
"Pe-pemimpin Hao......"
Lang Shu tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia sangat terkejut melihat sosok yang bertanya adalah sosok yang sama yang sedang ia bicarakan. Mukanya pucat pasi. Ia hendak menghilang sekarang juga. Andai saja ia juga menguasai elemen ruang.
"Lang Shu."
"Y-ya, Pemimpin Hao........"
"Kudengar tingkat kultivasimu masih tidak naik padahal kau sudah di tahap ini selama tiga tahun. Ini memang perayaan, tapi tidakkah kau berpikir untuk berlatih lebih banyak lagi dan menguarangi waktu untuk yang lain seperti perayaan?"
Lang Shu hanya bisa mengangguk. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Baik itu bicara atau bergerak, semua indranya seakan tidak mau mendengar perintahnya.
Kemudian Lang Xuehao memberikan tanda untuk pergi melalui kepalanya. Lang Shu melirik sekelilingnya dan hanya ada Xika dan Lang Xuehao selain dirinya. Ia langsung berlari pergi secepat mungkin.
Kini tinggal Xika dan Lang Xuehao yang ada di tempat ini. Mereka saling berpandang-pandangan selama beberapa saat. Kemudian Xika menebarkan sesuatu dan membuat asap muncul.
"Sampai jumpa eh, senior."
Xika hendak berlari pergi di tengah kepulan asap. Tapi serigala berbulu putih itu tidak membiarkannya. Serigala itu menggigit kerah bajunya dan mencegahnya melarikan diri. Tampaknya asap buatan Xika tidak berpengaruh untuknya.
"Trikmu itu cukup bagus. Tapi tidak berguna untukku. Kemari sebentar. Aku ingin bicara denganmu."
Xika ingin bicara 'Tapi aku tidak!' namun ia mengurungkan niatnya karena takut dimakan serigala itu. Saat Heiliao di sampingnya saja Xuehao berani memakannya, apalagi saat Heiliao tidak ada. Besar kemungkinan Xuehao benar-benar memakannya kali ini. Dan sepertinya serigala itu tahu apa yang dipikirkannya.
"Tenanglah. Aku tidak akan memakanmu. Mungkin."
Xika kembali ragu setelah mendengar kata terakhir. Tapi ia duduk dan mengambil daging bakar yang tersedia. Banyak daging melimpah di sini karena semua serigala meninggalkan tempat ini secara serentak.
"Kau.......tidak keberatan dengan ucapan Lang Shu?"
Xuehao mengerutkan keningnya.
"Senior."
"......senior."
Kerutannya menghilang.
"Tidak juga." Ia diam sebentar. "Tapi yang dibicarakannya itu memang benar."
Kali ini Xika yang mengerutkan keningnya.
"Benarkah? Kau menjaga tebing itu untuk Heiliao? Cintamu ditolak mentah-mentah oleh Heiliao? Kau tidak akan menikah kalau Heiliao tidak menikahimu? Kau hanya cinta pada Heiliao? Apa semuanya itu benar?"
Xuehao mundur beberapa langkah dengan wajah terganggu.
"Bisakah kau tidak mengatakannya secara terang-terangan seperti itu?"
"Ah. Maaf. Tidak bermaksud."
__ADS_1
Xuehao memutar matanya kemudian kembali mendekat.
"Jadi.......apa yang mau kau bicarakan?"
"Senior."
"......senior."
Xuehao tidak langsung menjawab. Ia diam selama beberapa saat. Tatapannya menerawang kembali ke masalalu. Dan Xika membiarkannya.
"Apa.......Heihei baik-baik saja?"
"Saat ini? Ya. Saat aku bertemu dengannya? Tidak."
Xuehao menoleh menatap Xika. Ia menunggu Xika melanjutkan.
"Ia tampak hendak mengakhiri hidupnya ketika aku pertama kali bertemu dengannya. Wajahnya tampak begitu tua. Meskipun begitu ia masih sangat kuat."
Xuehao tersenyum. Ia membayangkan Heiliao yang masih tetap kuat sekalipun terlihat sudah tua.
"Lalu?"
Xika diam sebentar untuk menjawab pertanyaan Xuehao.
"Yah, aku tidak tahu bagaimana ia selama berada dalam kaum serigala. Tapi sepertinya aku bisa menebaknya. Kurang lebih ia seperti itu juga saat pertama kali bertemu. Tapi perlahan-lahan ia berubah. Hingga seperti sekarang ini. Aku tadinya tidak begitu sadar perubahan sikapnya sampai aku melihat ia bertemu kalian."
Xuehao masih tersenyum. Tapi kali ini Xika bisa melihat kesedihan dalam senyumnya.
Xika dapat melihat bahwa serigala di depannya ini benar-benar mencintai Heiliao. Cintanya benar-benar tulus.
"Eh, kalau boleh tahu, kenapa kau begitu mencintainya? Ehh.......senior."
"Saat pertama aku bertemu dengannya adalah di tebing tadi. Itu salah satu alasan kenapa aku menjaga tebing itu dengan baik. Aku baru berumur dua belas tahun kala itu. Aku tidak akan pernah melupakan momen itu. Aku melihatnya dikelilingi cahaya putih yang begitu menakjubkan namun wajahnya tampak kesepian.
Aku sudah sering mendengar kabar tentangnya. Serigala yang sombong. Angkuh. Dingin. Sama sekali tidak tampak seperti serigala. Tidak suka berbaur. Penyendiri. Dan yang kulihat saat itu sama dengan kabar yang beredar. Aku begitu terpesona dengannya yang dimandikan cahaya bintang hingga aku mendekat tanpa sadar. Tahu-tahu ia sudah berada di depanku. Bahkan saat itupun ia masih tidak menghiraukanku. Aku tidak tahu apakah ia memang mengabaikanku atau tidak menyadari keberadaanku.
Aku memberanikan diri untuk mendekat dan bertanya. Tapi belum selesai aku bicara ia sudah melangkah pergi. Dan aku sama sekali tidak punya keberanian untuk mengejarnya."
Xika tertawa kering. Ia bisa membayangkan kejadian itu dengan sangat jelas dalam kepalanya.
"Aku masih ingat kejadian itu sangat jelas seolah baru terjadi kemarin." Ia berhenti dan menatap Xika. "Tidak. Kau salah. Aku benar-benar mencintainya, bukan hanya kagum padanya. Kuakui, memang kekagumanku yang mengawali semua hal itu. Tapi kau salah kalau berpikir aku mengejarnya hanya karena perasaan kagum semata.
Setelah hari itu, aku tidak lagi punya keberanian untuk bicara dengannya sekalipun kami bertemu. Ia berjalan melewatiku begitu saja seolah tidak ada apa-apa."
Xuehao berhenti lagi untuk menatap Xika dengan matanya yang memberikan pandangan pertanyaan.
"Kau mau tahu kenapa aku yang dulu malu-malu bisa bersikap seperti sekarang ini?"
Xika mengangguk.
__ADS_1
"Aku juga kaget bisa seperti ini. Kami bertemu beberapa kali lagi setelah itu tapi aku masih tidak berani bicara padanya. Lama-kelamaan, semua temanku tahu bahwa aku menyukai Heihei. Aku hanya bisa diam tersipu malu saat mereka semua menggodaku. Perlahan, godaan mereka berubah menjadi ejekan dan mereka semakin sering mengejekku. Ejekan merekapun semakin lama semakin parah.
Kemudian datanglah hari itu. Hari dimana aku sadar bahwa rasa cintaku bukan lagi berdasarkan kagum semata melainkan benar-benar jatuh cinta padanya. Saat itu kami sedang bermain di bukit. Tadinya aku menolak untuk bergabung tapi salah seorang teman baikku memohon untuk menemaninya. Dengan berat hati, aku bergabung dengan mereka. Dan seperti yang kuduga, mereka kembali mengejekku.
Bahkan teman baikku yang sebelumnya memohon untuk ditemani juga ikut-ikutan mengejekku. Katanya ia melakukan itu untuk bisa berbaur dan tidak benar-benar bermaksud untuk mengejekku. Kemudian mendadak, mereka semua lari terbirit-birit seolah melihat hantu. Aku berbalik dan melihat hantu itu.
Seumur hidup aku baru pertama kali melihat hantu setampan itu. Bulunya hitam legam tanpa ada tambahan warna atau corak sedikitpun yang membuatnya tambah keren. Ia berbalik seolah tak ada yang terjadi tapi aku tahu ia datang untuk menolongku. Dengan malu-malu aku berkata terima kasih dan ia menjawab dengan lambaian ekornya yang semakin menjauh.
Sejak saat itu, aku tidak lagi malu ketika bertemu dengannya. Yang ada, aku malah gugup dan sangat senang. Tapi mungkin tidak terlalu banyak perbedaannya. Setelah kejadian di bukit itu, aku lebih memilih untuk sendiri daripada menerima ejekan itu lagi. Kadang-kadang mereka memberikan kata-kata yang sangat keterlaluan, kau tahu.
Mereka yang dulunya adalah teman baikku menjadi semakin sering mengejekku sekalipu aku sudah menyendiri. Dan Heihei selalu datang menolongku. Meskipun setelahnya ia langsung pergi tanpa bicara, setidaknya ia mulai mengeluarkan suara seperti 'Hmm" dan semacamnya. Akupun mulai sadar. Semua serigala sudah tahu bahwa aku menyukai Heihei. Tidak ada gunanya lagi aku bersikap malu-malu. Hal itu hanya akan menjauhkanku dari Heihei. Setidaknya begitulah pikiranku saat itu.
Perlahan, aku mulai mengubah sikapku. Lang Xuehao yang sebelumnya selalu malu dan tidak bisa bicara dengan benar menjadi Lang Xuehao yang percaya diri dan selalu mengatakan apapun dengan terus terang. Agak sulit awalnya. Tapi aku berusaha keras dengan menjadikan Heihei sebagai motivasiku. Heihei tidak terlihat terganggu dengan perubahan sikapku. Aku sangat ingin mengatakan bahwa ia justru mulai tertarik padaku. Tapi sayangnya tidak.
Ia tidak terlalu peduli dengan perubahan sikapku. Pikiranku bahwa bersikap malu-malu hanya akan menjauhkanku dari Heihei tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Mungkin dengan sikapku yang seperti sekarang ini, aku berhasil menakuti serigala betina lain yang tertarik pada Heihei. Entahlah, aku tidak tahu. Tidak ada yang berani mengejarnya secara terang-terangan selain diriku.
Tapi perubahan sikapku tidak mendekatkanku dengan Heihei. Malahan, bisa dibilang hal itu membuatku jauh dari Heihei. Aku yang percaya diri sudah tidak terganggu lagi dengan ejekan dan bisa menghadapinya sendiri. Heihei melihatku sekali dan sepertinya ia juga merasa bahwa aku sudah tidak perlu ditolong lagi. Dan ia tidak lagi menolongku seperti yang sebelumnya ia lakukan.
Tapi itu tidak menghentikanku untuk menyerah. Sudah terlambat untuk menyerah sekarang. Aku mulai mendekatinya secara terang-terangan. Aku bahkan mengungkapkan perasaanku padanya. Saat itu kami kebetulan bertemu di tebing itu. Aku melihatnya bermandikan cahaya bintang dan kembali teringat pertemuan pertama kami. Aku menyatakan perasaanku. Aku memberitahunya bagaimana ia membuatku kagum, bagaimana ia menolongku dan akhirnya jatuh cinta, dan bagaimana diriku mulai berubah seperti sekarang ini. Aku mengatakannya dengan segenap perasaanku.
Kau tahu apa yang ia katakan?
'Jangan mencintaiku. Aku tidak bisa mencintaimu.'
Setelah itu ia berjalan pergi meninggalkan diriku yang mematung. Waktu seakan berhenti. Sekalipun aku sudah berubah, tetap tidak mudah untuk mengutarakan perasaan, kau tahu. Terlebih bila kau adalah perempuan. Akan sangat banyak orang yang bergosip mengenai dirimu. Aku menanggung semua perasaan itu dengan harapan cintaku akan berbalas. Aku tidak akan meminta apa-apa asalkan ia juga mencintaiku. Bagiku itu sudah cukup. Tapi sayangnya cintaku tidak berbalas.
Aku menjadi galau saat itu. Terlebih dengan ucapan para tetangga yang semakin lama semakin pedas. Itu semakin menggoyahkan hatiku. Aku melalui hari dengan perasaan seperti itu selama beberapa bulan. Perasaanku bertambah galau ketika kami bertemu. Dan ia berlalu begitu saja seperti yang selalu ia lakukan. Aku mulai menguatkan hati. Aku akan berhenti mencintainya. Masih banyak serigala lain diluar sana.
Tapi seperti yang temanmu bilang. Standarku sudah terlalu tinggi. Setiap kali aku bertemu serigala jantan lain, tanpa sadar aku selalu membandingkan mereka dengan Heiliao. Tentu saja mereka akan kalah. Lagipula, tidak mudah untuk masuk kembali dalam komunitas setelah kau keluar dengan tidak baik. Beberapa bulan berlalu dan aku semakin yakin. Aku sudah berhenti mencintainya. Aku sudah tidak mencintainya lagi.
Sayangnya, hatiku langsung goyah ketika bertemu dengannya. Perjuanganku untuk melupakannya selama berbulan-bulan seolah lenyap begitu saja. Aku kembali sadar. Aku masih mencintainya. Aku mencintainya. Kemudian aku berusaha untuk kembali melupakannya. Aku memotivasi diriku dengan kata-kata 'Ia tidak akan mencintaimu, tidak peduli apapun yang kau lakukan. Berhenti saja.' atau 'Bukankah ia sudah bilang untuk tidak mencintainya? Sekarang adalah saat yang tepat untuk berhenti.
Tapi kenangan-kenangan ketika ia menolongku kembali menghampiriku. Dan aku kembali goyah. Itu semua terjadi berulang kali. Sampai kami beranjak dewasa dan terpilih menjadi calon Alpha. Kompetisi itu berlangsung saat Alpha kami yang saat itu masih hidup. Pemenangnya akan mendapat bimbingan secara langsung dari Alpha saat itu. Jadi bila pemenangnya tidak cocok atau dianggap tidak layak maka kami akan mengadakan kompetisi ulang. Bakatku tidak bisa dibilang buruk, jadi aku juga terpilih. Tentu saja aku tidak berharap banyak. Tapi dapat bersama dengannya saja sudah membuatku sangat senang. Meskipun aku langsung menepis pikiran itu dan mengingatkan diriku bahwa aku harus berhenti untuk mencintainya.
Persaingan itu cukup ketat. Dan pembunuhan diizinkan. Itu dapat membuat kami makin kuat, kata mereka. Yang lemah akan menjadi mangsa untuk yang kuat dan yang kuat akan semakin kuat. Aku adalah salah satu serigala betina yang menjadi calon yang paling berpontensi untuk menjadi Alpha berikutnya. Dan banyak serigala menargetkanku. Baik jantan atau betina. Mereka benar-benar bermaksud untuk membunuhku. Entah kebencian apa yang mereka miliki denganku. Mereka tidak terlalu peduli dengan gelar Alpha dan hanya ingin aku mati.
Aku berhasil membunuh setengah dari mereka. Tapi hal itu membuatku sekarat. Beberapa tulangku patah sementara buluku rontok di beberapa bagian. Beruntungnya, mereka memiliki kebencian yang cukup dalam denganku. Jadi mereka tidak langsung membunuhku dan memilih untuk menyiksaku secara perlahan-lahan. Setidaknya hal itu bisa mengulur waktu untuk bantuan. Meskipun aku ragu akan ada yang menolongku mengingat aku adalah saingan berat serigala lain.
Siksaan itu cukup berat. Ada yang membakarku hidup-hidup. Tapi aku berasal dari kaum Snow Howl Wolf. Dan itu cukup banyak membantu. Mereka memikirkan ide lain. Mereka mematahkan kakiku satu-persatu secara perlahan. Itu sakit. Sangat. Tapi aku rela mengulang hal itu agar Heihei menolongku. Tepat disaat aku benar-benar akan mati, aku melihat sosok hitam menerjang mereka yang menyiksaku. Dalam keadaan setengah sadar, aku melihatnya membantai mereka. Darah melompat kemana-mana. Dalam pertarungan itu ia juga terluka. Aku yakin lukanya cukup berat. Tapi aku tidak mampu lagi bertahan.
Dan pemandangan terakhir yang kulihat adalah wajahnya yang basah oleh darah mendekat. Wajahnya masih dingin. Tapi aku bisa merasakan kekhawatiran di dalamnya. Kata orang, Heihei adalah serigala keji yang tidak akan peduli pada siapapun. Dan aku tahu mereka salah. Heihei peduli. Hanya saja kau tak akan merasakannya. Dan aku adalah salah satu mahkluk beruntung yang menyadari kepeduliannya.
Aku terbangun sendirian. Di sekelilingku terdapat tubuh mereka yang menyiksaku tengah diam dan tak akan bisa bergerak lagi. Aku berdiri dan melihat beberapa herbal di tubuhku. Aku tahu siapa yang melakukan itu semua. Dan saat itu juga aku langsung menangis sekeras-kerasnya. Aku bukan menangis agar orang lain mendengar.
Aku menangis untuk meluapkan perasaanku. Aku menangis karena sadar bahwa aku mencintainya. Aku menangis karena aku akan selalu mencintainya. Aku menangis karena aku tidak akan bisa berhenti mencintainya apapun yang ia lakukan. Aku menangis pada langit karena ia memberikan takdir yang begitu kejam padaku. Aku menangis karena aku mencintainya sekalipun tahu ia tidak akan mencintaiku."
Pada saat itu Xuehao benar-benar menangis. Xika tidak tahu sejak kapan, tapi air mata telah mengalir di wajahnya begitu deras dan membawa kesedihan yang dialaminya selama bertahun-tahun. Ia juga bisa merasakan apa yang dirasakan serigala putih itu. Kesedihan akan cinta yang tak berbalas. Cinta dapat mengubah semua mahkluk bahkan yang paling kuat sekalipun menjadi lemah dan tak berdaya.
"Aku datang kesini untuk membicarakan satu hal. Aku mencintai Heiliao. Dan akan selalu mencintainya tidak peduli apapun yang ia lakukan. Tidak peduli apakah ia akan membalas cintaku atau tidak, aku akan selalu mencintainya. Tidak peduli sepedas apapun perkataannya, aku akan selalu mencintainya. Sampai akhir hayatku. Aku akan selalu mencintainya. Dan aku tak mengharapkan balasan. Tolong sampaikan hal itu padanya."
__ADS_1
Setelah itu Xuehao berlari pergi. Ia tidak menoleh untuk mengusap air matanya karena tahu tidak akan ada gunanya. Perbincangan hari ini sungguh menguras baik tubuh maupun jiwanya.