
Setelah mendapat kabar baik dari Kong Yan, Xika langsung kembali ke hutan. Ia langsung duduk di tempat tenang terdekat dan berkultivasi. Ia tak lagi bingung mau melakukan apa. Kong Yan bilang ia bisa melalui celah itu saat mencapai Forming Qi 2. Ia ingin menembus secepatnya.
Beberapa serigala lewat dan mengajaknya bermain atau sekedar mengobrol tapi tak ia hiraukan. Ia fokus pada kultivasinya. Ia sudah berhasil membentuk empat pola dalam tubuhnya. Itu berarti kecepatannya sama dengan orang normal. Ditambah dengan lubang hitam Heiliao, harusnya ia lebih cepat dibanding orang normal.
Xika membuat lubang hitam sebesar mungkin. Lubang itu menghisap lebih banyak dari biasanya. Tapi Xika masih merasa belum cukup. Ia duduk dan terus menyerap qi. Beberapa hari berlalu dan kini ia merasa masing-masing dantiannya sudah mencapai puncaknya. Tidak akan butuh waktu lama untuk menembusnya.
Beberapa minggu kembali berlalu. Tapi ia belum menembus Forming Qi 2. Kong Yan bilang ia bisa memasuki celah kemarin ketika menembus Forming Qi 2, tapi tidak memberikan petunjuk kapan ia bisa memasuki celah lainnya. Kong Yan memintanya untuk melupakannya, tapi ia tak bisa. Bisa saja petunjuk dari orang tuanya tertinggal disana. Bagaimana ia bisa melupakannya?
Tapi ia juga tak cukup gila untuk nekat memasuki celah itu. Sebelumnya Paman Kong Yan memberikan tatapan aneh padanya. Mungkin ia sedang menilai kekuatannya. Kalau begitu berarti bukan hanya tingkat kultivasi yang berpengaruh. Seluruh kekuatannya juga ikut berpengaruh.
Mungkin kalau ia rajin berlatih dan lebih kuat ia bisa lebih cepat memasuki celah lain. Jadi setelah menemui kebuntuan dalam kultivasi, Xika mulai melatih anggota tubuhnya. Meskipun tak ada lawan berlatih, tapi ia bisa menyerang pohon-pohon disekitar.
Xika berdiri dan mengepalkan kedua tangannya. Ia berputar kemudian mengarahkan telapak tangannya yang terbakar menuju sebuah pohon.
BLAR!
Ia berhasil menghancurkan bagian tengah pohon dan membuat sisanya tumbang karena tak ada tumpuan. Tapi ia belum selesai. Ia melatih elemen lainnya. Serangan Kong Yan memberinya inspirasi dalam menyerang. Ia tidak menembakkan elemen dari tubuhnya, tapi memanipulasi area sekitar lawannya dan mengubahnya menjadi elemen untuk menyerangnya.
Cukup sulit, memang. Tapi kalau ia berhasil, maka serangannya juga akan sulit ditebak. Selama lawannya tidak menguasai elemen ruang atau sesuatu yang berhubungan dengannya, kecil kemungkinan mereka bisa menghindar. Tapi sebelum itu, ia harus menguasai teknik ini lebih dulu.
Setelah meledakkan beberapa belas pohon, Xika kembali teringat dengan serangan Kong Yan. Ia sudah mencobanya dengan semua elemen yang ia kuasai, kecuali elemen ruang. Ia sama sekali tak mengerti bagaimana caranya.
Kalau menggunakan elemen lain ia masih mengerti. Misalnya elemen api, kau memanipulasi qi di area sekitar lawanmu menjadi api untuk membakarnya. Elemen angin, kau membuat lawanmu mengalami tekanan berat hingga sulit bergerak atau bernafas. Tapi bagaimana dengan elemen ruang? Apa yang perlu ia manipulasi? Bagaimana cara membuat ruang meledak?
Xika berpikir keras untuk mendapatkan jawaban, tapi tak berhasil. Ia mencoba mengendalikan ruang disekitar pohon sasarannya. Setelah itu apa yang harus ia lakukan? Xika ingat ruang disekitarnya menunjukkan riak seperti air sebelum meledak.
Tapi apa yang harus ia lakukan untuk membuatnya beriak? Xika mencoba mencari jawabannya dari pengalamannya dengan Heiliao. Serigala itu adalah Pewaris Ruang. Tapi Xika jarang melihatnya menyerang menggunakan ruang. Ia hanya menggunakannya sebagai media untuk menyerang, bukan untuk serangan.
Ia menyerah. Mungkin itu bukan sesuatu yang bisa dipikirkannya saat ini. Ia mencoba memikirkan serangan Kong Yan yang lain. Tombak. Bagaimana ia membuat tombaknya? Ia bisa membuat tombak dari elemen-elemen dengan mudah. Tapi tombak Kong Yan terlihat berbeda.
Saat Kong Yan menyerangnya, ia tak terlalu memperhatikan serangannya. Ia hanya memperhatikan bagaimana menghindari serangannya. Ia mencoba mengingat serangan Kong Yan baik-baik. Tombaknya berwarna putih kalau tidak salah. Tidak, tunggu. Itu bukan warna putih.
__ADS_1
Tombaknya transparan. Benar. Ia ingat sekarang. Tombak itu memiliki rupa yang aneh sehingga tidak mudah untuk Xika ingat. Tombak Kong Yan trasnparan. Lalu bagaimana ia bisa melihatnya kalau tombak itu tembus pandang? Entahlah. Di satu sudut ia bisa melihatnya sementara di sudut lainnya ia tak bisa. Mirip dengan riak sebelumnya, hanya saja kali ini sepertinya lebih tinggi tingkatnya.
Tunggu dulu. Kalau serangan riak yang sebelumnya saja tak ia kuasai, apalagi tombak yang tingkatnya lebih tinggi dari itu. Serangan Kong Yan terlalu tinggi untuk bisa ia tiru. Tapi setidaknya itu berhasil memberinya inspirasi. Untuk saat ini ia fokus untuk melatih serangan barunya itu.
Bruk!
Xika terduduk kelelahan di tanah. Ia menghabiskan cukup banyak qinya. Ia merogoh sakunya dan menemukan Nexus beserta Cosmos. Agak aneh setelah ia mengetahui namanya. Biasanya ia hanya menyebutnya 'kartu ayahnya' atau 'kartu kesayangannya'. Ia menatap kedua benda itu. Dan ia teringat dengan Capsah Technique.
Terakhir kali ia berhasil menggunakan Pair untuk menghentikan serangan Lang Yan. Meskipun tidak tepat disebut menghentikan karena ia memindahkan sebagian besar serangan serigala tua itu ke tempat lain yang masih tak ia ketahui sampai sekarang.
Pair saja sudah begitu hebat, apalagi teknik lainnya. Kalau dilihat berdasarkan permainan, harusnya teknik berikutnya adalah Threes. Mirip dengan Pair dimana pemain mengeluarkan dua kartu dengan angka yang sama sekaligus, hanya saja Threes mengharuskan kita mengeluarkan tiga kartu.
Berdasarkan tekniknya, Single adalah satu tebasan sementara Pair adalah tebasan ganda. Apakah itu berarti akan ada tiga tebasan di Threes? Tapi bagaimana caranya? Mungkin itulah yang harus ia pikirkan. Tapi sebelum itu, ia akan mencoba Single dan Pair terlebih dahulu.
Ia memindahkan Nexus yang adalah kotak kartu untuk melapisi tubuhnya sementara Cosmos yang adalah tumpukan kartu ia kocok beberapa kali sebelum mengambil tumpukan teratas kemudian menebaskannya.
"First Way : Single!"
DUAR!
Krak! Krak!
BRUK!
Tebasan pertamanya berhasil menumbangkan tiga pohon. Pohon di tempat ini berbeda dengan pohon di Diamond Shake. Di sana pohonnya tipis, sementara disini tebal. Lebih tebal beberapa kali dibanding Diamond Shake. Bicara tentang Diamond Shake, ia jadi teringat dengan pamannya.
Apa yang sedang ia lakukan? Apa ia baik-baik saja? Apa Ia berhasil menghindari Hei Bao? Bagaimana kabarnya sekarang? Ia pasti masih hidup, kan? Harus. Hei Bao bilang seluruh Shaking Card telah musnah kecuali dirinya dan pamannya.
Lucu juga mengingat dirinya tak pernah menjadi bagian dari klan itu. Ia tinggal disana karena pamannya. Bukan karena ia bagian dari klan itu atau apalah. Lagipula tinggal disana tak membuatnya menjadi bagian dari klan itu, sekalipun ia tinggal di sana selama sepuluh tahun.
Kalau ada kata yang tepat untuk menggambarkan kesannya tentang klan itu ia akan menjawab penghinaan. Ia tidak tahu sejak kapan kabar itu menyebar, tapi perlahan semua orang tahu bahwa dirinya tak bisa berkultivasi. Dantiannya retak. Dan retakannya akan semakin besar kalau ia bersikeras menyerap qi kemudian meledak dan nyawanyapun melayang.
__ADS_1
Untunglah ada Huo Bing yang mencegah hal itu terjadi. Atau tidak? Yah, ia tidak tahu apakah dantiannya yang hancur ada hubungannya dengan Huo Bing atau tidak. Mungkin tidak. Burung itu hanya berspekulasi tentang dantiannya. Tapi tetap saja ia berhutang pada burung itu.
Ia menggelengkan kepalanya. Ia harus bertambah kuat. Harus. Untuk menemui orangtuanya, untuk menemui pamannya, untuk membantu Huo Bing membentuk tubuhnya kemudian melawan kaum ular, dan untuk membantu Heiliao menemukan kekasihnya dan menyatukan mereka. Ia harus berlatih lebih keras lagi.
Sekarang ia akan mencoba Pair. Ia membiarkan Cosmos melayang di depan dadanya dan tiap tangannya mengambil selembar kartu. Ia menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya kemudian menebaskan keduanya secara bersamaan hingga membentuk gelombang tebasan seperti sebelumnya.
Terdengar berbagai bunyi seperti sebelumnya, hanya saja kali ini terdengar lebih banyak dan lebih rusuh. Semoga saja tak ada serigala yang mendengarnya. Ia tak melihat berapa banyak pohon yang ia tumbangkan karena terhalang kabut tapi harusnya lebih banyak dibanding Single.
Serangan tadi itu cukup menguras qinya. Sepertinya ia harus beristirahat sebentar. Ia mendudukkan tubuhnya ke tanah untuk beristirahat. Setelah jeda beberapa saat, ia kembali menyerap qi. Ia harus berlatih keras. Jadi ia tak bisa membuang waktu. Istirahat bisa dilakukan sambil berkultivasi.
Serigala yang biasa mengecek keadaanya kembali datang. Sebenarnya ia sudah menduga tidak akan mudah untuk menemukan Xika dan anak itu pasti sedang berulah. Tapi ia cukup terkejut ketika melihat anak itu sedang duduk diam tanpa berulah sedikitpun. Lubang hitam besar terlihat disebelahnya sedang menyerap qi terus menerus.
Setelah memastikan anak itu baik-baik saja dan tidak mengalami luka, serigala itu melangkah pergi tanpa memperhatikan hasil karya Xika terhadap hutan mereka. Beberapa saat berlalu dan Lang Yi datang memanggil Xika.
"Hei, Xika! Lang Hu baru selesai berburu. Ia ingin mengadakan pesta kecil-kecilan. Ayo pergi bersama."
Xika membuka matanya dan berdiri. Ia menatap Lang Yi kemudian mengangguk dan berjalan pergi.
"Apa yang kau lakukan sebelumnya?" tanya Lang Yi penasaran di jalan.
"Bukan apa-apa. Hanya berlatih."
Lang Yi terlihat kurang yakin tapi ia mengangguk.
"Siapa saja yang datang? Apakah dagingnya cukup? Hehehe......."
"Tenang saja. Ia berburu bersama dengan kekasihnya jadi harusnya cukup. Lalu ada kau, aku, Lang Shu, kemudian.......Sial! Aku belum mengabari Lang Shu. Lang Hu memintaku mengabari semuanya. Kau pergi saja dulu. Aku akan mengabari serigala satu itu."
Xika mengangguk kemudian Lang Yi berlari pergi. Tapi ia tak langsung pergi menuju Lang Shu. Ia penasaran dengan apa yang dilakukan Xika sebelumnya. Jadi ia kembali ke tempat Xika duduk sebelumnya. Ia berjalan lebih jauh sedikit dan terpana melihat apa yang ia temukan.
Puluhan pohon tumbang dengan pola serangan yang bermacam-macam. Selain itu, beberapa bagian tanah terlihat hancur seolah ada benda berat yang ditaruh di atasnya. Xika berhasil meluluhlantakkan hutan bagian itu. Dan yang bsia dilakukannya hanyalah membuka mulutnya melihat hasil karya Xika terhadap hutan tercinta mereka.
__ADS_1