Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-234


__ADS_3

Huo Bing menutup matanya dan berkonsentrasi. Ia mengalirkan qi ke seluruh tubuhnya agar tetap fokus dan mengamati keadaan sekitar. Beberapa saat kemudian, ia membuka matanya.


Dan pemandangan yang ada di sekitarnya berubah.


Sebelumnya, ia hanya bisa melihat beberapa pohon saja. Sisanya tertutupi oleh kabut merah. Tapi kali ini, ia dapat melihat sekelilingnya dengan jelas. Para Bloodmist Deer telah mengepung mereka, mungkin sebagai tindakan pencegahan bila kabut mereka gagal, maka mereka yang akan membunuh Huo Bing dan Qing Hu.


Tidak hanya para Bloodmist Deer yang mengepung mereka, tapi juga ada para Airblow Panther. Seolah para Airblow Panther membantu membunuh Huo Bing dan Qing Hu untuk menegaskan bahwa mereka memang tidak memangsa anak Bloodmist Deer.


Huo Bing berpikir sebentar. Apa yang harus ia lakukan? Tampaknya para Bloodmist Deer itu belum bergerak karena menyangka keduanya telah terkena efek kabut mereka. Sebaiknya ia terus bepura-pura begitu agar bisa menipu para rusa sialan itu.


SYUSH!


Qing Hu mengayunkan belatinya pada Huo Bing. Burung itu terkejut bahwa Qing Hu memiliki senjata. Ia pikir satu-satunya senjata Qing Hu adalah mulutnya. Yah, mulutnya memang lebih tajam dibanding pisaunya sih.


Agar terlihat seperti terkena efek kabut, ia harus berpura-pura menyerang Qing Hu juga. Jadi ia menunduk dan menampar gadis itu. Rasanya sangat puas.


Setelah itu ia kembali menyerang. Kali ini berupa tendangan. Dan ia terkejut bahwa Qing Hu mampu menghindarinya. Yah, sepertinya gadis itu memiliki beberapa kemampuan. Sambil berpikir seperti itu, Huo Bing melirik para Bloodmist Deer.


Perlahan-lahan, ia mendekati para rusa itu. Tentu saja ia mendekat sambil bertarung agar para rusa itu tak curiga.


WHUK!


Qing Hu kembali memberikan serangan. Kali ini gadis itu melayangkan pukulannya. Kalau ia mundur sekarang, ia bisa memberikan serangan pada para Bloodmist Deer itu. Tapi tampaknya, mereka akan curiga kalau ia bertindak seperti itu.


Jadi Huo Bing menunggu Qing Hu memberikan serangan yang lebih luas. Dan ketika gadis itu melayangkan kakinya, itu adalah momen yang pas bagi Huo Bing.


SET!


Ia melompat mundur kemudian mengumpulkan qi di kakinya dan menendang Bloodmist Deer terdekat. Setelah itu, ia kembali melompat maju, seolah yang ia tendang sebelumnya hanyalah sebatang pohon.


Para Bloodmist Deer terkejut melihat salah seorang dari mereka ditendang oleh Huo Bing. Tapi tampaknya mereka tidak terlalu curiga karena Huo Bing kembali bertarung dengan Qing Hu.


Kejadian serupa kembali terjadi beberapa kali. Huo Bing berhasil memberikan tendangan, pukulan, atau gelombang qi pada para Bloodmist Deer. Para rusa itu sempat curiga beberapa kali, tapi Huo Bing dengan sigap berteriak dan menyerang dengan membabi buta, dan hal itu berhasil meyakinkan para rusa.


Di sisi lain, para Airblow Phanter hanya melihat semuanya dengan bingung. Namun karena Bloodmist Deer yang tersisa hanya diam saja, para Airblow Phanter mengira semuanya baik-baik saja.


Akhirnya, ketika tinggal satu rusa yang tersisa, Qing Hu tersadar dan menghancurkan rencana Huo Bing.


"Loh? Apa yang sedang kulakukan?" Ia melihat sebelumnya dan menyadari Huo Bing tengah melayangkan tinjunya. "Kyaa~ Kau tidak boleh memukul seorang gadis tahu!"


Huo Bing mendecakkan lidahnya kesal. Ia mengubah arah tinjunya dan membentuk kepalan es raksasa yang berhasil menghantam Bloodmist Deer terakhir hingga hilang kesadaran.


Belum sempat Huo Bing menjelaskan situasi pada Qing Hu, para Airblow Phanter mulai sadar bahwa Huo Bing tidak berada dalam pengaruh kabut merah. Jadi mereka mulai menyerangnya. Entah karena apa. Mungkin karena tidak suka nama mereka dinodai dua mahkluk kecil yang lemah.


Sebagian besar para Airblow Phanter menyerang Huo Bing karena merasa dialah yang lebih berbahaya. Yah, itu memang tidak salah sih. Sementara Qing Hu, hanya diserang oleh satu Airblow Phanter.


Tapi Huo Bing menangani para Airblow Phanter itu lebih baik dari Qing Hu. Pengalamannya dalam menghadapi musuh yang lebih banyak terlihat jelas dalam pertarungan ini.

__ADS_1


Huo Bing sebenarnya tidak ingin mengungkapkan kemampuan aslinya, tapi para Airblow Phanter ini memaksanya. Ia melirik Qing Hu dan melihat gadis itu benar-benar kepayahan menghadapi seekor Airblow Phanter. Mungkin bila ia bekerja sama dengan Qing Hu, ia bisa menutupi kemampuan sebenarnya.


"Hei, Rubah Sinting!"


Qing Hu pasti benar-benar sibuk menghadapi Airblow Phanter itu karena tidak melayangkan protes apapun terhadap panggilan Huo Bing. Gadis itu hanya melirik Huo Bing sesaat sebelum kembali berkelit dari cakar sang Airblow Phanter.


"Apa kau tak punya kemampuan apapun? Semacam kemampuan memikat mungkin? Bukankah kau ini rubah?"


Kalimat terakhir itu sebenarnya berupa ejekan, tapi tampaknya Qing Hu kembali sadar karena kalimat terakhir itu.


Di depannya, melayang beberapa bilah angin yang dikirimkan Airblow Phanter. Tapi Qing Hu tetap diam di tempat dan menutup matanya. Ia berusaha menenangkan dirinya. Tampaknya usaha itu berhasil.


Ketika membuka matanya, air muka Qing Hu berubah. Ia tak lagi ketakutan dan kepayahan seperti sebelumnya. Malahan, ia tersenyum percaya diri sekalipun mengenakan piyama dan beberapa helai rambutnya terbakar.


"Astaga~ Tuan Macan, apa kau benar-benar berniat membunuhku? Aku hanyalah seorang gadis kecil yang tak berdaya. Dagingku tak akan mengenyangkan perutmu. Bagaimana kalau kita lupakan masalah kita dan bersenang-senang saja?" ucapnya sambil tersenyum memikat.


Huo Bing tak tahu apakah kata-kata Qing Hu mempan pada Airblow Phanter itu, atau memang gestur Qing Hu yang meyakinkan. Tapi yang pasti, Qing Hu berhasil memikat macan itu agar tidak membunuhnya.


"Hei! Kau pancing mereka, aku bunuh mereka. Bagaimana?" teriak Huo Bing sambil bersusah payah menghindar dari cakar dan gigitan Airblow Phanter yang datang. Ia harus berpura-pura kesulitan.


Qing Hu ragu sesaat. Ia tak yakin dapat memikat macan sebanyak itu, namun ketika ia melihat Huo Bing yang sedang susah payah menghindari para Airblow Phanter, dan menyadari bahwa hanya itulah satu-satunya pilihan. Dengan berat hati, ia menggigit bibirnya, kemudian mengangguk.


Setelah melihat anggukan Qing Hu, Huo Bing bergeser perlahan sehingga perhatian para Airblow Phanter itu tertuju pada Qing Hu. Usahanya berhasil. Dan Qing Hu berusaha sebaik mungkin untuk membuat para Airblow Phanter itu terpikat.


Huo Bing sempat berpikir untuk meninggalkan gadis itu disini. Tapi ia berputar ke belakang para Airblow Phanter itu dan melayangkan bilah-bilah esnya.


Tubuh Qing Hu menegang melihat para Airblow Phanter yang berhenti bergerak mendadak, awalnya ia menduga bahwa mereka sadar dari pengaruh pesonanya, tapi kemudian ia sadar bahwa mereka tak lagi bernafas.


Ketika ia melihat Huo Bing yang berjalan santai ke arahnya, barulah Qing Hu bisa menghela nafas lega. Karena ia melihat sendiri betapa kerepotannya Huo Bing tadi, jadi ia tahu bahwa semuanya sudah selesai begitu Huo Bing kembali berjalan santai.


Mata mereka bertemu. Untuk sesaat, Qing Hu mengharapkan Huo Bing menghampirinya sambil memujinya atau semacamnya. Sayangnya, harapannya langsung hancur.


"Ayo kita maju lagi."


Sungguh kalimat yang membangkitkan semangat, ucap Qing Hu sarkasme dalam hatinya. Ia menghela nafas sebelum mengikuti Huo Bing. Sambil berjalan, ia menyempatkan diri untuk memperbaiki penampilannya, walau hanya sedikit. Memang ia tak bisa berganti pakaian, tapi setidaknya kini mukanya tak dipenuhi darah dan daging rusa lagi.


Huo Bing berhenti sebentar untuk membunuh para Bloodmist Deer (serangannya sengaja ia tahan sehingga tidak membunuh para rusa itu), lalu mengumpulkan mayat mereka beserta mayat para Airblow Phanter.


Kali ini, Huo Bing berjalan dengan lebih hati-hati. Ia juga memastikan dirinya dan Qing Hu telah bersih dari aura hewan apapun agar tak menarik perhatian Spirit Beast lainnya. Mereka menemui banyak Spirit Beast di jalan, tapi tak ada yang bergerak untuk menyerang mereka. Jadi mereka berhasil maju dengan mulus.


Nampaknya para Spirit Beast itu tahu bahwa Huo Bing dan Qing Hu hanyalah satu dari sekian banyak pesaing yang ada. Daripada menghabiskan energi di sini, lebih baik mereka bertarung di tempat tanaman spiritual itu saja.


Akhirnya, mereka sampai.


Sepertinya Qing Hu tidak bohong. Di hadapan mereka, terbentanglah dua kebun yang bertolak belakang tapi saling berdekatan. Mungkin kata kebun kurang cocok karena tempat itu sangat indah sehingga lebih baik disebut taman.


Di sebelah kiri, terdapat lautan api yang mewujud menjadi berbagai buah dan tanaman yang menghiasi taman itu sehingga tampak seolah sebuah taman dari neraka dipindahkan ke sini. Di tengah taman neraka (Huo Bing memutuskan untuk memanggilnya seperti itu), terdapat pohon yang hanya memiliki satu buah.

__ADS_1


Buah itu memiliki sisik di seluruh kulitnya sehingga tampak seperti kulit naga. Namun itu bukan buah naga biasa. Buah yang tergantung di taman neraka itu berwarna merah dan terlihat seolah terbentuk dari lava. Kelihatannya tidak lama lagi sebelum buah itu akan meledak dan merubah sekitarnya menjadi lautan lava.


Di sebelah kanan, terdapat taman dari ujung dunia. Kabut dingin yang memancar seolah mengatakan bahwa taman itu memang berada di ujung dunia namun dipindahkan ke sini entah kenapa. Di tengah taman, berdirilah sebuah pohon yang tampaknya terbuat dari kaca. Di salah satu dahannya, tergantung satu buah persik yang juga tampak seperti terbuat dari kaca.


Dari jaraknya saat ini saja, Huo Bing dapat merasakan aura api dan es yang dikandung kedua buah itu. Namun ia menahan hasrat di hatinya. Di sekelilingnya saat ini, terdapat banyak sekali Spirit Beast yang sekuat dirinya.


Bahkan, ada beberapa yang lebih kuat darinya. Hanya saja para Spirit Beast yang lebih kuat darinya itu tengah tertidur. Itulah sebabnya Spirit Beast yang lain hanya diam saja tanpa bergerak. Mereka takut membangunkan Spirit Beast itu. Tapi disisi lain mereka juga tak bisa menahan godaan akan berbagai tanaman spiritual yang mampu membuat mereka semakin kuat.


Qing Hu melirik sekelilingnya dan merasakan dorongan kuat untuk lari menyelamatkan dirinya. Tapi ia berusaha keras untuk menjaga harga dirinya di depan Huo Bing.


Beberapa Spirit Beast lainnya telah datang. Namun mereka juga bersikap sama seperti Spirit Beast lain yang telah datang duluan. Diam.


Huo Bing menghela nafas frustasi. Kalau ia memiliki kekuatan penuhnya, ia tak akan peduli dengan para Spirit Beast yang sedang tidur dan akan langsung mengambil kedua isi taman ini. Sayangnya, saat ini ada beberapa keberadaan yang lebih kuat darinya dan harus ia waspadai.


Tepat di saat Huo Bing mulai gelisah, seekor Spirit Beast maju. Tampaknya hewan itu tak mampu lagi menahan hasratnya dan berharap dapat mengambil satu dua hal yang berharga.


Dan tindakannya itu membuat para Spirit Beast yang tertidur bangun, sehingga akhirnya menyebabkan kekacauan.


-------------------------


Tok! Tok! Tok!


Terdengar ketukan di pintu kamar Xika. Sesaat ia berharap itu adalah Xingli, namun kemudian ia sadar yang datang adalah Heiliao.


"Tidak sekarang Heiliao. Aku butuh waktu untuk sendiri."


Rupanya Heiliao tidak memahami apa artinya 'Waktu Sendiri'. Serigala itu berpindah tempat dan masuk ke kamar Xika. Itulah kegunaan utama dari elemen ruang. Memasuki ruangan seseorang di saat orang tersebut menolakmu masuk.


"Aku sedang berkultivasi. Bisakah kau meninggalkanku sendiri?"


"Aku tahu bahwa kau tak bisa fokus berkultivasi. Itu terlihat jelas dari auramu yang berantakan."


"Lalu? Apa yang akan kau lakukan?"


Bukannya menjawab pertanyaan Xika, Heiliao malah membicarakan hal lain.


"Tahukah kau? Cinta itu lebih kuat dari kultivator terhebat. Kau tak perlu menjadi yang terkuat agar bisa menghancurkan lawanmu. Kau cukup menghancurkan cintanya, dan lawanmu pasti akan hancur."


Xika menatap Heiliao dengan malas. Ia sedang tidak ingin mendengar 'Ucapan Bijak' Heiliao.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku juga pernah mengalami cinta dan tahu bagaimana rasanya patah hati. Karena itulah aku kemari."


"Untuk?"


"Untuk mengalihkan pikiranmu. Untuk mencegahmu membuat keputusan yang buruk di tengah suasana hati yang buruk. Untuk menjernihkan pikiranmu. Untuk membantumu menenangkan diri sehingga dapat membuat keputusan yang lebih baik. Pilih saja yang kau mau."


Xika hanya menatap Heiliao dalam diam. Ia tak lagi berkomentar. Heiliao tertawa kecil melihat hal itu. Ia memasukkan tangannya ke lubang spasial yang ia buat dan mengeluarkan sebuah pil. Lalu ia melemparkan pil itu pada Xika.

__ADS_1


Dan dimulailah Kelas Alkemis Xika bersama Serigala Gosong yang akan meneriakinya setiap lima detik sekali sehingga ia tidak mampu memikirkan apapun.


__ADS_2