
SRING!
Liang Jihua menarik pedangnya dan mengarahkannya pada Xika yang masih mencerna fakta. Gadis itu menatapnya dengan tajam. Bahkan, tangannya bergetar hebat dan kini ia mengeluarkan air mata. Namun gadis itu tak menurunkan pedangnya.
"............."
Xika tidak terlalu mempedulikan pedang Liang Jihua ataupun mengapa gadis itu mengeluarkan air mata. Yang ada dalam kepalanya saat ini hanyalah satu nama.
Yin Xingli.
Jadi teman yang selama ini dibicarakan Liang Jihua adalah Yin Xingli? Kalau begitu yang mengatakan bahwa ia sangat kuat juga adalah Xingli? Ketika menyadari fakta itu, hati Xika bagaikan dihantam batu yang teramat berat. Jadi memang gadis itu sudah menyukainya sejak awal. Hanya saja ia yang terlalu lama menyadarinya. Ia memang bodoh.
Sudah berapa lama Xingli menceritakan dirinya pada Liang Jihua? Apa selama ia di Ibukota ia selalu menceritakan Xika pada Liang Jihua? Bodoh sekali dirinya. Ia sudah memiliki Xingli yang selalu ada di sampingnya, untuk apa memikirkan Wu Liao lagi? Kini, Xingli yang selalu ada di sampingnya tak ada lagi di sampingnya.
"Benar," Liang Jihua menggertakkan giginya, "kau paham? Pria yang selama ini dibicarakan Yin Xingli, salah satu dari Empat Gadis Tercantik adalah dirimu, Xing Xika! Yin Jie sering sekali membicarakanmu, ia bahkan selalu memujimu. Itulah alasan kenapa aku kecewa ketika melihat dirimu yang begitu lemah.
Rupanya kau menyembunyikan kekuatanmu. Tapi kini itu tak ada artinya. Ia telah pergi sekarang, mungkin tak akan pernah kembali lagi. Dan kau tahu itu semua karena siapa? Kau, Xing Xika, kau! Kau yang menyebabkan Yin Jie pergi!
Beberapa hari sebelum ia pergi, ia bercerita padaku mengenai keraguannya. Ia harus meninggalkan tempat ini dan kembali ke tempat asalnya, namun ia tidak ingin meninggalkanku dan kau. Ia ingin setidaknya menciptakan satu memori yang indah sebelum meninggalkan tempat ini. Setidaknya, ia ingin kisah cintanya berbuah.
Namun apa yang kau lakukan, Xing Xika?! Kau menduakannya! Kau menghancurkan hatinya! Kenapa sikapmu begitu plin-plan? Kalau sejak awal kau sudah memiliki Wu Liao, untuk apa kau mendekati Yin Jie juga? Apakah kau punya hati?!"
"............"
Xika ingin membantah bahwa ia tidak memiliki Wu Liao dan semua yang terjadi adalah kesalahpahaman, tapi ia tak bisa. Kesalahpahaman itu juga terjadi karena sikapnya yang tidak jelas. Sikapnya memang seolah mempermainkan Xingli dan Wu Liao.
Melihat Xika yang hanya diam tanpa membantah Liang Jihua tak lagi melanjutkan ucapannya. Ia terus menatap Xika dengan tajam tanpa sadar bahwa air mata telah mengalir deras di wajahnya.
Grtt!
SYUT!
Liang Jihua melayangkan pedangnya dan menebas Xika.
SLASH!
"................."
"..............kenapa kau tidak menghindar?"
"............untuk apa?"
Tes!
Tebasan Liang Jihua meninggalkan garis panjang di pipi kanan Xika dan membuatnya meneteskan darah. Seharusnya Xika dapat menghindarinya. Tebasan itu begitu mudah untuk dihindari. Namun ia tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Apakah ada gunanya aku menghindar atau tidak? Aku sudah terlalu lama menghindar dari kenyataan. Aku tak akan membuat kesalahan yang sama dua kali. Kalau kau ingin bertarung denganku, membunuhku untuk membalaskan dendammu, maka silahkan saja. Aku akan menemanimu."
__ADS_1
Drrrr......
Pedang masih terarah pada leher Xika sementara tangan Liang Jihua yang menggenggamnya bergetar. Entah karena takut atau karena amarah. Tapi tatapannya masih setajam sebelumnya sekalipun air mata yang mengalir semakin deras.
"Aku hanya akan menanyakan ini sekali.
Apa kau mencintai Yin Xingli?"
"Tentu saja." ucap Xika langsung tanpa keraguan.
"Apa kau akan mengejarnya tak peduli apapun yang menghalangimu?"
"Tak perlu dipertanyakan."
Liang Jihua diam. Ia menatap mata Xika baik-baik untuk memastikan perkataan dan tekad pria itu. Kalau ia melihat sedikit saja keraguan atau kebohongan di matanya, maka ia akan menebas Xika tanpa ragu-ragu.
Sret!
Gadis itu menarik pedangnya dari leher Xika dan memasukannya kembali ke sarungnya. Kemudian ia kembali menatap Xika dengan tajam.
"Kalau begitu ambillah."
Syut!
Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari cincin spasialnya dan melemparnya menuju Xika.
Distance Stone. Sebuah batu spasial ajaib yang dapat menyampaikan suara seseorang pada orang lain pada jarak tertentu. Jauhnya jarak yang dapat dijangkau tergantung dari harga dan kualitas Distance Stone. Selama seseorang meninggalkan auranya pada dua Distance Stone, maka suara dari batu pertama akan sampai pada batu kedua. Dan saat ini, Xika sedang memegang salah satunya.
"Itu adalah Distance Stone yang kugunakan untuk berkomunikasi dengan Yin Jie. Tadinya aku ingin menyimpannya tapi kurasa kau lebih membutuhkannya di masa mendatang. Di sana masih tersisa aura Yin Jie, jadi harusnya ia tak akan kesulitan untuk menghubungimu.
Namun karena kau belum meninggalkan auramu di Distance Stone Yin Jie, maka kau tak bisa menghubunginya. Tapi bila jarakmu cukup dekat dengan Yin Jie, kau harusnya bisa merasakannya melalui Distance Stone. Jangkauan Distance Stone ini sekitar 1000 kilo. Gunakan ini untuk mencarinya."
Xika menatap Distance Stone yang berada di tangannya. Memang, samar-samar ia dapat merasakan aura Xingli dari batu itu.
"Aku percayakan batu itu padamu dengan harapan kau akan mencarinya. Kalau suatu saat aku mengetahui bahwa kau berbohong, maka aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia dan akan kubunuh kau sekalipun aku harus mati!" Liang Jihua menatap Xika dengan tajam. Dari tatapannya, Xika tahu bahwa gadis itu serius dengan ucapannya.
"Kau bisa memegang ucapanku." ucap Xika menggenggam Distance Stone di tangannya erat-erat.
"Kalau begitu aku kembali dulu. Ingat baik-baik perkataanku." ucap gadis itu sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Xika di depan gerbang Jade Village.
Xika menatap punggung Liang Jihua yang semakin mengecil dan berterima kasih dalam hati atas Distance Stone pemberiannya. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan melihat langit malam yang penuh dengan bintang.
"Yin Xingli, langit telah mengizinkan kita bertemu. Tapi langit kembali memisahkan kita. Meskipun begitu, aku tak akan berhenti. Bahkan sekalipun harus ke ujung langit, aku akan tetap menemuimu."
-------------------------------------------
Xika, bersama Huo Bing dan Heiliao, melangkah menuju Gedung Utama, tempat perjamuan makan malam diadakan. Gedung Utama terdiri dari beberapa lantai yang memiliki berbagai fungsi. Salah satu fungsinya adalah sebagai ruang kerja Jing Wei. Fungsi lainnya adalah sebagai tempat pesta atau perayaan biasa diselenggarakan. Selain itu masih ada fungsi lainnya, namun Xika tak mempedulikannya untuk saat ini.
__ADS_1
Ketika mereka memasuki ruang pesta, di dalam sudah terisi dengan banyak orang, tapi tidak membuat ruangan tersebut sempit. Luas dari ruang pesta ini adalah salah satu hal yang dibanggakan Mu Zhan Academy.
"Mmhm~ tercium bau sedap di mana-mana. Sebaiknya kita ke mana dulu, ya?" ucap Huo Bing sambil menggerak-gerakkan hidungnya kesana kemari. Ia mengenakan pakaian mencolok seperti biasa dengan dua warna andalannya, biru dan merah.
Set!
Sebuah tangan terulur menarik kerah baju Huo Bing dan menahannya hingga ia tidak kesana-kemari mencicipi makanan.
"Fokus. Kita kemari bukan untuk bersenang-senang. Kita tak tahu apa yang akan dilakukan para tetua sekte itu pada Xika." ucap Heiliao masih sambil memegang kerah baju Huo Bing. Berbanding terbalik dengan Huo Bing, Heiliao mengenakan pakaian hitam yang sangat tidak mencolok. Kalau ia berdiri sendirian di pojok ruangan, tampaknya tidak akan ada yang menyadari keadaannya.
Keduanya memang sangat berbanding terbalik. Tapi Xika tak bisa menghentikan dirinya untuk tersenyum. Ia sudah lama tak menyaksikan perdebatan Huo Bing dan Heiliao sejak kompetisi ini dimulai. Meskipun sangat berisik, tapi ia harus mengakui bahwa ia merindukan mereka.
"Tak apa. Harusnya tidak akan ada masalah berarti dari tetua-tetua sekte selama kita bersama. Kecuali kalau Patriach Burning Abyss Sect. Kalau aku tidak salah dengar, basis kultivasinya berada di tingkat yang lebih tinggi dibanding Jing Wei."
Sorot jenaka di wajah Huo Bing seketika berkurang. "Lebih tinggi dari Jing Wei? Kelihatannya pria itu patut diperhatikan. Tapi bukan berarti hal itu akan menghentikanku makan." ucap Huo Bing kembali melangkah menuju aroma yang dicium hidungnya.
Heiliao dan Xika hanya bisa mendesah pasrah sambil mengikuti Huo Bing mengantri salah satu kedai makanan. Kemudian, Xika merasakan bahunya ditepuk oleh seseorang. Ia menoleh dan menemukan Liu Shang melambaikan tangannya.
"Hahaha......lihat siapa ini, Xing Xika, sang juara?" ucap pria itu mengangkat tangannya menyapa Xika.
Plak!
Xika menepuk tangan Liu Shang dan melakukan tos dengannya.
"Liu Shang! Apa kabar?"
"Hahaha......aku baik, tapi tentu saja tak sebaik kabar sang juara."
"Berhenti mengucapkan juara atau kupukul kau!" ucap Xika main-main.
Liu Shang lantas tertawa mendengar ucapan Xika. Ia berhenti sejenak untuk memesan makanan bersama Xika kemudian setelah mengambil makanan, mereka menepi untuk mengobrol.
"Yah, rasanya memang tak ada yang lebih pantas untuk menjadi juara selain kau."
"Kau terlalu memuji. Sebelumnya aku hanya beruntung berhasil menghancurkan perisai Han Feng. Kalau tidak, entah apa yang akan kulakukan."
"Heh, banyak orang mengatakan bahwa keberuntungan juga bagian dari kekuatan. Tapi dari pertarunganmu dan Han Feng, menurutku kau menang bukan karena keberuntungan, namun murni kemampuanmu sendiri."
Xika kembali tersenyum mendengar ucapan Liu Shang. "Baiklah, baiklah. Berhenti memujiku. Bagaimana klanmu? Maaf aku tidak sempat membantu mereka di babak kedua, aku menemui banyak musuh namun aku tidak menemui satupun yang berasal dari Rising Flow Sect."
"Tak apa. Lagipula pertarungan pertama kita sudah berhasil menarik perhatian banyak sekte besar dan menengah, sekalipun pertarungan terakhirmu dengan Han Feng jauh lebih menarik perhatian. Ngomong-ngomong, apa pria yang dari tadi melambai itu temanmu?" tanya Liu Shang sambil menatap seorang pria yang mengenakan jubah bergambar bintang.
Xika menoleh dan menyadari bahwa pria itu adalah Yun Xingzhao. Jubah yang ia kenakan sangat cocok dengan sekte dan namanya sendiri yang mengandung kata bintang. Di sampingnya, berdirilah Li Tang yang mengenakan pakaian hampir serupa dengan Heiliao. Hitam dan tak mencolok.
Keduanya berjalan mendekati Xika. Tak jauh dari mereka, Xika melihat Liang Jihua. Gadis itu juga melihatnya. Namun ia enggan bergabung. Gadis itu hanya menatapnya tajam, seolah mengingatkan Xika tentang perbincangan mereka beberapa waktu lalu.
Xika hanya tersenyum dan mengobrol dengan Liu Shang, Yun Xingzhao, dan Li Tang. Huo Bing dan Heiliao juga bergabung tak lama sekalipun Heiliao tak banyak bicara. Suasana terasa sangat hidup saat ini. Mungkin karena sekte-sekte lain masih banyak yang belum datang.
__ADS_1
Namun ketika mereka datang, suasana hidup ini akan segera berubah menjadi hening seketika.