
"Sebenarnya di mana letak tempat itu? Kenapa kau malah bersantai di sini?" tanya Huo Bing kesal setengah mati.
Wajar saja, siapapun yang mengetahui kabar adanya tanaman spiritual langka yang bisa membantu mereka menerobos pasti ingin segera mengambilnya secepat mungkin. Tapi Qing Hu saat ini sedang bersantai di sebuah restoran mewah.
"Jangan terburu-buru~ Kita tak bisa bertarung kalau kita kelaparan. Kenapa kau tidak bisa bersantai sedikit sih? Ini, cobalah satu. Jangan khawatir, aku yang bayar."
Huo Bing mengabaikan makanan yang disodorkan Qing Hu. Ia hanya menatap gadis itu dengan tajam.
"Kalau kau berbohong padaku, aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri."
"Itu bukanlah hal yang harusnya kau ucapkan ketika sedang makan berdua dengan seorang gadis cantik tahu! Huh, kalau kau tidak percaya padaku kenapa kau mengikutiku? Pergi saja! Aku bisa mencari pria lain!"
Huo Bing mencibir, tapi ia tetap tak bergerak. Bagaimanapun juga, godaan akan Flaming Dragonfruit dan Blizzard Peach tidak dapat ia tahan. Sekalipun mencurigakan, ia harus memeriksanya sendiri. Kalau ternyata bohong, ia tinggal membunuh Qing Hu. Enteng.
Qing Hu makan dengan lahap sampai sekeliling mulutnya belepotan. Kalau Xika melihat ini, ia akan meyakini bahwa yang dijuluki Empat Gadis Tercantik sebenarnya hanyalah empat gadis yang tak memiliki urat malu.
Selesai makan, Qing Hu menyerahkan sapu tangan pada Huo Bing dan memajukan wajahnya.
"Untuk apa sapu tangan ini?"
"Kau benar-benar tidak peka, ya. Kau tidak lihat remah-remah makanan di mulutku? Ini kesempatanmu untuk membersihkan mulutku layaknya adegan-adegan romantis."
Huo Bing menatap sapu tangan dan wajah Qing Hu secara bergantian beberapa kali sebelum melemparkan sapu tangan itu begitu saja ke wajah Qing Hu.
"Kalau sudah selesai makan cepat pergi."
"Benar-benar dingin." ucap Qing Hu sambil membersihkan mulutnya sendiri. Setelah itu ia buru-buru keluar melihat tatapan Huo Bing yang sepertinya akan memakan dirinya bila terlambat keluar sebentar lagi.
Saat ini keduanya sedang berjalan di jalanan yang cukup ramai. Mereka sudah keluar dari Akademi beberapa saat lalu. Sepanjang jalan, Huo Bing terus-menerus mempertanyakan tindakannya. Apakah seharusnya ia tidak mengikuti gadis ini?
Qing Hu menatap Huo Bing dengan bingung. Seingatnya, dulu Huo Bing tidak sependiam ini. Apa yang terjadi?
"Hei, kau tidak penasaran darimana aku mendapatkan informasi mengenai buah itu?" Qing Hu berusaha memulai topik pembicaraan.
"Aku lebih penasaran kenapa mulutmu tidak bisa diam."
"Huh!" Qing Hu tadinya hendak mengatakan bahwa Huo Bing seharusnya bersyukur dapat berjalan berdua saja dengan dirinya, tapi mendadak dirinya teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Ia langsung menutup mulutnya dan melihat sekelilingnya, takut kalau-kalau ada penggemarnya yang akan menyerang Huo Bing.
"Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau begitu kuat? Padahal kau kan baru masuk Akademi."
"Karena aku banyak memakan gadis menyebalkan sepertimu."
Qing Hu menghentakkan kakinya kesal. Ia memalingkan mukanya berharap Huo Bing akan minta maaf, tapi nyatanya burung itu terus berjalan maju. Gadis itu buru-buru mengejar Huo Bing.
"Hei, hei. Mengapa kau selalu bersama dengan Xika dan pria satunya lagi? Sebenarnya apa hubunganmu dengan mereka?"
"Itu bukan urusanmu."
Qing Hu menghela nafas gusar. "Astaga! Kau benar-benar membuatku gila! Kenapa kau selalu bersikap seperti itu padaku? Tak bisakah kau memperlakukanku lebih baik? Apa aku sebegitu tidak menariknya?"
"Jujur, aku tak terlalu tertarik dengan wanita gembel berbaju tipis."
"Apa kau bahkan laki-laki?!"
Sejujurnya, Huo Bing adalah burung jantan.
"Kenapa aku harus memperlakukanmu dengan baik? Memangnya kau siapa?"
Ucapan Huo Bing itu bagaikan tamparan keras di wajah Qing Hu. 'Memangnya kau siapa?' kalimat itu terus-menerus bergema di kepala gadis itu.
__ADS_1
Huo Bing melirik Qing Hu yang berjalan sambil membisu. Kelihatan sekali gadis itu terguncang dengan apa yang barusan dikatakannya. Burung itu menghela nafas. Sepertinya ia agak kelewatan.
"Lupakan saja. Aku tak berniat mencari cinta. Sebaiknya kau berhenti menggangguku."
Mendengar kalimat Huo Bing berikutnya, cahaya kembali muncul di mata Qing Hu.
"Kenapa? Bukankah setiap mahkluk hidup diciptakan berpasangan satu sama lain? Dan tujuan kita itu adalah untuk menemukan pasangan kita?"
Mata Huo Bing kembali menerawang ke masa lalu.
"Diciptakan berpasangan, ya?"
Ia kembali mengingat hari-hari yang ia lalui bersama Gu Xun, si elang yang menawan. Itu adalah salah satu momen terindah yang pernah ia alami. Kalau bisa, ia ingin mengulang waktu itu sebentar saja. Ia masih mengingat kenangan bahagia itu seolah baru kemarin ia melaluinya.
Sayangnya ia tak mengingat dengan jelas bagaimana kematian Gu Xun. Yang ia ingat hanyalah tubuh gosong Gu Xun yang sudah tak bernyawa dan tumpukan mayat yang tak lagi penting. Kalau memang tiap mahkluk diciptakan berpasangan, pasangannya sudah tiada.
"Aku tak tertarik." balas Huo Bing setelah diam cukup lama.
"Tapi, kenapa? Apa kau tak pernah berpikir untuk membentuk sebuah keluarga yang indah? Untuk menikmati masa-masa tuamu dengan memperhatikan anak cucumu tumbuh bersama dengan pasanganmu?"
Huo Bing kembali terdiam. Bayangan dirinya bersama Gu Xun melihat anak-anak mereka tumbuh bersama. Mengajari bayi-bayi mereka terbang, berkultivasi, dan memarahi mereka bila salah. Itu pasti akan menyenangkan. Namun, ingatan akan tubuh gosong Gu Xun kembali muncul. Dan semua bayangan indah itu mendadak sirna.
"Aku adalah kultivator. Seluruh hidupku ditakdirkan untuk tidak pernah damai. Termasuk dalam masa tuaku sekalipun."
Tampaknya Qing Hu menyadari perubahan suasana hati Huo Bing, jadi gadis itu tak menanyakan apa-apa lagi untuk waktu yang lama.
Akhirnya mereka sampai di gerbang kota.
"Berhati-hatilah. Di luar, ada lebih banyak bahaya dari yang kau sangka." Qing Hu memperingati.
Huo Bing memutar bola matanya. Tentu saja ia tahu. Ia sudah hidup di alam liar lebih lama daripada hidup Qing Hu sekalipun dikali dua.
Qing Hu memimpin Huo Bing memasuki hutan yang tampaknya sudah ia lalui ketika pertama kali datang bersama Xika. Tapi gadis itu membawanya menuju rute yang berbeda yang tidak ia ketahui. Ketika hari sudah gelap, lolongan hewan buas mulai terdengar.
"Kalau ada hantu atau hewan buas, aku akan melemparmu lebih dulu ke dalam mulut mereka." balas Huo Bing tak peduli. Lagipula aku ini sebenarnya adalah hantu sekaligus hewan buas.
Tak lama kemudian, Huo Bing menepati ucapannya.
Beberapa Phantom Tiger muncul dari balik pohon. Masing-masing memiliki panjang 2-3 meter. Seluruh tubuh mereka berwarna hitam pekat yang sulit dilihat di tengah kegelapan seperti ini. Kalau bukan mata Huo Bing yang tajam, mereka pasti sudah berada di perut Phantom Tiger sebelum menyadari kemunculan mahkluk itu.
"Lima Phantom Tiger dewasa . Masing-masing setara dengan Kultivator di tahap Forming Qi 8.
"E-eh?" Qing Hu menoleh sekelilingnya. Butuh beberapa waktu baginya untuk menyadari beberapa pasang mata yang tengah menatapnya dengan haus darah.
"A-apa yang harus kita lakukan?" tanyanya gugup.
Huo Bing mengerutkan keningnya. "Kita?"
Qing Hu langsung menatap Huo Bing dengan kaget. Tapi sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, Huo Bing sudah memegang kerah bajunya seperti anak kucing, lalu melemparkannya tepat ke tengah-tengah para Phantom Tiger itu.
"HEAH!"
"AHHHH!!!!"
Qing Hu jatuh tepat ke depan seekor Phantom Tiger. Ia menutup matanya tak berani melihat apa yang terjadi. Sesuatu menetes mengenai pipinya dan membuat tubuhnya semakin gemetaran.
Tapi setelah menunggu beberapa saat, ia tak merasakan sakit kecuali memar karena lemparan Huo Bing. Lalu ia mencium bau darah samar. Apa ia mati tanpa merasakan sakit? Tapi mati tanpa mengetahui bagaimana ia mati sepertinya terdengar cukup buruk. Jadi secara perlahan, ia memberanikan dirinya untuk membuka mata.
Dan apa yang didapati matanya sungguh mengejutkan hingga hampir tak bisa dipercaya.
__ADS_1
Phantom Tiger yang berdiri di depannya kini sudah tak memiliki kepala lagi. Bukan hanya Phantom Tiger yang di depannya saja, tapi juga para Phantom Tiger yang lain sudah bernasib sama. Ia bahkan melihat salah satu kepala menggelinding tidak jauh darinya.
"Sudah selesai tidurnya? Hari masih belum terlalu gelap. Kau harus terus memimpin jalan."
Qing Hu sontak menoleh pada Huo Bing, yang tengah bersandar di sebuah pohon sambil menatap dirinya dengan malas.
"Kau......." Qing Hu tak mampu berkata-kata.
Tampaknya Huo Bing tahu apa yang dipikirkan Qing Hu.
"Tadi ada seekor burung aneh yang membunuh semua Phantom Tiger itu. Karena sudah tak ada bahaya, ayo jalan lagi." Yang dikatakan Huo Bing memang benar. Karena burung aneh yang ia sebut tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri. Bagaimanapun juga Cygnix memang burung yang aneh.
Qing Hu masih tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi, tapi pokoknya sudah selesai apapun itu.
"Apa kau........baru saja menyelamatkanku?" tanya Qing Hu ragu-ragu.
"Bukan. Sudah kubilang tadi ada burung yang membunuh Phantom Tiger itu."
"Terima kasih." Qing Hu memutuskan bahwa Huo Binglah yang baru saja menyelamatkannya.
"Karena telah melemparmu? Sama-sama. Berikutnya aku pasti akan melemparmu lagi. Siapkan lehermu baik-baik ya."
-----------------------------------
Sementara itu, Xika baru selesai bertarung dengan lawannya. Sekalipun hari sudah gelap, tapi masih ada cukup banyak penonton yang tertarik melihat pertarungannya. Pelan-pelan, mereka mulai menyukai Xika dan menerima keberadaannya, meskipun masih banyak juga yang menghinanya.
Beberapa murid berbisik satu sama lain dengan penasaran.
"Dia benar-benar hebat. Berapa banyak lawan yang telah ia kalahkan? Sepuluh? Dua puluh? Aku bahkan tak bisa menghitungnya."
"Siapa sebenarnya dia?"
Di sebelah mereka, Liu Shang berbicara.
"Heh, sudah kubilang namanya adalah Yin Xingli."
Tapi tak ada yang percaya padanya. Mereka yang mendengar ucapannya hanya melihat Liu Shang seolah pria itu gila. Xika jadi tidak enak hati karenanya.
Setelah beberapa pertarungan lagi, Pengawas Arena membubarkan semua orang, baik peserta maupun para penonton.
"Sudah larut malam. Kembali lagi besok."
Banyak orang bersorak kecewa, tapi tak ada yang berani membantah sang Pengawas Arena. Bagaimanapun juga Arena ini dibuka dan ditutup setiap hari di waktu yang sama. Semua orang sudah mengetahui hal itu. Lagipula, kalaupun mereka menolak untuk kembali, pertarungan di arena tetap tidak bisa dijalankan tanpa adanya pengawas. Dan tanpa sang Pengawas Arena, jalannya pertarungan pasti akan dipenuhi dengan kecurangan.
Xika juga kembali bersama dengan yang lainnya. Heiliao masih setia dalam bayangannya. Tepat ketika ia hendak pergi, sang Pengawas Arena menghentikannya.
"Tiga puluh tujuh pertarungan. Tiga puluh tujuh kemenangan. Tiga Pil Forming Cloud." ucapnya sambil menyerahkan tiga benda berukuran kecil namun mengandung aura spiritual yang luar biasa.
"Eh? Ada hadiah?"
Sang Pengawas Arena mengerutkan keningnya. "Kau pikir kenapa semua orang hendak bertarung di sini?"
Xika ingin menjawab, 'untuk memperbanyak pengalaman bertarung tentu saja' tapi karena ia takut hadiahnya dibatalkan ia diam saja.
Setelah itu sang Pengawas Arena pergi meninggalkan Xika sendiri. Anak itu menatap arah perginya Huo Bing, bertanya-tanya apa yang sedang burung itu lakukan. Ia penasaran. Huo Bing dan Qing Hu. Siapa yang lebih menyebalkan?
Sambil memikirkan itu, ia berjalan kembali ke Jade Village. Hari ini sudah penuh dengan banyak hal tak terduga. Jujur saja, ia benar-benar berharap malam ini berjalan dengan damai. Mungkin ia bisa tidur dengan tenang atau berkultivasi dan mencoba menerobos ke Foming Qi 7.
Sayangnya, takdir berkata lain. Xika benar-benar ingin menghajar takdir.
__ADS_1
Di depan gerbang Jade Village, berdirilah seorang wanita cantik nan dewi yang tak memiliki ekspresi. Wanita yang belum ia temui lagi sejak Wu Lio memeluknya. Wanita yang meminta Xika untuk tidak meninggalkannya, namun menghilang tanpa bisa Xika temukan. Wanita itu kini tengah menatapnya.
Yin Xingli.