
"Xin Fu dan Hou Mu, kalian berdua buat jaring. Aku, Guang Liang, Zhu Fei, dan Sha Mu akan menyerang kedua orang itu. Kami hanya akan memberikan serangan sekilas, setelah itu kalian langsung lemparkan jaring itu. Setelah keduanya terjerat dalam jaring, baru kita hajar mereka bersama-sama. Yang lain berjaga-jaga selagi kita mengerjakan dua langkah pertama. Mengerti?"
Semuanya menjawab dengan anggukan singkat, tapi mantap. Xin Mei menarik nafas dalam-dalam sambil melihat kedua targetnya. Setelah itu, ia memberikan aba-aba dan langsung melompat turun.
Syut!
Whush!
Krak!
Bwush!
4 jenis serangan dengan tipe yang berbeda meluncur tepat ke arah Xika dan Liang Jihua yang tengah tertidur. Xin Mei menatap keduanya dengan harap-harap cemas. Ia tahu keempat serangannya barusan tidak akan mengalahkan lawannya, tapi setidaknya bisa memberikan luka yang lumayan. Setelah itu, jaring dilemparkan dan ia akan memiliki kendali penuh terhadap lawannya. Sungguh rencana yang sempurna, pikirnya.
Sayangnya, baru langkah pertama saja sudah gagal. Keempat serangan itu tidak pernah sampai pada targetnya. Serangan-serangan itu mendadak berhenti di udara sejauh dua meter dari Xika, kemudian meledak dan menghilang tanpa sebab yang jelas.
"Apa?!" Tanpa sadar Xin Mei bersuara, tapi kedua target dibawah nampaknya masih tidur dengan nyenyak. Yang laki-laki bahkan mengubah posisi tidurnya menjadi semakin aneh. Kalau begitu pelakunya pasti bukan mereka. Tapi, bagaimana bisa serangan mereka hancur semudah itu tanpa alasan yang jelas?
Xin Fu dan Hou Mu, yang bertugas membuat jaring, menatap Xin Mei dengan bingung. Apakah mereka akan tetap melempar jaring atau ada perubahan dalam rencana? Xin Mei balas menatap mereka kemudian memberikan anggukan yang menyatakan rencana masih sama.
Kalau yang sebelumnya bukan kebetulan, Xin Mei ingin melihat apa yang menyebabkan serangannya dapat hancur semudah itu. Jadi ia meminta jaring tetap dilempar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Syush!
Jaring dilempar dan kali ini berhasil sampai ke bawah. Sayangnya, jaring itu tidak berhasil menangkap targetnya. Xika dan Liang Jihua sudah tidak ada di bawah. Segera saja kelima belas orang itu membelalakkan mata mereka antara terkejut dan ngeri bercampur menjadi satu.
"H-hilang?"
"O-orangkah itu? B-bagaimana kalau yang kita lihat tadi sebenarnya bukan manusia?"
"T-tampaknya kita sudah mengganggu mahkluk yang salah."
"Tuh, kan. Apa kubilang tadi, sebaiknya kita tidak mengganggu mereka."
Seruan serupa terdengar dari kelompok yang memilih untuk tidak menyerang, sementara kelompok yang memilih untuk menyerang mulai merasa ragu dengan pilihan mereka. Xin Mei sendiri mulai meragukan pilihannya tadi, tapi ia meyakinkan dirinya bahwa yang tadi ia lihat itu memang benar manusia.
"Semuanya, tenanglah! Yang tadi itu memang benar manusia, hanya saja ia memiliki kecepatan yang luar biasa sehingga terlihat seolah menghilang."
Seolah mengkonfirmasi ucapan gadis itu, sebuah suara terdengar di belakang.
"Benar, tentu saja aku manusia. Kejam sekali kalian menyerangku selagi tidur setelah itu mengataiku hantu."
Seketika semuanya menolehkan kepala ke satu arah dengan mata membelalak hebat. Sekalipun saat itu sudah malam, tapi cahaya bulan yang ada berhasil membuat mereka melihat sosok yang bicara sebelumnya. Seorang lelaki sedang berjongkok di dahan pohon sambil meletakkan sebuah tongkat di bahunya.
"Yah, karena kalian sudah tahu aku bukan hantu, pertempuran bisa dimulai bukan?"
Guang Liang yang pertama menyerang. Tangannya gemetar hebat ketakutan, tapi ia berusaha menepis ketakutan di hatinya dengan menyerang sosok itu. Sayangnya, itu adalah tindakan yang salah.
Xika memiringkan kepalanya dan menghindari pisau yang Guang Liang lemparkan dengan mudah. Setelah itu ia menghilang dari tempatnya dan muncul kembali di belakang Guang Liang.
Set!
"A-apa?!"
BUK!
__ADS_1
BRUK!
Satu pukulan. Satu orang.
Xika menoleh dan mendapati tatapan ngeri menghiasi mata semua yang hadir. Yah, apa boleh buat. Bukan maunya bertarung dalam gelap seperti ini, tapi mereka yang memaksanya. Lebih parah lagi, ia dikatai hantu.
Sejak awal, kelompok Xin Mei adalah kelompok lemah yang hanya mengandalkan jumlah dan lari kalau tidak bisa mengalahkan lawan mereka. Hal itu terlihat jelas dari pilihan Xin Mei yang ingin terus bergerak agar tidak ditemukan kelompok lawan. Strateginya adalah terus bersembunyi sampai peserta lain dieliminasi dan ia lolos ke babak berikutnya.
Mungkin saja rencananya itu berhasil kalau tidak ada rencana Zhen Fang, dan kalau gadis itu tidak mengusik tidur Xika. Sayangnya, ia telah memilih langkah yang salah. Kini tamat sudah kesempatannya untuk lolos ke babak berikutnya.
Tidak butuh waktu lama, Xika berhasil menghabisi kelompok berisikan lima belas orang yang isinya ternyata hanyalah pengecut semua. Ia berhasil melakukannya tanpa menimbulkan suara yang mengganggu. Bukannya Xika tidak ingin membangunkan Liang Jihua, tapi Xika sendiri masih mengantuk.
Jadi ia tidak ingin melakukan gerakan tak berarti. Alhasil, ia menyelesaikan pertempuran tanpa suara berisik.
Sekali lagi, Xika masih mengantuk. Karena itu, setelah menghabisi kelompok lima belas itu, Xika kembali tidur tanpa mengirim lawannya kembali ke Akademi. Lalu bagaimana kalau mereka bangun dan datang lagi untuk membalas dendam?
Tentunya Xika sudah menyiapkan rencana cadangan. Ia mengikat kelima belas orang itu masing-masing di atas puncak pohon yang amat tinggi. Kalaupun mereka berhasil membuka simpul sulit yang ia buat, pemandangan yang menanti di bawah akan membuat mereka berpikir kembali untuk melepas simpul.
Setelah kelompok lima belas, tidak ada lagi yang datang dan mengganggu tidur Xika, kecuali nyamuk tentunya. Tapi mari kita abaikan itu karena Xika sendiri sering membuat orang lain menjadi nyamuk.
Liang Jihua kembali terbangun dan entah bagaimana merasakan adanya bekas pertarungan. Ia lantas menatap Xika dan bertanya apa yang terjadi. Xika hanya mengangkat bahu sambil melesat pergi. Sekalipun begitu, Liang Jihua tahu bahwa semalam memang terjadi pertempuran.
Dan Xika yang menyelesaikan pertempuran itu, tanpa membangunkan dirinya. Sekali lagi, ia marah pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia tertidur padahal sudah bertekad akan menjaga Xika? Bagaimana seandainya kemarin malam Xika tidak bangun? Mungkin mereka sudah tereliminasi dari babak ini ketika membuka mata.
Setengah hari berlalu. Xika berhasil menghabisi kurang lebih delapan atau sembilan kelompok yang masing-masing berisikan sepuluh sampai belasan orang. Namun, ia merasa itu masih belum cukup. Kalau ingin menyesuaikan dengan target Zhen Fang yang hendak menyelesaikan babak ini hari ini atau kemarin, ia masih kurang banyak mengeliminasi peserta.
Kalau ditotal, mungkin Xika dan Liang Jihua sudah menghabisi sekitar seratus orang. Kalau tiap kelompok menghabisi jumlah yang sama, maka kurang lebih mereka sudah menghabisi empat ratus orang. Jumlah yang lumayan sebenarnya, tapi masih ada sisa sedikit.
Yang menjadi masalah adalah, bila sisa sedikit itu berkumpul menjadi sebuah kelompok besar. Tentunya mereka akan menjadi keberadaan yang mengancam kelompok Zhen Fang dan lainnya. Kalau hanya dibagi sepuluh sampai belasan orang perkelompok, mungkin masih mudah menghabisinya.
Tapi bagaimana bila kelompok itu tidak terbagi dan terus bergerak bersama dalam jumlah yang besar? Bisa-bisa mereka menggilas kelompok Zhen Fang yang hanya terdiri dari dua-dua orang dengan mudah.
Murid-murid dari Immortal Pearl Pavillion, Burning Abyss Sect, Sky Devouring Castle, Di Clan, Northern Light Castle, dan Dark Shade Abyss telah dihabisi hingga menyisakan satu murid dari masing-masing sekte. Untuk Dark Shade Abyss, para peserta yang berasal dari sekte kecil dan menengah curiga dan takut terhadap Dark Shade Abyss sehingga, alih-alih mengajak Dark Shade Abyss bergabung, mereka malah menyerangnya.
Selain itu, kebetulan anggota Star Border Association yang jumlahnya tidak banyak telah dikalahkan. Bukan secara sengaja, tapi memang kebetulan mereka bertemu lawan yang lebih kuat hingga tersingkir dari babak ini.
Kini, semuanya sama seperti Xika. Satu sekte hanya memiliki satu peserta. Dalam situasi yang berbeda Xika pasti akan tersenyum geli menyaksikan hal ini, tapi saat ini situasinya terlampau gawat sehingga ia tidak bisa tertawa. Sayangnya, sampai saat ini Xika masih belum mengetahui perkumpulan sekte besar yang jumlahnya ratusan itu tengah mengincar mereka.
Siang hari, Xika dan Liang Jihua tengah menghabisi sebuah kelompok yang berisikan tujuh belas orang. Sayangnya, satu orang berhasil lolos. Mungkin karena teman-temannya berhasil menutupi yang seorang dengan baik, atau mungkin karena Xika dan Liang Jihua sedang kelelahan karena bertarung tanpa henti. Tapi yang pasti, mereka tidak berhasil menghentikan seseorang itu.
Xika, yang saat itu masih belum mengetahui keberadaan besar yang mampu mengancamnya, mengejar pria itu. Bagaimanapun juga, semakin banyak peserta yang ia eliminasi, semakin cepat ia naik ke babak berikutnya. Selain itu, ia adalah kultivator angin. Musuh ingin melarikan diri darinya? Mimpi saja.
Jadi dengan percaya diri Xika mengejar mangsanya itu, tanpa tahu ia telah memasuki daerah musuh.
"Hosh.....hosh.........aku selamat........"
"Heh. Selamat apanya? Kau baru saja kehabisan tenaga bukan?"
Seolah menjawab Xika, sebuah panah melesat mengincar bahunya. Tentu saja Xika berhasil menghindar.
"Oh? Rupanya kau menemui temanmu. Baik, baik. Panggil semua temanmu keluar, biar aku habisi mereka satu persatu!" Xika menyeringai.
Panah kembali melesat, kali ini berjumlah ratusan, memenuhi tantangan Xika.
"Membosankan ah." ucap Xika sambil menghindari panah-panah yang datang dengan mudah. Ia mengangkat Space Shifter yang telah berbentuk tongkat dan mengayunkannya untuk menangkis panah-panah yang tersisa.
__ADS_1
"Ada kejutan lain?" tanya Xika.
SYUT!
Sepuluh sosok muncul mengepung Xika. Masing-masing memiliki aura yang luar biasa dan berada di tingkat Forming Qi 9. Tanpa berbasa-basi, kesepuluh sosok itu maju secara serentak dan menyerang Xika.
"Wah," Xika menggaruk-garuk pipi melihat sekeliling, "yang ini sepertinya akan sulit."
Hap!
Ia bersalto untuk menghindari tendangan musuh, kemudian memutar tubuhnya menghindari sabetan pisau angin, mendarat dengan kedua tangannya dan langsung menghindar lagi karena duri tanah muncul beberapa saat setelah tangannya mendarat.
"Seperti yang diharapkan dari kultivator Forming Qi 9, kekuatannya tidak main-main."
Mendengar ucapan Xika itu, beberapa sosok mengerutkan kening dan memikirkan pertanyaan yang sama. 'Itu artinya ia belum mencapai Forming Qi 9? Tapi ia masih mampu menghindari serangan kita dengan santai?'
Kesepuluh sosok itu terus menerus menyerang Xika dan tak memberinya waktu untuk beristirahat. Tapi pengalaman bertarungnya di alam liar selama bertahun-tahun membuat Xika masih mampu mengimbangi kesepuluh sosok itu.
Setelah bertukar ratusan serangan, Xika dan kesepuluh sosok itu mengambil langkah mundur dan menatap satu sama lain sambil mengatur nafas. Nafas Xika lebih memburu, tapi itu karena ia bertarung melawan sepuluh orang sendirian. Kesepuluh sosok itu memang tangguh.
Sayangnya, melihat kesepuluh sosok itu masih belum cukup untuk menjatuhkan Xika, datang lagi sebuah kelompok yang berisi belasan pria dan wanita. Pandangan mereka dipenuhi kekaguman, tapi masih tertutupi kesombongan mereka. Seolah-olah mereka mengatakan, 'Wah iya, kau memang hebat. Tapi sayang sekali sebentar lagi kau akan berakhir di sini.'
"Lagi? Yang benar saja?" Xika menatap para pendatang baru itu dengan mata lebar. Kalau para pendatang baru itu memiliki kemampuan yang setara dengan sepuluh sosok sebelumnya, maka peluangnya menang akan semakin kecil. Tapi bukan berarti tidak mungkin.
Ia jadi tergoda untuk menggunakan elemen lain. Tapi kalaupun ia berhasil mengalahkan kelompok ini dengan empat elemen, ia harus melawan rekannya di babak ini yang sudah tahu rahasianya. Dan Xika kembali memutuskan untuk menggunakan elemen angin saja.
Setelah cukup mengambil nafas, kesepuluh sosok itu kembali maju, kali ini dengan belasan pendukung di belakangnya.
WHUSH!
Sebuah pukulan datang. Rasanya pukulan itu lebih cepat dibanding sebelumnya, dan lagi tubuhnya kini terasa lebih berat. Ck, rupanya musuh menggunakan teknik yang sama dengannya. Memperlambat gerakan lawan dan mempercepat gerakan kawan.
Sayangnya, hal itu tidak berguna bagi dia yang juga seorang kultivator angin. Xika menghancurkan belenggu angin yang menahannya dengan mudah. Tapi kemudian kakinya menginjak sesuatu yang licin dan membuatnya tergelincir.
Tentu saja, lawan tak akan menyia-nyiakan kesempatan seperti itu. Sebuah kaki datang mengincar kepala Xika. Untungnya Xika masih berhasil menahan berat badannya dengan tangannya, jadi ia memutar tangannya dan menghindari kaki yang datang.
Tapi ia luput memperhatikan serangan lain yang datang. Di saat ia berhasil menghindari kaki pertama, kaki kedua datang dan menghantam kedua tangannya. Belum cukup, kaki ketiga datang mengincar perutnya.
Dalam situasi seperti itu, pasti akan menyenangkan bila Xika tenggelam ke tanah dan mengeluarkan duri tanah sebagai gantinya. Sayangnya, ia bertekad untuk hanya menggunakan elemen angin.
Grep!
Whush!
Xika menahan kaki ketiga yang datang dan menghempaskannya dengan bantuan elemen angin. Di saat yang hampir bersaamaan, kaki keempat berhasil menghantam perut Xika hingga membuatnya terlempar beberapa meter.
Bruak!
"Ukhh......"
Xika baru saja bangkit ketika sebuah tinju hendak menyapa wajahnya, refleks ia menahan tangannya, namun tinju lain telah datang dan menghantam perutnya.
"Ck, sial."
Sambil menstabilkan nafasnya, Xika melihat baik-baik musuhnya. Tapi mereka tidak memberinya waktu untuk berdiam diri. Berbagai serangan kembali datang menyerang Xika. Ia mengumpat kesal sambil menghindari dan menangkis sebisanya.
__ADS_1
Setengah hari ini, ia sudah menggunakan cukup banyak qinya. Setelah itu ditambah mengejar bajingan yang kabur itu, qinya makin terkuras. Dilanjut lagi dengan kesepuluh sosok Forming Qi 9 ini dan belasan pendukungnya yang sesekali menembakkan serangan.
Di saat yang dibutuhkan, di mana rekannya?