Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-190


__ADS_3

"Tunggu dulu....sepertinya ada yang salah...." ucap Huo Bing mendadak.


"Hm? Apa yang salah?" tanya Qing Hu mengedipkan mata besarnya yang manis.


"Kau."


"Aku?"


"Ya, kau. Kenapa cara bicaramu jadi begitu? Dimana kalimat," Huo Bing menyatukan kedua tangannya di depan dada kemudian memajukan bibirnya dengan ekspresi yang menjijikan, "Aduh, kakak~ Aku sangat lelah....Bisakah kau membantuku? Dan semacamnya."


"Tch." Qing Hu memutar matanya tak menjawab Huo Bing.


"Ah, ah! Biar aku yang jelaskan!" Wu Liao mengangkat tangan dengan semangat. Sebelum ada yang menjawab, gadis itu sudah bicara.


"Jadi begini, Qing Hu mendapat gelar Rubah Penggodanya bukan tanpa alasan. Ia memang sering menggoda setiap lelaki yang menurutnya menarik. Namun sayangnya, begitu ia kehilangan minatnya, sikapnya akan berubah seratus delapan puluh derajat. Itulah mengapa ia sering disebut banyak orang sebagai wanita yang suka mempermainkan hati lelaki."


"He? Jadi sebelumnya dia tertarik pada Xika? Tapi sekarang sudah kehilangan minat? Begitu?" tanya Huo Bing setengah menghina.


"Tidak, belum tentu. Sebenarnya ada alasan lain mengapa ia merubah sikapnya begitu drastis. Ketika Qing Hu menemukan pria yang menarik, ia ingin tahu bagaimana sikap pria itu yang sebenarnya. Jadi ia melakukan berbagai macam cara untuk mengeluarkan sifat asli pria tersebut.


Kalau pria tersebut sudah menunjukkan sifat aslinya, maka Qing Hu akan berbalik pergi. Tapi ada satu alasan lagi kenapa Qing Hu merubah sikapnya. Yaitu kalau ia merasa bahwa apapun yang ia lakukan ia tak bisa membuat pria itu mengungkapkan sifat aslinya."


"Jadi dia menyerah karena yakin tidak bisa mengeluarkan sifat asli Xika bagaimanapun caranya?"


"Ya, kurang lebih begitu harusnya."


Qing Hu yang mendengar penjelasan Wu Liao hanya memutar bola matanya dengan kesal karena memang apa yang dikatakan gadis itu adalah kebenaran.


"Ah, sudahlah! Cukup dengan diriku! Lebih baik kita bicarakan dirimu saja!" Qing Hu menunjuk Xika berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa harus aku?"


"Hei, apa kau sadar sedang berjalan dengan siapa?"


"Beberapa gadis aneh yang muncul tiba-tiba dan mengganggu hariku."


"Tch, sialan! Kau sedang berjalan dengan tiga dari Empat Gadis Tercantik tahu! Berbanggalah sedikit!"


"Untuk apa aku bangga?"


"Kau pikir berapa banyak pria yang hendak berada di posisimu saat ini? Mereka rela melakukan apapun hanya untuk berjalan bersama kami!"


"Kalau begitu kau sering-sering saja jalan dengan mereka." ucap Xika tak peduli. Ia mengabaikan Qing Hu yang menatapnya dengan penuh amarah dan berjalan beriringan dengan Xingli dan Heiliao.


"Kenapa kalian berjalan paling belakang?"


"............"


"..........."


Kini giliran Xika yang memutar matanya. Entah apa yang terjadi pada Heiliao hari ini. Memang biasanya ia tidak banyak bicara, tapi bukan tidak bicara sama sekali. Tapi untuk saat ini ia akan mengabaikan Heiliao dulu. Dua gadis di depan membuatnya tidak nyaman. Ia ingin memastikan sekali lagi apakah Xingli benar-benar seperti yang dipikirkannya.


"Kau mau es krim?"

__ADS_1


"Ya, ya! Aku mau! Es krim sangat cocok dimakan saat cuaca sedang panas seperti sekarang ini." Qing Hu menjawab dengan penuh semangat. Sementara Xingli hanya memberikan pandangan sebentar pada Xika kemudian kembali berjalan.


"Hmmm.....tidak suka rasa coklat ya....." ucap Xika sambil mengangguk-ngangguk.


"Apa? Bagaimana kau tahu ia tidak suka rasa coklat? Bukankah ia tidak mengatakan apapun?" ucap Qing Hu dengan kaget bercampur bingung.


"Bukannya itu sudah jelas?"


"Apanya?"


"Penjual es krim tadi hanya menjual es krim rasa coklat. Jadi sudah pasti ia tidak suka rasa coklat bukan?"


"Tunggu dulu. Bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu? Bagaimana kalau dia sebenarnya tidak suka es krim?"


"Tidak mungkin. Itu buktinya."


Qing Hu mengikuti arah pandang Xika kemudian menemukan Xingli yang berdiri di depan penjual es krim dengan berbagai rasa. Gadis itu menatap Xika menunggunya datang.


"Hmm....rasa vanila ya? Baiklah. Bibi, tolong es krim vanilanya dua ya."


"Eh? Bagaimana kau tahu dia menginkan rasa vanila?"


"Setelah berdiri di sini, tatapannya tak pernah lepas dari es krim vanila. Bukankah itu hal yang jelas?"


".........."


Sejujurnya, saat ini bukan hanya Qing Hu saja yang terkejut. Wu Liao, bahkan Heiliao dan Huo Bingpun terkejut dengan Xika. Bagaimana bisa ada orang normal yang memperhatikan orang lain sebegitu detailnya? Hanya saja Huo Bing dan Heiliao tidak menunjukkan keterkejutan mereka.


Setelah diam sesaat, Qing Hu menarik Wu Liao dan memintanya berdiri di depan bibi penjual es.


"Mana kutahu." ucap Xika tak peduli yang langsung membuat ekspresi Wu Liao berubah. Tapi sayangnya Xika tak peduli.


"He? Bukankah kau bisa melihat arah tatapannya untuk menentukan es krim apa yang ia mau?"


"Kenapa aku harus melakukan itu?"


"Eh....Bukannya kau suka memperhatikan tindakan orang lain dengan jeli?"


"Kenapa aku harus memperhatikan tindakan orang lain? Ah, terima kasih bibi." Xika menyerahkan satu es krim vanila pada Xingli kemudian lanjut berjalan.


"Astaga! Ada apa sebenarnya denganmu?"


"Memangnya kenapa?"


"Apa kau tak bisa melihat wajahku yang cantik ini? Bagaimana dengan Wu Liao?" Qing Hu memegang kepala Wu Liao dengan kedua tangannya dan menempatkannya di depan Xika.


"Aku tak peduli."


"Sebenarnya ada apa dengan gadis es itu? Kenapa kau memperlakukannya begitu berbeda dengan kami? Apa bedanya ia dengan kami?"


'Sangat berbeda,' ucap Xika dalam hatinya. Tapi ia tak mengucapkan itu keluar. Ia hanya menatap Qing Hu dua detik, kemudian berbalik dan kembali menikmati es krim vanilanya.


Sebenarnya, sejak Xika mengalami penghinaan secara terus-menerus di klan pamannya, ia tak lagi mempercayai wanita. Baik wanita maupun pria sama saja. Karena saat itu bukan hanya lelaki yang menghinanya, tapi bahkan perempuan juga ikut menghinanya.

__ADS_1


Sebelum bertemu dengan Xingli, Xika menganggap semua wanita itu sama. Satu-satunya wanita yang ia pikirkan adalah ibunya. Tapi semuanya berubah setelah bertemu dengan Xingli. Bukan karena parasnya, Xika akui Xingli memang gadis paling cantik, tapi bukan itu alasan utamanya.


Awalnya ia juga mengira Xingli sama saja dengan yang lainnya. Ia tak percaya pada Xingli, apalagi setelah gadis itu menyerangnya tanpa alasan begitu saja. Tapi setelah terhisap ke dalam lubang hitam bersama dan menjalani beberapa pertempuran, Xika akhirnya mempercayai gadis itu.


Ketika ia bertemu dengan Heiliao, Xingli memang datang terlambat. Tapi begitu ia melihat aura Xika yang kacau, gadis itu langsung mengarahkan pedanganya pada Heiliao. Bukan keputusan yang bijak sebenarnya, mengacungkan pedangmu begitu saja kepada mahkluk yang bahkan kekuatannya tidak kau ketahui.


Tapi Xingli melakukannya. Untuk Xika. Gadis itu mengacungkan pedangnya pada Heiliao dan memperlihatkan punggungnya pada Xika. Kalau Xika mau, ia bisa menusuk gadis itu dan membunuhnya karena berusaha menyerangnya tanpa alasan sebelumnya.


Nyatanya, Xingli memberikan punggungnya pada Xika begitu saja tanpa ragu. Itu artinya Xingli mempercayainya. Di saat itulah Xika sadar bahwa tidak semua wanita itu sama. Paling tidak, selain ibunya, Xingli adalah satu-satunya wanita yang Xika percayai.


Bagaimana dengan Wu Liao? Sejujurnya, dia bukan gadis yang buruk. Parasnya indah, meski tak seindah Xingli, dan sikapnya ramah serta tulus. Xika bisa saja percaya pada Wu Liao. Tapi sayangnya gadis itu membuatnya kembali sadar, bahwa tak semua gadis seperti Xika.


Sebelumnya, hati Xika tertutup hingga tak mau mempercayai siapapun. Pertama pamannya, yang terus memberikan perhatian sekalipun ia bersikap buruk. Kedua, Huo Bing. Memang bicaranya kasar dan mulutnya hampir tidak pernah tertutup, tapi ia merasakan hal yang sama dengan Huo Bing. Rasa sepenanggungan yang sama.


Kemudian Heiliao. Awalnya ia sangat membenci serigala itu, bahkan berharap ia mati saja. Tapi setelah serigala itu menyelamatkannya dari ular, Xika mulai mencoba menerima Heiliao. Dan setelah mengenalnya lama, Xika juga menemukan bahwa serigala itu sama dengannya maupun Huo Bing. Mungkin itu yang membuat mereka bisa bersama.


Setelah bertemu ketiganya, Xika merasa bahwa lelaki lebih bisa dipercaya dibanding wanita. Setidaknya ia sudah menemukan pria yang ia percayai. Pertemuannya dengan Xingli mengubah hal itu. Xika kembali membuka hatinya pada Xingli yang adalah seorang wanita.


Ia hampir membuka hatinya untuk Wu Liao. Di saat ia mulai percaya bahwa tidak semua wanita kejam, Wu Liao membanting pintu hatinya dengan kenyataan yang begitu kejam. Wu Liao mengingatkan Xika kenangan di klan pamannya.


Ada dua jenis orang yang Xika benci di klannya. Mereka yang mengganggunya, dan mereka yang hanya menonton. Wu Liao memang tidak menghajarnya, tapi ia hanya diam saja menonton. Ia tidak melakukan kesalahan apapaun bukan? Sayangnya, ada pepatah yang mengatakan, 'orang benar yang tak berbuat apa-apa adalah orang jahat.'


Jadi sebelum Xika bisa percaya sepenuhnya pada wanita lagi, Wu Liao telah menutup hatinya lagi. Hasilnya? Hanya Xingli wanita yang Xika percayai.


Berpikir tentang Xingli, Xika jadi teringat pil yang gadis itu berikan dulu. Juga janjinya untuk membayar pil itu.


"Ah, Xingli. Aku hampir lupa. Aku masih berhutang padamu untuk pil yang waktu itu. Apakah segini cukup?" Xika mengeluarkan beberapa puluh keping emas dari cincin spasialnya dan menyerahkannya pada Xingli yang dijawab dengan gelengan oleh gadis itu.


"Hmm....masih kurang ya....."


Xika tidak keberatan Xingli menolak uangnya. Lagipula bantuan yang diberikan pada masa sulit jauh lebih berharga daripada hadiah yang diberikan pada masa senang. Mungkin saja Xingli menginginkan hal lain sebagai ganti pil yang waktu itu.


"Oh, benar juga. Aku menemukan ini beberapa waktu lalu." Kali ini Xika mengeluarkan artefak pedang yang ia dapat dari makam waktu itu. Karena ia memang bukan pengguna pedang, ia berniat memberikan pedang itu pada Xingli sejak awal.


"Bagaimana dengan ini? Apakah ini cukup?"


Xingli kembali menggeleng. Dan sayangnya, arti dari gelengan itu masih terus disalahpahami oleh Xika sampai saat ini.


"Ah, sudahlah. Kalau ini tak cukup, anggap saja ini hadiah dariku. Lagipula aku memang bukan pengguna pedang dan berniat memberikannya padamu."


Tanpa bicara, Xika mengambil pedang di tangan Xika setelah gadis itu terdiam selama tiga detik.


"Apa ini? Hanya Xingli yang mendapat hadiah? Aku juga mau dong."


"Akan kuberikan hadiah kalau kau pergi dari sini sekarang juga."


"Uhhh~ Dasar! Memangnya kenapa kau begitu kesal dengan keberadaan kami sih?" tanya Qing Hu sadar bahwa bukan hanya dirinya yang dianggap mengganggu tapi Wu Liao juga.


"Kenapa? Karena ini." Selesai bicara, Xika menggeser tubuhnya ke samping.


WUS!


BLAR!

__ADS_1


Sebuah tebasan yang berakhir ledakan tiba sepersekian detik setelah Xika menggeser tubuhnya.


__ADS_2