemimpinnya. Tapi mereka cukup terkejut ketika menemukan pemimpin mereka tengah berbaring di tanah dengan luka di sekujur tubuhnya. Mereka saling pandang dan akhirnya keputusan diserahkan pada Lang Shan yang paling senior di antara mereka.


Lang Shan memutuskan untuk membawa Heiliao serta Xika kembali ke tanah para serigala. Ketika ia berjalan untuk mengangkat Xika, tanah di bawah kakinya bergetar.


Serigala itu langsung mundur dan alangkah bingungnya ia ketika melihat yang keluar dari tanah di bawah kakinya adalah manusia. Manusia itu awalnya tidak memperhatikan Lang Shan dan melangkah keluar setelah yakin tak ada pergerakkan lagi.


Setelah itu, manusia-manusia lain mulai keluar dari lubang itu. Kalau dihitung, totalnya bisa mencapai satu desa. Kenapa para manusia ini bersembunyi dalam tanah? Pikir Lang Shan bingung.


Kemudian, salah seorang warga melihat Lang Shan, dan warga lainnyapun akhirnya menyadari keberadaan para serigala yang tidak membuat suara.


Tentu saja, ketika melihat ratusan taring buas dengan pandangan haus darah, para warga itu kembali ketakutan. Entah sudah berapa kali mereka ketakutan seperti itu. Tapi kemudian pandangan mereka melihat Xika yang berada di dekat Lang Shan, dan serigala itu sedang mengarahkan moncongnya pada Xika.


Meskipun masih takut, para warga itu berteriak. Bahkan Lang Shan bisa mendengar nada mereka yang bergetar.


"Menjauh darinya!"


Lang Shan mengerutkan kening bingung. Ia tak sadar bahwa posisinya saat ini membuat para warga salah paham dan mengira ia hendak memakan Xika. Padahal, ia hendak menaikkan Xika ke atas tubuhnya.


Melihat Lang Shan yang tak bergerak, para warga mulai membulatkan tekad. Mereka mengambil senjata mereka dan mendekati Lang Shan dengan kaki gemetar.


"K-Kau akan menyesal kalau tidak menjauh!" ucap salah seorang warga yang berusaha menggertak Lang Shan.


Lang Shan berbalik dan menatap serigala lain. Ia juga sama bingungnya dengan mereka. Kenapa manusia-manusia ini?


Ketika para warga semakin dekat dengan Lang Shan, beberapa sosok kecil berlari keluar. Mereka menatap Lang Shan dan para serigala dengan penasaran.


Salah seorang dari mereka berbisik, "Mirip kak Heiliao." Yang lain mengangguk setuju.


"Aku kenal........anak ini." ucap Lang Shu yang tidak jadi menyebut nama Heiliao. Ia tidak berani menyebut nama Heiliao dengan sembarangan tanpa rasa hormat, jadi ia memilih menyebut Xika.


"Kau kenal Xing ge?" tanya seorang gadis kecil dengan mata bulat pada Lang Shan.


Dengan agak ragu Lang Shan mengangguk, kemudian ia melihat gadis kecil itu melompat kegirangan.


"Fan Mu, jangan dekat-dekat!"


SRINGGGG!!!!

__ADS_1


Tanpa sadar, Fan Mu hampir menyentuh tugu batu yang terletak di belakang Xika. Entah apa yang memicunya, tugu batu itu bersinar, kemudian tubuh Xika juga ikut bersinar.


__ADS_2