
Angin kencang yang besar menerpa semuanya. Tapi tampaknya angin itu tak berniat menyakiti Xika dan lainnya. Angin itu meniup rantai dan tanah yang membelenggu tangan dan kaki Xika sampai hancur berkeping-keping. Tidak hanya itu saja, pisau-pisau yang berasal dari gadis-gadis Green Viper juga dihempaskan.
Xika juga tak merasakan adanya permusuhan dalam angin itu. Ia mengerutkan kening dan memasang sikap waspada, meskipun tidak bergerak. Begitu juga dengan Xingli dan Shu Mang. Mereka tahu angin yang datang itu mengganggu musuh mereka.
Kemudian angin kencang itu berkumpul di satu tempat dan mewujud menjadi seseorang yang Xika kenal.
"Penatua Fen?" Kerutan di kening Xika semakin dalam.
"Hahahaha.......kenapa kau terkejut begitu nak?" ucap Penatua Fen seolah apa yang dikatakan Xika itu lucu.
Xika hanya menatap Penatua Fen dalam diam. Penatua Fen balas menatapnya selama beberapa saat, kemudian memalingkan pandangan dan memberikan tatapan tajam pada gadis-gadis Green Viper, pria yang menghalangi Shu Mang, dan gadis yang menghadang Xingli.
Satu-persatu mereka yang ditatap Penatua Fen pergi dengan wajah kusut tak suka namun tak memiliki pilihan lain.
"Hei, Nak! Aku baru saja menyelamatkanmu, tidak perlu bersikap waspada seperti itu."
Xika tak tahu harus berbuat apa untuk sementara, kemudian mengangguk dan berterima kasih.
"Ah, ya. Terima kasih atas bantuannya. Kami permisi dulu."
"Hei, hei! Aku baru saja menyelamatkanmu, loh!"
"Saya sudah berterima kasih. Apa lagi yang anda inginkan?" ucap Xika dengan kening yang kembali mengerut.
"Kemarilah. Temani aku sebentar." Penatua Fen merangkul bahu Xika, tak mempedulikan tatapan Xika yang terganggu, kemudian membawanya berjalan pergi meninggalkan yang lainnya.
Mereka berjalan menuju sebuah gang sepi hingga tak ada orang sama sekali. Penatua Fen melihat sekelilingnya sebelum memastikan tak ada yang mendengar.
"Nak, tahukah kau bahwa kau baru saja terlibat dalam masalah?"
"Entahlah. Saya sudah menghadapi banyak masalah. Yang mana yang anda bicarakan?"
"Sebelumnya kau menghajar empat anak berelemen api bukan?"
"Mereka? Aku hanya membantu temanku saja. Sisanya dia yang membereskan."
Penatua Fen terlihat seolah mengingat sebentar siapa yang dibicarakan Xika. "Dia, ya.......Kalau aku tak salah, temanmu itu berasal dari Divine Array Clan, bukan?"
__ADS_1
Xika mengangguk membenarkan.
"Empat anak yang temanmu hajar itu sebelumnya berasal dari Burning Abyss Sect."
"Jadi maksud anda, petinggi Burning Abyss Sect marah karena anggota mereka kalah. Lalu ingin membalas Shu Mang yang mengalahkan mereka, namun tidak bisa melakukannya karena akan mempermalukan nama mereka bila mengatakan murid mereka kalah dari murid Divine Array Clan, jadi mereka mencari kambing hitam, dan sayalah kandidat yang cocok?"
Penatua Fen terkesiap. Ia tak menyangka Xika dapat menebak sebanyak itu hanya dari beberapa informasi yang ia ungkapkan.
"Kau benar. Saat ini para Tetua dari Burning Abyss Sect sedang bicara dengan Kepala Akademi. Mereka meminta pertanggung jawabannya dengan menyerahkan dirimu."
"Bagus sekali." gumam Xika kesal.
"Dengar, Nak. Mungkin Kepala Akademi tidak menganggapmu berharga, jadi sepertinya ia akan menyerahkanmu. Waktumu tidak banyak. Dengarkan aku. Larilah bersama temanmu. Aku sudah mengosongkan penjaga di gerbang masuk. Aku akan menahan beberapa penjaga yang datang. Lari secepat mungkin. Kalau perlu pergilah dari Dinasti Lin. Jangan berpikir untuk kembali dalam waktu dekat. Berlatihlah dengan giat sampai kau bisa membalas dendam. Setelah itu barulah kau boleh kembali. Mengerti?" ucap Penatua Fen serius.
Kali ini giliran Xika yang terkejut. Ia sama sekali tak berpikir bahwa Penatua Fen akan memikirkannya sampai seperti itu. Lagipula ia baru bertemu Penatua Fen beberapa kali, mengapa ia rela melakukan ini untuk Xika? Setelah terdiam beberapa saat, Xika tersenyum.
"Penatua, saya berterima kasih atas niat baik anda. Tapi Kepala Akademi tidak akan menyerahkan saya." ucap Xika memberikan senyum penuh keyakinan.
"Bagaimana kau bisa yakin?" Penatua Fen menoleh ke sana-kemari beberapa kali, menunggu datangnya penjaga untuk menangkap Xika.
"Karena saya adalah satu-satunya harapan Kepala Akademi." Senyum penuh keyakinannya masih tergantung di wajah Xika.
"Yah......baiklah. Kurasa aku terlalu berlebihan. Sebaiknya aku pergi sekarang."
"Penatua Fen, terima kasih." Xika tersenyum tulus kali ini. Kini ia tahu bahwa Penatua Fen adalah orang yang layak dipercaya. Sikapnya yang santai itu membuatnya lebih mudah dipercaya daripada Jing Wei yang selalu memberikan senyum tapi selalu menyembunyikan sesuatu.
"Heh." Penatua Fen juga memberikan senyumnya. "Ah, ya. Satu lagi. Kuharap kau tak terlalu mendendam pada Penatua Lan, dan Lu Bei juga tentunya."
"Anda meminta saya tidak dendam pada orang yang berniat membunuh saya?"
"Dengar, mereka punya alasannya sendiri. Lu Bei sebelumnya adalah gadis yang baik dan ceria. Banyak yang menaruh hati padanya. Tak ada yang berhasil memikatnya, sampai suatu hari seorang pria datang. Pria yang membuat Lu Bei jatuh cinta. Namun sayangnya, Lu Bei menaruh hatinya di tempat yang salah.
Pria itu membawanya ke satu tempat. Lu Bei yang polos tak mencurigai apapun. Gadis itu tak sadar apa yang tengah menunggunya. Malamnya, dimulailah kejadian yang membuat Lu Bei berubah. Pria itu melakukan berbagai hal keji padanya. Aku salut Lu Bei masih hidup sampai sekarang.
Lu Bei ditinggalkan begitu saja setelah pria itu puas. Kejadian itu berdampak besar pada mental Lu Bei. Entah berapa lama anak itu mengurung dirinya di dalam kamar. Penatua Lan-lah yang paling terpukul karena kejadian ini. Sebelum kejadian itu, Penatua Lan sangat dekat dengan Lu Bei.
Ia menganggap Lu Bei sebagai anaknya sendiri. Lu Bei yang memang tidak memiliki orangtua-pun menganggap Penatua Lan sebagai ibunya sendiri. Hubungan itu berjalan baik sampai Lu Bei menaruh hatinya di tempat yang salah.
__ADS_1
Setelah berbagai bujukan, hiburan, dan nasehat yang diberikan Penatua Lan, Lu Bei akhirnya keluar dari kamarnya. Namun ia menjadi begitu berbeda. Senyum yang dulu selalu menghiasi wajahnya, kini hilang digantikan senyum penuh dendamnya.
Lu Bei memutus hubungan dengan Penatua Lan setelah itu dan menghilang. Beberapa bulan berlalu dan Lu Bei muncul kembali, namun kini ia sudah bergabung dengan Green Viper, organisasi wanita mengerikan yang memiliki trauma pada pria seperti Lu Bei. Green Viper membantu Lu Bei membalas dendamnya, meskipun gagal. Pria itu memiliki kekuatan yang luar biasa juga.
Pertarungan pria itu dengan Lu Bei dan Green Viper berlangsung cukup lama. Lu Bei menghancurkan banyak gedung akademi dan menimbulkan cedera berat pada banyak murid. Meskipun telah dibantu Green Viper, Lu Bei masih kalah dari pria itu.
Harusnya Lu Bei dihukum berat, karena telah menghancurkan properti Akademi dan melukai sesama murid tanpa alasan yang jelas, serta ialah yang memulai pertarungan. Tapi Penatua Lan berusaha keras melindunginya. Ia berdebat panjang dengan Kepala Akademi sebelum akhirnya pria itu memutuskan untuk tidak mengeluarkan Lu Bei dan hanya memberikan hukuman saja.
Setelah itu hubungan Lu Bei dan Penatua Lan tak pernah membaik. Meskipun begitu, Penatua Lan masih terus mengawasi Lu Bei dan membantunya bila kesulitan. Lu Bei tahu hal itu, dan ia memanfaatkannya. Ia berkeliling mencari gadis-gadis yang senasib dengannya untuk memperkuat Green Viper, sehingga ia bisa membalaskan dendamnya.
Ada juga beberapa alasan lainnya. Yaitu untuk memuaskan hasrat kebenciannya pada pria dengan membantu gadis-gadis malang, apalagi bila gadis itu memiliki kemampuan hebat. Juga untuk membalas jasa Green Viper. Bagaimanapun juga Green Viper telah berjasa besar padanya. Ia bertekad untuk membalas budi pada Green Viper."
"Jadi karena itu ia langsung bergegas ketika mendengar tentang Xingli."
"Ya, sekarang kau tahu kenapa. Penatua Lan sebenarnya tidak berniat buruk. Ia hanya berusaha menyadarkan Lu Bei, namun belum berhasil sampai saat ini."
"Sekalipun aku tahu latar belakangnya, aku masih berniat membunuhnya. Memiliki kisah sedih tak berarti kau bebas melakukan apapun. Aku sendiri masih memiliki kisah sedih yang tak kalah darinya."
"Yah....." Penatua Fen menggaruk-garuk kepalanya bingung harus berkata apa. "Aku sudah menyampaikan apa yang harus kusampaikan. Sisanya terserah. Ah! Kudengar kau berpartisipasi dalam kompetisi penyambutan ya?"
Xika mengangguk. Ia menduga Penatua Fen mengetahuinya dari Jing Wei. Mungkin tiga Penatua lainnya juga sudah tahu.
"Mengingat kau yang begitu percaya diri tak akan diserahkan oleh Kepala Akademi, maka besar kemungkinan Burning Abyss Sect akan menjadikan kompetisi ini sebagai ajang balas dendam, karena tidak puas dengan dirimu. Ada kemungkinan mereka menggunakan cara curang, begitu juga dengan sekte dan klan lainnya. Berhati-hatilah."
Xika mengangguk sambil berterima kasih. Ketika ia mengangkat kepalanya, Penatua Fen sudah menghilang menyisakan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya.
Ia berjalan kembali. Huo Bing dan lainnya sudah menunggunya. Shu Mang memberinya tatapan yang penuh pertanyaaan. Terlihat jelas kebingungan yang terpampang di wajahnya. Ia bingung kenapa banyak orang yang menyerang Xika secara mendadak, kenapa Penatua Fen membantu Xika, dan apa yang dibicarakan Penatua Fen pada Xika.
"Ada apa?" tanya Huo Bing.
"Bukan hal yang penting. Hanya menceritakan kisah sedih agar aku tak membunuh seseorang, tapi tenang saja aku akan tetap membunuhnya." ucap Xika melambaikan tangannya.
Shu Mang memasang wajah tak mengerti sementara Huo Bing tidak peduli. Kemudian burung itu mendadak menyeringai.
"Hei, Xika. Sebentar lagi kau akan berkompetisi bukan? Kau membutuhkan latihan."
"Ya, begitulah. Kenapa memangnya?" Xika menatap Huo Bing dengan curiga. Seringaian burung itu memberinya firasat buruk.
__ADS_1
"Itu, latihanmu sudah datang." tunjuk Huo Bing menggunakan dagunya.
Xika menoleh dan menemukan 'latihan' yang disebut Huo Bing. Beberapa meter darinya, tiga orang pria dengan aura yang luar biasa datang mendekat. Sudah jelas mereka mau berbuat apa.