
Xika memperhatikan baik-baik wajah si pengguna formasi yang kini terperangkap dalam piramida api. Ia benar. Pria itu memang Shu Mang. Tampaknya ia cukup kesulitan.
Wajah Shu Mang berkerut saat melihat piramida yang mengurungnya. Beberapa kali ia mengarahkan telapak tangannya ke arah dinding piramida, tapi semua formasi yang muncul langsung pecah begitu saja.
"Heh, sepertinya ia butuh bantuan." Xika tersenyum kemudian melompat maju sambil mengarahkan telapak tangannya pada piramida yang mengunci Shu Mang. Lambang empat elemen yang berada dalam satu lingkaran muncul di mata dan telapak tangan Xika.
Lambang itu menghilang tak lama setelah muncul di mata Xika, tapi lambang yang muncul dari tangannya terus membesar kemudian melaju lurus dan menabrak piramida api itu sampai hancur berkeping-keping.
Baik Shu Mang maupun keempat bocah api itu terlihat terkejut. Mereka sama-sama tak menduga akan ada pihak lain yang mengganggu dan dapat memecahkan piramida itu dengan cukup mudah.
"Sepertinya kau butuh bantuan?" ucap Xika sambil berjalan santai mendekati Shu Mang.
"Xika!" Wajah kusut Shu Mang seketika berubah menjadi terang. Matanya berbinar melihat Xika. Berbanding terbalik dengan bocah-bocah api itu. Wajah mereka berubah buruk menyadari bahwa yang datang adalah teman dari lawan mereka dan kelihatannya cukup kuat.
Shu Mang kembali menatap bocah-bocah itu. Kini tubuh mereka tak lagi terbakar api. Semuanya langsung padam sejak Xika menghancurkan piramida api itu.
"Tunggu aku menyelesaikan ini. Setelah itu mari kita mengobrol." kata Shu Mang dengan mata tajam menatap keempat bocah itu.
"Tentu." balas Xika tak keberatan.
Sambil mengulas senyum di wajahnya, Shu Mang mengarahkan kedua telapak tangannya pada keempat bocah itu dan dua buah formasi muncul. Satu berukuran cukup besar dan berada di bawah keempatnya, satu lagi berada di depan mereka.
Formasi yang di depan menyala kemudian memunculkan rantai tebal yang mengikat keempat bocah itu. Setelah itu formasi yang di bawahpun ikut menyala, kali ini cukup terang sampai mampu menyinari keempat bocah itu didalamnya. Setelah cahaya menghilang, sebuah balok es muncul di tempat keempatnya berada sebelumnya. Bila melihat dengan lebih jeli, terdapat empat bocah itu di dalam balok es yang baru muncul.
"Ayo." ajak Shu Mang tak lagi mempedulikan bocah-bocah itu.
Xika mengangguk dan berjalan mengikuti Shu Mang. Ia memberi tanda pada Huo Bing dan lainnya. Merekapun berjalan menuju arah yang sama.
Shu Mang membawa mereka ke sebuah kedai makan. Ia memesan beberapa hidangan ringan sebagai camilan dan seteko teh penuh.
"Kenapa kau bertarung dengan mereka?" tanya Xika setelah ia duduk.
"Entahlah. Aku baru saja keluar dari pelatihanku hari ini. Mendadak mereka muncul dan menyerangku. Katanya ingin mengetahi kekuatan Mu Zhan Academy atau semacam itulah."
"Oh? Jadi mereka bukan murid disini? Pantas saja aku tak pernah melihat seragam mereka." Xika mengangguk-ngangguk tanda mnegerti.
"Daripada itu, lebih baik kau ceritakan tentang dirimu. Kau akhirnya masuk ke akademi!" Shu Mang menoleh pada Huo Bing dan Heiliao. "Kalian juga!" ucapnya terlihat sama gembiranya melihat mereka ada di sini. Tapi kemudian matanya menyipit melihat orang terakhir yang masuk.
"Dan siapa ini?" Shu Mang mendekatkan kepalanya pada Xika sambil berbisik, "Kenalanmu? Atau......?" Ia memberi senyum menggoda.
"Yah, sepertinya kau sudah mengenalnya. Atau setidaknya mendengar tentangnya. Kenalkan, ini Xingli."
Mendadak mata Shu Mang melebar. Ia memperhatikan wajah Xingli dua detik sebelum cepat-cepat memalingkan pandangan.
__ADS_1
"Psssttt.....Xika, tak mungkin kan dia ini......?"
"Kau benar. Dia Xingli yang terkenal itu." ucap Xika sambil mengangguk.
Pada saat itu Xika dapat mendengar Shu Mang menelan ludahnya sendiri.
"Tenang saja, dia, eh......ng, temanku."
Awalnya Shu Mang meragukan perkataan Xika dan mulai memutar ulang kabar burung yang mengatakan bahwa Xingli adalah monster es yang akan mengancurkan semua pria yang ia temui, tapi melihat gadis itu hanya duduk dalam diam tanpa mengangkat pedangnya sedikitpun, Shu Mang berusaha memercayai perkataan Xika. Bagaimanapun juga, Xika pernah menipunya, tapi juga pernah menyelamatkannya.
"Ah, eh, anu, ng........ya, baiklah." Shu Mang menggeser kursinya menjauhi Xingli. "Ekhem! Kenapa tidak kau ceritakan saja tentang akademi? Bagaimana kau bisa masuk dan apa saja yang telah kulewatkan selama berada di pelatihan tertutup?"
"Ah! Benar juga. Pantas saja aku merasa aneh tidak melihatmu sama sekali di akademi ini. Kupikir kau telah menjadi Murid Inti."
"Ahahaha.......aku tak sehebat itu sampai bisa menjadi Murid Inti dalam waktu singkat. Menjadi Murid Dalam hanya dalam waktu setengah tahun saja sudah cukup baik bagiku."
"Oh? Kupikir kau juga menjadi Murid Dalam beberapa hari setelah diterima akademi sepertiku."
"Tentu saja itu mustah-EH?!"
"Ahahaha.......baiklah. Biarkan aku bercerita dari awal."
Lalu Xikapun mulai menceritkan saat pertama kali ia tiba di akademi, tentang ia yang terlambat dan seharusnya tidak bisa mengikuti tes masuk, tapi pada akhirnya berhasil masuk dengan mengalahkan murid-murid yang mendapat nilai teratas dalam ujian sebelumnya, lalu tentang penyerangan yang ia terima di hari pertama, Penatua Fen yang mengadakan Ujian Peringkat, dan beberapa hal lainnya.
"Apa?! Bagaimana kau bisa telat?! Tapi untunglah kau berhasil masuk."
"Eh?! Kau mengalahkan murid-murid yang mendapat nilai tertinggi pada ujian sebelumnya?"
"Kau mendapat serangan di hari pertamamu?!"
"Ada penginapan seburuk itu di akademi?"
"APA?! KAU BERHASIL MENJADI MURID DALAM TIDAK LAMA SETELAH DITERIMA?!"
Sisa komentarnya tidak terlalu berbeda. Tapi itu semua masih tidak menutup rasa penasaran Shu Mang bagaimana Xika berhasil 'menjinakkan' Xingli. Meskipun hanya duduk diam saja, gadis itu tampaknya berhasil menakuti Shu Mang sampai membuat pemuda itu menjauhkan kursinya beberapa kali selama Xika bercerita.
"Lalu? Lalu? Kau masih belum menceritakan tentang, ekhem! gadis itu....." ucap Shu Mang agak takut terhadap Xingli.
"Yah, emm.....mengenai hal itu......kau bisa mengatakan aku mengenalnya sebelum ia tiba di akademi ini....." ucap Xika agak bingung bagaimana menjelaskan hubungannya dengan Xingli.
"Hmm.....baiklah." Kelihatannya Shu Mang tidak terlalu ingin mendengar penjelasan Xika mengenai Xingli. Ia hanya ingin memastikan Xingli benar-benar telah 'dijinakkan' oleh Xika.
"Ah, ngomong-ngomong, tempat ini cukup indah ya? Meskipun sebenarnya aku agak bingung." Xika berusaha mengalihkan topik pembicaraan yang terhenti karena Xingli. "Bukannya ini akademi? Kenapa aku sempat menemui beberapa penjual dan kedai makanan di sekitar sini, padahal aku tidak menemui garis pembatas yang menunjukan tanda bahwa ini bukan wilayah akademi?"
__ADS_1
Shu Mang tertawa mendengar hal itu.
"Itu karena wilayah ini masih merupakan wilayah akademi. Kepala Akademi mengizinkan para pedagang yang kalah bersaing di kota untuk berdagang di wilayah akademi, tentu saja setelah ia memeriksa mereka secara langsung.
Beliau berpikir bahwa dengan adanya para pedagang ini, selain membantu para pedagang, juga akan membantu para murid untuk menciptakan wilayah belajar yang nyaman. Jadi para murid tidak perlu repot-repot keluar akademi hanya untuk sekedar jajan atau melakukan hal lainnya." jelas Shu Mang.
"Ohhh.....begitu rupanya."
'Sepertinya Jing Wei si pria botak masih punya hati, yah meskipun semuanya didasarkan pada kata 'belajar'' pikir Xika.
"Hei, bagaimana kalau kita mengobrol sambil berjalan-jalan? Aku masih ingin mencicipi jajanan lain." usul Huo Bing.
Shu Mang tentu saja tak keberatan, atau mungkin lebih tepatnya tidak berani tidak setuju, dengan usul Huo Bing itu. Jadi mereka beranjak dan keluar dari kedai tersebut setelah Shu Mang membayar pesanannya.
Mereka baru saja melewati beberapa kios ketika sebuah pisau angin melaju mengincar kepala Xika.
BRAK!
Pisau itu menabrak dinding tanah yang diciptakan Xika. Ia menatap pelaku yang memberikan serangan tersebut.
Gaun hijau, anting pisau, Green Viper. Lu Bei. Gadis itu menyeringai menatap Xika ditemani beberapa gadis lainnya dengan penampilan yang sama.
Xika menatap tajam pada gadis-gadis itu. Tampaknya pelajaran yang ia berikan sebelumnya masih kurang. Tapi belum sempat ia memberikan serangan, sebuah rantai yang dilapisi qi kuat mengikat kedua tangannya secara terpisah. Lalu tanah naik dan membelenggu kaki Xika.
Tak hanya itu, sebuah bola api datang dari atas menargetkan Xika yang berada di bawahya. Bersamaan dengan munculnya bola api itu, gadis-gadis Green Viper-pun melemparkan berbagai pisau yang menargetkan titik vital Xika.
Shu Mang awalnya terkejut melihat semua serangan itu, tapi ia tak lagi banyak berpikir. Kedua tangannya membentuk pola-pola rumit dengan cepat kemudian mengarahkan telapak tangannya pada Xika. Ia membuat formasi untuk memecahkan rantai yang mengikat tangan Xika dan tanah yang mengunci kaki Xika.
Formasinya terbentuk dengan cepat, tapi baru saja formasi itu menyala, sebuah pisau melesat hingga Shu Mang terpaksa membatalkan formasinya untuk menghindar.
Ia menoleh dan menatap seorang pria yang mengenakan sarung tangan berdiri di atap sebuah kios tak jauh dari tempat mereka berada. Di depan tangannya, menyala-lah sebuah formasi. Tampaknya pisau tadi berasal dari formasi tersebut.
Xingli tak mempedulikan kondisi Shu Mang. Tapi ia bergegas menarik pedangnya ketika melihat gadis-gadis Green Viper itu melayangkan senjata mereka pada Xika.
Sayangnya, lagi-lagi muncul pengganggu. Seorang wanita muncul di hadapannya mengenakan gaun hijau dan anting pisau. Masing-masing tangannya menjepit tiga anting pisau dan masih banyak lagi anting pisau yang tergantung di sekeliling pinggangnya. Entah berapa banyak yang ia simpan dalam cincin spasialnya.
Kini, tak ada lagi yang bisa membantu Xika. Huo Bing dan Heiliao masih menolak untuk membantu. Xika cukup kesulitan berkonsentrasi melihat Shu Mang dan Xingli yang jadi ikut terseret pertarungan karena dirinya.
Syut!
Blar!
Syush!
__ADS_1
SWUSH!