
Xika tersenyum dalam hati. Melihat ekspresi marah Tian Li dan ketidakberdayaan di wajah Zhen Fang, sepertinya ini sudah cukup. Ia hanya asal bicara agar tidak terlihat seperti orang rendahan yang akan langsung menyetujui kerja sama apapun yang diajukan.
Lalu bagaimana dengan omong kosongnya tentang keluhan di masa lalu? Heh. Ia tidak terlalu peduli. Immortal Pearl Pavillion sudah menjadi musuhnya sejak lama. Membicarakan Immortal Pearl Pavillion, ia jadi teringat akan pertarungannya dengan Tian Yin si bajingan sialan.
Setelah pertarungan itu usai, ia sempat merenungkan kejadian itu selama beberapa saat. Pertarungan itu, dan beberapa kejadian sebelumnya. Salah satunya adalah momen ketika ia berada di Immortal Pearl Pavillion. Pada saat itu, Gong Tao sang Kepala Cabang yang penasaran akan identitas Xika akhirnya meminta anak buahnya menyelidiki Xika.
Dan Huo Bing berhasil membaca laporan yang diterima Gong Tao dengan menyebarkan auranya. Dari burung itu, Xika jadi tahu berapa banyak informasi yang diketahui Gong Tao. Kejadian yang diketahui Gong Tao itu membuat Xika bertanya-tanya.
Ia mengetahui informasi tentang Xika ketika ia tinggal di klan pamannya. Harusnya tak ada yang tahu tentang hal itu. Mengapa? Karena dulu ia tidak diperbolehkan untuk berjalan ke desa tetangga. Kata Fa Daihai, ia hanya akan membawa aib bila keberadaannya diketahui desa sebelah. Jadi tidak mungkin dari desa sebelah.
Selain itu, hanya satu orang yang bertahan dari penyerangan tersebut. Pamannya, Fa Diala. Kecuali pamannya memberi tahu anak buah Gong Tao informasi terkait dirinya-yang adalah tidak mungkin-tidak ada jalan lain bagi Gong Tao untuk mengetahui hal tersebut.
Kecuali.......ada satu orang lagi yang mengetahui hal tersebut. Hei Bao. Anjing setia Tian Yin. Xika ingat bahwa Hei Bao mengetahui identitasnya. Selain Hei Bao, Xika tak bisa memikirkan orang lain yang mengetahui identitasnya. Jadi, adalah mungkin untuk menyimpulkan bahwa Gong Tao mendapat informasi tersebut dari Hei Bao.
Yang berarti, Gong Tao telah bekerja sama dengan Hei Bao. Juga, sebelumnya ia sempat melihat Hei Bao menuju Immortal Pearl Pavillion, tapi tidak menemukannya di mana-mana sekalipun ia sudah mencari di seluruh lantai Pavillion. Besar kemungkinan bahwa Hei Bao dan Tian Yin telah bekerja sama dengan Gong Tao atau Immortal Pearl Pavillion sejak lama.
Artinya, Immortal Pearl Pavillion adalah musuhnya juga. Teman dari musuhku adalah musuhku.
Jadi sejak awal ia memang tak berniat memperbaiki hubungan dengan Immortal Pearl Pavillion. Ia hanya mengatakan hal-hal tadi hanya untuk sekedar basa-basi. Ia ingin membuat kesan Zhen Fang terhadapnya semakin samar. Apalagi, Zhen Fang masih tidak mengetahui ia berasal dari Akademi sampai saat ini.
Mungkin, responnya terhadap Xika akan berbeda bila ia mengetahui Xika berasal dari Akademi. Yang pasti, Xika ingin membiarkan keadaan tetap seperti ini, dimana musuhnya tidak mengetahui identitasnya yang sebenarnya.
"Hmm......8 besar kedengarannya lumayan juga. Baiklah, Tuan Muda Zhen Fang, kupegang janjimu yang akan membawaku sampai 8 besar. Tapi tolong diingat, kalau kau gagal membawaku masuk 8 besar, maka aku akan membuatmu menemaniku." ucap Xika memberikan senyum lembut yang menambah kesan pada ancamannya.
"Hahahaha......tentu saja saya akan menepati janji saya. Anda tidak perlu khawatir. Kalau begitu apakah anda setuju bekerja sama dengan saya?"
"Tentu."
"Kalau begitu, boleh saya tahu nama anda?"
Untuk sesaat, benak Xika bekerja dengan sangat cepat. Ia dihadapkan pada dua pilihan. Haruskah ia menjawab dengan nama aslinya? Atau berbohong saja? Ada kemungkinan identitasnya berasal dari Akademi akan diketahui bila ia menjawab dengan nama aslinya.
Tapi setelah ia berpikir lagi, sebenarnya tak ada masalah sekalipun Zhen Fang tahu ia berasal dari Akademi. Jadi Xika menjawab,
"Xing Xika."
__ADS_1
Zhen Fang mengangguk sambil tersenyum sopan. Dalam hati, ia berusaha meningat nama Xika. Rasanya ia pernah mendengar nama itu, namun ia lupa dimana. Sebaliknya, Tian Li justru memberikan reaksi. Matanya membelalak lebar ketika mendengar nama Xika. Tapi dengan cepat ia sembunyikan.
Di dalam hatinya, hasrat untuk mengalahkan Xika semakin besar. Alasannya bukan karena pria itu telah mengganggu pertarungannya, tetapi karena pria itu adalah Xing Xika.
"Saudara Xing, kalau begitu. Tidak perlu terlalu formal, kau juga bisa memanggilku Saudara Zhen. Bagaimana kalau kita mencari finalis lainnya bersama?"
Tian Li hanya diam acuh tak acuh. Tapi melihat dirinya tak memberikan protes, Zhen Fang menganggapnya sebagai persetujuan. Ia melirik Xika dan mendapatkan anggukan sebagai persetujuan.
Jadi, ketiganya pergi bersama untuk mencari finalis yang layak sekaligus mengeliminasi mereka yang tidak layak. Sambil berjalan, Xika menanyakan hal yang membuatnya penasaran.
"Saudara Zhen, kalau boleh tahu, berapa banyak finalis yang sudah kau kumpulkan selain kami?"
"Hm, selain kalian aku baru mengajak seorang. Kalian pasti tahu namanya, Han Feng dari Burning Abyss Clan."
"Ho? Kau berhasil membujuk orang sombong seperti dia?" Tian Li bertanya dengan sebelah alisnya terangkat dan sebuah senyum yang terkesan sombong.
Xika menatap Tian Li dan berpikir bahwa sebenarnya Tian Li tidak memiliki hak untuk mengatai orang lain sombong. Tapi, ia juga cukup terkejut dengan fakta bahwa Zhen Fang berhasil mengajak Han Feng bergabung. Harus ia akui, Han Feng memang sombong, setara dengan Tian Li kurang lebih.
Selain itu, kekuatan Han Feng harusnya tidak bisa diremehkan. Bagaimanapun juga, ia berhasil membuat beberapa orang bekerja untuknya, padahal baru beberapa saat setelah ujian dimulai. Saat ini, entah berapa banyak orang yang berhasil ia taklukan.
"Ahahaha.......Saudara Tian terlalu memuji." ucap Zhen Fang sambil lalu. Ia hanya memberikan senyum kering sebagai tanggapan untuk Tian Li.
"Apa saudara Zhen sudah memiliki nama untuk diajak bergabung?"
"Saudara Xing memang cepat tanggap ya. Kau benar, aku memiliki satu nama, untuk saat ini, yang menurutku layak untuk bergabung bersama kita."
"Heh. Di Lang dari Di Clan. Benar kan?" Nampaknya Tian Li tidak ingin terlihat lebih bodoh dari Xika, jadi ia menjawab cepat-cepat sebelum Xika menjawab.
"Tepat sekali. Selain Di Clan, sebenarnya aku juga ingin mengajak perwakilan dari Akademi. Namun, aku tidak tahu identitasnya."
"Bahkan Immortal Pearl Pavillion tidak dapat mengetahui identitas dari perwakilan Akademi?" tanya Tian Li penasaran, tapi masih dengan gaya sombongnya.
"Ahahaha.......Sebenarnya untuk urusan kali ini aku tidak melibatkan Paviliun. Aku baru menyelidikinya dengan kemampuanku sendiri."
"Begitu.....pantas saja." Tian Li mengangguk-ngangguk mengerti.
__ADS_1
Xika hanya diam menyimak pembicaraan keduanya. Tidak seperti Tian Li yang kelihatan sekali tak ingin kalah, Xika lebih memilih untuk menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Tampaknya Zhen Fang ini berencana mengajak mereka yang berasal dari sekte-sekte besar sebagai permulaan.
Kemudian, untuk sisanya, barulah ia mengamati pertempuran tiap sekte satu-persatu. Yah, kalau mereka berhasil mengajak Di Lang, maka sebenarnya semua sekte besar sudah berkumpul, kalau ia tidak salah ingat jumlah sekte besar. Tapi itu berarti, Zhen Fang masih tidak mengetahui dirinya berasal dari Akademi, mendengar perkataannya barusan.
Entah apakah Tian Li tahu atau tidak. Xika sempat menangkap Tian Li membelalakkan matanya ketika mendengar namanya, meskipun ia tidak tahu kenapa. Tapi kalaupun Tian Li tahu Xika berasal dari Akademi, setidaknya ia tidak memberitahu Zhen Fang.
Selain itu, ia juga mendapati sedikit kesombongan dalam nada bicara Zhen Fang. Yah, nampaknya sombong merupakan hal yang wajar ditemui dalam diri para jenius. Ia merasakan kesombongan Zhen Fang ketika Tian Li terkejut bahwa Paviliun tidak mengetahui identitas perwakilan Akademi.
Perkataan Tian Li itu terdengar seakan meremehkan Immortal Pearl Pavillion. Zheng Fang langsung menyanggah perkataan Tian Li itu dan mengatakan bahwa semua ini hanya hasil dari penyelidikannya sendiri. Dari hal itu terlihat jelas bahwa Zhen Fang tak rela klannya diremehkan. Yah, kesombongan Zhen Fang memang sudah terlihat dari baju yang dikenakannya sih.
"Ngomong-ngomong, Saudara Zhen berniat mengajak serta berapa orang?"
"Hm, biar kuhitung. Saat ini kita bertiga, ditambah Han Feng, lalu kalau Di Lang juga setuju totalnya sudah lima orang. Dan kalau kita berhasil menemukan dan mengajak perwakilan dari Akademi maka hasilnya enam orang. Sepertinya aku hanya butuh 16 orang. Artinya kita tinggal mencari sepuluh orang lagi yang layak, dengan asumsi Di Lang dan Perwakilan Akademi itu setuju."
Xika dan Tian Li sama-sama mengangguk mendengar hitungan Zhen Fang. Meskipun dalam hati Xika merasa agak lucu mendengar Perwakilan Akademi disebut berulang-ulang.
Sudah beberapa jam mereka berjalan, namun tidak menemukan orang yang layak. Mereka melewati dan mendengar beberapa pertarungan. Tapi tanpa perlu diamati dengan seksamapun ketiganya tahu bahwa level mereka berbeda dengan pertarungan semacam itu. Jadi mereka langsung meneruskan perjalanan dengan cepat.
Matahari sudah semakin rendah ketika mereka mendengar suara pertarungan. Dan pertarungan kali ini, levelnya jelas berbeda dengan pertempuran-pertempuran sebelumnya yang mereka lewati. Jadi ketiganya bergegas mendekat.
Xika berjalan di belakang Zhen Fang karena ingin melihat bagaimana cara pria itu mengendap-endap di pertarungannya sebelumnya. Sementara Tian Li, ia berjalan di belakang Xika. Melihat betapa tidak mau kalahnya ia dari Xika rasanya aneh saat ini ia mau berada di belakang Xika dengan diam tanpa protes.
Sepertinya Tian Li memiliki tujuan lain untuk berada di belakang Xika. Mungkin ia juga berniat mengamati Xika, sama seperti Xika mengamati Zhen Fang? Siapa tahu.
Beruntungnya, pertarungan yang mereka dengar merupakan pertarungan dari orang yang dicari-cari, yaitu Di Lang dari Di Clan. Yah, memang tidak banyak sih peserta yang dapat membuat dampak pertarungan seperti ini. Selain mereka yang berasal dari sekte besar, hanya segelintir orang yang mampu melakukannya.
Di sekitar Di Lang, duri-duri tanaman tumbuh mengelilinginya, kemudian memanjang dan menusuk tubuhnya sendiri. Untuk sesaat, baik Xika, Tian Li, Zhen Fang maupun lawannya sama-sama terkejut. Kemudian tubuhnya yang penuh dengan duri itu mendadak menghilang.
Di Lang muncul di belakang lawannya dalam sekejap dan dari tangannya, keluarlah akar berduri yang langsung menusuk perut lawannya.
"Ohok!"
Lawannya menatap dadanya dengan kaget. Kemudian ia berbalik dan menemukan Di Lang dengan tatapan yang akan menghabisinya bila ia tak segera menyerah. Jadi cepat-cepat ia menyalakan jimatnya dan segera keluar dari babak kedua.
"Oi kalian! Masih tidak mau keluar? Haruskah aku ke sana?"
__ADS_1
Sepertinya keberadaan mereka juga sudah diketahui oleh Di Lang. Seperti yang diharapkan dari seseorang yang berasal dari sekte besar.