Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-289


__ADS_3

"Nggg......."


"Apa kau harus mengalahkan mereka dengan sekeji itu? Apa kau ingin menyatakan perang dengan empat sekte besar itu?!" Jing Wei bertanya dengan nada meninggi.


Sebelum Xika menjawab, Huo Bing sudah maju duluan.


"Hei hei, Pak Tua. Temanku disini ini baru menang. Tidak bisakah kau memberikan sedikit apresiasi dahulu sebelum lanjut ke persoalan berikutnya?"


Jing Wei menatap Huo Bing dengan gusar. Ia bisa merasakan Huo Bing berbeda dibanding pertemuan terakhir mereka. Pada akhirnya ia tidak menjawab Huo Bing dan kembali menatap Xika.


"Bisa kau jelaskan alasanmu melakukan hal itu pada mereka?"


"Tidakkah kau melihatnya? Di Lang, ia berakhir seperti itu karena teknik yang ia gunakan memiliki efek samping. Zhen Fang, ia menyelimuti tubuhnya dengan tanah yang bisa meledak. Siapa yang memintanya melakukan hal itu? Han Feng, apa kau buta? Ia mengonsumsi Berserk Pill! Dan kau masih bertanya? Kau bahkan tidak mendiskualifikasinya sekalipun ia melanggar aturan! Bisa kau jelaskan alasanmu melakukan hal itu?" ucap Xika mengembalikan kalimat Jing Wei.


"Nak, sopan sedikit padaku." Jing Wei mengeluarkan auranya menekan Xika. Tapi bahkan sebelum Xika sempat bertindak, Huo Bing dan Heiliao telah mengeluarkan aura mereka berdua dan sepenuhnya menekan Jing Wei.


Jing Wei tampak terkejut, tapi ia segera menyembunyikannya. Ia mendengus, kemudian menarik kembali auranya diikuti dengan Huo Bing dan Heiliao.


"Sudahlah. Aku bisa memahami alasanmu untuk ketiganya. Tapi bagaimana dengan bocah dari Sky Devouring Castle? Aku melihatnya dengan jelas bahwa kau sengaja menghancurkan dantiannya. Jangan katakan padaku bahwa itu adalah kecelakaan."


"Memang bukan," Xika menjawab. "Dan kau benar. Aku melakukannya dengan sengaja."


"Alasannya?" Jing Wei mengerutkan keningnya.


"Anggap saja dendam pribadi." ucap Xika santai.


Hidung Jing Wei kembang-kempis menahan amarah mendengar ucapan Xika yang begitu santai. Ingin rasanya ia menempeleng kepala anak itu. Tapi kedua sosok di belakangnya patut diperhatikan. Mereka tak akan tinggal diam kalau ia melakukan sesuatu.


Jing Wei menghela nafas gusar. "Kalau begitu kau saja yang bicara dengan tetua-tetua tamu kita. Mereka sudah menunggumu di pesta. Aku masih bisa menjagamu selama di Akademi, tapi di luar Akademi bukanlah kekuasaanku. Sebaiknya kau berhati-hati."


Xika mengangguk. Kalau begitu harusnya ia aman selama masih di dalam Akademi, bukan? "Kalau begitu aku permisi dulu."


"Tunggu."


Xika menaikkan sebelah alisnya.


"Kau bertanya padaku kenapa aku tidak mendiskualifikasi Han Feng padahal ia sudah melanggar peraturan. Kalau begitu biar kukembalikan padamu. Apa kau akan puas, kalau Han Feng didiskualifikasi lalu kau menang begitu saja?"


Xika terdiam sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya. "Sejujurnya tidak."


"Sudah kuduga. Selain itu, aku tidak berdiam diri. Aku melakukan pertaruhan dengan ayah Han Feng yang adalah Patriach Burning Abyss Sect." Jing Wei melambaikan tangannya dan mengeluarkan topeng yang diserahkan Han Li sebelumnya.


"Topeng itu mengeluarkan aura yang setingkat dengan Artefak Low-Heart, sekalipun aku sendiri tidak mengetahui apa kegunaannya. Sebenarnya bukan benda itu yang Han Li pertaruhkan, tapi aku tak bisa memaksanya lebih jauh."

__ADS_1


Kemudian Jing Wei melambaikan tangan sekali lagi, dan mengeluarkan sebuah batu hitam. Dari batu itu terpancar aura kegelapan pekat yang tidak mengenakan. "Ini adalah benda yang aku pertaruhkan. Rumornya, benda kecil ini adalah kunci dari Makam Kegelapan yang baru-baru ini ditemukan di Dinasti Tang. Aku tak tahu apakah itu benar atau tidak. Tapi keduanya tak akan berguna untukku. Ambillah."


Jing Wei melemparkan keduanya menuju Xika.


"Satu lagi. Apakah kau menggunakan bantuan yang kuberikan?"


Xika mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Jing Wei. Sejak kapan Jing Wei mengirimkan bantuan?


"Aku mengirim Elder Xu yang adalah Body Cultivator untuk membuatmu memahami bagaimana cara mengatur qi dengan baik. Banyak kultivator menggunakan bantuan Body Cultivator untuk mengatur pengeluaran qi dengan baik. Jangan bilang kau tidak menyadarinya?"


"Hah? Kau mengirimkan Elder Xu untuk membantuku? Aku hampir dikeluarkan dari pertandingan kalau aku tidak berhasil mengalahkannya!"


"Itu hanyalah penyamaran. Aku tahu harusnya kalian bisa mengalahkan Elder Xu. Lagipula sekte lain pasti akan bertanya-tanya kalau aku tidak mengambil tindakan padahal kalian telah membuat rencana yang melawan aturan."


Xika menatap Jing Wei. Ia masih tidak percaya bahwa Elder Xu dikirimkan untuk menolongnya.


"Sudahlah. Kembalilah. Dan sebaiknya, kau mempersiapkan dirimu untuk makan malam. Mereka sudah menunggu, aku sudah bilang sebelumnya bukan? Dan juga, meskipun aku mengatakan akan menjagamu selama di Akademi, aku tak bisa menjamin bahwa kau tak akan terluka sama sekali. Tapi setidaknya nyawamu tidak dalam bahaya."


"Heh. Aku mau lihat siapa yang berani melukainya." Huo Bing tersenyum percaya diri.


Jing Wei tak banyak berkomentar. Ia hanya berkata, "Kau akan segera menemuinya." Setelah itu ia mempersilahkan ketiganya keluar.


Hari mulai gelap. Jadi Xika dan lainnya segera kembali ke Jade Village untuk bersiap-siap kemudian pergi ke perjamuan makan malam. Entah apa yang akan terjadi. Tapi untuk saat ini ia harusnya masih aman. Jing Wei sudah berjanji akan melindunginya.


Singkatnya, mereka tidak berbeda jauh dari Han Feng ketika ia menggunakan Berserk Pill. Jadi harusnya tak ada ancaman berarti kecuali ada kultivator di High-Jack.


Tak butuh waktu lama, Xika sampai di Jade Village. Namun ia dikejutkan dengan sesosok gadis yang berdiri menghalangi pintu masuk Jade Village.


Liang Jihua.


Apa gadis itu sengaja menunggunya? Tunggu dulu, bagaimana ia tahu kediaman Xika?


Huo Bing menatap datar Liang Jihua kemudian melompati gerbang masuk Jade Village yang tinggi. Heiliao juga melakukan hal yang sama. Liang Jihua terkejut sekali melihat keduanya melakukan hal tersebut. Tapi ia segera mengalihkan pandangannya pada Xika.


"Mereka memang seperti itu, tak perlu dipikirkan. Ada urusan apa kau kemari?"


Liang Jihua terdiam selama beberapa saat sebelum bicara.


"Ada yang ingin kubicarakan. Aku sudah berjanji........akan menceritakan tentang temanku. Maaf.........telah menganggapmu lemah sebelumnya."


Xika tak menjawab. Ia sudah terbiasa diremehkan, tapi bukan berarti ia akan memaafkan semua orang yang meremehkannya. Tidak, lebih tepatnya ia terlalu tidak peduli dengan mereka.


"Aku mendengarmu dari temanku sebelumnya. Ia banyak bercerita tentangmu, ia bahkan mengatakan bahwa kau sangat kuat. Itulah sebabnya........aku marah dan kecewa ketika bertemu denganmu pertama kali. Aku tidak tahu bahwa kau sedang menyembunyikan kekuatanmu."

__ADS_1


Xika masih tak menjawab. Ia mungkin mengerti kalau Liang Jihua kecewa dengan dirinya yang menyembunyikan kekuatannya. Tapi marah? Kenapa gadis itu marah kalau dirinya lemah? Bisa saja temannya itu salah kan?


Daripada itu, ia lebih penasaran dengan teman yang disebutkan Liang Jihua ini. Kalau benar temannya adalah Wu Liao, maka ia harus mempersiapkan mental untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Liang Jihua.


"Aku bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu. Ia mengajariku banyak hal, banyak sekali. Berkatnya, aku bisa menjadi diriku yang sekarang ini.


Aku yang dulu sangat berbeda dengan diriku yang saat ini. Banyak pria mendekatiku karena parasku. Hal itu berlangsung selama bertahun-tahun hingga akhirnya aku kesal dan muak dengan mereka semua. Jadi aku bersikap kasar agar mereka semua pergi.


Tapi ternyata hal itu malah membuat citraku buruk. Awalnya aku tak peduli, karena dengan adanya rumor itu tak ada pria yang mendekatiku lagi. Tapi semakin lama rumor buruk tentangku menyebar hingga menggangguku. Banyak teman-temanku yang percaya dengan rumor itu dan meninggalkanku. Akhirnya akupun sendirian. Tanpa teman.


Saat itu aku tak tahu harus berbuat apa. Aku marah pada semua pria itu karena merekalah yang membuat rumor buruk itu dan menyebabkan semua temanku pergi. Aku ingin menghajar mereka satu-persatu tapi hal itu malah akan membuat rumor buruk tentangku semakin banyak.


Jadi yang bisa kulakukan hanyalah menahan diri dan pergi ke tempat sepi. Salah satu tempat yang paling adalah pinggiran hutan. Tak banyak yang pergi kesana karena takut bertemu dengan hewan buas. Tapi bagiku yang mencari ketenangan, itu adalah tempat yang tepat.


Pada saat itu aku bahkan lebih memilih untuk bertemu dengan hewan buas atau Spirit Beast sekalian daripada manusia. Setidaknya, mereka tak bisa menyebarkan rumor buruk tentangku. Lagipula, tingkat kultivasi Spirit Beast yang berada di pinggiran tidak terlalu kuat jadi aku masih bisa mengatasinya.


Suatu hari, terjadi hal yang di luar dugaanku. Seperti biasa, aku sedang berjalan-jalan di pinggiran hutan. Sialnya, aku bertemu dengan kodok raksasa yang lebih kuat dariku. Aku tak tahu jenisnya. Aku tak tahu apa yang sedang ia lakukan dan bagaimana ia bisa berada di pinggiran hutan seperti ini.


Aku yang panik segera berlari menjauhi kodok itu. Sayangnya, aku malah berlari memasuki hutan semakin dalam. Beberapa hewan buas yang tertarik denganku segera menjauh ketika melihat kodok raksasa yang mengejarku. Aku terus berlari tanpa arah. Langit semakin gelap dan aku masuk semakin dalam ke hutan namun kodok itu tak menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau berhenti mengejarku.


Mendadak, aku merasakan hawa dingin di sekelilingku. Ketika aku melihat sekelilingku, pohon dan tanaman di sekitar semuanya telah membeku. Kukira aku memasuki wilayah seekor hewan buas, jadi aku berhenti. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Kalau aku maju aku akan dimakan Spirit Beast. Tapi kalau aku mundur aku juga akan dimakan Spirit Beast.


Akhirnya, aku pasrah dengan takdirku. Kalau aku memang harus mati di sini, biarlah. Itu lebih baik daripada harus menghadapi pria-pria bajingan dan rumor buruk yang terus menghantuiku. Lagipula, aku sudah tak memiliki teman lagi.


Kemudian aku melihat sesosok putih melesat cepat. Kukira itu adalah hewan buas yang akan memangsaku. Tapi rupanya mahkluk itu melewatiku dan bergegas menuju kodok raksasa yang berada di belakangku. Ketika aku membuka mata dan memberanikan diri untuk menengok, aku melihat kodok raksasa itu telah membeku dan badannya telah terbelah dua.


Di sampingnya, berdirilah sesosok gadis cantik yang memegang pedang. Tubuhnya dikelilingi aura dingin yang membuat banyak hewan menjauh.


Itulah pertama kali aku bertemu dengan temanku.


Setelah menyelamatkanku, ia bertanya jalan terdekat menuju kota. Aku segera menuntunnya dan dari sana kami menjadi teman. Sayangnya, ia masuk ke Mu Zhan Academy sementara aku masuk ke Northern Light Palace beberapa tahun kemudian.


Namun hal itu tak membuat hubungan pertemanan kami terputus. Kami terus bertukar kabar bahkan mengobrol sesekali melalui Distance Stone. Darinya, aku belajar bagaimana bersikap, karena ia juga termasuk Empat Gadis Tercantik. Aku belajar bagaimana membangun tembok es yang tinggi agar tak ada pria yang berani mendekat.


Ia adalah satu-satunya temanku, sebelum aku bergabung ke Northern Light Palace. Kami bahkan masih bertukar pesan beberapa waktu yang lalu. Namun ia menceritakan bahwa mendadak ia harus pergi. Ia lelah dengan pria yang selama ini ia sebutkan."


Liang Jihua menatap Xika dengan tajam.


"Kau. Kau adalah pria yang selalu ia sebutkan."


Xika mengerjapkan matanya bingung kemudian mengerutkan keningnya.


"Benar. Nama temanku adalah Yin Xingli. Dan ia selalu membicarakanmu."

__ADS_1


__ADS_2