Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-213


__ADS_3

Xika dan lainnya menghentikan langkah mereka. Huo Bing masih menatap pria botak itu dengan waspada.


"Ada satu hal lagi yang ingin kubicarakan."


Huo Bing membuat ekspresi malas. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan pria botak ini. Semakin lama mereka berada di dekatnya semakin tidak baik.


"Aku membutuhkan bantuan kalian."


Xika membuat menatap pria botak itu seakan-akan ia gila. Yang memang begitu menurut Xika.


"Setelah mengancam kami dan menekan kami dengan auramu, kau mau meminta bantuan kami?"


Pria itu tersenyum seolah tak ada yang salah.


"Yah, kalian tidak berniat buruk bukan? Aku melakukan itu hanya untuk mencari tahu apakah kalian berniat buruk atau tidak. Lagipula, kalau tujuanmu adalah untuk bertambah kuat, maka harusnya permintaanku ini dapat membantumu."


Xika mengangkat satu alisnya dan menatap pria itu dengan ragu.


"Apa yang kau inginkan?"


"Dua minggu lagi, akan ada kompetisi penyambutan murid baru yang akan diadakan oleh seluruh kekuatan, besar atau kecil, semuanya akan berpartisipasi. Tahun ini Mu Zhan Akademilah yang menjadi tuan rumah.


Meskipun disebut penyambutan murid baru, tapi sebenarnya kompetisi ini adalah ajang pamer kekuatan antara yang satu dan lainnya. Karena ini diadakan untuk menyambut murid baru, maka hanya murid barulah yang dapat berpartisipasi.


Sementara murid baru tahun ini......tak ada yang benar-benar menonjol. Mereka yang berada di peringkat atasĀ  semuanya berasal dari kekuatan lain, kecuali......."


"Kecuali kami." sambung Xika. "Jadi kau ingin kami yang tidak berasal dari kekuatan manapun untuk bertarung mewakili akademi."


Pria botak itu mengangguk. "Tepat. Lagipula, kalau kau ingin bertambah kuat, maka bukankah salah satu caranya adalah dengan bertarung melawan orang yang kuat? Kompetisi ini didasarkan pada harga diri masing-masing kekuatan. Mereka tak mungkin mengirim murid yang lemah."


"Apa yang kau katakan itu memang masuk akal. Tapi apa untungnya bagi kami untuk membantumu?"


"Hohoho.....aku sudah menduga pertanyaan ini. Aku tak mengatakan meminta bantuan dengan gratis. Kau ingat perpustakaan yang kau masuki bersama Penatua Fen sebelumnya? Aku akan membiarkanmu mempelajari semua teknik yang kau inginkan disana. Bagaimana? Selain itu, kalau kau berhasil memenangkan kompetisi ini, aku akan memberimu hadiah lain. Lagipula hadiah dari kompetisi ini juga cukup bagus."


Xika berpikir sebentar.


"Hanya perpustakaan itu? Tidak menarik. Setidaknya berikan aku akses ke bagian terlarang perpustakaan."


Pria itu mengerutkan alisnya sambil tersenyum.


"Nak, kau sebaiknya tidak menggigit lebih dari apa yang bisa kau kunyah."


"Beruntung sekali, aku memiliki porsi makan yang besar."


"Dengar, ada alasan mengapa bagian itu disebut sebagai bagian terlarang. Aku tak bisa memberikan akses ke tempat itu begitu saja."


"Aku tak memaksamu. Itu pilihanmu. Harga diri, atau teknik terlarangmu."


"Tidak, itu diluar kekuasaanku. Paling jauh aku hanya bisa memberikan akses ke perpustakaan Murid Inti."

__ADS_1


"Cukup mengecewakan. Memangnya apa hadiah dari kompetisi itu? Dan apa hadiah tambahan yang akan kau berikan kalau aku menang?"


"Aku belum tahu kabar pastinya mengenai hadiah itu. Tapi aku mendengar beberapa rumor. Diperkirakan hadiahnya berupa pil Royal menengah, bisa juga sebuah artefak Middle-Clover. Harusnya tak jauh dari itu."


Xika berpikir sebentar. Pil dengan kualitas Royal-menengah. Itu merupakan pil yang hanya dapat dibuat oleh Blackjack Alchemist. Blackjack Alchemist bisa dikatakan Alchemist tingkat tertinggi yang ada saat ini karena Trump Alchemist tidak pernah muncul selama seribu tahun.


Lalu artefak. Middle-Clover sebenarnya cukup bagus. Tapi sepertinya dari semua hal, senjata adalah hal paling tidak ia butuhkan. Senjata sekaligus pelindung maksudnya. Ia punya Space Shifter ajaib yang dibuatkan Huo Bing dan kartu ayahnya. Lalu ada juga kotak kartu dari kartu ayahnya, Nexus. Itu juga sudah cukup melindunginya, meskipun pada satu waktu, ia pernah terluka sekalipun sudah mengenakan Nexus. Tapi yah, itu masih kurang menggoda.


"Yah, aku tidak terlalu tertarik. Lalu bagaimana dengan hadiah tambahanmu?"


"Nak, kau benar-benar memiliki porsi makan yang besar. Apa yang kau mau? Mungkin aku bisa mendapatkannya untukmu."


"Hm, entahlah. Apa yang kau tawarkan?"


"Artefak? Pil? Teknik? Hewan Spiritual? Tumbuhan Spiritual? Informasi?"


DEG!


Jujur, dari semua yang disebutkan pria itu, Xika hanya tertarik pada pilihan yang terakhir. Informasi. Sampai saat ini ia masih belum tahu keadaan pamannya sama sekali. Apakah pamannya masih hidup? Bagaimana keadaannya? Apa yang sedang dia lakukan saat ini? Di mana ia berada?


Xika sangat ingin menggunakan kekuatan akademi untuk mencari tahu pamannya. Akademi pasti memiliki jaringan informan yang tersebar luas di seluruh penjuru Dinasti Lin. Harusnya tidak sulit untuk menemukan pamannya menggunakan bantuan akademi.


Tapi sekalipun ia sangat ingin, ia tak berani meminta bantuan akademi. Ia masih tak tahu apakah pria botak di depannya ini dapat dipercaya atau tidak. Kalau pria itu sampai tahu tentang pamannya, entah apa yang akan terjadi.


Melihat Xika yang tenggelam pada pikirannya, pria botak itu kembali memberikan pilihan lain.


"Bagaimana kalau ketenaran? Atau kekasih-" pria itu melihat Xingli yang berdiri di sebelah Xika, "maaf, tidak jadi. Lupakan saja. Atau bagaimana kalau kau menyimpan janjiku? Anggap saja aku berutang sesuatu padamu. Di kemudian hari bila kau sudah tahu apa yang kau inginkan, kau bisa mengatakannya padaku."


Tapi kalau ia menerimanya sekarang, pria tua itu pasti berpikir bahwa ia memiliki apa yang Xika inginkan. Lagipula ia ingin menjaga harga dirinya sedikit.


"Janji? Aku sudah punya janji dari seorang penatua. Itu tidak terdengar terlalu menarik. Tapi, yah, akan kupikirkan."


"Apa? Janjiku ini lebih berharga daripada janji seorang penatua akademi ini, nak! Apa kau tidak tahu siapa aku?"


"Tidak. Siapa kau?"


"Aku ini Kepala Akademi, Jing Wei. Apa kau tak pernah mendengar namaku sebelumnya?"


"Entahlah. Mungkin pernah, mungkin juga tidak. Pokoknya, aku akan memikirkannya. Sekarang kami permisi dulu."


Dengan begitu Xika meninggalkan pria botak yang ternyata adalah Kepala dari Akademi Mu Zhan. Ia keluar dari Gedung Utama dengan banyak tatapan dari orang lain. Wajar saja, karena ia baru turun dari lantai atas yang jarang dilalui orang banyak. Selain itu, berjalan bersama Xingli saja sudah cukup untuk menarik perhatian.


"Kau benar-benar menarik perhatian ya. Apa kau selalu ditatap seperti ini kemanapun kau pergi?"


Xingli tidak menjawab. Tapi sebenarnya ia jarang, bahkan hampir tidak pernah datang ke tempat umum seperti ini. Ia selalu bepergian melalui jalan yang tidak dilalui orang banyak. Jadi, yah melihatnya berjalan di tempat umum saja merupakan pemandangan langka. Apalagi melihatnya berjalan beriringan dengan seorang pria.


Beberapa orang berbisik ketika mereka lewat, tapi tak ada yang menghalangi mereka. Sepertinya kabar pertarungan mereka beberapa saat yang lalu telah tersebar. Tapi Xika ragu kabar itu akan bertahan cukup lama. Tidak lama lagi, pasti akan ada orang bodoh yang mengganggunya lagi hanya untuk mendapatkan perhatian Xingli.


Akhirnya mereka sampai di Jade Village. Ketika masuk, seluruh murid yang telah bertarung dengan mereka masih ada di taman. Terlihat jelas luka yang Xika dan Xingli buat di badan para murid itu. Xika mengerutkan keningnya melihat keberadaan murid-murid itu.

__ADS_1


"Kenapa kalian masih ada disini?"


"Apa maksudmu?"


"Sekalipun kau telah mengalahkan kami, bukan berarti kau bisa mengusir kami."


"Benarkah?" sahut Xika. "Setahuku peraturannya adalah penantang yang menang mendapatkan kamar yang kalah bukan? Seingatku sebelum kita bertarung ada yang berteriak 'kami menantangmu' atau semacamnyalah. Bukankah itu artinya semua kamar yang ada disini milikku sekarang?"


Pada saat itu, semua murid yang ada mengutuk siapapun yang berteriak seperti itu di dalam hati mereka. Sementara murid yang berteriak itu benar-benar malu sampai ingin mengubur dirinya sendiri.


"Pergilah. Kuberi kalian sepuluh menit untuk berkemas. Kecuali kalau kalian mau menantangku lagi." ucap Xika sambil mengibaskan tangannya.


Para murid itu mengemasi barang mereka dengan enggan. Suka tidak suka, itulah perarturannya. Lalu tak ada yang cukup gila untuk menantang Xika lagi. Berdua dengan Xingli, ia sudah mengalahkan mereka semua. Apalagi kalau hanya satu lawan satu.


Kurang dari sepuluh menit, para murid itu telah mengemasi barang mereka dan bergegas mencari tempat tinggal baru. Kecuali mereka berempat, hanya Di He yang masih tinggal di Jade Village. Di He lah satu-satunya murid yang tidak menantang Xika. Ia melambaikan tangannya melihat Xika dan lainnya masuk.


Xika tersenyum ketika Di He mendekat.


"Maaf, tapi kami harus membicarakan sesuatu. Bisakah kau meninggalkan kami?" ucap Xika.


Di He mengangguk tidak keberatan. Ia kembali ke kamarnya dan menutup pintu.


Mereka masuk ke kamar Xika. Huo Bing langsung tiduran di kasur Xika. Heiliao duduk di meja, sementara Xika dan Xingli duduk di lantai.


"Kau ingin membicarakan kompetisi itu kan?" ucap Huo Bing sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur.


Xika mengangguk.


"Aku ingin mengikuti kompetisi itu."


"Karena hewan spiritual?"


"Apa? Bukan."


"Bukan? Kenapa?"


"Karena aku tak membutuhkannya." ucap Xika bingung dengan Huo Bing yang tiba-tiba keluar topik.


"Kenapa? Bukannya para kultivator seusiamu biasanya ingin memelihara hewan spiritual yang kuat? Semacam rekan kepercayaan mereka?"


"Kalau hewan peliharaan, bukannya aku sudah punya kalian?" tanya Xika dengan wajah polos.


Huo Bing dan Heiliao bertatapan selama dua detik sebelum mencapai kesepakatan.


"Lebih baik kubakar? Atau kubekukan saja dia?" tanya Huo Bing pada Heiliao.


"Mencincangnya juga boleh."


"Ide bagus."

__ADS_1


"Hei, hei. Aku hanya bercanda. Kalian mau apa? Huo Bing jauhkan tanganmu dariku. Lagipula kau duluan yang keluar dari topik!"


Sekali ini, Xingli bersyukur akan hidupnya. Melihat Xika yang dikejar-kejar Huo Bing dan Heiliao bukanlah tontonan yang buruk menurutnya.


__ADS_2