Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-88


__ADS_3

"Ke-Kepala Paviliun..........."


Pelayan wanita itu memanggil pria yang baru datang dengan gugup.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya pria itu. Ia menatap pelayan wanita yang sebelumnya meremehkan Xika dan tidak mendapatkan jawaban. Pelayan wanita itu hanya mengeluarkan suara-suara yang terdengar seperti 'A-anu......'.


Kemudian pria itu menoleh dan menatap Xika. Xika balas menatap. Pria itu menatap Xika selama tiga detik dan ia tahu bahwa Xika bukanlah orang biasa. Pelayan wanita tadi sudah mengungkapkan identitasnya dengan jelas. Bahkan para jenius muda di kota ini pun biasanya tidak berani menatap matanya, kalaupun berani mereka tak akan bertahan lama.


Tapi kini Xika tengah menatapnya dengan tatapan tenang tapi percaya diri. Ia tidak menatap pria itu sebagai seseorang yang berada di atasnya tapi juga tidak di bawahnya. Ia menatapnya dengan setara. Seolah posisi mereka sama.


Pria itu berpikir selama sedetik kemudian di detik kelima ia bertanya pada Xika dengan senyum yang sama di wajah Xika, tenang tapi percaya diri.


"Saya kepala Paviliun cabang Kota Yuan. Boleh saya tahu apa yang terjadi?"


Xika menatap pelayan wanita itu sebentar dan membuat pelayan wanita itu semakin gugup.


"Tentu." jawab Xika sambil tersenyum.


"Saya hanya berkata bahwa pedang yang hanya di tingkat Low-Diamond tidak layak memiliki harga 200 keping perak. Saya yakin gelang saya dapat menghancurkan pedang itu dengan mudah. Dan pelayan yang disana tidak percaya. Ia berkata ia akan menjadi pelayan saya bila pedang itu berhasil saya hancurkan.


Dan sekarang, pedang itu benar-benar hancur. Bisakah ia menjadi pelayan saya? Dan apakah saya harus memberi kompensasi karena telah menghancurkan pedang itu?"


Kepala toko itu terdiam selama dua detik. Kemudian ia tersenyum dan bertanya,


"Boleh saya tahu dari mana anda berasal?"


Xika tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia menanyakan darimana ia berasal bukan siapa namanya. Ia lebih peduli dengan latar belakangnya daripada namanya. Sepertinya jawabannya berikutnya akan menentukan sikap kepala toko itu ke depannya.


"Kenapa? Apa Paviliun hanya melayani orang-orang yang memiliki latar belakang?"


Pria itu sedikit terkejut dengan jawaban Xika namun berhasil ia sembunyikan. Tapi lepas dari penglihatan Xika . Pria itu kembali tersenyum.


"Tentu saja tidak. Saya hanya ingin memastikan. Lalu mengenai pertanyaan pertama anda, tentu saja bisa. Anggap saja sebagai kompensasi. Tapi harus melewati beberapa proses terlebih dahulu."


Bersamaan dengan ucapan yang keluar dari mulut Kepala Toko, wajah pelayan wanita itu memucat.


Xika mengangguk.


"Tidak masalah. Bagaimana dengan pertanyaan keduaku?"


Kepala Toko tidak menjawab. Ia berjalan ke serpihan pedang itu. Kemudian mengambilnya dan memeriksanya. Keningnya berkerut dan ia tampak tidak senang dengan apa yang ia lihat.


Ia menoleh pada beberapa pelayan lain yang juga ada dalam kerumunan itu.


"Kenapa pedang ini bisa sampai disini? Bukankah sudah kubilang sebelumnya bahwa ini tidak layak? Dan harganya, 200 keping perak? Apa kau gila? Bahkan monyetpun tidak mau membelinya!"


Pelayan-pelayan itu menunduk dengan wajah yang cukup pucat.


"Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi." ucapnya dengan tajam. Kemudian ia melihat sekelilingnya. "Kita akan bicarakan ini lagi nanti."


Kemudian ia berbalik dan menatap Xika dengan senyum.


"Tentu saja tidak perlu. Itu hanyalah produk gagal yang diselundupkan diam-diam oleh seorang pelayan." katanya dengan tatapan yang menusuk sekumpulan pelayan.


"Terimakasih Tuan Muda telah membantu saya. Saya berjanji akan memberikan kompensasi pada anda."


Xika mengangguk dengan tatapan puas. Tapi ia belum selesai.


"Ah, ngomong-ngomong. Pelayan wanita ini selalu memandangku dengan tatapan menghina sejak aku berada di lantai ini. Apakah memang seperti itu para pelayan Paviliun? Kudengan salah satu kelebihan Paviliun ini adalah pelayanannya. Sepertinya aku salah." kata Xika sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa Paviliun tidak akan memberikan kompensasi?"


Dalam hati, Ketua Toko itu mengumpat. Xika sudah mendapatkan pelayan itu, apa lagi yang ia mau?


"Dasar pelayan sialan! Tidak perlu menyeret perusahaan dalam kesalahanmu!"


"Ah, tentu saja. Kami bersedia memberikan kompensasi, tentu saja. Kompensasi apa yang Tuan Muda inginkan?" tanya pelayan toko itu dengan senyum yang masih tergantung di wajahnya. Meskipun ia kesal, ia masih harus melayani Xika dengan baik.

__ADS_1


"Akan kupikirkan nanti." ucap Xika sambil berjalan menjauh.


Kepala Toko itu menyuruh anak buahnya membubarkan kerumunan kemudian mengikuti Xika dan berjalan di sampingnya.


"Saya Gong Tao. Boleh saya tahu nama Tuan Muda?"


Xika menoleh sebentar kemudian membalikkan kepalanya.


"Xing."


Setelah itu ia kembali berjalan. Sikap Xika sangat jelas. Ia tidak mau memberitahukan namanya. Hanya marganya saja.


"Kira-kira apa yang Tuan Muda Xing cari?" tanya Gong Tao masih dengan senyum di wajahnya meskipun Xika menjawabnya kurang baik.


"Hanya melihat-lihat saja. Siapa tahu Paviliun memiliki produk cacat lagi."


Kepala Toko itu mengumpat sekali lagi dalam hatinya. Tapi ia masih terus tersenyum, meskipun itu hanya tersenyum kering.


Sulit untuk menebak apa yang Xika cari. Xika tidak menunjukkan ketertarikan berlebihan pada suatu benda. Ia hanya melihat sekilas benda-benda yang dipajang kemudian kembali berjalan. Hal itu membuat Gong Tao kesulitan menebak identitas Xika.


Bila ia tertarik pada sebuah senjata, Gong Tao tinggal mengingat siapa jenius yang menggunakan senjata tersebut dan mencocokan ciri-cirinya dengan Xika. Dengan demikian ia akan mengetahui identitas Xika. Tapi Xika tidak menujukkan ketertarikan sama sekali yang membuat ia semakin pusing. Dan lagi, seingatnya tidak ada jenius yang bermarga Xing di kota ini.


Xika sudah selesai berkeliling. Ia berhenti di dekat tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai tiga. Gong Tao menunggu beberapa saat tapi Xika tidak bicara. Akhirnya ia kembali memulai percakapan dengan Xika meskipun agak bingung.


"Bagaimana kualitas produk kami Tuan Muda Xing?"


"Lumayan."


Kemudian Xika menoleh ke kanan kiri. Lalu ia mendekatkan kepalanya pada Gong Tao.


"Apa kita bisa bicara di tempat yang lebih tertutup?"


Gong Tao penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan Xika. Ia tidak menunda lagi dan langsung membawa Xika menuju ruang pribadinya.


"Ah, benar juga. Apa yang kulakukan?" tanyanya sambil tertawa dan menepuk jidatnya. Kemudian ia keluar untuk mengambil beberapa makanan dan minuman.


Heiliao keluar dari balik jubahnya sementara Huo Bing membentuk tubuhnya. Keduanya duduk di pundak Xika.


"Bagaimana aktingku?"


"Pftttt.......cukup menghibur." ucap Huo Bing sambil tertawa.


"Tapi itu tidak sepenuhnya berhasil. Ia masih belum mengetahui identitasmu. Sikapnya akan berubah bila ia mengetahui identitasmu."


"Belum tentu."


Heiliao diam sebentar. Kemudian menganggukkan kepalanya setuju dengan Xika. Belum tentu Gong Tao akan merubah sikapnya meskipun telah mengetahui identitas Xika.


Huo Bing memicingkan matanya selama beberapa saat.


"Sepertinya ia keluar bukan hanya untuk membawakan makanan dan minuman."


Xika mengangkat alisnya.


"Apa yang ia lakukan?"


"Apa lagi? Menyelidiki identitasmu tentu saja."


"Tapi harusnya ia akan tahu beberapa hari lagi bukan?"


"Beberapa hari apanya. Ia sedang membaca laporan tentang identitasmu saat ini."


"Apa? Secepat itu? Bagaimana bisa?"


"Heh. Itulah kekuatan Paviliun yang harus kita waspadai."

__ADS_1


"Ia datang."


Setelah mengatakan itu Heiliao masuk kembali ke dalam jubah Xika sementara Huo Bing menghilangkan tubuhnya.


"Ah, maaf menunggu. Silahkan-silahkan" kata Gong Tao sambil meletakkan nampan yang berisi makanan dan minuman.


Xika mengambil beberapa kue kemudian memakannya. Sepertinya Gong Tao sudah tahu identitasnya. Meskipun sikapnya tidak berubah, ada sesuatu dalam pandangannya yang berubah.


"Apa yang ingin Tuan Muda Xing bicarakan?"


Xika tidak langsung menjawabnya. Ia meminum semacam air lemon khusus untuk kultivator yang disediakan.


"Tuan Gong sudah menyelidiki identitasku, bukankah anda seharusnya sudah tahu apa yang ingin saya tanyakan?"


Kali ini Gong Tao tidak sempat menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Sa-saya tidak mengerti apa yang Tuan Muda Xing bicarakan."


"Hmm....masih tidak mau mengaku ya....." ucap Xika sambil mengangguk-angguk.


Gong Tao semakin panik.


"Yah, kalian sudah menyelidiki identitasku dan sekarang tidak mau mengaku. Kurasa aku tidak akan mengunjungi tempat ini lagi."


Xika memakan beberapa kue lagi kemudian bangkit berdiri dan bersiap meninggalkan ruangan.


"A-ah, Tuan Muda Xing, maafkan kami tentang itu. Kami harus menyelidiki identitas pelanggan kami untuk memastikan keamanan."


"Heh. Akhirnya mengaku juga."


Gong Tao semakin canggung karena ucapan Xika.


"Bagaimana kalau saya memberikan Tuan Muda kompensasi? Apa yang Tuan Muda inginkan?"


"Akan kupikirkan nanti. Ingatlah bahwa kau masih berutang dua kompensasi padaku."


Gong Tao tersenyum kaku.


"Baiklah. Kau sudah tahu identitasku. Kau harusnya sudah menebak apa yang ingin kubicarakan. Aku ingin tahu kabar pamanku. Kalau ada lokasinya lebih baik."


Gong Tao tadinya ingin membuat wajah 'sudah kuduga' tapi tidak jadi karena takut Xika akan protes dan meminta kompensasi lagi.


"Kami akan berusaha menyelidikinya."


"Baiklah. Apa aku harus membayar uang muka? Berapa?"


Gong Tao diam. Ia bingung harus mengatakan berapa.


"Tidak perlu uang muka. Anggap saja kompensasi dari kami, bagaimana?"


"Jatah kompensasiku tidak berkurang bukan?"


Gong Tao kembali mengumpat.


"Tentu saja tidak."


Xika menghela nafas.


"Baiklah. Kapan kau akan mendapatkan kabar?"


"Kira-kira tiga hari. Setelah itu dapat kita diskusikan lebih lanjut."


"Baiklah. Aku akan datang tiga hari lagi."


Xika menghabiskan minumnya kemudian bangkit berdiri. Ia keluar ruangan dengan Gong Tao yang mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2