
Xika mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu, kemudian menutup matanya untuk berkonsentrasi. Beberapa saat kemudian sebuah lubang terbentuk di udara. Mirip dengan lubang hitan Heiliao, hanya saja kali ini ada pemandangan di baliknya, bukan hitam saja.
Para serigala menatap celah ruang yang diciptakan Xika tanpa bicara. Mereka belum pernah melihat sesuatu seperti itu.
"Apa yang kalian tunggu? Apa kalian pikir ia bisa bertahan selamanya?" ucap Heiliao kesal karena serigala lainnya hanya diam saja. Yah, baginya yang sudah biasa bepergian melewati ruang, kelakukan mereka sangat kampungan. Bahkan Lang Yanpun bersikap seperti itu.
Serigala-serigala itu tersadar dan satu demi satu mereka melompat masuk. Heiliao menatap dengan pandangan acuh tak acuh sementara Lang Yan menatap dengan penasaran. Tapi begitu melihat tatapan Heiliao, ia pura-pura tidak penasaran lagi.
Sekitar seratus serigala sudah berpindah. Tangan Xika bergetar selama beberapa saat kemudian celah ruang itu menutup dan ia jatuh terduduk. Nafasnya memburu, wajahnya penuh keringat. Meskipun sudah tidak membuat celah spasial lagi, tapi tangannya masih bergetar hebat.
Heiliao mendekat dan memeluk Xika menggunakan ekornya. Kemudian Xika merasakan aliran hangat yang berasal dari Heiliao. Dan iapun menjadi lebih tenang. Nafasnya lebih stabil, dan tangannya tidak lagi bergetar.
"Tak apa, jangan dipaksakan. Untuk saat ini batasmu adalah seratus mahkluk ya."
"Apakah proses pemindahan hanya ditentukan oleh jumlah? Apa besarnya tidak dihitung?"
"Tergantung mahkluknya. Nanti kau akan tahu. Sekarang beristirahatlah dulu. Aku yang akan membuat portal."
Xika mengangguk. Ia mengaliri tubuhnya dengan qi untuk membuat tubuhnya lebih baik. Heiliao di sampingnya, berjalan maju. Kemudian ia membuka mulutnya dan celah yang sama muncul. Hanya saja celah yang ini lebih besar dan terlihat lebih stabil dibanding miliki Xika.
Lang Yan dapat melihat pemandangan di balik celah itu dengan lebih jelas, selain itu, kini tiga serigala dapat masuk secara bersamaan. Dengan begitu, perpindahan akan lebih cepat dilakukan.
Setelah semua serigala selain dirinya dan Lang Yan telah berpindah, Heiliao juga ikut masuk. Tapi ia dihentikan oleh Lang Yan. Serigala itu meminta masuk lebih dulu dengan muka yang agak takut tapi ditutup-tutupi. Heiliao tidak peduli. Ia menyingkir memberikan jalan.
Lang Yan masuk. Kemudian Heiliao menyusul di belakangnya. Dan celah itupun menutup, meninggalkan Shu Mang yang kebingungan harus melakukan apa. Lang Hu sudah masuk lebih dulu karena serigala itu penasaran bagaimana rasanya berteleportasi.
Untunglah sepuluh menit kemudian Xika bangun. Ia menatap sekelilingnya dengan bingung karena tidak menemukan siapa-siapa. Shu Mang mendekat dan memberitahunya apa yang terjadi.
"Ah, begitu ya.......Kalau begitu aku akan menyusul. Apa kau mau ikut?"
Shu Mang mengangguk. Kemudian Xika kembali mengangkat tangannya. Karena hanya mereka berdua yang masuk dan ia hanya membuat celah sebentar, ia tidak kelelahan seperti tadi. Shu Mang melangkah masuk lebih dulu sebelum Xika.
WHUSH!
Dan celah ruangpun kembali tertutup.
Shu Mang menapakkan kakinya di bagian hutan yang lain. Ia merasakan perasaan yang sama ketika melarikan diri, tapi tidak sekuat itu. Perasaan seperti pusing dan mual digabung menjadi satu. Perutnya terasa ditarik ke berbagai arah. Tapi yang dirasakannya ketika melarikan diri berkali-kali lebih kuat karena saat itu ia sedang terluka. Jadi kali ini tidak butuh waktu untuk membiasakan diri.
Kemudian ia memandang sekelilingnya. Hampir seluruh serigala sudah kembali normal dan tidak pusing lagi. Hanya beberapa serigala yang kelihatannya masih pusing. Sepertinya mereka memiliki tingkat kultivasi yang paling rendah.
__ADS_1
"Sepertinya mereka cukup cepat beradaptasi."
Xika berdiri di sampingnya. Dan pemuda itu tidak terlihat pusing ataupun mual sedikitpun. Shu Mang menduga itu karena Xika yang menciptakan celah ruang.
"Ayo." ajak Xika.
Kemudian ia mengikuti Xika mendekati para serigala. Mereka kembali berlatih. Heiliao membuat lubang lagi di udara. Dan meminta mereka memasukinya. Ia melakukannya berulang kali. Lang Yan tidak terlalu menyukai sensasi saat berpindah. Tapi di depan serigala lain ia memasang wajah baik-baik saja.
Matahari sudah mulai terbenam ketika para serigala kembali ke tempat latihan mereka. Ada yang masih segar, ada yang pusing, dan ada juga yang sudah mau pingsan karena tidak kuat lagi. Tadinya Heiliao masih ingin melanjutkan latihan sampai makan malam. Tapi melihat para serigala ini sudah kelelahan, ia membiarkan mereka pulang dan beristirahat. Lagipula, ini adalah pertama kalinya mereka berpindah ruang.
Beberapa hari berikutnya dilalui dengan aktivitas yang sama. Heiliao menyarankan agar mereka membiasakan diri lebih dulu sebelum berlatih menyerang. Ia juga menjelaskan bahwa hal yang harus dilakukan pertama kali ketika berpindah ruang adalah memeriksa sekeliling.
Karena kita tidak tahu kita berpindah tempat ke mana. Bisa saja seribu meter di atas tanah, bisa juga seribu meter di bawah laut. Lalu kita juga tidak tahu mahkluk apa yang menunggu kita di balik celah itu. Bisa saja musuh sudah menduga kedatangan kita dan menyergap ketika kita masuk. Bisa juga kita berpindah ruang ke tempat semak belukar atau tanaman beracun.
Jadi, yang paling penting saat berpindah ruang adalah memperhatikan sekeliling. Setelah yakin aman dan tidak ada serangan, barulah memeriksa lingkungan sekitar. Usahakan jangan membuat suara atau menarik perhatian karena kita tidak tahu ada mahkluk apa saja di balik celah itu.
Ketika Shu Mang mendengar perkataan Heiliao itu, ia merasa malu. Ia benar-benar tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam hal itu. Dan apa yang dilakukannya ketika memasuki celah benar-benar amatir dibanding Hieliao. Ia mengingat perkataan Heiliao itu dengan seksama. begitu juga dengan serigala lainnya.
Setelah hampir seluruh serigala terbiasa berpindah ruang, Heiliao memberikan latihan berbeda. Ia bekerja sama dengan Xika untuk membuat jebakan-jebakan yang akan menungu para serigala itu. Ia juga meminta Xika menyiapkan beberapa racun ringan yang tidak berakibat fatal.
Darimana Heiliao tahu Xika bisa membuat racun? Karena mereka telah terhubung satu sama lain, apa yang dibicarakan Xika dengan Huo Bing dapat ia dengar juga. Tentu saja kalau Xika memilih berkomunikasi hanya dengan Huo Bing saja maka ia tidak akan mendengarnya. Tapi saat ini Xika masih belum bisa melakukan itu.
"Kalian sudah berpindah ruang dalam beberapa hari ini. Kuharap kalian sudah terbiasa. Kalau belum, biasakan. Sekarang aku akan membuat beberapa celah. Kalian harus menilai mana celah yang cukup stabil untuk dimasuki dan mana yang tidak. Selain itu, aku menyiapkan sedikit simulasi. Jadi jangan lupakan apa yang telah kukatakan tentang hal pertama yang harus dilakukan."
Kemudian ia menoleh pada Xika dan mengangguk. Dan beberapa celah ruang muncul mengelilingi para serigala. Heiliao membuka mulutnya dan menambah celah ruang yang ada dan membuat serigala-serigaa itu semakin bingung.
Ada beberapa serigala yang masih meremehkan Xika. Mereka berpikir bahwa celah ruang yang dibuat Xika pastilah celah yang tidak stabil sementara celah yang dibuat Heiliao pasti stabil. Nyatanya, Xika sudah banyak berkembang dalam beberapa hari ini. Dan para serigala itu harus membayar harga karena telah meremehkan Xika.
Tepat ketika mereka hendak memasuki celah yang dibuat Heiliao, celah itu meledak dan menghempaskan mereka.
"Lang Xi! Lang Dao! Lang Fa! Pemikiran pendek kalian itu dapat menyebabkan kalian terbunuh. Kalau tadi itu adalah celah asli yang benar-benar tidak stabil, kalian sudah mati. Pikirkan baik-baik sebelum melakukan sesuatu. Sekarang minggirlah. Karena kalian sudah mati, kalian harus menunggu di samping. Sampai latihan selesai atau sampai kalian dipaggil kembali."
Para serigala yang dipanggil namanya oleh Heiliao menundukkan kepalanya dan berjalan ke pinggir dengan lunglai. Serigala lainnya kembali berpikir setelah melihat apa yang terjadi pada mereka. Jangan sampai hal itu terjadi lagi.
Shu Mang melihat latihan para serigala itu dari samping. Dan sekali lagi ia merasa malu sekaligus bersyukur. Ia tidak memeriksa celah yang ia masuki sebelumnya. Memang saat itu ia sedang terluka. Tapi kalau ia memasuki celah yang salah, bisa-bisa ia meledak jadi gumpalan daging.
Lalu ia meminta agar diperbolehkan mengikuti latihan itu juga. Ia tidak ingin dirinya membuat kesalahan yang sama. Heiliao memperbolehkannya. Xika sendiri berdiri di samping dan menyaksikan para serigala berlatih. Ia mengobrol dengan Heiliao tentang ruang. Obrolan itu membantu Xika mengetahui ruang lebih dalam. Ia juga berusaha membuat celah dengan bentuk yang berbeda.
Heiliao yang memintanya. Katanya itu penting. Misalnya, ia sedang dalam keadaan terpojok dan tidak akan selamat, setidaknya ia bisa membuat celah kecil dan mengirimkan barang berharga atau surat yang berisi kata terakhir. Bisa juga untuk menyerang lawan dari belakang. Itu berguna untuk penyergapan.
__ADS_1
"AWWW!!!"
Terdengar teriakan dari salah satu serigala yang memasuki lubang buatan Xika. Sepertinya serigala itu tidak mengamati sekelilingnya dengan baik sehingga terkena jebakan yang dibuat Xika. Padahal jebakan yang ditaruh Xika tidak disembunyikan dengan baik.
Huo Bing memberitahu Heiliao bahwa Xika dapat membuat berbagai alat dengan mudah. Ia pernah menyaksikannya ketika berlatih dengan Xika dulu. Anak itu membuat semacam pelontar batu untuk membuatnya bingung. Xika tidak mengatakan darimana ia mempelajarinya, dan Huo Bing juga Heiliao tidak bertanya. Tapi keduanya menduga ia mempelajarinya dari orangtuanya.
Beberapa saat kemudian terdengar teriakan lagi. Lalu beberapa sosok serigala keluar dengan memar dan beberapa duri menancap di tubuh mereka. Ada juga yang tidak keluar sama sekali karena terkena racun tidur yang ditempatkan Xika.
Dari tiga ratus serigala, lima puluh tidak sadarkan diri atau tidak bisa bergerak karena perangkap dan racun Xika, dua ratus tiga puluh keluar dengan luka di tubuh mereka, sementara sisanya berhasil mempertahankan diri dengan baik.
Heiliao memberikan ceramah pada masing serigala. Baik mereka yang terkena racun Xika, mereka yang babak belur, atau mereka yang berhasil keluar dengan selamat.
"Kalian semua benar-benar ceroboh. Apa kalian pikir ini hanya latihan jadi kalian bisa bermain-main? Sikap kalian seperti itulah yang akan membuat kalian mati. Seriuslah dalam segala hal. Ingat, perjalanan kali ini menyangkut nyawa. Sikap kalian itu tidak hanya membuat kalian celaka, tapi juga teman-teman kalian. Kalau kalian tidak menunjukkan peningkatan dalam pelatihan berikutnya maka kalian tidak perlu ikut. Lebih baik kalian diam saja disini daripada mengantar nyawa."
Lima puluh serigala itu hanya bisa menunduk dengan diam. Heiliao berbalik dan menatap mereka yang babak belur. Pandangannya tidak lebih baik. Ia sama galaknya dengan sebelumnya.
"Kalian juga! Kalian pikir kalian hebat bisa keluar dari lubang itu, hah? Kuberitahu kalian, kalian hanya beruntung. Kalau yang kalian temui adalah artefak dengan musuh-musuh yang menunggu melakukan penyergapan, kalian sudah mati. Apa kalian tidak malu terkena jebakan yang dibuat bocah remaja? Umur kalian bahkan dua kali lipat dibanding dia! Perhatikan sekelilingmu dengan baik! Juga, kalau kalian tidak keluar dalam kondisi yang lebih baik berikutnya, kalian akan tinggal disini. Lebih baik membawa mereka yang benar-benar siap."
Dan dua ratus tiga puluh serigala itu juga menundukkan kepalanya seperti kelompok sebelumnya. Heiliao berbalik pada kelompok terakhir yang berhasil keluar dengan selamat. Mereka berdiri tegak dengan senyum bangga.
"Apa yang kau senyumkan? Hapus rasa bangga itu dari wajahmu. Jangan pernah sekalipun merasa bangga diluar sana, jangan pernah. Ingat kataku, di atas langit masih ada langit. Pasti ada yang lebih baik dari kalian. Rasa bangga hanya akan membuat kalian mati lebih cepat. Kalian berhasil keluar dengan selamat hari ini, belum tentu berikutnya bisa. Simpan rasa banggamu itu. Keluarkan kewaspadaanmu. Kalau kondisi kalian lebih buruk dari sekarang, maka kalian juga akan tinggal disini."
Jadi pada akhirnya, dari tiga ratus serigala, tidak ada yang lolos dari omelah Heiliao. Baik Shu Mang maupun Xika sama-sama tidak bisa bicara. Shu Mang belum pernah melihat sosok setegas itu. Bahkan dalam klannya pun tidak. Ia jadi mengerti darimana rasa hormat yang diberikan para serigala ini berasal.
Xika di sisi lain, tidak pernah melihat Heiliao seperti itu. Saat berlatih dengannyapun tidak. Memang ia mendapat beberapa teguran ketika salah, tapi tidak pernah segalak itu. Sisi lain yang dikeluarkan Heiliao ini benar-benar berhasil membungkam dirinya.
Hari sudah gelap. Setelah selesai memarahi mereka, ia membiarkan mereka pulang. Ia berjalan mendekat pada Xika dan menghela nafas. Tampaknya masalah ini benar-benar menguras pikirannya. Xika mendekat dan menepuk-nepuk Heiliao.
"Kerja bagus, kawan. Tapi tidakkah kau terlalu keras pada mereka?"
Heiliao menggeleng.
"Aku tidak punya pilihan lain. Mereka harus siap. Atau mereka akan tinggal disini. Jangan sampai kebodohan mereka mencelakakan kita semua."
"Tapi setidaknya kau bisa memberi mereka sedikit pujian."
"Belum saatnya. Pujian di awal hanya akan menjatuhkan mereka. Tunggu sampai mereka benar-benar siap, pada saat itulah aku akan benar-benar memuji mereka."
Xika mengangguk-ngangguk. Kemudian mereka mengobrol sebentar sebelum makan malam. Lang Yan yang juga ikut latihan dan diam-diam kabur saat Heiliao memberikan ceramah, kembali lagi. Heiliao ingin memberitahukan kesalahan serigala tua itu dan apa saja yang harus diperbaiki, tapi Lang Yan sudah mendekati Shu Mang dan menanyakan tambang itu lebih detil.
__ADS_1
Heiliao berbalik dan berjalan pergi bersama Xika. Ia bersiap untuk latihan esok hari.