
Heiliao membuat beberapa (ratusan) pil untuk Xika sampai ia (disuruh) pergi. Xika tidak banyak memakan pil. Ia tidak ingin terlalu bergantung pada pil. Jadi ia menyimpan pil Heiliao untuk saat yang tepat. Ia beristirahat secukupnya sebelum kembali berlatih.
Tapi sayangnya tak ada yang mau berlatih tanding dengannya. Beberapa serigala yang mengerti pengobatan sering datang untuk mengeceknya. Dan jika ia kedapatan sedang berlatih tanding dengan serigala, maka serigala yang menjadi lawan tandingnya akan dihukum. Jadi tak ada yang mau berlatih tanding dengannya. Dan itu temasuk Lang Jin.
Ia dapat melihat semangat berapi-api di mata Lang Jin ketika mengajaknya berlatih tanding. Tapi Lang Jin menolak. Xika dapat melihat serigala itu berusaha keras untuk melakukannya meskipun tidak mengerti mengapa ia menolaknya.
"Kita akan bertarung lagi. Itu pasti. Tapi setelah tubuhmu pulih sepenuhnya. Dan aku akan mengalahkanmu." katanya.
Setelah itu ia berjalan pergi takut tak bisa memegang ucapannya. Xika tak tahu kemana Lang Jin pergi tapi ia mendengar beberapa lolongan serigala ke arah yang sama yang dilalui serigala itu.
Jadi yang bisa dilakukan Xika hanya beristirahat dan berkultivasi. Bagaimana dengan Huo Bing? Burung itu jarang bicara. Sepertinya ia menghabiskan banyak energi untuk menahan serangan Heiliao sebelumnya jadi butuh waktu lama untuk mengembalikannya. Ia hanya muncul untuk bicara sesekali kemudian kembali masuk dantian.
Sebelumnya, Xika merasa mulut Huo Bing begitu berisik dan dunia akan begitu damai kalau burung itu menutup paruhnya. Tapi ia tak pernah memikirkan bahwa ia akan merindukan paruh berisik burung itu. Dunia terasa damai tanpanya. Terlalu damai.
Mendadak Xika teringat dengan Paman Kong Yan di Simulocus. Ia bisa menjadi teman mengobrol yang baik. Kalau bosan mengobrol juga bisa bermain kartu. Jadi ia memutuskan untuk pergi menemui Paman Kong Yan. Di tengah jalan ia teringat dengan kotak kartu yang berbentuk tugu batu sebelumnya. Katanya, ia juga bisa bepergian melalui kotak itu jadi ia berniat mencobanya.
"Bagaimana caranya?"
Xika mengetuk kotak itu beberapa kali. Tapi selain perasaan dingin dan kasar yang menyentuh tangannya, tak ada yang terjadi. Ia menggoyang-goyangkannya beberapa kali tapi masih tak ada yang terjadi. Kemudian ia berusaha memasukkan kepalanya ke dalam kartu itu dan berakhir dengan memar di kepalanya.
Beberapa serigala yang lewat melihatnya dan cekikikan sendiri.
"Si-sial......"
Xika kehabisan akal bagaimana cara menggunakan kartu itu untuk berpindah ruang. Ia teringat ketika ia melemparkan kartunya untuk menunjukkan peta pada Heiliao dan Huo Bing. Ia mencoba melempar kotak itu beserta kartu-kartunya yang langsung ia sesali.
"Ah! Sial! Bagaimana kalau aku melemparnya terlalu keras hingga sulit ditemukan? Bagaimana kalau kartu itu masuk ke kolam dan basah? Ahhhhh!!!!! Hanya itu peninggalan ayahku!"
Tapi kartu itu tidak terbang ke hutan dan terlalu jauh untuk dicari atau tenggelam ke dalam kolam. Kartu itu berputar dan terus berputar hingga menjadi sebuah portal. Ia tak bisa melihat apa yang ada di balik portal itu tapi entah mengapa ia tahu bahwa ia akan mencapai tempat manapun yang ia mau ketika melewati portal itu.
Jadi ia melangkahkan kakinya melewati portal abu itu dan mendapati Simulocus yang menjadi tempat tujuannya berada di depan matanya. Portal itu masih ada di belakangnya dan menunggu perintah selanjutnya. Xika tidak memberikan perintah lisan, ia hanya memikirkannya dan portal itu kembali menjadi kartu dan jalan masuk Xika sebelumnya kini menghilang.
"Paman Kong Yan? Apa kabar?"
Xika menyapa Kong Yan, tapi sayangnya tak ada jawaban. Itu tak pernah terjadi. Biasanya Paman Kong Yan selalu menjawab sapaannya meskipun itu membuatnya terkejut. Xika memanggil beberapa kali tapi masih tak ada jawaban. Jadi ia memutuskan untuk menghilangkan bosan dengan melempar batu-batu spasial yang bergeletakkan dan menangkapnya kembali hingga membentuk lingkaran.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu dan Xika bosan dengan batu-batu berharga yang akan menyebabkan badai darah di dunia luar jadi ia mencoba menjelajahi tempat ini. Agak bodoh memang, karena pada dasarnya ia sudah tahu semua hal mengenai tempat ini karena Kong Yan sudah memasukannya dalam kepalanya.
Tapi setidaknya ia bisa menjelajahi tempat ini dengan mata kepalanya sendiri. Bukan hanya berdasarkan apa yang diberikan Kong Yan. Jadi ia melangkahkan kakinya menelusuri tempat ini. Beberapa kali ia melihat celah-celah yang ditandai biru oleh Kong Yan tapi entah mengapa ia tak tertarik.
Jadi ia lanjut berjalan. Ia melewati mayat Tangan Ungu dan melihatnya lebih rapuh dibanding sebelumnya. Sepertinya tulang-tulangnya akan langsung hancur bila Xika meniupnya tapi ia tak mencobanya. Ia berjalan lagi sampai di berada di depan celah yang ditandai oleh Kong Yan.
Celah ini tak ada bedanya dengan celah yang lain tapi entah mengapa ia merasa harus melewati celah ini. Ada sesuatu yang memanggilnya. Dan ia harus menjawabnya. Jadi ia mengangkat kakinya hendak memasuki celah itu namun sebuah suara menghentikannya.
"XIKA! BERHENTI!"
Kaki Xika tinggal satu senti lagi dari celah itu, tapi ia berhasil menghentikannya. Xika menoleh dan mendapati Paman Kong Yan yang kelihatan sangat tegang. Tatapannya tak beralih dari kaki Xika yang berjarak satu senti dari celah. Setelah Xika menurunkan kakinya, barulah Paman Kong Yan terlihat lebih baik.
Xika mendekati Paman Kong Yan yang masih menenangkan dirinya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku bosan. Jadi aku kesini. Apa yang paman lakukan?"
"Hanya memeriksa beberapa hal. Dengarkan aku. Jangan sekali-kali melangkahkan kaki memasuki celah yang ada disini selain celah yang menuju tempat para serigala."
"Kenapa?"
"Lalu kapan aku boleh masuk? Setidaknya ke celah yang tadi." tanya Xika sambil menunjuk celah yang nyaris ia masuki.
Kong Yan menoleh menatap celah yang Xika tunjuk.
"Kenapa kau ingin memasuki celah itu?"
"Entahlah. Rasanya ada yang memanggilku. Dan aku harus menjawabnya."
Kong Yan mengerutkan keningnya beberapa saat. Kemudian mendadak ia melebarkan matanya dan berteriak sambil melihat celah yang Xika tunjuk sebelumnya. Tentu saja Xika tidak mengerti itu semua. Kong Yan berbalik dan kembali menatap Xika. Tapi kali ini seolah sedang mengukur sesuatu.
"Berapa tingkat kultivasimu?"
"Forming Qi 1. Tapi sepertinya sebentar lagi akan menembus tingkat dua."
__ADS_1
Kong Yan tidak melepaskan pandangannya dari Xika dan membuatnya merasa aneh. Biasanya Paman Kong Yan tak pernah melihatnya seperti itu.
"Coba terima serangan ini."
Selesai berkata begitu, ruang di sebelah kiri Xika beriak dan Xika langsung menutupi kepalanya dengan kotak pemberian Kong Yan yang telah membesar.
DAR!
Ruang itu langsung meledak sesaat setelah Xika menutupi dirinya. Belum selesai ia berpikir, riak kembali muncul di kakinya dan ia melompat ke belakang. Tempat di mana kakinya berada beberapa saat lalu, kini meledak. Tapi Kong Yan belum selesai.Ia memberikan banyak ledakan dan Xika berhasil menghindarinya di saat-saat terakhir meskipun itu tidak berhasil menyelamatkan pakaiannya.
Kali ini muncul riak yang lebih besar. Dan ria itu menariknya sangat keras. Kalau ia tak berhasil menghindar maka ia akan terluka parah dan harus menghabiskan berbulan-bulan yang membosankan tanpa melakukan apapun.
Jadi ia harus menghindar. Tapi bagaimana caranya? Riak itu menghisapnya sangat keras. Xika melambaikan tangannya dan lubang hitam muncul di belakangnya. Tapi kali ini bukan qi yang lubang hitam itu tarik, melainkan dirinya sendiri. Ia berusaha melawan tarikan dari ruang beriak itu dengan tarikan lubang hitamnya, dan itu berhasil.
"Masih belum. Gunakan qimu!"
Xika tak mengerti apa yang Kong Yan bicarakan. Mendadak sebuah tombak muncul dari arah belakang kanannya. Xika bersalto untuk menghindarinya. Beberapa tombak lain muncul dan menyerangnya. Xika sibuk menghindar sampai tak memperhatikan bentuk tombak itu yang terlihat setengah nyata. Tombak itu tembus pandang dan kadang kau bisa melihatnya kadang kau tidak bisa melihatnya.
"Lawan seranganku Xika!"
Setelah mendengar perkataan Kong Yan, baru Xika melawan balik dan menghancurkan tombak-tombak itu, bukan sekedar menghindar. Ia melawan tombak-tombak itu dengan elemennya. Kadang ia menggabungkan beberapa elemennya ketika berhadapan dengan tombak yang kuat.
Akhirnya, setelah menghadapi ribuan tombak yang tak kunjung berhenti, Xika mendapatkan istirahat. Kong Yan menghentikan serangannya. Ia menatap Xika yang terengah-engah tapi tak menghilangkan tatapan waspada di matanya. Itu membuatnya tersenyum tanpa sadar.
"Bagus! Kau bisa memasuki celah sebelumnya setelah menembus Forming Qi 2. Tapi kau harus membawa burung dan serigala itu bersamamu. Mengerti?"
Xika mengangguk dengan tatapan waspadanya. Setelah yakin Kong Yan benar-benar berhenti menyerangnya, barulah ia melepaskan kewaspadaanya perlahan.
"Kenapa kau menyerangku, Paman?"
"Kau akan tahu nanti. Jaga baik-baik pemberianku. Kau akan membutuhkannya nant. Oh, dan namanya Nexus. Aku lupa memberitahumu terakhir kali. Ah, mengenai celah lainnya," Kong Yan berhenti sebentar untuk melihat binar harapan di mata Xika sebelum menghancurkannya berkeping-keping, "Lupakan saja untuk sementara. Kau tidak akan bisa memasukinya dalam waktu dekat."
Xika memasang ekspresi masam. Tapi ia tak membantah.
"Tugu batu itu bernama Nexus. Lalu kartu ini bernama apa?"
__ADS_1
Kong Yan tersenyum mengingat kenangan lama.
"Cosmos."