
SYUT!
BRAK!
Tebasan itu menghantam tanah ciptaan Hua Zhantian. Pria itu berhasil menghalau serangan Xika, tapi ia masih terhempas beberapa meter sebelum akhirnya berhenti.
Tap!
Xika tiba di samping Wu Liao. Ia melihat sebagian baju gadis itu sudah robek hingga memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya. Wu Liao menatapnya dengan pandangan penuh air mata, tapi air mata itu kini mengandung sukacita dan kelegaan.
Pluk!
Xika mengeluarkan sebuah jubah dan menyerahkannya pada Wu Liao agar gadis itu bisa menutupi tubuhnya.
"Bocah, kau punya nyali. Berlututlah dan cium kakiku, setelah itu aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu."
"Oh ya? Kalau aku sih tidak akan memaafkanmu."
Srak!
Xika menendang tanah di sekitarnya agar dapat mengganggu penglihatan Hua Zhantian, tapi sayangnya ia tidak tahu bahwa Hua Zhantian adalah Kultivator Tanah. Tanah yang sebelumnya ditendang Xika kini berhenti beberapa centi dari wajah Hua Zhantian.
Kemudian tanah itu berubah menjadi duri-duri raksasa yang berukuran satu meter sebelum berbalik kembali ke arah Xika.
"Oh?"
Srat!
Xika menebas semua duri-duri itu tanpa kesulitan berarti menggunakan kartunya.
"Ternyata kau Kultivator Tanah."
"Kenapa? Takut? Sudah terlambat untuk menyesal sekarang, bocah!"
Hua Zhantian mengangkat kedua tangannya dan tanah naik memerangkap kedua kaki Xika.
"Takut? Untuk apa?"
Disaat yang sama ketika kaki Xika terperangkap tanah, Xika juga melakukan hal yang sama pada Hua Zhantian. Pria itu melebarkan matanya terkejut melihat Xika dapat melakukan hal yang sama.
"Ternyata kau juga Kultivator Tanah. Baguslah. Ini akan lebih mudah."
Tanah naik dari kaki Xika menuju tubuhnya. Tanah itu keras dan cukup sulit dihancurkan. Sepertinya Hua Zhantian memiliki hubungan yang kuat dengan elemen tanah.
"Kultivator tanah? TIdak, tidak. Aku bukan hanya Kultivator Tanah."
Selesai bicara, api membakar seluruh tanah yang menutupi kaki Xika sampai habis tak bersisa. Kemudian Xika mengarahkan tangannya pada Hua Zhantian dan berhasil menghempaskan pria itu lengkap dengan matanya yang masih melotot tidak percaya.
Sayangnya, Hua Zhantian bukan murid biasa. Ia berhenti terlempar setelah kakinya menyentuh tanah. Beberapa detik ia menatap Xika dengan tajam. Kemudian tanah di bawah kaki Xika meledak.
"Hup!"
Xika melompat bersalto tepat pada waktunya. Sementara Wu Liao sudah mundur beberapa saat yang lalu. Ia menatap Xika dengan pandangan terima kasih dan kekaguman. Tapi beberapa saat kemudian tatapannya berubah menjadi rasa khawatir.
Xika memanglah hebat. Ia tak bisa dianggap sebagai murid yang baru masuk. Bahkan beberapa murid seniorpun tak sebanding dengan dirinya. Tapi sehebat apapun Xika, ia tak bisa melawan Hua Zhantian, murid yang sudah menempati peringkat pertama dari Seratus Murid Dalam Terkuat selama bertahun-tahun.
Hua Zhantian tersenyum mencemooh melihat Xika menghindar.
"Bocah, sepertinya kau memiliki beberapa kemampuan. Sebutkan namamu. Aku akan memberi bunga di makammu nanti."
"Heh, seharusnya aku yang berkata seperti itu. Tak banyak murid yang bisa memanipulasi tanah sampai berhasil meledakannya. Aku akan menulis namamu di tanah dengan ledakan."
Di bawah tatapan arogan dan mendominasi Hua Zhantian, Xika tak gentar sedikitpun. Ia sudah menghadapi tatapan seperti itu bertahun-tahun lamanya. Daripada takut, Xika memberikan senyum menantang.
__ADS_1
"Xika! Dia itu Hua Zhantian! Kau tidak akan bisa mengalahkannya!"
Sayangnya, sebelum Xika dan Hua Zhantian dapat berkenalan, Wu Liao sudah memperkenalkan keduanya lebih dulu. Dan kedua pria itu sama-sama membentuk wajah 'Oh?' kemudian berubah menjadi 'Menarik.'
"Jadi kau Hua Zhantian yang terkenal itu. Aku sudah mencarimu ke mana-mana."
"Heh. Aku juga sudah mendengar kabarmu yang tersiar di sana-sini. Aku tidak sabar untuk memastikan kabar itu."
Sekalipun Xika tidak takut, tapi mendengar nama Hua Zhantian membuatnya lebih waspada. Kalau Huo Bing ada di sini bersamanya, burung itu pasti akan mengatakan, 'Xika, hati-hati. Pria itu di tingkat Forming Qi 9, dan ia bukan pria biasa. Aku yakin gelar Murid Dalam Nomor Satu-nya tidak didapatkannya dengan cuma-cuma.'
Srak!
Kali ini Ha Zhantian yang menendang tanah. Hanya saja tanah itu tidak berubah menjadi duri raksasa melainkan debu-debu yang meledak ketika mendekati Xika.
Sayangnya, Xika hanya butuh satu kibasan dari kartunya dan semua debu-peledak itu terbang menjauh dan meledak di udara.
"Senjatamu cukup unik. Kuambil ya?"
Hua Zhantian sudah berada di belakang Xika sebelum ia sempat menoleh. Tapi tendangan Hua Zhantian hanya mengenai angin saja. Xika sudah tak ada di tempatnya berdiri sebelumnya.
Xika sedang terbang di atas Hua Zhantian mengepakkan kedua sayapnya. Di bawah, Wu Liao menatap Xika dengan tatatapan kagum sekaligus takjub. Dan gadis itu memikirkan sebuah kata di kepalanya, 'Tampan......'
"Kepalamu cukup unik. Kuambil ya?"
WHUSH!
Ratusan bulu terlepas dari sayapnya dan terbang menuju Hua Zhantian bagaikan pisau tajam.
"Hah. Trik kecil. Kau pikir karena aku Kultivator Tanah jadi aku tak dapat menyerangmu yang bisa terbang begitu?"
Tanah di bawah kaki Hua Zhantian mulai bergerak. Sebuah lapisan pelindung dari tanah naik dan melindungi Hua Zhantian dari serangan bulu Xika. Kemudian lapisan pelindung itu menyatu dengan tanah di bawah dan membentuk sebuah naga dengan panjang sepuluh meter dan lebar tiga meter.
Hua Zhantian berdiri di atas naga tanah itu dan menatap Xika dengan sejajar. Xika juga menatap Hua Zhantian. Matanya terlihat seolah sedang mempelajari pria itu.
"Xika! Kau tidak bisa mengalahkannya! Kau harus pergi!"
"Oh? Aku hampir melupakannya. Kau ingin terbang bersamaku juga ,sayang?" ucap Hua Zhantian dengan ekspresi bajingan di wajahnya.
Wu Liao terkesiap.
Dan naga yang dinaiki Hua Zhantian-pun langsung menukik tepat ke arah Wu Liao. Gadis itu berusaha berlari. Elemen air terlihat mengambang di sekitarnya, tapi tak berhasil melakukan apapun pada naga itu. Sepertinya Wu Liao memang tidak pernah bertarung sebelumnya. Bahkan belajar menggunakan elemennya untuk mempertahankan diripun tidak pernah.
"Cap-Sah Technique, Second Way: Double!"
SLASH!
SLASH!
Dua buah tebasan berturut-turut berhasil memotong naga Hua Zhantian. Pria itu melompat sigap saat kepala naga yang dinaikinya jatuh dan kembali menjadi tanah biasa. Tanah yang berhamburan berhasil menyebarkan debu ke mana-mana hingga mengganggu pandangan.
Xika menekuk sayapnya menukik ke bawah berusaha menemukan Wu Liao sebelum Hua Zhantian. Sayangnya, pria itu lebih berpengalaman dengan tanah dibanding Xika. Debu yang menjadi penghalang bagi Xika justru malah membantu Hua Zhantian dalam menemukan Wu Liao.
"Ck. Terlalu sulit mencari di tengah debu seperti ini." Xika mengendalikan angin di sekitarnya untuk meniup debu-debu itu. Kini pandangannya tak lagi terhalang oleh debu. Tapi sayangnya, ia terlambat.
Ketika ia melihat ke bawah, Xika menemukan tubuh Wu Liao sudah terbungkus tanah sepenuhnya kecuali kepalanya.
"Hahahahaha.......kau mungkin bisa menguasai berbagai elemen. Tapi karena itu fokusmu terpecah. Kau tidak akan bisa menang melawanku!"
Hua Zhantian muncul di belakangnya, kali ini dengan menaiki sebuah burung dari tanah. Ukurannya jauh lebih kecil dibanding naga yang tadi, tapi kelihatannya lebih cepat.
Burung itu menembakkan beberapa bola tanah yang Xika tebak akan meledak beberapa saat lagi. Ia terbang menghindari bola-bola.
Tapi yang diincar bola-bola itu bukanlah Xika melainkan Wu Liao.
__ADS_1
BLAR!
Satu bola meledak tidak jauh dari gadis itu dan berhasil menghempaskannya beberapa meter.
"Sialan!"
Tiga bola lagi mengarah pada Wu Liao. Xika mengepakkan sayapnya secepat yang ia bisa. Waktunya tidak cukup untuk menerbangkan bola-bola itu.
Set!
Xika memutar tubuhnya hingga punggungnya menjadi perisai yang melindungi Wu Liao dari bola-bola itu.
"Ukh....."
Tes!
Darah menetes dari sudut mulut Xika. Sebagian besar ledakan ditahan oleh sayapnya. Tapi ia masih menerima gelombang kejutnya. Sayapnya kini terasa kebas. Ia berharap sayapnya tidak terluka terlalu parah.
Hua Zhantian tersenyum melihat kondisi Xika karena berusaha melindungi Wu Liao. Tapi ia belum puas. Ia memerintahkan burung tanahnya untuk menembakkan beberapa bola lagi.
Xika menatap tajam bola-bola yang berdatangan. Sulit berkonsentrasi saat kepalamu terasa berputar dan setiap benda yang kau amati bertambah menjadi tiga, tapi ia harus menahan bola-bola itu.
BLAR!
BLAR!
BLAR!
Beberapa meter dari Xika, bola-bola itu meledak dengan sendirinya sebelum diperintahkan Hua Zhantian. Pria itu mengerutkan alisnya terkejut.
"Heh." Xika memberikan senyum puas. "Kau ingin aku fokus? Lihat ini."
Kali ini Xika menatap Hua Zhantian. Tatapannya tak bergeser sedikitpun dari pria itu. Sayangnya tak ada yang terjadi.
Hua Zhantian memberikan senyum mencemooh. Ini yang disebut Xika fokus? Ia baru mau tertawa ketika perutnya terasa bergolak. Darah terasa naik dari tenggorokannya. Cepat-cepat ia menahan darah itu dan mengembalikannya ke alirannya.
Ketika menatap Xika kembali, Hua Zhantian mendapati pria itu sedang tersenyum puas penuh ejekan. Dan mendadak pandangannya buram terhalangi sesuatu yang basah.........darah? Tapi bagaimana bisa?
Belum sempat menemukan jawabannya, hidung Hua Zhantian juga mengeluarkan darah. Masih belum cukup, telinganya berdenging selama beberapa saat sebelum mengeluarkan cairan merah bercampur kuning.
"Kau! Apa yang kau lakukan........" Hua Zhantian menatap Xika dengan ngeri. Tapi pada saat ia menoleh, Xika sudah menghilang. Begitu juga dengan Wu Liao. Harusnya ia bisa melacak keberadaan mereka dari tanah yang dipijak, tapi kondisinya saat ini menyulitkannya untuk berkonsentrasi. Bahkan berdiri saja terasa sulit baginya.
-----------------------------
Xika sedang menggendong Wu Liao dengan romantis seperti menggendong karung beras. Ia melompat dari dahan pohon yang satu ke dahan yang lainnya. Harusnya Hua Zhantian tidak akan bisa melacak keberadaan mereka karena Xika sudah membuat beberapa 'air' yang ada di tubuhnya keluar dan menyebabkan aliran darahnya kacau.
Tapi untuk berjaga-jaga, Xika berusaha menghindari tanah. Cukup sulit sebenarnya. Berkat pandangannya yang melihat segala hal menjadi tiga, ia hampir jatuh beberapa kali ketika menapakkan kaki di dahan yang salah. Tapi setidaknya angin masih bekerja sama dengannya hingga tidak membiarkannya jatuh.
Akhirnya Xika berhenti setelah sampai di dahan yang agak lebar. Ia menoleh ke belakang untuk berjaga-jaga. Tampaknya Hua Zhantian tidak akan muncul dalam waktu dekat.
Ia menurunkan karung beras-Wu Liao dari pundaknya.
"Bodoh! Kenapa kau tidak lari sebelumnya? Untuk apa menontonku bertarung? Pikirkan dirimu sendiri dulu baru orang lain!"
"Hiks.......hiks.........HUAAAAAAAAAAAAAAA!!!"
Dan Wu Liao menangis sambil memeluk Xika erat-erat, menjadikan bahunya sebagai lap ingus. Gadis itu berusaha mengucapkan sesuatu, tapi Xika tidak mengerti ucapannya karena bercampur dengan tangisnya.
"Huaaaaaaa........wawu....hiks.......wiwak wau..............myenyinggaalwanwu......Huuuuuu.........."
Pelukan gadis itu semakin erat. Ia membenamkan wajahnya ke dada Xika dan menjadikannya sebagai lap ingus yang baru.
Xika menatap gadis itu dengan pandangan rumit. Kemudian ia melihat bahu Wu Liao yang bergetar hebat. Gadis itu pasti telah mengalami masa yang sulit juga.
__ADS_1
Dengan canggung, Xika mengangkat tangannya dan mengusap pelan kepala dan bahu Wu Liao. Perlahan, tangisan gadis itu mulai reda, tapi ia masih tidak melepaskan Xika.
Tanpa keduanya sadari, sepasang mata tanpa ekspresi tengah mengamati keduanya.