
DUAK!
Punggung Xika menabrak pohon karena tendangan pria bertopi bambu itu. Nafasnya tersengal-sengal, tubuhnya memiliki banyak memar, dan semakin lama keadaan akan semakin tidak menguntungkan bagi Xika. Sebaliknya, sosok bertopi bambu itu tidak terlihat kelelahan sama sekali.
"Xika.......kenapa ia hanya menggunakan tubuhnya saja? Kenapa tidak menggunakan elemen, kartunya, sayapnya, atau senjata-senjatanya yang lain?"
"..........."
Heiliao juga sama bingung dengan Huo Bing. Seandainya Xika menggunakan kekuatannya, mungkin ada kesempatan untuk mengalahkan sosok itu. Tapi anak itu tidak menggunakannya sama sekali. Bukan tak bisa, tapi tak mau. Beberapa kali ada jeda waktu yang memungkinkannya untuk mengambil senjata, tapi tak ia gunakan sama sekali.
DUAK!
Lagi, serangan pria itu berhasil mengenai Xika. Kali ini di pipinya, hingga kepalanya terasa pusing. Kakinya tak lagi bisa berdiri dengan benar dan ia harus menggunakan pohon untuk mencegah dirinya jatuh.
Belum sempat menarika nafas, Xika sudah mendapat serangan lain yang mendarat di perutnya. Dan serangan itu sukses membuatnya jatuh tersungkur.
"Sial, aku tak peduli siapapun pria itu, aku tak bisa membiarkan Xika seperti ini. Terakhir kali aku membiarkannya bertarung sendiri aku menyesalinya. Aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Heiliao hendak mencegah Huo Bing, tapi burung itu sudah terbang mendekati Xika. Ketika Huo Bing hendak mendaratkan cakarnya di sosok berjubah itu, Xika berteriak.
"HUO BING!"
SET!
Cakar Huo Bing hanya semili lagi dari leher pria itu tapi teriakan Xika menghentikannya. Burung itu menoleh dengan kesal dan menemukan Xika menggeleng dengan senyum yang dialiri air mata. Ia baru sadar bahwa sepanjang pertarungan, air mata Xika tak pernah berhenti mengalir.
SYUT!
Pria itu melayangkan tinjunya pada Huo Bing, tapi burung itu dapat menghindar dengan mudah. Ia hanya dapat menatap Xika tanpa kata. Bahkan dalam keadaan seperti itupun Xika masih menolak bantuan?
Sosok itu menatap Xika beberapa saat. Karena Xika tak memberikan perlawanan lagi, maka sosok itu berasumsi bahwa Xika sudah menyerah dan tidak berniat memasuki hutan ini lebih dalam. Jadi ia berbalik untuk mengambil pedangnya dan pergi. Namun saat tangannya menyentuh pedangnya, sebuah suara kembali terdengar,
"Aku belum selesai........ayah."
__ADS_1
Tap!
WHUS!
Sosok itu menendang tanah kemudian menusukkan pedangnya yang baru ia ambil menuju perut Xika. Saat sosok itu sedang mengambil pedangnya, Xika berhasil bangun dengan susah payah menggunakan pohon sebagai tumpuan.
JLEB!
Pedangnya menancapkan Xika pada pohon tempatnya bersandar. Tapi yang dilakukan Xika berikutnya malah membuat bingung semua pihak, termasuk pria bertopi bambu itu sendiri.
Xika memeluknya. Ia tak mempedulikan pedang yang menembus tubuhnya dan menancapkan dirinya pada pohon. Yang dilakukannya hanyalah memeluk sosok itu seerat mungkin seolah ia akan menghilang. Air mata mengalir. Tapi kali ini lebih deras dari sebelumnya. Xika tak lagi dapat membendungnya.
"AYAH!"
"Hiks.......hiks.........Aku sungguh........rindu........"
Sosok itu terlihat kebingungan ketika mendapat pelukan Xika. Kemudian ia menunduk dan akhirnya Huo Bing dapat melihat sedikit bagian dari wajah pria itu.
Senyumnya.
Akhirnya, sosok itu menghilang sepenuhnya dan tidak menyisakan apapun selain luka di tubuh Xika. Tangisannya makin keras. Bahkan hidungnya pun mulai berair. Xika meraih-raih udara dimana tubuh sosok itu berada sebelumnya, namun tak berhasil menggengam apapun.
"AHHHHHHH!!!!!!!"
Ia memukul tanah, menendangnya, melemparkannya ke udara tapi tak berhasil membawa sosok itu kembali. Ia benar-benar kehilangan kendali saat ini. Ia melampiaskan kesedihannya pada benda apapun yang ada didekatnya. Pohon yang sebelumnya menjadi tempat sandarannya kini memiliki banyak bolong bekas pukulan Xika. Entah darimana asal tenaganya itu.
WHUSH!
Huo Bing menutupi Xika dengan sayapnya seolah sedang memeluknya. Xika berusaha menolak, tapi tak lagi memiliki tenaga. Heiliao juga ikut menenangkan Xika. Ia melingkarkan ekornya pada leher Xika dan berusaha membuatnya berhenti menangis.
Beberapa saat kemudian, Xika akhirnya berhenti melawan dan menjadi lebih tenang meskipun air mata masih belum berhenti mengalir. Melihat Xika yang hanya diam saja, Huo Bing mengira anak itu tertidur jadi ia menaikkan Xika pada punggung Heiliao.
Serigala hitam itu memastikan Xika berbaring dengan nyaman sebelum melangkah lebih jauh. Tapi nyatanya Xika tidak tidur. Matanya terbuka lebar. Kemudian ia membuka mulutnya juga, hingga membuat kedua mahkluk lainnya kaget.
__ADS_1
"Bagi mereka............yang berhasil melewati semua jebakan.......dan berhasil mencapai bagian tengah hutan.....akan ada tantangan baru yang menunggu mereka......."
Suaranya terdengar lebih serak dibanding sebelumnya. Mereka tahu bahwa Xika memaksa dirinya untuk bercerita jadi mereka tak menyela sama sekali.
".......yaitu sesosok pria bertopi bambu.............yang merupakan perwujudan dari pemilik hutan ini.....hiks.....Sosok itu akan menyeleksi sendiri...........siapa yang layak melalui hutan ini.......Tapi sayangnya, ia terlalu kuat........untuk dikalahkan..........hiks......Ia tak akan kelelahan meskipun bertarung tujuh hari tujuh malam............dan ia mengganti gaya bertarungnya beberapa kali...........hingga tak ada seorangpun yang berhasil mengalahkannya.............
Tapi ada satu kelemahan yang hanya diketahui olehku.........hiks....anak dari pemilik hutan ini. Ia akan menghilang....... setelah seseorang memeluknya...........Dan hanya aku yang berhasil memeluknya........"
Xika berhenti seolah memastikan bahwa Heiliao dan Huo Bing mendengarnya. Kemudian anak itu mengalihkan pandangannya menuju langit yang dipenuhi pepohonan rimbun.
"Kau lihat? Aku berhasil mengingatnya.......bukankah ini sudah cukup? Tidak bisakah kau keluar sekarang? Bukankah kau sudah berjanji? Kita akan ke tempat ini bersama. Kita akan piknik bersama. Aku akan melihatmu bernostalgia dengan ibu. Bukankah itu yang kau janjikan? Kenapa aku tidak melihatmu sama sekali?"
Air mata kembali mengalir di wajah Xika. Dalam hatinya ia sungguh berharap bahwa ini semua adalah permainan ayah dan ibunya; lalu menunggu mereka mengatakan bahwa tahun-tahun yang ia jalani hanyalah mimpi buruk dan ia akan segera bangun.
Tapi tidak. Semua yang telah ia lalui itu nyata. Tahun-tahun yang bagaikan mimpi buruk itu benar-benar terjadi dan saat ini tidak ada siapapun dalam hutan ini selain mereka bertiga. Memikirkan hal itu membuat hatinya sangat sakit seolah teriris menjadi ribuan keping.
Huo Bing dan Heiliao hanya diam seribu bahasa. Mereka tak tahu harus berkata apa dan tak tahu bagaimana cara menghibur anak itu. Tapi setidaknya, sedikit teka-teki yang menghiasi kepala mereka selama ini telah terjawab. Alasan kenapa Xika begitu familiar dengan tempat ini karena ayahnyalah yang membuat hutan ini dan ia menceritakan hutan ini sebagai cerita tidur pada putranya.
Mungkin, dulu ayahnya berjanji akan kembali ke tempat ini bersamanya dan melakukan banyak hal yang menyenangkan. Tapi sayangnya hal itu tak pernah terjadi. Alih-alih ayah dan ibunya, Xika justru datang ke tempat ini dengan di temani oleh seekor serigala dan roh burung campuran.
Waktu berlalu dalam keheningan. Heiliao terus berjalan maju karena Xika tak memberikan arahan. Dalam hati ia berharap arah yang ia tempuh benar.
"Dalam tujuh meter ke depan, tahan nafasmu dan larilah secepat mungkin." ucap Xika memecah keheningan yang telah berlangsung cukup lama. Tapi setelah itu ia tak mengatakan apapun lagi.
Meskipun masih bingung, Heiliao tetap mengikuti arahan Xika. Ia menghirup nafasnya sebanyak mungkin kemudian menahannya. Lalu ia menekuk kakinya dan mulai berlari secepat yang ia bisa. Sedetik berlalu dan Heiliao mengerti alasan Xika memintanya menahan nafas.
Ia melihat kabut yang sama dengan kabur yang menyelimuti hutan ini tapi jauh lebih tebal. Hanya butuh tiga detik dan dua langkah bagi serigala besar itu untuk berlari menembus kabut. Dan pemandangan di balik kabut itu membuat ketiga pendatang itu membelalakkan mata mereka.
Pemandangan yang menanti mereka sungguh diluar dugaan. Di balik hutan bambu yang dipenuhi kabut nan misterius itu terdapat ladang bunga yang membentang sejauh mata memandang. Tiap-tiap bunga memiliki warna yang berbeda, namun mereka semua berasal dari jenis yang sama.
"Ibu......?"
Ladang bunga itu mengingatkan Xika pada ibunya. Semua bunga yang ada di taman itu merupakan jenis yang sama yang disukai ibunya. Dulu ada beberapa bunga sejenis yang tumbuh di depan halaman rumah mereka sebelum Tian Yin si bajingan itu merusak semuanya.
__ADS_1
"Yoo....Taiyang! Apa itu kau?"