
"......."
Di He melirik Huo Bing dan Heiliao. Sekalipun ia telah menjabat tangan Xika dan bisa dikatakan mereka kini berada di pihak yang sama, rasanya tak ada yang berbeda. Keduanya masih menatap dirinya dengan tajam sekaligus waspada. Hanya Xingli yang bersikap biasa, gadis itu kan hanya bersikap tidak biasa pada Xika.
"Yah, kalau begitu satu masalah selesai. Sekarang harus kita apakan dia?" tanya Xika menunjuk Han Shan dengan kakinya.
Huo Bing berjongkok di samping Han Shan. Ia memasang pose berpikir sambil menampar Han Shan tiap detiknya.
"Hmmmm....."
PLAK!
"Bagaimana ya......"
PLAK!
"Bagaimana kalau...."
PLAK!
"Ah, tidak tidak....."
Kurang lebih begitulah yang terjadi selagi Huo Bing berpikir. Sisanya juga sedang memikirkan cara menghajar Han Shan tanpa menimbulkan konsekuensi yang serius, hanya saja mereka berpikir dalam diam, bukan sambil menampar Han Shan.
"Bagaimana kalau kita menyerahkannya pada pihak akademi untuk diberi hukuman karena melanggar batas murid?" usul Xika.
"Sebenarnya, itu tidak akan berguna. Selama dia tidak melanggar batas serius seperti Perpustakaan atau Gedung Utama, ia tidak akan menderita hukuman serius." Di He menggeleng.
Yang lain kembali berpikir. Beberapa kali ide terlontar tapi semuanya dipatahkan oleh Di He. Bahkan Xingli sekalipun memberikan ide, meskipun Xika harus bekerja keras untuk menerjemahkannya.
"Lalu apa kau sendiri punya saran?" tanya Huo Bing kesal karena Di He mematahkan ide mereka dari tadi.
"Aku tak yakin. Kalau kalian berniat membalasnya, kurasa Burning Abyss Clan pasti akan membalas kalian. Kecuali kalian tidak membalasnya, sepertinya tidak ada cara lain."
Sebenarnya, dari tadi Di He mematahkan ide mereka karena penasaran kekuatan besar apa yang berada di belakang Xika dan lainnnya. Ia menduga, kalau mereka tak punya ide lain maka mereka pasti akan mengerahkan kekuatan di belakang mereka.
"Bah. Dasar sialan. Sejak kapan kita mudah digertak? Ia diizinkan membalas sementara kita tidak? Serigala Gosong, Xika, sejak kapan kita seperti ini, hah?!" ucap Huo Bing kesal.
"Hmm.....sepertinya kita harus memberikannya sedikit keringanan. Tampar saja pipi kiri dan kanannya masing-masing seratus kali, setelah itu lemparkan ia kembali ke area Murid Luar. Kita biarkan saja dia kali ini." ucap Xika tidak kalah kesal dengan Huo Bing, tapi ia juga tak memiliki pilihan lain.
"Kalau ia kembali lagi......"
__ADS_1
Ucapan Huo Bing itu tak perlu diselesaikan. Ketiganya berbagi pemikiran yang sama. Mereka sudah menahan diri kali ini, berikutnya tidak akan.
"Hmm...sekedar bertanya, sekaligus memenuhi tugasku sebagai agen ganda, sebenarnya apa tujuan kalian?"
Huo Bing memicingkan matanya. "Kau hendak melaporkan ini pada Pelindung sialan itu atau apalah?"
"Untuk berjaga-jaga. Aku tak akan langsung memberi tahu mereka. Sebenarnya aku penasaran juga." Di He tak menutupi alasannya.
"Setidaknya dia harus memiliki sesuatu untuk disampaikan pada Pelindung itu." Xika setuju dengan Di He, "Lagipula tujuan kita bukan hal yang harus dirahasiakan."
Huo Bing merengut kesal tapi ia tak mengatakan apa-apa. Seperti Heiliao, ia masih belum percaya pada Di He sepenuhnya.
"Sederhana saja, tujuanku masuk akademi ini tidak berbeda jauh dari kebanyakan orang biasa. Untuk bertambah kuat."
Di He mengerutkan keningnya. "Hanya itu?"
"Kurang lebih." Xika mengangguk.
Sebenarnya, Di He memiliki dugaan yang sama dengan para Pelindung bahwa Xika berasal dari kekuatan besar. Hanya saja kekuatan besar yang mana ia tak yakin. Bahkan ia menduga bahwa tempat Xika berasal bukan dari Dinasti Lin.
Tapi melihat ekspresi Xika ditambah tatapan tajam Heiliao dan Huo Bing yang seolah akan membunuhnya kalau ia bertanya lebih lanjut, Di He memutuskan tidak berkata apa-apa lagi.
Xika mendekati Han Shan dan mulai menampari pria itu. Ia bergumam kecil, "Sepertinya aku harus berterima kasih padamu."
Tapi tentu saja gumaman Xika itu terlalu kecil untuk didengar di tengah beruntunnya bunyi 'PLAK!'.
Sebenarnya, kalau bukan karena Han Shan, mungkin saja Xika tak akan bertemu Xingli, atau tak bertemu dengannya secepat ini. Yah, mungkin ini yang dinamakan takdir? Xika memilih untuk tak ambil pusing masalah tersebut.
Setelah seratus tamparan di masing-masing pipi, wajah Han Shan bengkak hebat. Xika terlalu malas untuk melemparnya keluar, jadi ia melambaikan tangan dan menerbangkan Han Shan dengan wajahnya yang bengkak itu untuk kembali ke Halaman Utama, tempat yang pastinya boleh dikunjungi semua murid.
Mereka melanjutkan bermain kartu dengan Di He yang masih menonton seperti sebelumnya. Hanya saja kali ini tak ada sorakan penyemangat seperti sebelumnya. Karena penyamaran Di He sudah terbongkar, ia tak akan repot-repot meneruskannya.
Namun kali ini, ia jadi lebih aktif bertanya. Ia mengamati permainan kartu Xika dan bertanya bila ada beberapa hal yang tidak di mengerti. Harus Huo Bing akui, ia lebih menyukai Di He yang sekarang karena lebih tenang dan tidak banyak bicara, kalaupun bicara, tak akan memakan waktu. Meskipun, ia masih belum mempercayai Di He sepenuhnya.
Ketika hari sudah gelap, Xingli dan Di He kembali ke kamar mereka. Kamar Di He tidak jauh dari kamar mereka dan masih berada dalam Jade Village. Kamar Xingli sendiri masih merupakan misteri. Xika sempat berpikir untuk menanyakan di mana kamarnya, tapi Huo Bing langsung bicara di kepalanya.
"Tidak sopan menanyakan kamar seorang wanita, kau tahu."
"Memangnya untuk apa kau tahu di mana kamarnya? Membantunya ketika ia kesulitan? Apa gadis itu akan mengalami kesulitan?"
"Atau hanya sekedar berkunjung? Kalaupun alasanmu hanya sekedar berkunjung, pastinya kunjunganmu akan membawa kabar tidak mengenakan yang akan mendatangkan banyak 'semut',"
__ADS_1
Dan Xika segera mengubur ide itu dalam-dalam di kepalanya. Meskipun ketika Xingli hendak kembali, gadis itu memberi Xika tatapan yang tidak Xika mengerti. Tatapan yang lain dari biasanya, hanya saja entah mengapa Xika tak bisa mengerti tatapannya kali ini.
Hari berlalu.
Xika kembali datang ke Halaman Utama untuk menemui Penatua Fen. Disana sudah berdiri tujuh belas murid lainnya yang juga lolos menjadi Murid Dalam, serta Xingli tentunya. Entah karena alasan apa, tidak ada murid yang berani mendekati Xingli. Biasanya, banyak murid yang mengerumuninya seperti gula dikerumuni semut.
Selain itu, ketika Xika datang, seluruh murid itu langsung menggigil. Terutama murid yang menjadi peringkat lima yang sebelumnya ditepuk Huo Bing. Membayangkan akan berdiri sejajar dengan Xika dan monster-monster lainnya saja cukup mengerikan.
Langit menggelap dan Penatua Fenpun kembali datang tanpa disadari banyak murid.
"Wah, wah. Kalian sudah tiba rupanya. Bagus sekali."
Ia menatap tujuh belas murid yang berkumpul selama setengah detik kemudian memalingkan pandangan pada Xika dan lainnya tanpa berusaha menutupinya. Ia menatap mereka selama lima detik lebih.
"Aku punya hadiah spesial untuk kalian." ucapnya tersenyum. Xika berharap semoga saja hadiah spesialnya bukan mata-mata lagi.
"Baiklah, berbaris, berbaris."
Para murid bergegas mengikuti perintahnya. Entah karena alasan apa, kali ini hanya Penatua Fen yang datang sendiri, tanpa ada elder lain yang menemani. Pin dengan huruf 'MU' melayang di samping tujuh belas murid. Mereka langsung memasangnya dengan penuh kebanggaan.
Kali ini Penatua Fen tidak berbasa-basi. Ia melambaikan tangannya dan semua murid berjalan pergi kecuali Lima Besar. Sekali lagi, Penatua Fen menatap Xika dan lainnya, mengabaikan murid peringkat lima sepenuhnya. Xika bahkan sempat berpikir bahwa Penatua Fen tahu penyamaran Di He sudah terbongkar saking lamanya ia menatap Xika.
Tapi pada akhirnya ia mengalihkan pandangan. Ia melambaikan tangan dan pakaian akademi beserta pin dengan huruf 'MU' melayang di samping Xika, Huo Bing, dan Heiliao. Tadinya Xika tak ingin langsung mengenakannya tapi melihat tatapan Penatua Fen, ia berubah pikiran.
"Kalian sudah memakainya? Bagus. Sekarang ikuti aku."
Mereka mengikuti Penatua Fen dan akhirnya sampai di depan Perpustakaan. Penatua Fen berhenti dan berbalik menatap mereka. Ia menunjuk murid Peringkat Lima yang langsung membuat tubuh murid itu gemetar hebat.
"Kau. Sebelumnya, aku memang mengatakan akan memberi kalian hadiah sebagai Lima Besar. Tapi jujur saja, harta hebat membutuhkan pemilik yang kuat. Hadiah yang kukatakan ada di dalam, tapi mengandung banyak resiko. Apa kau masih mau melanjutkan?"
Murid itu ragu-ragu.
"Kalau kau tak mau, kau bisa memilih salah satu dari teknik ini sebagai gantinya." Penatua Fen melambaikan tangannya dan beberapa teknik yang sepertinya berharga muncul. Murid itu langsung memilih salah satu teknik dan pergi tanpa ragu-ragu.
"Anu, Penatua, resiko apa sebenarnya yang ada di dalam?" tanya Xika.
"Hm? Kau tidak perlu tahu, meskipun aku yakin kau tidak akan ketakutan kalau tahu."
Xika ingin bilang, 'kalau begitu kenapa tidak kasih tahu saja?' tapi ia menahannya.
Dan merekapun mengikuti Penatua Fen memasuki Perpustakaan.
__ADS_1