Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-312


__ADS_3

SYUU!


DUAK!


DUAK!


Huo Bing melakukan tendangan berputar dengan menggabungkan kedua elemen di kakinya tepat ketika musuh-musuhnya berada di udara. Mereka berhasil menahannya, tapi tetap terpental hingga menabrak beberapa pohon.


Setelah melirik kondisi musuh-musuhnya, Huo Bing memutuskan untuk tidak menghampiri salah satu dari mereka dan lebih memilih menunggu keduanya mendekat. Mereka bangun tak lama kemudian, dan kembali menyerangnya.


Pedang kultivator Immortal Pearl Pavillion yang pertama mencapainya. Huo Bing menghindarinya dengan mudah dan membiarkan pria itu beradu serangan dengan ular lain yang sebelumnya juga mengincar dirinya. Kemudian ia melesat ke kanan dimana dua orang kultivator Ibukota menunggu. Satu dari Burning Abyss Clan dan satu lagi dari Northern Light Palace.


Kedua kultivator itu tidak menunggu dirinya mendekat. Mereka sudah siap menyambutnya dengan keahlian sekte masing-masing. Dengan lihai, Huo Bing menghindari serangan keduanya dan memberikan serangan balik. Namun belum sempat ia memberikan serangan lanjutan, sebuah bola kuning bersifat korosif mendekat.


Ia melompat mundur menghindar. Asap yang muncul akibat ledakan bola kuning itu membuat sekelilingnya tampak buram. Satu serangan berhasil ia halau, seekor ular yang membuka rahangnya lebar-lebar berhasil ia hindari. Namun ia terlambat bereaksi ketika sebuah pedang berhasil menusuk perutnya.


TES!


Beberapa tetes darah jatuh dari mulut Huo Bing. Burung itu menatap pedang yang menembus tubuhnya dengan senyum. Sambil terus meneteskan darah dari mulutnya, Huo Bing berputar dan menendang pemilik pedang yang merupakan kultivator Immortal Pearl Pavillion.


Kemudian ia mencabut pedang itu dan memutarnya beberapa kali.


"Terima kasih atas pedangnya." ucapnya memberikan senyum yang lebih lebar.


Melihat Huo Bing yang seolah tidak peduli sama sekali meskipun sebuah pedang menusuknya membuat nyali kultivator dari Ibukota menciut. Sebenarnya alasan Huo Bing tidak khawatir sama sekali adalah karena ia memiliki Buah Kehidupan. Namun ia tidak menyangka dapat membuat lawanya takut.


Sayangnya hal yang sama tidak berlaku untuk para ular. Mereka tidak peduli apakah dirinya ditusuk atau tidak. Selama ia belum mati, maka mereka akan terus menyerang.


Selagi para kultivator dari Ibukota ragu untuk menyerangnya, para ular sudah duluan melancarkan serangan mereka. Tapi sesaat sebelum serangan mereka mencapai dirinya, sebuah lubang hitam muncul dan memuntahkan serangan yang serupa yang saling meniadakan.


Kemudian dari atas terdengar sebuah suara,


"Kau baik-baik saja Burung Setengah Matang?"


Huo Bing melirik sekilas ke atas dan menemukan Heiliao tengah berdiri santai dan melipat tangannya sambil dikelilingi lubang-lubang hitam yang menyerap dan mengembalikan serangan lawan-lawannya.


"Urus saja dirimu sendiri, Serigala Gosong!" ucap Huo Bing sambil menyeringai. Kemudian ia melesat dan mengadu pedangnya dengan taring ular merah berbintik hitam.


Beberapa saat mereka beradu tenaga kemudian ular tersebut memilih mundur ketika Huo Bing menyemburkan api dari mulutnya. Namun dua ular lain telah maju menggantikan dirinya. Ditambah kulivator manusia yang lain tampaknya sudah berniat untuk menyerang lagi.

__ADS_1


Lima penyerang, dua dari depan dan tiga dari belakang. Huo Bing menyambutnya dengan baik meskipun luka tusukan di pedangnya terbukti menghambat gerakannya. Beberapa kali ia terlambat menghindar sehingga kini tubuhnya dipenuhi dengan luka goresan.


Nafasnya terburu-buru dan banyak dari lukanya meneteskan darah. Meskipun tidak parah, tapi semakin lama pertarungan berjalan keadaan akan semakin tidak menguntungkan untuknya. Tepat ketika kultivator dari Ibukota kembali yakin tidak akan butuh waktu lama untuk menundukannya, ia tersenyum.


Dari balik jubahnya, Huo Bing mengeluarkan benda yang membuat mereka dikejar-kejar sampai sejauh ini.


"Ini, kan? Benda yang kalian cari-cari." ucapnya kepada para kultivator Ibukota. Ia menggigit buah itu kemudian kembali melanjutkan, "Tentunya kalian sudah tahu berapa banyak jumlah buah ini yang kami miliki bukan?" Sambil bicara, perlahan-lahan lukanya mulai menutup termasuk luka tusuk yang berada di perutnya.


"Kami bisa melakukan ini seharian, kau tahu. Bertarung maksudku. Dan kami tidak akan kelelahan selama kami memiliki buah kehidupan ini. Aku yakin masih akan ada sisa setelah kami semua mengalahkan kalian. Apa kau masih ingin melanjutkan?"


"Brengsek, jangan percaya dengannya! Melihatnya bicara seperti ini pasti ada alasan lain!" ucap Jin Fu, kultivator yang menjadi perwakilan mereka. Tapi Heiliao telah menghajarnya sebelum pria itu bicara lebih banyak.


Huo Bing tidak terlihat gentar ataupun panik mendengar ucapan Jin Fu. Masih sambil memakan buah itu, ia melanjutkan, "Alasan? Tentu saja ada. Tidakkah kau pikir akan sayang aku menghabiskan semua buah-buahan ini hanya untuk hal sia-sia seperti bertarung?"


"SHAAA!!!"


Ular hitam berbintik merah kembali menyerang Huo Bing. Ia tidak peduli dengan apa yang burung itu katakan. Namun Huo Bing yang baru saja memulihkan tubuhnya dengan Buah Kehidupan segera menangkapnya lalu membakar ular itu hidup-hidup. Belum selesai, ia memunculkan bunga es dari tengah perut makhluk itu dan membekukannya kemudian memecahkannya menjadi ribuan keping.


Huo Bing melakukan itu semua tanpa menoleh sama sekali. Matanya tetap lurus tertuju pada kultivator-kultivator Ibukota yang tampaknya mulai ragu.


"L-lantas apa yang kau inginkan?"


Senyum lebar merekah di wajah Huo Bing seolah ia sudah menunggu pernyataan itu dari tadi.


Di atas, sambil menangkis dan memberikan serangan balik sesekali, Xika tersenyum mendengar ucapan Huo Bing. Ia tidak cemas sama sekali ketika mendengar penawaran Huo Bing. Sekali lihat saja ia sudah tahu bahwa semua yang diucapkan Huo Bing adalah kebohongan.


Pertama, soal mereka yang bisa bertarung terus menerus tanpa kelelahan sama sekali, itu adalah kebohongan. Seluruh buah kehidupan sudah berada dalam lubang hitam dan Huo Bing sudah tahu apa akibatnya bila ia mengambil buah itu lagi. Jadi mereka tidak bisa bertarung terus menerus juga tidak bisa memberikan buah kehidupan sebagai hadiah tawar menawar.


Xika yakin Heiliao pasti akan memindahkan mereka semua ketika seluruh ular sudah mati dan kejar-kejaran merekapun akan kembali dimulai.


WHUSH!


Setelah menunduk menghindari muntahan ludah korosif, Xika memutar tongkatnya dan membuat dua ular terlempar. Kemudian ia melemparkan dua buah kartu dan berhasil memutus ekor mereka. Mereka akan butuh waktu untuk dapat kembali menyerang.


"Kalian ingin bekerja sama untuk mengalahkan kami?"


Mendadak pria tua pemimpin para ular bicara. Sebelumnya, ia hanya ikut bertempur sedikit di awal dengan Jin Fu. Kemudian menarik diri dan hanya diam mengamati keadaan. Sampai sekarang. Entah apa rencananya sekarang. Padahal kalau ia tidak lanjut bicara, Huo Bing yakin para kultivator Ibukota akan setuju.


"Kenapa? Takut ya?" ujar Huo Bing memberikan provokasi.

__ADS_1


Pria tua itu hanya mendengus sebagai tanggapan pada Huo Bing. Kemudian ia menoleh pada kultivator lain dari ibukota.


"Daripada mereka, seharusnya kau bekerja sama dengan kami."


Huo Bing mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud pria tua itu.


"Kalian lupa dari siapa kalian mendapatkan resep Berserk Pill? Dan darimana kalian mendapatkan bahan-bahan yang tepat untuk membuatnya?"


Kultivator lain dari Ibukota mengerutkan kening tidak mengerti, kecuali para kultivator yang berasal dari Immortal Pearl Pavillion. Keringat dingin mulai menetesi tubuh mereka.


"Apa maksudmu?" tanya Huo Bing.


"Oh? Kau tidak tahu? Kalau tidak salah, anak muda disana itu," pria tua itu menunjuk Xika, "kau melawan pemuda lain yang menggunakan Berserk Pill bukan? Resep sekaligus bahan-bahannya berasal dari kami semua. Kemudian dibeli oleh klannya dari, apa namanya? Semacam pavilion itu lah....."


Ekspresi Huo Bing menjadi buruk. Ia kira mereka sudah aman selama berada di kota dan jauh dari hutan tempat tinggal para ular. Rupanya ia salah, ternyata pengaruh ular sudah lebih luas dari perkiraannya. Bahkan mereka berhasil mempengaruhi Ibukota sekarang.


Pada saat ini, seluruh pertempuran berhenti. Tidak ada yang bertarung. Semuanya saling menatap satu sama lain bingung akan memilih pihak yang mana.


"Selain pil itu, ada juga pil-pil lain-"


"Kau! Kau alasan sekte kecil dan menengah berkembang begitu cepat?!" potong Heiliao sebelum pria tua itu menyelesaikan ucapannya.


"Memang aku yang memberikan resep pil itu, tapi aku tidak menyangka akan menyebabkan banyak sekte berkembang pesat. Senang bisa membantu." ucapnya sambil menjilati bibinya sendiri di kalimat terakhir.


Brengsek, umpat Huo Bing dalam hati. Kalau begini, bisa-bisa Ibukota akan berada dalam cengkraman para ular tidak lama lagi.


"Jadi, daripada mereka bagaimana kalau kalian bekerja sama dengan kami? Bekerja sama dengan kami sudah terbukti menguntungkan dibanding mereka. Memangnya apa yang telah mereka berikan selama ini? Merusak rencana kalian, menghancurkan kebanggaan kalian, mengganggu bisnis kalian, dan menyebabkan perpecahan diantara kalian?"


Dasar rubah tua, pikir Xika dalam hati. Pria tua itu pasti takut kalau mereka bertiga bekerja sama dengan kultivtaor dari Ibukota.


"Kalian mengincar sesuatu dari mereka kan? Beritahu kami apa barangnya dan akan kami berikan pada kalian setelah urusan kami dengan mereka selesai." lanjut pria tua itu.


Wajah Jin Fu menggelap, "Bagaimana kami bisa memercayai ucapanmu? Bagaimana kalau ternyata kau berbohong dan merugikan kami?"


"Apa kami pernah melakukan itu sebelumnya?"


"..............."


Jin Fu tak bisa membalas lagi. Berdasarkan transaksi yang sudah mereka lakukan dengan kaum ular selama ini semuanya terbukti menguntungkan dan terpercaya. Tampaknya ia tak memiliki pilihan lagi.

__ADS_1


Sambil menggertakkan giginya, Jin Fu berkata, "baiklah."


Pak tua itu tersenyum lebar seketika, berbanding terbalik dengan ekspresi Xika dan rekan-rekannya. Padahal mereka hampir menemukan titik terang sebelumnya. Kini situasi malah bertambah buruk. Apakah mereka akan mampu melarikan diri?


__ADS_2