Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-171


__ADS_3

Cahaya yang keluar itu cukup terang untuk membuat semua mahkluk yang hadir menutup mata.


Para warga gemetar ketakutan karena tak tahu apa yang terjadi sedangkan para serigala langsung memasang posisi siaga dengan Heiliao di tengah mereka.


Mereka tak bisa melihat karena cahaya yang dikeluarkan tugu batu itu, tapi kalau bisa melihat, mereka pasti akan terkejut. Pada saat ini, tugu batu yang tidak pernah disentuh oleh para warga bergerak. Bukan bergerak karena gempa bumi atau sejenisnya, tapi benar-benar bergerak seolah benda itu hidup.


Dan benda itu memang hidup.


Tugu batu itu bergerak mendekati Xika, kemudian ia berubah menjadi seberkas cahaya dan masuk ke dalam tubuh Xika tanpa disadari oleh satupun mahkluk yang hadir di tempat itu.


Ketika cahaya memudar, para warga tak bisa menemukan tugu batu yang selama ini diam tak tersentuh.


-----------------------------------------


Xika tak tahu entah sudah berapa lama ia terlelap. Samar-samar ia mendengar sebuah suara memanggilnya. Apa itu malaikat maut yang menjemputnya? Tapi seharusnya suaranya tak seramah itu.


"Hai."


"........?"


"Harusnya kau sudah sadar. Atau setidaknya sudah bisa berpikir."


Xika tak mengerti apa yang suara itu katakan.


"Siapa.......kau....?"


"Buka dulu matamu. Setelah itu baru kita bicara."


Perlahan, pemandangan aneh nan familiar muncul di mata Xika. Ini bukan dunia nyata. Ini ruang di kepalanya, atau apalah namanya itu. Ia ingat ruang kosong nan hampa ini. Ini ketiga kalinya ia ke sini.


Ia menoleh dan menemukan bola cahaya sebesar tubuhnya melayang di depannya. Benda apa itu? Sebelumnya tak ada benda seperti itu ditempat ini.


"Apa kau yang bicara denganku tadi....?"


"Ding dong! Kau benar!"


"Ehh....terima kasih?" jawab Xika bingung memberikan tanggapan.


"Hahaha.....sama-sama. Sekarang ayo kita beralih ke topik utama."


"......?" Xika masih tak tahu apa yang bola bercahaya itu bicarakan.


"Cepat serap aku. Setelah itu kau akan bangun dan terkejut melihat tingkat kultivasimu."


"Serap....? Maaf, aku benar-benar tak mengerti apa yang kau bicarakan."


Bola cahaya itu mengeluarkan suara yang mirip dengan helaan nafas.


"Benar, tak mengerti. Tentu saja. Sudah berapa lama waktu berlalu? Lupakan. Sekarang yang harus kau lakukan adalah menyerapku untuk memulihkan luka dan menaikkan kultivasimu."


Xika menatap bola cahaya itu masih dengan pandangan bingung. Kenapa ia harus menyerap bola itu? Dan kenapa bola itu mau diserap olehnya?


"Anu.....aku tak begitu mengerti tapi.....kenapa aku harus menyerapmu? Dan kenapa kau bersedia diserap olehku?"


"Ahhh.......sudah kuduga aku memang tidak salah pilih. Kau bahkan memikirkan diriku. Tapi tak usah khawatir. Anggap saja aku bukan mahkluk yang memiliki kesadaran. Anggap saja kau sedang menyerap tanaman spiritual untuk bertambah kuat."


Xika sebenarnya masih tak mengerti apa yang terjadi. Tapi pandangannya menangkap sesuatu yang lain. Sesuatu yang tampak menyedihkan.


Huo Bing.

__ADS_1


Xika langsung mendekati Huo Bing mengabaikan bola cahaya itu sepenuhnya. Sosok Huo Bing terlihat begitu mengenaskan. Di detik-detik terakhir, ia sempat menyelipkan kekuatannya ke alam jiwa Xika.


"Huo Bing! Apa kau baik-baik saja? Kau hanya kekurangan energi kan? Aku cukup memberimu pil-pil seperti terakhir kali bukan?"


"Xika.....syukurlah kau baik-baik saja......Dengar, saat ini aku bahkan tidak bisa menyerap pil-pil itu......mungkin aku akan tidur selama beberapa tahun untuk memulihkan diri.....sampaikan salamku pada Serigala Gosong....."


Tubuh Huo Bing semakin menipis. Sejujurnya, bisa bicara dengan Xika saja sudah diluar kemampuannya. Tapi burung itu benar-benar memaksakan dirinya.


Xika langsung menoleh pada bola cahaya di sampingnya.


"Kau! Tadi kau bilang bisa menyembuhkan diriku bukan? Bisakah kau menyembuhkan dirinya? Aku akan melakukan apapun permintaanmu asal kau menolongku."


".........."


Bola cahaya itu hanya diam tanpa suara membuat Xika semakin khawatir.


"Kumohon. Tolong dia!" nada Xika benar-benar menyiratkan sebesar apa kekhawatirannya pada Huo Bing.


Terdengar helaan nafas sebelum bola cahaya itu menjawab,


"Aku tak tahu harus mengatakan apa. Pada dasarnya aku bisa memulihkan dirimu kalau kau menyerap diriku. Kalau kau memintaku menyembuhkannya, maka ia harus menyerapku, dan bukan itu yang kumau."


"Tidak adakah cara lain? Aku bersedia melakukan apapun!"


"Hahhhh.....dengar nak. Aku adalah kesadaran spiritual yang terlahir setelah energi alam berkumpul selama beribu-ribu tahun. Tidak banyak orang yang bisa menyerapku. Dan lebih sedikit lagi kesadaran yang mau diserap. Sekarang aku ada di depanmu dan kau malah mendorongku pada temanmu ini?"


"Dia bukan hanya temanku. Dia saudaraku. Ia rela mempertaruhkan nyawanya untukku, jadi aku tak akan ragu memberikan apapun untuknya."


"Sejujurnya, aku disini karena berharap menjadi bagian dari dirimu. Sekarang kau memintaku bersatu dengan temanmu? Aku tak mau."


"Bisa aku tahu alasannya?"


"Karena ia adalah mahkluk tanpa takdir......dia, dunia ini-" Bola cahaya itu langsung berhenti seolah menyadari sesuatu.


"Kenapa? Kenapa kau mau menjadi bagian dari diriku? Apa yang menarik dari diriku? Apa maksudmu mahkluk tanpa takdir?"


"Karena takdirmu. Kau tak pernah mendengar tentang ramalan?"


"Ehh.....tidak secara lengkap dan jelas."


"Hmm....ya, memang sebaiknya begitu...."


Xika menaikkan satu alisnya setengah bingung setengah kesal dengan tanggapan itu.


"Baiklah. Aku bersedia membantu temanmu ini. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku."


"Katakan."


"Penuhilah takdirmu."


"Apa?"


"Penuhi takdirmu. Jangan pernah menyerah. Ingatlah bahwa banyak nasib terkait denganmu. Hehehe......itu saja. Sampai jumpa."


Kemudian bola cahaya itu terbang berputar beberapa kali diatas Huo Bing sebelum menyatu dengan burung itu. Lalu Xika merasakan tubuhnya tertarik dan semuanya menjadi gelap.


------------------------


Xika merasakan jari-jari kecil menusuk matanya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum membukanya. Kemudian pandangan pertama yang ia lihat adalah mata bulat Fan Mu yang menatapnya tanpa berkedip.

__ADS_1


Sejenak anak itu bingung ketika melihat mata Xika yang terbuka. Lalu ia mencoba menusuk sekali lagi untuk memastikan Xika benar-benar sudah bangun.


"AW!"


"Fan Mu! Kenapa kau menusuk mataku?!"


Kemudian turunlah tetes-tetes airmata yang sama sekali tak Xika duga. Bukan hanya dari Fan Mu, tapi juga dari anak-anak yang lainnya. Ia baru sadar mereka mengelilinginya.


"HUAAAAA!!!"


"He-hei.....aku mengagetkanmu ya? Maaf, maaf aku tak bermaksud......"


Tapi bukannya berhenti, tangisan Fan Mu justru malah semakin keras. Begitu juga dengan anak-anak lainnya. Xika semakin bingung dengan tingkah mereka.


Kemudian ia menangkap sosok seekor serigala dari ekor matanya. Bukan Heiliao, tapi serigala itu mengeluarkan aura berwibawa. Kalau tak salah ia hadir ketika Lang Yan dan serigala lainnya berdiskusi, tapi Xika tak ingat namanya.


Serigala itu menunduk sedikit untuk menyapanya yang juga dibalas oleh Xika dengan anggukan. Setelah itu ia kembali menatap anak-anak dan menenangkan mereka.


Keenamnya tertidur karena kelelahan menangis. Xika membaringkan mereka diam-diam sebelum berjalan mendekati serigala berwibawa itu.


"Halo." ucap Xika dengan sopan.


"Tak perlu terlalu formal. Aku pelayan saudaramu."


Xika malah semakin bingung dan kikuk mendengar hal itu. Lalu ia menoleh dan menatap para warga mengelilinginya dengan berbagai tatapan.


"Anu......ada yang bisa menjelaskan padaku apa yang terjadi di sini?"


Dan reaksi yang ia dapatkan sama sekali di luar dugaannya.


Seluruh desa, kecuali anak-anak yang sudah tidur, menundukkan tubuh mereka sembilan puluh derajat secara hormat pada Xika. Dan secara bersamaan mereka mengucapkan,


"TERIMA KASIH!"


Xika semakin bingung bereaksi. Apalagi semua warga itu masih menunduk padanya. Akhirnya salah seorang dari mereka bangkit. Ia menatap Xika dengan sorot mata yang cukup rumit.


Zheng Wei tersenyum pada Xika.


"Kenapa bingung? Kau menyelamatkan kami, bukankah hal yang wajar kami berterimakasih padamu?"


"Tidak.....hanya saja-"


"Kau kaget dengan perubahan sikap kami, bukan?"


"Sejujurnya......ya."


Zheng Wei menghela nafas.


"Aku tahu itu. Dan sejujurnya aku sendiri malu dengan diriku sendiri. Kami tidak hanya berhutang terima kasih padamu, tapi juga beribu-ribu permintaan maaf yang tentunya tak akan cukup. Kami terjebak terlalu dalam dengan trauma masa lalu kami sampai-sampai melupakan masa depan kami."


Xika diam. Ia tak mengucapkan basa-basi 'tak apa' atau 'jangan dipikirkan' karena sebenarnya ia juga cukup keberatan dengan sikap mereka. Bisa dibilang, ia cukup membenci mereka kecuali anak-anak.


Pada saat itu ia berbalik dan tak memberikan jawaban atau tanggapan apapun pada Zheng Wei. Ia melihat para serigala dan lebih memilih bicara dengan mereka. Setelah berbincang singkat, Xika mengetahui bahwa serigala itu bernama Lang Shan.


Lang Shan menceritakan secara singkat kejadian sejak ia terlempar oleh pemimpin ular sampai ia bangun. Ia mengerutkan alisnya ketika serigala itu menceritakan bagian tugu batu yang bersinar.


Ia curiga bola bercahaya di pikirannya itu terkait dengan tugu batu.


"Lalu? Apa yang terjadi setelah cahaya itu meredup?"

__ADS_1


"Tugu batu itu menghilang. Hanya menyisakan dirimu.......dan dia."


Xika mengikuti arah pandang Lang Shan dan terkejut dengan hal yang ia temukan.


__ADS_2