
"Hehehe.....tadi itu menyenangkan, burung kecil. Tapi kita sudahi dulu permainannya. Kau harus tidur disini. Tidur yang cukup lama."
Sesosok samar yang terselimuti kabut hitam menyeringai.
"Sialan! Kalau aku mati, aku akan membawamu juga!"
"Tekad yang bagus. Tapi sayangnya aku masih ada urusan. Kita akan berjumpa lagi. Nah, sekarang kau harus melupakan ini."
Bersamaan dengan kalimat itu yang terus menggema, Huo Bing bangun sambil berteriak. Ia menatap Xika dan Heiliao yang berada di sampingnya, yang sedang menatapnya balik.
"Ada apa? Kenapa kau mendadak diam saat Heiliao menyerangmu?" tanya Xika.
Heiliao tak mengatakan apa-apa, tapi Huo Bing tahu serigala itu khawatir juga. Sayangnya, kalimat yang sedari tadi menggema di kepalanya menyita seluruh pikirannya. Tanpa Huo Bing sadari, nafasnya telah memburu.
Burung itu berusaha memelankan nafasnya sambil mengingat baik-baik kalimat itu.
"Kita akan berjumpa lagi."
Berjumpa? Dengan siapa?
"Sekarang kau harus melupakan ini."
Apa? Apa yang kulupakan?
"Ugh......" Huo Bing menggeram.
"Huo Bing! Apa kau tak apa-apa?" Xika berbalik dan menatap Heiliao, "Sudah kubilang jangan terlalu keras! Lagian kenapa kalian mendadak bertarung sendiri sih?"
Heiliao hanya diam sambil memalingkan pandangannya.
Ucapan Xika terdengar aneh. Huo Bing memejamkan matanya. Ia berusaha keras mengingat apa yang terjadi, tapi kepalanya menolak untuk bekerja sama. Setiap kali ia berusaha mengingat apa yang ia lupakan, kepalanya terasa sakit bagaikan ditusuk ribuan jarum.
"-ing! Huo Bing! Kau dengar aku?" Xika melambaikan tangannya di depan wajah Huo Bing.
Huo Bing tersentak. Ia menoleh ke kiri dan kanannya. Rasa sakit itu sudah hilang. Tapi ia masih belum berhasil mengingat apa yang dilupakannya.
"Ah, ya. Maaf, sepertinya aku butuh istirahat. Biarkan aku sendiri sebentar."
Xika membantu Huo Bing berdiri tapi setelah itu ia membiarkan burung itu berjalan sendiri menuju sebuah kamar yang kini tak memiliki penghuninya.
Heiliao di sampingnya berdiri.
"Aku juga ingin sendiri dulu."
Setelah itu ia juga pergi, namun ke arah yang berlawanan dengan Huo Bing, yaitu ke luar Jade Village.
"Kau mau kemana?" Teriak Xika.
"Menjernihkan pikiran." ucap Heiliao melirik Xika dari balik bahunya. Xika berhasil melihat sekilas ekspresi Heiliao. Wajahnya dipenuhi penderitaan, kebingungan, rasa bersalah, sekaligus amarah besar. Sungguh rumit melihatnya menampilkan sekian banyak ekspresi dalam waktu yang bersamaan.
Tapi kenapa? Apa yang terjadi? Xika mengerti kalau Heiliao merasa bersalah, sekaligus marah pada dirinya sendiri karena menghajar Huo Bing sampai hilang kesadaran. Kebingungan karena Huo Bing yang mendadak diam. Tapi penderitaan? Mengapa Heiliao sampai menampilkan ekspresi seperti itu di wajahnya?
__ADS_1
Mungkinkah ia merasa menderita karena telah menghajar saudaranya sendiri? Xika berusaha meyakinkan dirinya meskipun tahu dugaan itu sangatlah kecil kemungkinannya.
Xika berbalik dan mendapati Xingli menatapnya. Gadis itu menanyakan apakah ia baik-baik saja atau apakah ia mau berlatih, antara dua itu, tapi Xika menggeleng sebagai jawaban. Ia tak tahu apa yang terjadi pada Heiliao dan Huo Bing dan itu membuatnya tertekan.
"Bisa temani aku berjalan-jalan?"
Xingli mengangguk pelan. Kemudian berjalan beriringan dengan Xika keluar dari Jade Village juga meninggalkan Di He seorang yang kebingungan harus melakukan apa.
Mereka berjalan-jalan mengelilingi akademi, tapi kali itu Xika tidak banyak bicara. Yah, memang biasanya Xika tidak terlalu banyak bicara, tapi tidak bicara sama sekali itu bukanlah Xika. Xingli menyadarinya. Gadis itu menepuk pundak Xika dan memberi tatapan Apa kau baik-baik saja?
"Maaf. Aku tak tahu apa yang terjadi pada Heiliao dan Huo Bing, dan itu membuatku tertekan. Padahal sebelumnya mereka baik-baik saja, bahkan sangat bersemangat. Aku hampir tidak pernah melihat mereka menunjukkan ekspresi seperti itu. Apalagi pada waktu yang bersamaan."
Puk!
Puk!
Xingli menggapai bahu Xika dan menepuknya beberapa kali.
"Terima kasih." Xika tersenyum.
-------------------------
Beberapa hari berlalu sejak pertarungan Huo Bing dan Heiliao. Mereka sepakat untuk bersikap seolah tak ada yang terjadi. Tak ada yang membahas hal itu lagi. Meskipun kadang-kadang Xika masih melihat Huo Bing tengah merenung, dan Heiliao menampilkan ekspresi yang aneh.
Ia ingin sekali bertanya pada mereka, apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ia tak ingin memaksa. Kalau mereka ingin menceritakannya, mereka pasti sudah bicara. Kalau mereka tak mau, ya sudah. Itu pilihan mereka.
Saat ini mereka baru saja keluar dari Gedung Utama, setelah Xika memberi tahu Jing Wei bahwa ia bersedia berpartisipasi, tapi Huo Bing dan Heiliao tidak akan ikut, hanya dirinya dan Xingli.
Pada akhirnya, hanya Xikalah yang akan berpartisipasi. Xika mengumpat kesal karena hal itu.
"Sialan. Dia kan kepala akademi, apa ia tidak bisa memanipulasi sedikit kompetisi ini? Lagipula, bukankah itu yang biasanya dilakukan seorang ketua?"
"Yah, bukannya keinginanmu terkabul? Kau ingin melakukan semuanya sendiri kan?"
"Tapi bukan itu maksudku. Aku masih membutuhkan rekan."
"Kau bilang kau ingin melakukannya sendiri."
"Lupakan saja."
Xika membuang nafas dengan kasar sementara Huo Bing tertawa bersama Heiliao. Senang rasanya melihat semua kembali normal. Xika melirik Xingli untuk mengetahui ekspresinya karena tidak jadi ikut kompetisi itu. Tak ada perubahan pada wajahnya. Sepertinya ikut ataupun tidak, bukanlah masalah baginya. Yah, tadinya ia ikut karena permintaan Xika, sih.
"Ngomong-ngomong, Xika. Kau tidak bosan berjalan-jalan seperti ini terus?" tanya Huo Bing tiba-tiba.
"Hm? Kenapa memangnya?"
"Bukannya kau yang mengatakan ingin masuk akademi ini karena ingin bertambah kuat? Kenapa kau tidak pernah menghadiri satupun kelas?"
"Ah! A-anu....i-itu......yah, berjalan-jalan seperti ini tidak buruk juga. Oh, lihat! Burung itu bagus sekali! Wah! Ada seekor tikus tanah!"
"..........."
__ADS_1
"Xika, bahkan Nona Xingli pun tahu kau sedang mencari alasan dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Jujur saja, kau sebenarnya malas mengikuti kelas yang dipimpin oleh para orang tua itu bukan?"
Xika langsung memalingkan wajahnya.
"Ti-tidak kok......"
Heiliao menatapnya dengan tajam.
"Yah, baiklah. Kau benar. Para elder itu sudah sangat tua dan cara mereka mengajar sangat membosankan. Ceramah mereka adalah pengantar tidur paling baik yang pernah ada. Aku bahkan tidak membutuhkan satu menit untuk tidur bila mendengarkan ceramah mereka."
Huo Bing membuat ekspresi mengejek.
"Diamlah Huo Bing, kau juga tidak pernah mengikuti kelas."
"Heh, itu karena tak ada manusia yang pemahamannya melampauiku disini." Huo Bing tersenyum bangga.
"Benar! Xingli, kau juga! Belakangan ini kau juga tidak pernah menghadiri kelas ya?"
Xingli mengabaikannya begitu saja bagai angin lalu. Xingli memang ahli dalam mengabaikan orang.
Mereka terus berjalan. Xingli dan Heiliao menyaksikan Xika dan Huo Bing berdebat dan mengejek satu sama lain. Mendadak terdengar suara pertempuran dari depan mereka.
Ketika mereka sampai, sudah ada banyak orang yang mengelilingi tempat itu. Xika berusaha keras mendorong mereka agar bisa maju. Ia mendengar beberapa protes tak terima, tapi Xika belajar dari Xingli untuk mengabaikan orang.
Di depan, ia melihat ada beberapa orang yang sedang bertarung. Seorang merupakan pengguna formasi, sementara empat lagi adalah bocah kultivator elemen api.
Si pengguna formasi itu cukup mahir. Sekalipun empat orang menyerangnya dari arah yang berbeda, ia masih mampu bertahan, bahkan menyerang balik.
Tampaknya tubuh si pengguna formasi telah ditutupi semacam pelindung tak kasat mata. Setiap kali bocah-bocah itu melayangkan serangan, sebuah perisai formasi muncul dan menahan serangan itu.
Meskipun para bocah itu bekerja sama dengan baik, tapi tampaknya mereka masih belum bisa mengalahkan si pengguna formasi.
Setelah bergantian memberikan serangan tanpa membuahkan hasil, bocah-bocah itu mundur. Mereka berbaris rapi, sepertinya hendak melakukan semacam teknik gabungan.
BLAR!
Tubuh masing-masing bocah itu terbakar. Mereka bergerak mengepung si pengguna formasi kemudian bergandengan tangan. Semacam pilar api terbentuk dari masing-masing tubuh bocah itu. Kemudian tiap pilar semakin memanjang hingga lima meter.
Pilar-pilar api itu bergeser miring, seolah hendak jatuh, tapi pada akhirnya menyatu tiap ujungnya hingga membentuk sebuah piramida api dengan si pengguna formasi terperangkap di dalamnya.
Mendadak Xika merasa pernah melihat sosok si pengguna formasi. Ia berusaha mengingat di mana melihat sosok tersebut. Ah!
"Shu Mang?!"
************************
Author Note:
Halo, semuanya. Saya minta maaf karena tidak sempat update beberapa hari belakangan ini. Jujur, akhir-akhir ini saya agak lelah. Beberapa hari yang lalu saya mengalami demam. Syukurlah bukan corona, hanya kelelahan akibat kurang tidur.
Dan satu lagi, saya ingin berterima kasih pada kalian yang telah memberikan dukungan pada saya, memberikan like dan komentar positif. Saya sangat senang setiap kali membaca komentar mendukung kalian. Saya memang masih baru dalam bidang novel, tapi saya akan coba semampu saya agar membuat novel ini jadi semakin baik. Sekali lagi, terima kasih. Semoga menikmati dan terhibur dengan petualangan Xika dan kawan-kawan.
__ADS_1