Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-98


__ADS_3

Xika mengangkat tangannya. Dan bola-bola apipun berhenti.


Tian Yin kembali terkejut.


Xika mendorong tangannya dan bola-bola api itu kembali ke Tian Yin. Serangan itu tidak berhasil, tentu saja. Bola-bola api itu menguap seketika setelah ia sadar.


Seingatnya, Xika belum mulai berkultivasi ketika mereka pertama kali bertemu. Setelah itu pun, Xika tidak berkultivasi selama sepuluh tahun. Ia tahu hal itu dari laporan Hei Bao yang berhasil mengetahui identitas Xika. Hei Bao memberinya laporan itu. Entah dari mana ia mendapatkannya. Tapi kerjanya cukup bagus.


Tapi di laporan itu ada bagian yang janggal, tentu saja. Mereka mengatakan bahwa Xika sempat menghilang beberapa kali. Apakah mungkin ia mendapatkan sesuatu selama ia menghilang? Tapi hal apa yang didapatnya sampai bisa membuatnya mencapai Forming Qi dalam satu tahun?


Apa mungkin ia belum sampai Forming Qi? Tapi bagaimana bisa ia berkomunikasi dengan elemen angin kalau ia belum di tahap Forming Qi?


Pada saat Tian Yin memikirkan hal itu, terlintas sebuah pikiran yang langsung ia tepis keras. Tidak mungkin Xika jenius. Kalaupun benar jenius, bocah itu tak akan melebihi dirinya. Tak akan mungkin.


Selagi Tian Yin tengah berpikir, ia memperlihatkan beberapa celah yang tidak disia-siakan Xika. Anak itu menunggu momen yang tepat sebelum meluncurkan serangan.


Ia melapisi tangannya dengan air kemudian menghantamkannya kuat-kuat ke wajah Tian Yin. Kenapa air? Bukankah air bersifat menyembuhkan? Kenapa tidak elemen api saja? Atau elemen lain yang memiliki kekuatan dekstruktif?


Tentu saja Xika tahu jawaban dari pertanyaan tadi. Ketika tangannya meninggalkan wajah Tian Yin, air di tangannya tidak. Air itu tetap di wajah Tian Yin dan membuatnya tidak bisa bernafas. Ketika Xika mengarahkan tinjunya, ia memperhitungkan sudutnya dengan matang sehingga air di tangannya dapat mengganggu Tian Yin. Dan bukan hanya itu saja yang dilakukan airnya. Selain mencegahnya bernafas, air itu juga masuk ke mata dan telinga Tian Yin, mengganggu penglihatan dan pendengarannya.


Tapi ada yang aneh. Tian Yin tidak menutup matanya atau mengerutkan keningnya seperti orang lain ketika ada hal tak terduga yang terjadi. Pada saat Xika menyadari hal itu, ia mulai menjaga jarak dengan Tian Yin.


Keputusan Xika terbukti benar. Beberapa saat setelah ia mengambil jarak, Tian Yin menarik semua air di wajahnya kemudian meremasnya sampai menghilang.


"Heh."


Tian Yin hanya tersenyum sinis.


"Kau bisa menggunakan elemen angin dan air? Lumayan. Tapi bukan kau saja yang memiliki dua elemen."


Raut wajah Xika memburuk mendengar ucapan Tian Yin. Pemuda berbaju merah itu merentangkan kedua tangannya, Kemudian dari pangkal lengannya, api muncul dan menjalari tangan kanannya. Hal yang sama terjadi di tangan kiri, hanya saja elemen yang merayapi tangannya bukanlah api melainkan air.


Wu Liao yang menjadi penonton di samping hanya bisa terkejut menyaksikan dua fakta mengejutkan di depannya. Ia memang sudah tahu bahwa Tian Yin adalah kultivator tipe api. Tapi ia tidak tahu bahwa Tian Yin juga bisa mengggunakan elemen air.


Sama halnya dengan Xika. Wu Liao sudah menduga bahwa Xika merupakan kultivator tipe angin. Ia menebaknya ketika melihat Xika berpindah tempat secepat itu. Ditambah bola api Cao Ping bergerak ke arah yang tidak seharusnya. Tapi ketika melihat Xika melayangkan tinjunya dengan dilapisi air, Wu Liao baru menyadari bahwa ia menemukan jenius lain yang setara dengan Tian Yin. Tidak, mungkin lebih.


Xika hanya diam melihat kedua tangan Tian Yin yang dilapisi dua elemen itu. Tian Yin mengira bahwa Xika terlalu terkejut. Jadi dengan senyum sombong ia melangkah pelan-pelan menuju Xika.


Sampai jarak mereka kurang dari satu meter, Xika masih tidak melakukan apapun. Tian Yin hanya tersenyum sinis. Ia mengangkat kedua tangannya bersamaan kemudian melayangkannya menuju Xika.


Tapi yang dilakukan Xika berikutnya mengejutkan baik Tian Yin, Wu Liao, maupun Gong Tao yang menonton di kejauhan.


Tangan Tian Yin hanya berjarak beberapa centi lagi ketika tanah di bawahnya mendadak bolong dan membuat dirinya jatuh.


"Aku tidak pernah bilang aku menguasai dua elemen."


Di dalam lubang, Tian Yin menggertakkan giginya. Baik, kau menguasai tiga elemen. Lalu apa? Belum tentu kau menguasainya sebaik diriku. Ia kembali berdiri.


Ketika Tian Yin tinggal sedikit lagi untuk keluar dari lubang buatan Xika, sebuah tinju berapi menghantam wajahnya dan membuat dirinya kembali terhempas ke bawah.


Xika menarik kembali tangannya yang membara setelah sukses mendaratkannya di wajah Tian Yin. Ia menoleh kemudian menatap Wu Liao tengah menutup mulutnya dengan matanya yang cukup lebar.

__ADS_1


"Ka-kau.......menguasai empat elemen?" tanya Wu Liao tidak percaya.


Xika hanya menatap gadis itu sebentar, kemudian mengalihkan pandangannya. Ia tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan itu. Heiliao menjawab pertanyaan itu dalam benak Xika.


"Lima lebih tepatnya."


Huo Bing hanya tertawa kecil menanggapi perkataan Heiliao itu.


Xika memusatkan pandangannya pada Tian Yin. Bersiap menyerang kalau pemuda itu berusaha keluar lagi. Tapi ternyata taktik yang sama tidak akan berhasil dua kali.


Tian Yin cukup pintar. Ia tidak lagi berusaha keluar seperti sebelumnya. Kali ini ia melapisi kedua kakinya dengan elemen api. Kemudian ia menendang tanah dan keluar dari lubang buatan Xika lebih cepat dari Xika yang berusaha menyerangnya.


Ia memiliki pandangan marah di wajahnya. Kedua tangannya diselimuti elemen api sementara kedua kakinya diselimuti elemen air. Ini adalah penampilan terbaiknya. Dalam penampilan inilah serangannya paling efisien. Tangannya yang membara memberikan serangan lebih banyak. Sementara kakinya, kemanapun ia melangkah, air akan membasahi jejaknya dan dapat membuat musuhnya terjatuh.


Tidak ada yang bertahan hidup setelah menghadapinya dalam penampilan ini.


Tapi sepertinya butuh lebih dari itu untuk membunuh Xika. Anak itu juga ikut-ikutan mencoba berbagai elemen melapisi tubuhnya. Tangan kanannya dilapisi elemen tanah sementara tangan kirinya dilapisi elemen air. Keduanya dapat menahan api.


Kaki kirinya dilapisi elemen angin sedang kaki kanannya dilapisi api. Angin akan mempercepat langkahnya sementara api akan memberikan serangan lebih ketika dikombinasikan dengan kaki.


Tian Yin merasa cukup percaya diri dengan penampilannya saat ini. Biasanya, ia bahkan tidak perlu bertarung. Ketika musuhnya melihat penampilannya, mereka akan langsung ciut dan menyerah. Tapi Xika di hadapannya saat ini sedang meniru dirinya dengan versi yang lebih sempurna. Dan hal itu membuatnya.....takut?


Ia mulai merasa terancam dengan Xika. Bocah cengeng yang baru mulai berkultivasi satu tahun sudah bisa menyamainya? Dan bukan hanya itu, bocah itu bahkan berkomunikasi dengan empat elemen? Sementara ia yang sudah mulai berkultivasi sejak umur dua tahun hanya bisa berkomunikasi dengan dua elemen?


Ia tidak bisa menerima hal ini. Tak ada yang lebih hebat dari dirinya. Tak ada.


Tian Yin maju sambil meraung marah. Xika juga tidak tinggal diam. Ia menendang tanah dan mendekati Tian Yin yang sudah siap dengan serangannya.


Kepalan keduanya bertemu. Api melawan Air sekaligus Tanah. Air melawan Angin sekaligus Api. Mereka saling bertukar serangan.


Bahkan Gong Tao pun tidak bisa menebak siapa yang akan menang. Pada tahap ini keduanya seimbang. Bahkan mungkin Xika lebih diuntungkan sedikit.


Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Memang benar Xika menang secara elemen. Tapi ia terlalu terburu-buru sehingga tidak memperhatikan penggunaan qi nya. Berbeda dengan Tian Yin. Di satu sisi ia memang kalah dari segi elemen, tapi di sisi lain, ia sudah cukup terbiasa bertarung menggunakan dua elemen dan tahu bagaimana cara mengatur penggunaan qi nya.


Tendangan Xika yang dilapisi elemen angin berhasil mendarat di perut Tian Yin dan membuatnya terdorong mundur. Tapi Xika tidak lanjut menyerang. Keempat elemen yang melapisi tubuhnya mulai memudar dan akhirnya menghilang.


"Xika. Sudah kubilang. Seharusnya aku memberimu saran. Kenapa kau tidak memperbolehkanmu membantu?"


"Karena ini adalah pertarunganku. Aku tidak bisa membiarkan siapapun membantuku."


Beberapa meter di hadapannya, Tian Yin tersenyum menghina.


"Kenapa? Sudah kehabisan qi?"


"Heh. Ini saja sudah lebih dari cukup."


"Mari kita lihat, kalau begitu."


Tian Yin melesat maju.


Xika mengangkat tangan kanannya, kemudian gelangnya memanjang dan berubah menjadi tongkat. Ia langsung mengarahkannya menuju Tian Yin yang sudah terlambat untuk berhenti.

__ADS_1


Tapi bukan berarti ia tidak bisa menghindar.


Tian Yin memiringkan kepalanya dan menendang Space Shifter, berharap Xika melepaskan senjatanya itu. Tapi Xika sudah cukup akrab dengan senjata di tangannya itu dan tidak akan melepasnya dengan mudah. Dengan tenaga bantuan yang berasal dari tendangan Tian Yin, Xika memutar Space Shifter dan memberikan serangan balik yang mengejutkan.


TANG!


Space Shifter tidak mengenai Tian Yin. Tongkat Xika itu ditahan menggunakan pedang merah dengan kepala ular sebagai pangkal pedangnya.


Xika mundur. Ia harus menjaga jarak. Tapi Tian Yin tidak membiarkannya melakukan hal itu. Ia kembali menendang tanah dan memperpendek jarak.


Tian Yin maju dalam sekejap sambil mengacungkan pedangnya menuju jantung Xika. Dan jarak mereka terlalu dekat untuk bisa Xika tangkis menggunakan tongkat.


TRING!


Suara besi beradu kembali terdengar. Tian Yin terpana melihat benda yang dipegang Xika. Di detik-detik terakhir sebelum pedang Tian Yin mengenai dirinya, Xika mengubah Space Shifter menjadi pedang dan berhasil menangkis serangan Tian Yin.


Tian Yin menggelengkan kepalanya mengusir rasa terkejutnya. Entah sudah berapa kali ia terkejut hari ini hanya karena seorang bocah. Ia mengenyahkan berbagai pikiran yang akan mempengaruhi pertarungannya dan fokus dengan bocah di depannya.


Mereka kembali bertukar serangan. Kali ini pedang bertemu pedang. Tapi Xika tidak lagi menguasai jalannya pertarungan. Ia sudah cukup kelelahan dengan menggunakan berbagai elemen secara bersamaan. Itulah sebabnya menggunakan senjata, berharap dapat menutupi fakta itu.


Tapi Tian Yin yang telah mengalami beribu-ribu pertarungan mengetahui hal itu. Mungkin, kalau dalam kondisi prima atau kalau tingkat kultivasi mereka setara, permainan pedang Xika akan setara dengan dirinya. Tapi Xika yang kelelahan bukanlah tandingannya sama sekali. Apalagi ia berada di tahap Qi Gathering.


Tian Yin tidak bisa mengetahui tingkat kultivasi Xika ketika ia melihatnya. Tapi kini ia bisa mengetahuinya dengan mudah. Mungkin karena Xika sudah kelelahan.


Sedikit demi sedikit, pedang Tian Yin mengenai kulit Xika.


"Xika, gunakan elemen ruang sekarang. Ia pasti akan terkejut, pada saat itu terjadi, bunuhlah dia secepatnya."


"Heiliao.........aku tidak bisa melakukan itu."


"Kenapa? Karena itu adalah saran dariku? Lebih baik kau turunkan harga dirimu dulu saat ini dan ikuti saranku. Jangan menyia-nyiakan kesempatan ini."


"Bukan. Aku tidak bisa menggunakan elemen ruang."


"Apa? Kenapa? Kau sudah tidak memiliki qi lagi?"


"Karena itu akan mengungkapkan hubunganku denganmu. Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Setidaknya sampai kau menemui kekasihmu."


".............."


Xika tidak bisa melihat Heiliao sekarang karena serigala itu tengah bersembunyi dalam jubahnya. Tapi saat ini ia tengah melebarkan matanya tak percaya. Ia tidak mengira bahwa Xika masih memikirkan hal itu. Bahkan ia sendiri sudah tidak lagi memikirkan wanita itu. Kenapa Xika masih memikirkan hal itu?


Heiliao ingin sekali bertanya. Tapi saat ini bukanlah saat yang tepat. Tian Yin berhasil menghempaskan Xika dengan tendangannya.


Xika sudah sangat kelelahan. Lagipula melawan kultivator berbeda alam yang lebih kuat lima tingkat darimu bukanlah hal mudah sekalipun kau memiliki empat dantian. Ia menahan berat badannnya dengan susah payah. Saat ini kakinya seolah tak mau mendengarkan perkataannya.


Di hadapannya, Tian Yin tengah mendekat dengan pedangnya yang membara.


Xika mengubah Space Shifter kembali menjadi gelang dan membuat banyak orang mengira ia sudah menyerah. Benar, banyak orang. Entah sejak kapan, orang-orang mulai mengelilingi mereka. Tapi mereka semua salah. Ia tidak berniat menyerah. Tidak akan pernah.


Tian Yin semakin mendekat dan kini ia tinggal beberapa meter lagi sebelum pedangnya yang membara mengakhiri hidup Xika. Tapi Xika tidak akan tinggal diam. Perlahan, ia mengeluarkan dua buah pisau dari balik jubahnya. Pisau pemberian Lian Minjie dan pisau tempaannya sendiri.

__ADS_1


Ketika Tian Yin tinggal beberapa langkah lagi dari dirinya, Xika menyabetkan kedua pisaunya dan membuat dua buah gelombang tebasan.


"Capsah Technique, Second Style: Pair"


__ADS_2