
"Kalau begitu, kami permisi dulu junior Xika." ucap Feng Hai dengan senyum di wajahnya. Ia membawa Feng Yu yang pingsan dan pergi menjauh. Di belakangnya, Feng Hu juga mengikuti dengan raut wajah kecewa sekaligus tidak terima. Ingin rasanya ia memberikan beberapa ancaman pada Xika, tapi pandangan tajam dari Feng Hai membuatnya mengurungkan niat.
Xika memberikan senyum sinis pada keduanya kemudian berbalik dan menatap Fen Mo yang masih meronta-ronta. Hebat juga pria ini. Sudah dicekik sekian lama tapi ia masih memiliki tenaga untuk meronta. Meskipun semakin lama ia semakin lemah. Yah, sebentar lagi juga ia akan kehabisan nafas.
"Nah, sekarang......apa yang harus kulakukan padamu?"
"Gghhh.....Ekh......khhhhh......"
"Ah, iya. Maaf, aku lupa masih mencekikmu."
Syut!
DUAK!
Xika melempar Fen Mo ke atas kemudian menendangnya hingga menabrak pohon. Ia penasaran apakah Fen Mo akan kehilangan kesadaran atau tidak.
Bruk!
"Ukh......breng.....sek......hah....."
"Oh? Masih bisa bicara rupanya...........Begini, aku yakin kau sudah melihat bahwa lawanmu tadi menyerah padaku. Jadi kuharap kau simpan saja tenagamu untuk bicara baik-baik daripada-"
"Sialan!"
WHUSH!
Belum selesai Xika bicara, Fen Mo sudah menerjang maju. Entah apakah Fen Mo memiliki otak atau otaknya memang sudah hancur karena dicekik Xika dari tadi.
"Kau pikir aku akan menurut tanpa perlawanan seperti pecundang tadi, hah?! Mimpi saja sana!" Fen Mo meraung sambil mengayunkan tinju membaranya.
"Hahhhh......"
Xika menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. Orang ini tampaknya tidak bisa bicara dengan orang yang dianggapnya lebih lemah. Kalau begitu, biar Xika tunjukkan kekuatannya.
SYUSH!
BUK!
Serangan Fen Mo sukses menghantam pipi Xika. Pria itu tersenyum penuh kepuasan. "Hah! Bagaimana sekarang? Masih bisa sombong?"
Karena tinju Fen Mo cukup keras ditambah elemen api yang membungkusnya, serangannya tadi menimbulkan sedikit asap. Fen Mo tidak sabar melihat bagaimana tampang Xika sehabis kena tinju membaranya secara telak barusan. Bahkan Feng Yu sekalipun akan mendapatkan luka yang tidak ringan bila kena serangannya dengan telak seperti itu.
Tapi.....
Ssshhhhh......
Fen Mo tidak pernah membayangkan bahwa Xika akan baik-baik saja setelah terkena pukulan telak darinya seperti itu.
Kabut menghilang dan menunjukkan wajah Xika yang acuh tak acuh. Pukulan Fen Mo bahkan tak mampu menggeser arah pandang Xika.
"T-tidak mungkin! Bahkan Feng Yu sekalipun pasti akan mendapatkan luka berat bila terkena seranganku secara telak! Bagaimana kau bisa?!"
Plak!
Xika menepis tangan Fen Mo dari wajahnya.
"Heh. Jangan samakan aku dengan Feng Yu. Coba kau pikir, kalau Feng Yu memang setara denganku, mengapa rekannya langsung menyerah padaku begitu saja, hah?!"
__ADS_1
Fen Mo tampaknya baru memikirkan hal itu ketika Xika menyebutkannya. Ia menoleh hendak mencari bawahannya, dan menemukan tiga tubuh yang sudah tak sadarkan diri. Tak ada banyak luka di tubuh mereka, tapi masing-masing pingsan dengan ekspresi yang menyakitkan.
Glek!
Kini Fen Mo baru sadar bahwa ia telah berhadapan dengan orang yang salah.
"A-anu.......Sepertinya ada kesalahpahaman sebelumny-"
BUK!
Tanpa basa-basi, Xika meninju Fen Mo hingga terlempar beberapa meter.
"Sampah! Kesalahpahaman gundulmu! Tadinya aku mau bicara baik-baik denganmu. Tampaknya itu sia-sia mengingat betapa kecilnya otak yang kau miliki."
"Ukh....A-apa?!" Wajah Fen Mo kembali bengis. Perasaan murka karena dihina membuatnya hendak menghajar Xika, tapi ketika melihat wajah Xika yang masih acuh tak acuh, mendadak perasaan murka itu sirna digantikan rasa takut yang tak wajar.
"E-ehh....itu......y-ya....saya memang punya otak yang kecil......B-bisakah junior melepas-"
DUAK!
Xika kembali menendang Fen Mo. Setelahnya, ia terus menghajar Fen Mo tanpa jeda. Kadang-kadang, ia memang butuh melepaskan emosi pada orang bodoh seperti ini.
Akhirnya setelah beberapa saat, Xika sukses membuat Fen Mo babak belur tak sadarkan diri. Tadinya ia ingin mengorek sesuatu dari Fen Mo. Semacam informasi rahasia mungkin, atau kekuatan para peserta lainnya. Ia masih kekurangan informasi dalam hal itu.
Tapi, apa boleh buat. Mengingat betapa bodoh dan bebalnya Fen Mo, Xika sudah tak bisa menahan diri. Jadi ia mengambil cincin spasial Fen Mo beserta mutiaranya. Setelah itu mengirim orang bodoh tersebut pergi. Xika melakukan hal yang sama terhadap para bawahannya.
Setelah itu, ia kembali berjalan. Hendak mencari hal lain yang menarik. Baru beberapa saat ia berjalan, ia sudah menemukan hal yang menarik.
Tak jauh darinya, ia mendengar suara pertempuran. Ia jadi penasaran dengan kemampuan peserta lainnya. Jadi ia mendekat untuk melihat-lihat. Tapi agar tidak ketahuan, Xika naik ke atas pohon. Selain dapat menyembunyikan dirinya, pohon juga menjadi tempat yang bagus untuk menonton.
"Oh?"
Karena itu, Xika semakin tertarik untuk melihat pertarungannya. Ia ingin tahu bagaimana kekuatan dari pria yang sama-sama bermarga 'Tian'.
WHUSH!
BUK!
Tian Li sukses menghantamkan sebuah pukulan tepat ke dada lawannya. Setelah itu, ia berputar dan melempar sesuatu pada tiga orang lain. Seorang berhasil menghindar sementara dua sisanya terkena telak serangan itu. Di tempat orang pertama berhasil menghindar, terlihat bekas koyakan pohon seolah baru saja dicakar oleh binatang buas.
Xika berdecak penasaran melihat bekas itu. Tampaknya Tian Li ini memang memiliki beberapa kemampuan. Kalau dilihat dari bekas koyakannya, sepertinya Tian Li menguasai elemen angin. Bagaimana ia bisa tahu?
Sederhana. Kalau Tian Li menggunakan elemen api atau elemen air, pasti masih ada bekas terbakar atau basah di sekitar pohon itu. Lagipula, bekas serangan api tak akan menyisakan jejak semacam itu. Elemen air juga sama. Yang tersisa tinggal elemen tanah dan angin.
Kalau Tian Li menggunakan elemen tanah, harusnya ia tak perlu repot-repot berputar dan melempar serangan pada ketiga orang itu. Ia tinggal menempelkan tangannya pada tanah, atau menghentakkan kakinya. Juga, Xika mengenali sisa serangan itu.
Diantara keempat elemen, atau bahkan lima elemen yang ia kuasai, anginlah yang paling memberikan jejak tak berbentuk. Dan jejak seperti itulah yang yang baru dibuat oleh Tian Li. Yah, itu pemahaman Xika terhadap elemen. Kalau Tian Li menggunakan elemen waktu, cahaya, atau kegelapan, maka semua teori di atas tak akan berlaku.
"T-tuan.......tolong lepaskan kami......kami benar-benar tidak bermaksud buruk! Bukankah kami hanya berpapasan? Mengapa anda menyerang kami seperti ini?"
Baru saja Xika hendak mengapresiasi orang-orang ini. Saat ini, tak banyak orang yang berani menentang mereka yang memiliki kekuatan dan status. Ia kira orang-orang ini adalah salah satunya. Ternyata ia salah. Tampaknya memang Tian Li saja yang gila dan menyerang keempat orang itu ketika kebetulan berpapasan.
"Mengapa? Pertanyaan bodoh. Ini adalah kompetisi. Semakin sedikit pesaing semakin baik. Meskipun, kalian tak akan bisa menyaingiku, sih."
"T-tuan......bukankah kami sudah menyerahkan mutiara kami? Kalau kami tak memiliki mutiara, artinya kami sudah tak lagi bisa menjadi saingan anda bukan?"
"Hm........ baiklah. Aku akan melepaskanmu......"
__ADS_1
Senyum muncul di wajah pria itu dalam sekejap.
".......dengan satu syarat."
Dan senyumnya menghilang secepat senyum itu muncul sebelumnya. Dengan berat hati, pria itu memaksa dirinya agar terus bersikap sopan.
"S-syarat......apa......?"
"Berlututlah." Tian Li mengangkat kepalanya dan memberikan senyum arogan penuh dominasi. Sontak saja raut wajah pria pertama itu berubah. Senyum tak lagi dapat terlihat di wajahnya. Matanya memandang tanah penuh kebingungan.
Haruskah ia berlutut? Kalau ia berlutut, maka ia akan menodai kehormatannya. Sepanjang umur hidupnya, ia akan terus mengingat kejadian pahit ini dan bisa saja menjadi belenggu baginya untuk melangkah lebih lanjut dalam berkultivasi.
Tapi, kalau ia tidak berlutut, entah apa yang akan dilakukan tuan muda sinting ini padanya. Mengingat dirinya yang diserang secara tiba-tiba tanpa alasan, bisa saja kultivasinya dilumpuhkan dan ia dipermalukan lebih lagi. Bila itu terjadi, maka sudah benar-benar tak ada harapan lagi baginya.
Tampaknya, ia memang harus berlutut.......
Perlahan, pria itu mulai menekuk lututnya. Xika menggeleng kecewa melihat kejadian itu. Padahal melihat ia cukup berani untuk terus berdebat dengan bajingan Tian Li itu, Xika pikir pria itu akan mencoba melawan. Ternyata akhirnya sama saja.
"HEAH!"
Tapi ternyata pria itu lebih memilih melindungi martabatnya. Sesaat sebelum lututnya menyentuh tanah, ia memberikan serangan terakhir. Duri-duri tajam yang keluar dari tanah menyerbu Tian Li dengan cepat. Bahkan sebelum ia melihat hasilnya, ia sudah tahu serangannya pasti akan gagal.
Namun.......itu masih lebih baik daripada menyerah tanpa melakukan apapun. Lagipula, tak ada jaminan bahwa Tian Li akan benar-benar melepaskannya sekalipun ia berlutut. Dengan melakukan ini, setidaknya ia membiarkan Tian Li tahu bahwa sekalipun ia lemah, ia tak mudah ditindas.
"Oh?"
Xika jelas tak mengharapkan perlawanan seperti itu. Tampaknya pria ini cukup hebat. Sekalipun dalam kondisi terdesak ia masih menolak untuk menundukkan kepalanya.
SYUSH!
Seperti dugaan pria itu, Tian Li dengan mudah menghancurkan duri-duri tanahnya dengan lambaian tangan sederhana.
"Dasar sampah sialan. Aku memberimu kesempatan tapi kau malah menolaknya? Tampaknya aku harus memperlihatkan betapa besarnya perbedaan kekuatan kita. Hanya memiliki kekuatan seperti itu, namun kau berani menyerangku?"
Segera, Tian Li membuat kuda-kuda. Tangan kanannya diletakkan di sebelah pinggang dengan pose seolah mencengkram sesuatu. Perlahan, angin yang mencabik mulai berkumpul di tangannya dan membentuk sebuah bola.
"Mati, sampah sialan!"
Ketika melihat bahwa Tian Yin melemparkan bola angin mengerikan itu padanya, pria tersebut tahu bahwa tak ada lagi jalan keluar baginya. Ia hanya berdiam diri di tempatnya dengan pasrah. Setidaknya, ia sudah mencoba yang terbaik. Di kemudian hari, sekalipun ia menjadi cacat, ia tak akan menyesali keputusan yang ia buat. Ia pun menutup matanya menanti serangan.
WHUSH!
BLAR!
"Eh?!"
Pria itu membuka matanya. Ia merasakan hembusan angin kencang, tapi selain membuat kulitnya sedikit pedih, ia tak merasakan sakit yang lain. Harusnya tak mungkin serangan Tian Li selemah ini. Kemudian pria itu melihat seseorang yang berdiri di depannya.
"Hei, kau sudah keterlaluan. Ia sudah memberikan mutiaranya. Itu sudah cukup. Biarkan dia pergi." ucap Xika pada Tian Li.
Tian Li menatap Xika dengan kening berkerut. Ia tak merasakan keberadaan Xika sama sekali sebelumnya. Darimana pria ini muncul? Dan lagi, sesaat sebelum serangannya mengenai lawannya, ia merasakan tekanan energi yang tinggi dari sekeliling bola anginnya yang menyebabkan bola anginnya meledak.
Tanpa peduli dengan reaksi Tian Li, Xika menoleh pada pria di belakangnya. "Pergilah," ucapnya. Tadinya ia tidak ingin turun tangan mengingat lawan Tian Li begitu pengecut. Lagipula, ini kompetisi, tak ada untungnya membantu lawan. Tapi melihat pria ini berani memberikan serangan sekalipun tahu ia akan gagal dan Tian Li akan memberinya serangan balik yang lebih kejam membuat Xika tergerak.
Cepat-cepat pria itu berdiri dan berlari pergi. Ia sungguh bersyukur pada pria yang barusan menolongnya siapapun namanya. Ia akan berusaha mencari bantuan dan kembali lagi ke sini secepat mungkin.
"Sampah Sialan! Siapa yang mengizinkanmu pergi?!" Tian Li meraung marah. Tangannya terbuka lebar, kemudian ia ayunkan kuat-kuat hingga membentuk angin tajam yang akan memberikan luka parah bagi pria itu.
__ADS_1
"Aku yang mengizinkan." ucap Xika sambil mengepalkan tangannya. Dan seketika itu juga, angin tajam buatan Tian Li hilang digantikan angin sepoi-sepoi.
Sambil berlari, pria itu mulai berpikir, tampaknya pria yang menolongnya itu tak membutuhkan bantuan.