Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-189


__ADS_3

Tubuh Qing Hu bergetar hebat karena amarah.


"Apa kau pikir aku ini tidak punya uang?!" tanya gadis itu dengan kesal.


"Yah, sepertinya begitu kalau melihat bajumu." jawab Xika masih dengan polos seperti sebelumnya.


Qing Hu kembali bergetar hebat menahan amarahnya. Kali ini bahkan ia menggertakkan giginya. Tapi setelah beberapa saat, amarahnya mereda. Ia kembali menatap Xika dengan manis.


"Baiklah, aku akan terima ini." Qing Hu menerima uang yang Xika berikan.


"Tapi itu artinya aku bisa mencarimu setiap aku membutuhkan uang bukan?" Kali ini bahkan Qing Hu memberikan kedipan manis..........yang sayangnya tidak berguna untuk Xika. Bukannya terpesona, Xika malah mengerutkan keningnya.


"Tentu saja tidak. Kali ini sudah kubantu, berikutnya kau cari uang dengan usahamu sendiri, dong."


Lagi. Entah sudah berapa kali para murid ini dikejutkan oleh Xika. Dan kini mereka kembali dikejutkan, namun bukan oleh Xika melainkan oleh Qing Hu. Gadis itu memberikan tatapan yang membuat orang tidak tahan ingin melindungi.


"Aduh~ Kakak, hatiku ini sangat rapuh. Tidak bisakah kau bicara lebih baik?"


Xika menatap Qing Hu, kemudian Xingli, lalu kembali menatap Qing Hu. Ia menggeser tubuhnya ke belakang Xingli kemudian mendorong sang dewi es maju dua langkah.


"Kalau begitu kau harus banyak belajar darinya."


"AAAAAAAAAA!"


"Dasar sialan! Dia berani menyentuh dewi kita, yang tak pernah di sentuh oleh siapapun?"


"Aku tak tahan lagi. Aku akan menghajarnya!"


Xika menyentuh kedua pundak Xingli. Dan itu sukses membuat amarah para murid mencapai puncaknya. Sayangnya sebelum mereka sempat melampiaskan amarah, dua sosok menghalangi mereka.


"Kalau kalian tak bisa menutup mulut, aku akan membuat mulut kalian menutup selamanya." ucap Huo Bing dengan tatapan yang membuat para murid mundur dua langkah.


'Sial. Kita lupa mereka juga kuat.'


Sementara para murid dibuat diam oleh perkataan Huo Bing, Qing Hu dibuat tak bisa bicara oleh Xika. Juga Xingli. Gadis itu sama sekali tak bereaksi meskipun Xika sudah menyentuh dan mendorongnya. Ia tak pernah melihat Xingli seperti ini sebelumnya.


"Sudah, sudah. Kau jangan menjahili Xika lagi."


Akhirnya Wu Liao bicara. Ia tak tega melihat Qing Hu yang biasanya selalu menang berdebat dengan pria dibuat tak berkutik oleh Xika.


Xika menoleh melihat Wu Liao yang tersenyum padanya. Ia sempat melupakan keberadaan gadis itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Wu Liao dengan senyum manisnya.


Senyumnya dan senyum Qing Hu adalah dua jenis yang berbeda. Kalau senyum Qing Hu merupakan senyum menawan yang membuat banyak orang terpikat, maka senyum Wu Liao adalah senyum yang murni akan kebaikan, tulus dari dasar hatinya.


"Buruk." ucap Xika dengan senyum. Sayangnya senyum Xika bukan senyum tulus yang berdasar dari hati, melainkan senyum formalitas yang diberikan seorang tuan rumah pada tamunya.


Wu Liao menyadari senyum Xika. Dan entah mengapa hatinya merasakan sakit. Apalagi ketika mendengar jawaban Xika. Pikirannya kembali melayang ke hari itu. Hari dimana ia menghabiskan waktu yang menurutnya cukup menyenangkan.


Namun akhirnya berubah hingga menjadi kenangan yang selalu terasa menyakitkan setiap kali teringat. Sampai saat ini, ia terus mempertanyakan keputusannya di hari itu. Apakah ia benar? Atau ia salah? Dan sayangnya ia masih belum mengetahui jawabannya sampai saat ini.


"Ka-kalau begitu.....bagaimana harimu di sini?" Wu Liao bertanya dengan canggung.

__ADS_1


"Baik. Aku mengalahkan murid dari kekuatan besar yang akhirnya mengirim orang untuk menghabisiku. Aku diikuti oleh beberapa orang sepanjang hari, malamnya aku harus bertarung untuk bisa mendapatkan tempat tidur. Paginya aku dikeroyok oleh semua murid yang hadir. Tak ada yang bisa lebih baik dari itu." ucap Xika sarkasme. Tapi nadanya benar-benar santai sehingga beberapa orang menjadi bingung.


"Apa? Xika diserang oleh murid dari kekuatan besar? Siapa itu?"


"Bukan itu yang penting. Yang penting adalah Xika telah menyinggung kekuatan besar dan masih hidup sampai saat ini."


"Menurutku lebih penting bahwa ia saat ini sedang bicara dengan tiga dari Empat Gadis Tercantik dan kita hanya bisa menatapnya."


Meskipun Huo Bing melotot tajam, ia tak bisa menghentikkan para murid untuk berdiskusi. Apa yang dikatakan Xika sungguh membuat gempar semua yang hadir, termasuk Wu Liao, Qing Hu, dan Xingli. Ketiganya menatap Xika dengan tatapan rumit.


"Baiklah, cukup dengan tatapan kalian," Xika berbalik menatap Xingli, "Kau tidak mau memberikan saran? Atau mengajakku berkeliling? Aku baru dua hari disini, loh!"


Qing Hu menatap Xika dengan kesal. Kini ia sadar bahwa pria yang dibicarakan Wu Liao ini bukan orang biasa. Ia menduga sikapnya yang seperti inilah yang membuat Wu Liao tertarik padanya. Sejujurnya, bahkan Qing Hu sendiri mulai tertarik dengan Xika.


Harus diakui, belum pernah ada yang bersikap seperti Xika padanya selama ini. Dan ia merasakan tantangan. Tantangan untuk membuat pria itu bertekuk lutut di bawahnya.


Sebelum Xika menjawab, atau sempat bereaksi, Wu Liao sudah bicara.


"A-aku bisa mengajakmu berjalan-jalan!"


Butuh keberanian besar bagi Wu Liao untuk bicara seperti itu. Sayangnya tak butuh waktu lebih dari sepersekian detik bagi Xika untuk menjawab ajakan Wu Liao itu.


"Tidak tertarik. Terima kasih." Xika menolak mentah-mentah ajakan Wu Liao itu.


"Sialan! Dewi Wu mengajakmu bicara, tak bisakah kau menjawab dengan sopan? Bajingan!"


Akhirnya beberapa murid yang tak tahan melihat sikap Xika mengeluarkan amarahnya. Melupakan keberadaan Huo Bing untuk sesaat.


Xika menoleh dan menemukan para murid yang marah. Ia menatap mereka sambil mengeluarkan auranya.


SWOSH!


Ternyata sangat efektif. Semua murid yang tadinya bergegas maju hendak menyerang Xika kini berjalan mundur dengan patuh sambil mengucurkan keringat dingin.


Pada saat itu, baik Xingli, Wu Liao, maupun Qing Hu terkejut merasakan aura Xika. Masing-masing memiliki pemikiran sendiri.


Qing Hu tersenyum dalam hati. Tampaknya rumor yang beredar bukan hanya kabar angin semata. Ia jadi semakin tertarik dengan Xika. Aura yang dikeluarkan pria itu tadi bukan aura biasa. Bahkan ia merasa sedikit tertekan.


Wu Liao kembali teringat hari itu ketika ia merasakan aura Xika. Xika sudah banyak berkembang. Apakah kejadian hari itu mempengaruhinya begitu banyak? Seingatnya dulu Xika tak punya aura mengerikan seperti ini. Apa saja yang sudah ia lakukan selama ini untuk mendapatkan aura seperti itu?


Sementara Xingli, matanya menunjukkan keterkejutan. Ia merasakan keakraban dari aura itu.


"Jadi? Kau tidak mau mengajakku berkeliling?" Xika berbalik dan membuat ketiga gadis itu tersadar dari pikiran mereka. Sesaat Wu Liao mengira Xika berbicara dengannya, kemudian ia sadar bahwa Xika sedang berbicara dengan Xingli.


Xingli menutup mata sesaat sebelum berjalan maju. Seperti biasa, tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Yah, kuanggap itu sebagai persetujuan." ucap Xika sambil berjalan menyusul Xingli.


"Huo Bing, Heiliao! Akhirnya kita punya pemandu!"


Sementara itu, Wu Liao menatap punggung dua orang itu dengan perasaan rumit di hatinya. Ada perasaan kesal, bersalah, sedih dan lain lagi yang bercampur aduk di hatinya sampai ia tak tak tahu apa yang ia rasakan dan bagaimana sebenarnya perasaannya.


Tanpa ia sadari, Qi Hu sedang menatapnya dan memperhatikan perubahan ekspresinya.

__ADS_1


"Kau begitu menyukai pria itu ya?"


"Eh?! A-apa yang...Tidak! Kau salah!"


"Hmm....." Qing Hu menatap Wu Liao dengan pandangan menginterogasi. Setelah itu ia berbalik dan menatap punggung Xika dan Xingli yang semakin menjauh.


"Saranku, sebaiknya kau ikuti mereka."


"E-Eh?!"


Dan begitulah, bagaiman mereka berakhir berjalan bersama. Tiga pria, tiga wanita. Heiliao-Xingli, Xika-Wu Liao, Huo Bing-Qing Hu. Masing-masing dengan kepribadian yang mirip tapi juga berbeda berjalan bersama mengelilingi akademi.


"Ehh.....kenapa mereka juga ikut dengan kita?"


"Kenapa kau bertanya padaku? Tanya saja mereka."


"........"


"Eh? Memangnya kenapa kalau kami ikut?"


"......."


Heiliao dan Xingli berjalan paling depan tak mempedulikan mereka yang berisik di belakang, tapi masing-masing menjaga jarak satu sama lain. Dan Xika dapat merasakan aura permusuhan yang memancar dari keduanya.


"Apakah kami mengganggu?" tanya Wu Liao hati-hati.


"Kurang lebih." Untunglah Huo Bing sudah menjawab mewakili Xika.


"Hei, kami ini wanita tahu! Tidak bisakah kau bicara lebih sopan?"


"Tidak. Wanita dan pria sama saja. Kalau kau meminta kami berbicara padamu dengan lebih sopan hanya karena kau wanita itu artinya kau meminta kami meremehkan wanita."


"Ukh....." Qing Hu tak bisa menjawab perkataan Xika itu sementara Wu Liao tak bisa menghentikkan dirinya dari kegelisahan. Kalimat Xika itu seolah menyatakan perseetujuan pada Huo Bing, dengan kata lain Xika juga merasa bahwa Qing Hu dan dirinya mengganggu.


Sejujurnya, Xika tidak terlalu peduli dengan keberadaan Wu Liao atau Qing Hu. Hanya saja ketika berjalan bersama mereka, Xika bisa merasakan semua sorot mata memandang dirinya. Dan itu sangat mengganggu.


Menyadari bahwa mereka menjadi pusat perhatian dengan berada di depan, Heiliao dan Xingli melambatkan langkah mereka hingga kini keduanya berada di posisi paling belakang. Tentu saja keduanya masih menjaga jarak dan memancarkan permusuhan yang teramat sangat.


"Yah, kalau kau bisa menyingkirkan semua pandangan mengganggu itu, maka aku akan menarik kembali perkataanku." ucap Huo Bing. Ia sudah memberikan tatapan tajam, namun tetap saja banyak orang yang masih memperhatikan mereka.


"Heh, kau menjadi pusat perhatian karena berjalan bersama kami. Seharusnya kau berterima kasih pada kami."


"Aku akan berterima kasih kalau kau bisa pergi dari sini sekarang juga."


"Uhhh....."


Kata-kata yang diucapkan Xika begitu lugas dan tak bertele-tele. Qing Hu kembali tak berkutik di hadapan Xika. Sejujurnya, itu yang membuat Xika jadi menarik. Ia mulai mengerti mengapa Wu Liao tertarik pada Xika.


Sebagai sesama gadis cantik, Qing Hu juga mengalami apa yang Wu Liao alami. Paras cantik mereka membuat banyak orang bersikap baik pada mereka, terutama pria. Banyak pria yang berusaha mendekati mereka dan selalu bersikap baik. Tapi justru karena itu mereka kaget sekaligus bingung berhadapan dengan Xika.


Xika seolah sama sekali tak peduli dengan paras mereka dan memperlakukan mereka sebagaimana orang biasa. Hal yang belum pernah Qing Hu maupun Wu Liao rasakan.


Tapi.....kenapa sikapnya terhadap Xingli begitu berbeda dengan mereka?

__ADS_1


__ADS_2