Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-250


__ADS_3

Tian Li menatap Xika dalam diam. Ekspresi wajahnya menunjukkan amarah dan arogan yang besar. Ia memiringkan kepalanya.


"Hei, kau. Kau kira kau hebat karena berhasil menghancurkan anginku, hah?!"


"Tidak. Menurutku, aku ini sama sekali tidak hebat. Hanya saja, kau yang terlalu lemah. Bisa-bisanya menindas orang yang lemah. Katakan padaku, apa semua orang yang bermarga Tian memang gila?"


"Brengsek! Kau berani menghina klanku, hah?! Tampaknya orangtuamu tidak mengajari sopan santun dengan benar, ya!"


"Sayangnya, aku kehilangan orangtuaku saat berumur lima tahun." ucap Xika dengan senyum tanpa beban. Melihat Tian Li yang  mulai terpancing amarahnya menunjukkan bahwa pria itu memang bodoh.


"Heh. Pantas saja. Anak yatim sepertimu perlu diajari sopan santun. Karena orangtuamu tidak ada, biar aku yang mengajarimu apa itu sopan santun!" Tian Li menyelimuti kakinya dengan angin kemudian berlari menerjang Xika dengan tombak angin di tangannya.


"Ng, bagaimana ya? Sepertinya aku masih memiliki sopan santun dibandingkan kau." Xika tetap diam di tempatnya sekalipun melihat Tian Li sudah mulai bergerak.


Ketika tombak angin Tian Li hampir mengenai kepala Xika, Xika menggeser tubuhnya dengan mudah. Serangan Tian Li luput. Tapi sekalipun begitu, sisa hembusan angin dari tombak Tian Li harusnya masih memberikan luka yang lumayan bagi Xika. Namun, tak ada luka sama sekali di tubuh Xika, sekalipun Tian Li telah melihatnya dengan seksama.


"Yah, pelajaranmu tampaknya terlalu dangkal. Aku permisi dulu, ya." ucap Xika sambil memutar badan dan berjalan pergi.


"Sampah, siapa yang mengizinkanmu pergi?!" Tian Li tidak tinggal diam melihat Xika berjalan pergi. Setelah membuat mangsanya kabur, ia ingin pergi begitu saja?


Tian Li mengepalkan tangannya dan seketika tekanan angin yang tinggi menahan tubuh Xika dari segala arah sehingga ia tidak bisa bergerak.


"Heh."


BLAR!


Xika terus berjalan seolah tak ada yang terjadi apa-apa. Di wajahnya, terpampang senyum meremehkan. Ternyata kekuatan dari Tian Li hanya segitu saja.


"Rupanya kau memang memiliki kemampuan. Pantas saja kau sombong. Tapi di depanku, kau bukanlah apa-apa!"


"Oh? Kalau begitu coba hentikan aku pergi." ucap Xika sambil terus berjalan.


"HEAH!"


BLAR!


SWOSH!


Mendadak, Xika berbalik. Ia menemukan aura kuat yang mengalir keluar dari tubuh Tian Li. Xika menaikkan sebelah alisnya. Pantas saja Tian Li ini bersikap sombong. Awalnya Xika penasaran kenapa, padahal ia hanya di tingkat Forming Qi 8. Rupanya ia menyembunyikan kekuatannya.


"Heh. Kuakui, kau memang memiliki beberapa kemampuan. Aku tak akan mampu mengalahkanmu bila tetap berada di Forming Qi 8. Kau sebaiknya bangga. Kau orang pertama yang memaksaku mengeluarkan kemampuanku." Tian Li menyeringai sambil menatap Xika seakan ia adalah mangsa yang sudah masuk jebakan.


Wajah Xika mulai serius. Aura Forming Qi tingkat 9 terpancar dari Tian Li. Tampaknya tidak akan mudah mengalahkan Tian Li kalau hanya mengandalkan elemen angin.


Telapak tangan Tian Li terbuka lebar, kemudian ia menutupnya dan seketika sebuah tombak angin dengan aura yang berbeda dibanding sebelumnya muncul. "Nah, sekarang......." Ia memutar-mutar tombaknya, kemudian berlari menuju Xika. "Matilah!"


Xika juga melakukan hal yang sama dengan Tian Li. Ia menciptakan tombak angin dan menyambut serangan Tian Li dengan sigap. Keduanya langsung bertukar serangan. Tombak angin di tangan Tian Li saat ini jelas berbeda dibandingkan beberapa saat yang lalu.


Ia merasakan hawa menusuk dan angin yang lebih tebal. Tapi tentu saja, Xika juga tak akan kalah. Apalagi dalam kontes adu elemen angin, elemen pertama yang ia kuasai!


Wush!


Tian Li menyabetkan tombaknya hendak menebas leher Xika. Dengan mudah, Xika menunduk. Ia memberikan serangan balasan berupa tusukan di leher Tian Li juga. Sayangnya, Tian Li juga bisa menghindar dengan mudah.


"Heh. Kau berani sekali melawanku dengan elemen angin, kekuasaanku. Biar kutunjukkan perbedaan kekuatan diantara kita!"


Selesai bicara, Tian Li mencengkram tombaknya semakin erat. Perlahan, tombaknya berputar dan menarik lebih banyak angin dari sekitarnya. Tombak itu semakin membesar dan berhenti ketika diameternya mencapai dua meter.


"Heah!"

__ADS_1


WUSH!


Tian Li melemparkan tombak itu menuju Xika. Bukannya takut, Xika malah tersenyum. Ia tidak menghindar ataupun bertahan. Sebaliknya, ia malah bersiap memberikan serangan juga. Tian Li bicara sesumbar tentang elemen anginnya. Ia juga ingin melihat angin siapa yang lebih kuat.


Jadi Xika mendekatkan kedua telapak tangannya, dan mengumpulkan angin di ruang antara kedua telapak tangannya. Dengan kecepatan yang dapat dilihat mata telanjang, angin yang berkumpul di antara kedua telapak tangan Xika membentuk sebuah tombak yang tidak kalah besar dengan milik Tian Li.


Tidak mau kalah, Xika juga melemparkan tombak anginnya menuju tombak angin Tian Li. Kedua tombak dengan ukuran yang sama besar itu perlahan mendekati satu sama lain. Jalur yang dilalui kedua tombak itu terkikis saking kuatnya putaran angin yang dibawa keduanya.


WOSH!


SWUSH!


BLEDAR!!!!


Hantaman kedua tombak angin itu menyebabkan ledakan yang cukup besar hingga menimbulkan asap ke sekeliling. Jubah Xika dan Tian Li berkibar kencang, namun ledakan itu masih belum cukup untuk membuat mereka mundur.


Sebelum asap menghilang, Xika meningkatkan kewaspadaannya. Ia merasakan keberadaan lain selain Tian Li. Dan tampaknya keberadaan itu telah mengawasi pertarungan mereka cukup lama. Sepertinya kekuatan dari pihak ketiga ini cukup tinggi sampai Xika tidak mampu mendeteksi keberadaannya.


Ketika asap mulai menghilang, terdengarlah suara tepuk tangan.


Plok plok plok!


"Sungguh pertarungan yang hebat."


Dari sebelah kanan, kira-kira pada jarak tengah-tengah antara Xika dan Tian Li, berdiri seorang pria mengenakan jubah yang cukup mewah sambil menepukkan kedua tangannya. Ia bergantian memandangi Xika dan Tian Li bolak-balik dengan senyum di wajahnya.


".........."


Xika memperhatikan pria itu dengan hati-hati tanpa bicara. Ia sedang berusaha mengukur kemampuan lawannya dan dimana tingkat kultivasinya.


"Tampaknya tahun ini banyak yang menguasai elemen angin ya. Apa kalian-"


Belum selesai pria itu bicara, Tian Li sudah menyelanya. Ia menatap pria itu dengan tajam. Pertama, Xika mengganggu pertarungannya. Sekarang, pria ini juga ingin mengganggunya? Ia harus memberikan pelajaran pada mereka. Pertama-tama Xika, setelah itu pria ini.


"Ahahaha......seperti yang diharapkan dari Sky Devouring Castle. Sejujurnya, aku tak berniat, tapi maaf karena telah mengganggu pertarunganmu."


"Cepat katakan apa yang ingin kau katakan setelah itu enyahlah dari pandanganku kalau masih ingin berkultivasi." balas Tian Li dingin.


"Begini, bisakah kalian menghentikan pertarungan kalian? Ini baru babak kedua, tampaknya sedikit tidak pantas bila kalian mengeluarkan seluruh kemampuan kalian di babak ini. Lagipula aku hendak mengajukan penawaran setelah melihat pertarungan kalian berdua."


"Tidak tertarik bekerja sama. Sekarang enyahlah." ucap Tian Li tanpa memandang pria itu. Pandangannya masih fokus pada Xika. Tampaknya pertukaran serangan barusan berakhir seri. Sebuah hasil yang tak bisa ia terima.


Pria itu terkekeh. Itulah yang membuat Xika mewaspadainya. Benturan antara serangannya dan tombak angin Tian Li bukanlah hal yang sering dijumpai bahkan dalam kompetisi ini sekalipun. Tapi sekalipun sudah melihat dampak dari benturan serangannya dan tombak Tian Li, pria ini masih bisa berdiri dengan santai, bahkan tertawa dihadapan Tian Li.


Padahal, ia mengetahui dari mana Tian Li berasal. Kalau ia berasal dari klan kecil atau menengah, harusnya ia akan gemetar ketakutan atau setidaknya melarikan diri sebelum Tian Li menemukannya. Tapi melihat sikapnya yang masih tenang sekalipun mengetahui latar belakang Tian Li, tampaknya pria ini juga berasal dari kekuatan besar yang tidak kalah dengan Sky Devouring Castle.


"Tawaranku ini bukan sekedar kerja sama. Begini, seperti yang sudah kalian ketahui, tujuan kita dalam babak ini hanyalah mengumpulkan mutiara sebanyak mungkin tidak peduli bagaimana caranya. Kepala Akademi tidak memberikan rincian berapa peserta yang mengikuti babak ini dan berapa banyak yang akan ia eliminasi dalam babak ini. Ia juga tak memberi tahu kapan dan bagaimana babak ini akan berakhir.


Karena itu, aku berniat untuk menciptakan babak final sendiri. Biar kita sendiri yang menentukan akhir dari babak ini. Bagaimana?"


Tian Li tidak bicara. Ia mengerutkan alisnya dan menatap pria itu, tapi masih tetap tidak bersuara. Nampaknya gagasan pria itu berhasil menarik perhatian Tian Li.


"Itu gagasan yang menarik. Boleh aku tahu bagaimana kau berniat mewujudkannya?" tanya Xika setelah bungkam sekian lama.


Pria itu menoleh dan melihat Xika masih dengan senyum di wajahnya.


"Aku hendak membuat babak final sendiri. Jadi yang kubutuhkan adalah finalisnya."


"Jadi kau bermaksud mengajak kami menjadi finalis? Dengan kata lain, kita akan bekerja sama bersama dengan beberapa orang lain mungkin untuk menciptakan peserta finalis sesuai keinginan kita, setelah itu sisanya kita eliminasi?"

__ADS_1


"Bingo! Kau cepat tanggap ya. Boleh aku tahu darimana kau berasal?"


"Bukan tempat yang perlu dibicarakan." ucap Xika sambil tersenyum sopan. Tapi dalam hati, ia tersenyum sinis. Sekarang ia mengerti mengapa pria ini tidak muncul dari awal. Rupanya, pria ini tidak tahu identitasnya. Dengan kata lain, bagi pria itu, Xika hanyalah seorang rendahan yang berasal dari sekte kecil atau menengah.


Jadi alasan ia tidak langsung muncul di awal dan baru muncul sekarang adalah karena ia ingin menunggu Tian Li mengalahkannya. Mengingat perkataannya yang hendak membuat babak final sendiri, ia pasti berniat mencari finalis yang layak.


Dan salah satu finalis yang layak itu adalah Tian Li. Tentu saja. Siapa yang berani meremehkan seseorang dari Sky Devouring Castle? Tampaknya, pria itu mengira Xika akan segera kalah dari Tian Li. Dan karena Tian Li tidak suka pertarungannya diganggu, ia berniat menunggu Tian Li mengalahkan Xika baru mengajaknya kerja sama.


Namun, dari hasil pertempuran barusan, tampaknya Xika telah berhasil mengejutkan pria itu. Kekuatan Xika berhasil membuatnya melihat Xika dengan cara yang berbeda, karena itu ia berubah pikiran dan mengajak Xika juga. Ia juga bertanya dari mana asal Xika untuk memastikan apakah Xika adalah orang berbakat yang berasal dari sekte kecil, atau ia memang seseorang dari sekte besar yang identitasnya tidak diketahui.


Tapi karena Xika menolak untuk menyebutkan asal sektenya, sepertinya ia dianggap berasal dari sekte kecil atau menengah. Nampaknya, bila pria itu telah memenuhi jumlah finalis yang diinginkannya, dan Xika tidak termasuk di dalamnya, pria itu akan langsung membuat Xika. Yah, ini cukup menarik.


Pria itu tersenyum sopan dan mengangguk mendengar jawaban Xika. Tapi samar-samar, Xika dapat mendeteksi perubahan tatapan di mata pria itu. Seperti yang ia duga, ia dianggap remeh karena dikiranya berasal dari sekte kecil atau menengah.


"Siapa kau?" tanya Tian Li tiba-tiba. Setelah perbincangan yang cukup panjang itu, Tian Li baru bertanya identitas lawannya. Dan ia membicarakan sopan santun dengan Xika?


"Ah, benar juga. Maafkan aku. Dimana sopan santunku? Aku Zhen Fang dari Immortal Pearl Pavillion." Zhen Fang menundukkan kepalanya dengan sopan.


"Heh. Pantas saja mukamu tidak asing. Aku terima tawaranmu." Tian Li memberikan senyum kecil yang masih memancarkan kesombongan.


"Saya tersanjung Saudara Tian Li mengingat saya." Zhen Fang kini berbicara dengan gaya seorang pedagang. Gaya bahasa yang formal dan kaku.


"Aku punya pertanyaan. Bagaimana bila aku menolak?"


Wajah Tian Li seketika berubah. Tapi sebelum ia bicara, Zhen Fang telah angkat suara duluan.


"Boleh saya tahu alasan Saudara menolak tawaran saya?"


Xika menyeringai. "Kebetulan, aku memiliki dendam dengan pria ini dan Immortal Pearl Pavillion-mu. Dapat membalaskan dendamku seperti menjatuhkan dua burung dengan satu batu. Mengapa aku harus menolak?"


Dan seketika itu juga wajah Zhen Fang berubah. Ia langsung memberikan senyum tidak enak hati.


"Rupanya anda juga pelanggan dari Pavillion kami. Maafkan saya yang tidak mengingat anda. Boleh saya tahu apa keluhan anda dengan Pavillion kami? Saya akan berusaha membantu anda sebaik mungkin."


"Heh. Beberapa tahun yang lalu, aku bertarung dengan seseorang di kota kecil. Pada saat itu, Kepala Cabang dari Immortal Pearl Pavillion memiliki hubungan yang cukup baik denganku. Tapi diam-diam dia menyelidiki latar belakangku. Apakah menyelidiki latar belakang pelanggan adalah hal yang wajar?


Ketika aku bertarung, ia hanya diam tanpa memberikan bantuan, bahkan diam-diam berhubungan dengan musuhku. Katakan, bagaimana pihak Pavillion akan menyelesaikan masalah ini?"


"Pertama-tama, saya ingin mengucapkan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya. Saya akan pastikan memberi teguran pada Kepala Cabang tersebut. Boleh saya tahu di kota mana anda bertarung sebelumnya?"


"Entahlah. Aku tidak ingat nama kota itu. Maaf, ya." ucap Xika acuh tak acuh.


Zhen Fang mengerutkan keningnya, tapi ia langsung memberi senyum khas berdagangnya lagi.


"Kalau begitu biar pihak kami saja yang menyelidiki insiden ini. Anda tentu tidak keberatan bukan?"


"Tidak masalah. Tapi aku penasaran bagaimana kau akan menyelesaikan masalah ini?"


"Hmm......karena anda masih memiliki tiga permintaan yang masih belum digunakan, tentunya ketiga permintaan itu masih berlaku sampai saat ini. Sebagai kompensasi atas kejadian tak mengenakan ini, bagaimana kalau kami memberikan diskon 50% untuk setiap benda yang anda beli?"


"Maaf, aku tidak terlalu suka belanja."


Senyum pahit muncul di wajah Zhen Fang. Sementara amarah sudah hampir meledak di wajah Tian Li. Ia tidak tahan melihat Xika yang bersikap semena-mena.


"Sepertinya, masalah ini lebih baik dibicarakan dengan manajer kami di Pavillion pusat saja. Bagaimana? Saya berjanji akan memberikan penyelesaian yang memuaskan."


"Huh. Sudah bertahun-tahun berlalu, dan bahkan pihak Pavillion masih tidak mengetahui insiden ini. Sungguh mengecewakan. Aku tidak yakin pihak Pavillion dapat memberikan penyelesaian yang memuaskan dengan kinerja yang begitu lambat dan mengecewakan."


"Saya mengerti kalau anda telah kecewa dengan kinerja kami. Masalah ini akan segera kami perbaiki. Untuk saat ini, bagaimana kalau anda bergabung dengan kami? Sebagai imbalan, saya berjanji akan membuat anda melewati babak ini dan terus maju setidaknya sampai 8 besar. Juga, masih ada kemungkinan untuk menjadi peserta semifinal. Bagaimana?"

__ADS_1


Zhen Fang menatap Xika dengan senyum khasnya. Sementara Tian Li sudah hampir tidak bisa lagi menahan amarahnya. Kalau tawaran ini Xika tolak juga, maka akan ia pastikan Xika tidak akan lolos di babak ini!


__ADS_2