Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-148


__ADS_3

Lang Yan muncul di sebelah putra sulungnya, bersamaan dengan Heiliao yang muncul di samping Xika.


"Heiliao? Apa kabar? Aku masih harus bertarung kalau kau tidak keberatan."


"Sayangnya aku keberatan." ucap Lang Yan.


"Aku tidak menanyakan pendapatmu."


"Sialan! Dasar anak kurang ajar! Kemari kau! Biar kumakan lagi kau!"


Xika langsung bersembunyi di balik tubuh Heiliao ketika mendengar kalimat terakhir Lang Yan. Ia tak mau menghabiskan berjam-jam mandi hanya untuk menghilangkan liur serigala itu dari tubuhnya.


"Tenanglah," ucap Heiliao, "Itu tadi pertarungan yang bagus, tapi kalian bisa berhenti. Apa kau tidak merasakan ada yang berubah pada Lang Jin?"


"Ya, aku merasakannya. Justru karena itu aku ingin menyerangnya lagi."


Kemudian tanpa menunggu tanggapan Heiliao, Xika menarik selembar kartu lagi menggunakan tangan kirinya hingga masing-masing tangan memegang kartu, bersiap menyerang Lang Jin lagi.


"Tenang dulu, bocah! Putraku baru berhasil membangkitkan Bloodlinenya. Masih banyak y-"


"Boleh aku menyerangmu lagi?" tanya Xika memotong ucapan Lang Yan.


"Bocah! Aku benar-benar akan memakanmu! Kali ini akan kupastikan bauku tidak hilang sampai seminggu!"


Heiliao mendekati Lang Yan dan menahannya.


"Tenang dulu. Hanya sekali saja tak apa bukan? Lagipula keduanya tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat. Biarkan saja mereka mengucapkan salam perpisahan."


Meskipun Xika tak mengerti apa yang dibicarakan Heiliao, tapi nyatanya ucapan serigala hitam itu cukup membantu. Lang Yan lebih tenang dan akhirnya membiarkan putranya melanjutkan pertarungan dengan Xika.


Lang Jin menatap Xika dan mengangguk. Ia siap menerima serangan Xika.


"Second Way : Pair!"


Xika mengayunkan kedua kartu di tangannya hingga membentuk dua buah gelombang tebasan yang menuju Lang Jin. Serigala itu tidak menghindar. Sama seperti Xika, ia juga ingin menguji tubuhnya. Meskipun Xika menggunakan teknik yang belum pernah ia lihat sebelumnya, tapi kelihatannya Xika berharap banyak dari teknik itu.


WHUSHH!


DUAR!!


Serangan Xika berhasil menimbulkan asap. Beberapa saat berlalu dan muncullah sosok Lang Jin yang masih berdiri tegak. Xika melihat serigala itu baik-baik. Ada dua garis merah besar di tubuhnya, tapi tak ada darah yang mengalir. Serangannya gagal juga. Lang Jin melihat raut kecewa di wajahnya.


Mendadak wajahnya berganti. Terlintas ide baru di wajah Xika. Ia kembali memandang wajah Lang Jin.


"Sekali lagi? Aku mendapat ide baru."


"Bocah sialan! Kau tidak terima tidak bisa mengalahkan anakku, bukan? Benar kan?"


Lang Jin diam sebentar kemudian mengangguk. Tak mempedulikan ayahnya yang marah-marah disamping. Untungnya ada Heiliao yang menahan serigala tua itu.


"Kali ini akan jauh lebih kuat. Berhati-hatilah."


Lang Jin kembali mengangguk. Ia mengalirkan qi menuju seluruh tubuhnya. Sebelumnya ia hanya mencoba bulu dan ototnya. Tapi kali ini Xika sepertinya akan mengeluarkan serangan yang lebih kuat dibanding sebelumnya. Ia dapat merasakannya dari aura yang dikeluarkan anak itu.


Xika menutup kedua matanya dengan menjepit kartu di masing-masing tangannya. Ia mengaliri keduanya dengan qi. Perlahan-lahan, muncul lima simbol elemen di kedua kartu tersebut. Tanpa sadar, aura yang dikeluarkan dari kartunya menakuti serigala lain.


Bahkan beberapa serigala tidak bisa menahan tekanan tersebut hingga jatuh pingsan. Lang Jin tidak separah itu, tapi ia juga merasakan perasaan tidak enak. Ia mengalirkan qi semakin banyak, memperkeras baik otot maupun bulunya.


Xika tidak sempat mengucapkan nama tekniknya karena terlalu berkonsentrasi. Ia menggabungkan Pair dengan lima simbol elemen. Bila satu saja dapat menimbulkan serangan yang luar biasa, bagaimana dua? Ia menekuk kedua sikunya hingga jarinya menyentuh bagian bawah ketiaknya, kemudian mengayunkan kedua tangannya.


Tapi ia tidak sadar bahwa bukan dua gelombang yang muncul, tapi tiga.


WHUSHHHH!!!


BRET!


CRATT!


Kali ini serangan Xika tidak menimbulkan asap. Tidak, serangannya terlalu cepat hingga membelah angin. Di ujung matanya, Xika melihat sosok Lang Jin yang masih berdiri. Tapi tubuhnya tidak seimbang. Beberapa kali serigala besar itu hampir terjatuh dan berusaha keras untuk berdiri.


Xika menyipitkan matanya dan melihat dua garis berdarah di tubuh Lang Jin. Itu bukan garis yang sama dengan sebelumnya, karena kali ini ada tiga garis........tunggu! Tiga garis? Belum sempat Xika berpikir lebih jauh, tubuh Lang Jin sudah terkulai jatuh.


Bruk!

__ADS_1


Xika segera memasukkan Cosmos ke dalam sakunya dan berlari menuju Lang Jin.


"Apa kau baik-baik saja? Maaf, aku tak menyangka akan sekuat itu."


"Terakhir kali juga kau bilang begitu. Sebenarnya kau ada dendam apa dengan anakku?"


Lang Jin tak mempedulikan ayahnya. Ia tersenyum pada Xika meskipun darah menetes dari sudut mulutnya.


"Tak apa. Lagipula, aku juga bertambah kuat karena kau."


"Minggir!"


Xika masih ingin bicara lagi tapi Lang Yan mendorongnya ke samping untuk memeriksa luka putra sulungnya itu. Xika hendak protes, tapi ia melihat bekas luka yang ia hasilkan di tubuh Lang Jin. Ia memang tidak salah lihat. Memang ada tiga garis di tubuh Lang Jin.


Tapi bagaimana mungkin? Jelas-jelas ia menggunakan Pair. Kenapa ia bisa membentuk tiga serangan? Bagaimana caranya?


"Tadi itu.........teknik apa? Terlihat berbeda..........dengan dua teknik sebelumnya......."


Xika terdiam mendengar pertanyaan Lang Jin. Butuh beberapa saat untuk membuka mulutnya karena sesungguhnya ia juga tidak tahu teknik apa yang barusan ia gunakan.


"...........aku tidak tahu."


Lang Jin terlihat bingung dengan jawaban yang ia terima. Tapi kemudian ia tersenyum.


"Tunggu aku menguasai Bloodlineku. Saat itu kita akan bertarung lagi."


Xika mengangguk.


"Tentu."


"Apa kau sudah siap? Kita akan pergi sekarang."


Xika menoleh menatap Heiliao dengan bingung. "Kemana?" Tapi jawaban yang ia dapatkan adalah, "Entahlah. Kemana kau mau pergi?"


Butuh beberapa saat bagi Xika untuk menyadari bahwa yang dibicarakan Heiliao adalah kembali berkelana mencari orangtuanya dan meninggalkan kaum serigala.


"Kau sudah menyelesaikan tugas-tugasmu?"


Heiliao mengangguk.


"Kenapa kau selalu curiga padaku? Dasar anak nakal! Aku yang membantunya! Tunjukkan rasa terima kasihmu!"


"Kau? Membantu Heiliao? Entah kenapa aku merasa ada udang dibalik batu."


Sebelum Lang Yan semakin menggila, Heiliao maju dan menjelaskan apa yang terjadi selama setahun ini pada Xika.


"Lang Yan memang membantuku. Bukan hanya dia, tapi juga pemimpin-pemimpin lainnya membantuku menyelesaikan tugasku. Tanpa mereka, aku tak akan menyelesaikan semua ini dalam satu tahun. Aku berutang terima kasih pada mereka."


"Heh. Tentu saja." Lang Yan mengangkat kepalanya dan tersenyum dengan bangga.


"Jadi.........kita akan pergi? Begitu saja?"


"Aku tahu, aku tahu. Kau pasti akan merindukanku. Tapi tenanglah-"


Sebelum Lang Yan selesai bicara, Xika sudah mendekat pada Lang Jin dan menepuk-nepuk punggungnya.


"Aku akan merindukanmu, kawan. Kita akan bertarung lagi nanti."


"Dasar Anak Nakal! Kenapa kau selalu memotong ucapanku?!"


"Ayo, Heiliao. Temani aku berpamitan pada yang lain."


Lang Yan membuka mulutnya hendak memasukkan anak itu, ketika Xika mendadak berbalik dan memeluk dirinya.


"Aku juga akan merindukanmu, Serigala Tua."


Lang Yan hanya mendengus. Tapi sejujurnya, ia menimati pelukan Xika. Kini ia mengerti kenapa Heiliao rela menemani anak itu kemanapun ia pergi.


"Simpan ucapan selamat tinggalmu untuk nanti malam. Kita akan mengadakan pesta perpisahan sekaligus perayaan atas bangkitnya Bloodline putraku."


Setelah mengatakan itu, Lang Yan pergi dengan membawa Lang Jin di punggungnya untuk diobati. Xika menatap keduanya sampai sosok mereka menghilang, kemudian berjalan pergi menjelajahi setiap area serigala yang pernah ia kunjungi untuk mengenang kembali.


Tempat pertama yang ia datangi, saat itu ia baru saja bertarung dengan Tian Yin. Ia ingat saat itu banyak serigala berkumpul dan mengelilingi mereka. Ada yang suka, ada juga yang tidak dengan kedatangan mereka. Beberapa saat kemudian barulah ia tahu bahwa mereka adalah pemimpin kaum-kaum serigala.

__ADS_1


Heiliao bicara dengan mereka, kemudian tiga ribu serigala datang untuk menjaga mereka. Ia ingat awalnya tidak semua serigala bersikap ramah padanya. Kemudian ia berusaha menarik hati mereka perlahan-lahan. Dimulai dari Lang Hu, berlanjut ke serigala lain hingga semua mengenalnya.


Setelah itu ke lapangan. Tempat ia bertarung dengan Lang Jin yang dipenuhi berbagai macam kaum serigala. Sejujurnya, ia cukup tegang saat itu. Untungnya semua berjalan dengan baik. Meskipun ia hampir membunuh Lang Jin, tapi Lang Yan menahannya.


Lalu mereka berpesta dan Lang Xuehao datang untuk memintanya menyampaikan pesan pada Heiliao. Sebenarnya ia masih belum menyampaikannya sampai sekarang, tapi sepertinya Heiliao sudah tahu. Setelah Heiliao pergi untuk menyelesaikan tugasnya dan ia berlatih dengan Huo Bing.


Kemudian taman. Disana ia bertemu dengan Shu Mang. Butuh beberapa hari, tapi akhirnya masalah selesai dan Shu Mang diterima menjadi bagian dari kaum serigala, sama seperti dirinya. Mereka berlatih selama beberapa waktu untuk memasuki tambang.


Mereka tidak menemukan Tangan Ungu yang ditakuti Shu Mang, sebaliknya ia menemukan Kong Yan beserta petunjuk tentang beberapa tempat yang pernah orangtuanya kunjungi. Kong Yan memang hebat, ia berhasil membunuh Tangan Ungu.


Setelahnya, Xika sering mengunjunginya. Selama setahun ini, ia sering bermain kartu atau sekedar mengobrol dengan Kong Yan. Xika lebih sering bercerita dibanding Kong Yan. Ia pernah beberapa kali meminta Kong Yan menceritakan pengalaman masa lalunya, tapi Kong Yan selalu menolaknya. Sepertinya ia tidak ingin membicarakannya.


"Xika!"


Xika menoleh dan menemukan Shu Mang beserta beberapa serigala lainnya sedang berkumpul. Ia mendekat dan memberitahu mereka bahwa ia akan pergi tidak lama lagi. Mereka semua sedih, beberapa bahkan menahannya tapi akhirnya mereka merelakan ia pergi dengan syarat ia harus bermain Capsah dengan mereka sampai malam.


Shu Mang meminta waktu untuk berdua dengan Xika. Heiliao mengecilkan tubuhnya sejak tadi jadi tidak ada yang sadar bahwa Alpha mereka juga ada disana.


"Jadi.....kemana kau akan pergi?"


"Entahlah. Mungkin ke tempat yang mudah untuk mendapatkan berita. Atau untuk bertambah kuat. Ada saran?"


"Bagaimana kalau ke Mu Zhan Academy? Kalau kau ingin belajar, itu tempat terbaik di Dinasti Lin. Selain itu, kalau kau mampu ada kemungkinan untuk pergi menjelajah ke luar Dinasti Lin."


"Mu Zhan Academy? Yang berada di Ibukota?"


"Ya. Mu Zhan Academy yang itu."


"Akan kupikirkan. Apa persyaratan masuknya?"


"Hanya beberapa tes, tapi aku yakin kau bisa melewatinya. Aku juga akan mendaftar ke sana tahun ini. Apa kau mau pergi denganku?"


Tadinya Xika ingin mengatakan ya, tapi kemudian ia teringat dengan celah yang dikatakan Kong Yan dan dirinya yang saat ini sudah mencapai tingkat Forming Qi 2. Jadi ia menggeleng.


"Mungkin tidak tahun ini. Aku akan mencoba ke sana kalau tidak sibuk. Kapan pendaftarannya dibuka?"


"Tanggal sembilang bulan sepuluh. Selalu seperti itu tiap tahun. Aku tidak tahu apakah ada batasan kultivasi, tapi sebaiknya kau berjaga-jaga."


Xika mengangguk. Kemudian ia menatap Shu Mang di sampingnya. Pemuda itu kelihatannya ingin mengatakan sesuatu tapi bingung.


"Lalu......eh, anu......itu..........terima kasih."


Xika tersenyum mendengar ucapan Shu Mang, kemudian mengangguk. Tapi sepertinya Shu Mang takut Xika tidak menganggap ucapan terima kasihnya sungguh-sungguh.


"Tidak, aku serius. Aku benar-benar berterima kasih padamu. Kalau bukan karena kau, aku mungkin sudah mati saat ini. Aku tak yakin kenapa, tapi Tangan Ungu sudah mati dan itu pasti berkaitan denganmu. Kalau kau kesulitan, atau membutuhkan sesuatu, kau dapat memanggilku kapan saja. Aku pasti akan membantu, sekalipun itu berarti menyerahkan nyawaku." ucap Shu Mang dengan tatapan serius.


Tap!


Xika menepuk pundah Shu Mang.


"Aku tahu. Aku pasti akan memanggilmu kalau membutuhkan bantuan. Kalau aku tidak diterima, kau akan tetap mengajakku keliling akademi bukan?"


"Tentu saja."


Xika tersenyum dan sekali lagi menepuk pundak Shu Mang. Kemudian ia melangkah pergi. Ia menuju kolam pribadinya yang diberitahukan oleh Lang Hu.


Ia melepaskan pakaiannya, kemudian melompat masuk ke dalam kolam itu untuk bersantai. Sesosok burung dua warna muncul di pundak kirinya sementara serigala kecil duduk di bahu kanannya.


"Ada apa?" tanya Huo Bing.


"Huo Bing? Kau sudah pulih?"


"Yah, kurang lebih. Apa yang terjadi?"


"Heiliao sudah menyelesaikan pekerjaannya. Kita akan kembali berkelana mencari orangtuaku."


"Secepat itu? Bagus! Lalu apa yang membuatmu sedih?"


"Entahlah. Aku tak yakin. Aku tahu kita harus pergi dan aku memang ingin menemukan orangtuaku. Tapi setelah sekian lama, akhirnya aku menemukan tempat yang terasa seperti rumah. Bayangkan, aku tinggal di Shaking Card selama sepuluh tahun dan aku tidak pernah menganggap tempat itu rumah atau bagian dari diriku. Aku hanya tinggal di sini selama setahun, tapi tempat ini sudah terasa seperti rumah."


"Tempat ini memang rumahmu." ucap Heiliao sambil memperlihatkan senyumnya yang jarang.


Xika terdiam beberapa saat sebelum tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Ya."


__ADS_2