
Tap!
Heiliao menapakkan kakinya ke dalam ruang di balik celah. Sejujurnya, tempat itu kurang tepat bila disebut ruang. Itu adalah tempat di mana beberapa ruang berkumpul. Heiliao bilang itu namanya Simulocus. Yang artinya adalah ruang yang berkumpul.
Mereka bertiga tiba di sebidang tanah. Tanah itu cukup besar dan mereka tidak bisa melihat ujungnya. Terdapat berbagi tumpukan batu spasial di tanah itu. Dan di sekeliling tanah itu, ada banyak celah spasial yang mengarah ke berbagai tempat. Celah yang mereka lalui hanya satu dari sekian banyak celah yang ada.
Setelah yakin tanah di sekitar mereka aman, Xika turun dari Heiliao. Mereka menatap sekeliling dengan hati-hati. Seperti yang Lang Hu katakan, tidak ada tanda kehidupan di tempat itu. Tapi mereka tidak menurunkan kewaspadaan.
Mereka saling berpandangan sebelum melangkah maju lebih jauh, menyelidiki tempat itu. Heiliao mendekat pada salah satu tumpukan batu spasial dan Shu Mang tidak salah. Benda itu memang batu spasial. Kualitasnya cukup baik, mungkin di tingkat menengah. Ia jadi penasaran apakah bisa menemukan tingkat tinggi di tempat ini.
Xika mendekat pada salah satu celah. Ia mengintip penasaran apa yang ada di balik celah itu, tapi pemandangan yang terlihat tidak terlalu jelas. Celah itu menunjukkan riak samar dan Xika langsung mundur. Ia berhenti ketika ada jarak sepuluh meter antara dirinya dengan celah itu. Dan tidak lama kemudian, celah itu meledak.
DUAR!!
Heiliao langsung menoleh sementara Huo Bing yang daritadi bersama Xika mematuk dirinya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku tidak melakukan apa-apa. Celah itu meledak dengan sendirinya."
"Ssshhh........" ucap Heiliao menenangkan keduanya. Ia takut keributan mereka akan terdengar oleh mahkluk penghuni tempat ini. Itupun kalau ada.
Di tempat di mana celah yang meledak itu sebelumnya berada, terletak beberapa tumpukan batu spasial.
"Apa itu........bagaimana batu spasial terbentuk?" tanya Xika pelan.
"Kurang lebih begitu."
Merekapun melanjutkan perjalanan. Beberapa kali Xika berusaha melihat apa yang ada di balik celah lainnya, tapi tak berhasil. Hanya pemandangan buram saja yang terlihat. Mereka telah berjalan selama lima belas menit tapi belum menemui tanda-tanda kehidupan sedikitpun.
Heiliao menggerak-gerakkan hidungnya beberapa kali berusaha mencium bau kehidupan, tapi tetap tak berhasil. Di sepanjang jalan, ada banyak sekali tumpukan batu spasial seolah itu bukanlah benda berharga. Dan Heiliao menemukan beberapa batu spasial tingkat tinggi. Tapi ia tidak menyentuh mereka sama sekali.
Ia masih belum tahu apa yang ada di tempat ini, jadi lebih baik untuk berhati-hati dan tidak menyentuh sembarangan. Mereka terus berjalan. Kira-kira sudah lebih dari satu jam dari pertama kali mereka menapakkan kaki di tempat ini. Mereka sudah menempuh beberapa kilo tapi masih belum bisa melihat ujung dari tempat ini.
Xika meminta Heiliao mempercepat langkahnya sementara Huo Bing memperhatikan sekelilingnya dengan seksama. Burung itu juga menyebarkan qi nya untuk mengetahui bila ada mahkluk hidup di tempat ini. Ketika mereka mulai bosan dan menurunkan kewaspadaannya, Xika melihat sesuatu.
Dan merekapun kembali waspada. Huo Bing mengepakkan sayapnya dan memeriksa benda aneh itu. Benda itu terlihat seperti tugu batu sebesar tujuh meter dan kira-kira tingginya sama dengan kepala Xika. Huo Bing mengitari tugu batu itu dengan hati-hati. Matanya menatap lekat-lekat tugu batu itu dengan seksama, berusaha mencari kejanggalan, keanehan, atau sesuatu yang tidak beres.
Tapi ia tidak menemukannya. Jadi ia kembali pada Heiliao dan Xika dan memberitahukan apa yang ia lihat. Batu itu berdiri di tengah jalan tanpa ada ukiran atau ornamen sedikitpun. Selain itu, ada sesuatu yang berbentuk seperti kartu di dekat tugu batu itu.
__ADS_1
Rasa penasaran Xika terusik ketika mendengar ada kartu di tempat itu. Heiliao mengingatkannya agar berhati-hati. Xika hanya menjawab dengan seadanya dan meminta Heiliao bergegas menuju tugu batu itu. Sambil menghela nafas, serigala itu berjalan menuju tugu batu yang dikatakan Huo Bing.
Dan memang seperti yang dikatakan burung itu, ada tumpukan benda-benda yang terlihat seperti kartu. Bentuknya memang terlihat seperti kartu tapi bahannya tidak. Benda itu seolah-olah terbuat dari batu dengan pola aneh. Pola yang sudah dilihatnya selama perjalan menuju tugu batu ini.
Pola yang ada di tiap batu spasial. Xika menoleh dan menatap Heiliao. Serigala itu juga tahu bahwa kartu-kartu itu terbuat dari batu spasial. Ia memberikan padangan yang meminta Xika agar berhati-hati. Dan Xika berjalan maju mengambil kartu itu.
"Xika! Hati-hati! Jangan buru-buru. Sebaiknya kita amati tempat ini lebih dulu." kata Heiliao setengah berbisik. Huo Bing juga menatap anak itu dengan cemas, tapi sudah terlambat untuk menghentikkan Xika mengambil kartu-kartu itu.
Grep!
Xika berhasil menggenggam kartu itu. Ia melihat tatapan khawatir di wajah Heiliao dan Huo Bing, kemudian menoleh ke sekelilingnya, mencoba melihat hal apa yang terjadi setelah ia mengambil kartu itu. Dan............tidak ada. Tempat itu tetap sama seperti sebelumnya. Tidak ada getaran, tidak ada serangan, dan tidak ada tanah yang terbelah.
Srak! Drrrrt! Drrrtt!
Yah, tidak juga. Ada sesuatu yang terjadi. Bagian atas tugu batu itu bergerak dan kini berubah menjadi sesuatu yang menyerupai meja. Dan kartu yang dipegang Xika melayang dengan sendirinya, juga terkocok.
Heiliao yang kaget melihat hal itu ingin menembakkan serangan pada kartu, tapi Xika mengangkat tangannya dan menghentikkan serigala itu. Xika berjalan mendekat sampai ia berada di depan meja itu. Ia menunggu beberapa saat sebelum kartu yang melayang itu berhenti mengocok dirinya.
Kartu-kartu itu membagi dirinya sendiri menjadi empat tumpukan. Kemudian diam seolah meminta seseorang mengambil mereka. Jadi Xika mengambil salah satu tumpukan dan melihat isinya yang tidak berbeda dengan kartu yang biasa ia mainkan. Tapi tumpukan itu masih diam meskipun Xika sudah mengambil salah satunya.
"Ayo." ajak Xika pada Heiliao dan Huo Bing.
Huo Bing jalan duluan. Ia mengeluarkan kartu berisi angka empat keriting. Selanjutnya Heiliao, baru Xika, dan kembali lagi ke tumpukan yang bergerak sendiri itu. Setelah Xika mengeluarkan kartu King, Huo Bing tidak jalan lagi, demikian juga dengan Heiliao dan si tumpukan kartu.
Karena tumpukan kartu itu tidak bergerak, Xika menganggap bahwa tumpukan itu juga cus sama seperti Huo Bing dan Heiliao. Jadi ia jalan lagi. Kali ini ia mengeluarkan dua pasang kartu yang memiliki angka lima di atasnya. Tumpukan kartu itu juga mengeluarkan dua pasang kartu.
Tiga menit berlalu dan kini di tangan Xika tersisa tiga kartu, sementara tumpukan kartu itu masih ada empat. Saat ini giliran Xika. Ia memiliki dua pasang kartu Queen dan kartu 10. Ia memilih mengeluarkan sepasang ratunya dan menunggu apa yang dikeluarkan tumpukan kartu itu.
Kartu kembali bergerak. Ia membalikkan dirinya dan menampilkan sepasang King. Xika mendecakkan lidahnya melihat langkah yang dibuat. Huo Bing memilih cus sementara Heiliao mengeluarkan sepasang As. Xika hanya memiliki satu kartu jadi ia juga cus.
Dan dua kartu yang tersisa menggerakkan diri mereka ke tengah meja. Kemudian membalikkan diri hingga terlihat sepasang kartu yang bertuliskan dua. Xika melebarkan matanya. Mereka kalah. Lebih tepatnya Huo Bing yang kalah karena memiliki nilai terbesar di tangannya sementara si tumpukan kartu yang bukan tumpukan lagi menang.
SRAT! WHUSH!
Tali-tali yang bercahaya muncul dan mengikat Huo Bing, kemudian menyeretnya sampai ke depan salah satu celah. Huo Bing berusaha membebaskan dirinya, tapi tak berhasil. Ia berusaha kembali ke dantian Xika, tapi tali-tali itu menahannya.
"Sialan! Apa-apan ini?!" teriak Xika.
Tapi tak ada jawaban. Heiliao menatap tumpukan kartu di meja, kemudian berbicara.
__ADS_1
"Kurasa itu karena permainan ini."
Xika juga melihat kartu-kartu di meja dan sadar bahwa Huo Binglah yang kalah. Kemudian kartu-kartu itu kembali bergerak dan mengocok dirinya sendiri. Kali ini kartu-kartu itu terbagi menjadi tiga tumpukan dengan satu kartu sisa yang tak dipakai.
Xika dan Heiliao saling pandang, kemudian mengangguk. Mereka melanjutkan permainan. Karena tadi Si Kartu yang menang, jadi ia yang jalan duluan. Mereka bermain selama sepuluh menit sebelum Heiliao kalah. Tali yang sama yang mengikat Huo Bing muncul lagi dan mengikat Heiliao. Tali itu juga membawanya menuju salah satu celah dan berhenti tepat di depannya.
Serigala itu berusaha melawan selama beberapa saat, kemudian berhenti setelah sadar bahwa perlawanannya itu sia-sia. Ia menatap Xika yang juga menatap dirinya. Sekarang semuanya tergantung pada Xika. Kartu-kartu di meja itu kembali bergerak. Ia mengocok, kemudian membagi dirinya menjadi dua tumpukan kali ini.
Karena kartu yang didapat lebih banyak, Xika membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyusunnya. Tapi ketika ia baru menyusun setengah kartunya, Si Kartu telah mengeluarkan langkah pertama. Xika menyusun kartunya dengan hati-hati.
Kemudian ia mengeluarkan langkah berikutnya dengan penuh pertimbangan. Permainan berlangsung lebih lama kali ini karena Xika memikirkan tiap langkahnya dengan cermat. Sepanjang permainan, Xika sering sekali cus. Ia hanya mengeluarkan beberapa kartu sebelum kembali cus.
Kini Si Kartu tinggal memiliki lima kartu sementara Xika masih memiliki lebih dari setengah kartunya. Si Kartu kembali bergerak. Untunglah ia tidak mengeluarkan semua kartunya sekaligus, kalau tidak Xika akan kalah. Xika membalas langkah itu dengan kartu King.
Dan situasi berbalik. Kini Xika yang terus jalan sementara Si Kartu terus-menerus Cus, atau mengskip gilirannya. Kartu di tangan Xika tinggal tujuh, sementara Si Kartu tinggal empat. Saat ini giliran Xika. Dan ia dihadapkan pada pilihan sulit.
Kartu apa yang harus ia keluarkan? Kalau ia salah langkah bisa-bisa mereka bertiga terlempar ke celah-celah itu. Ia berpikir keras selama beberapa menit. Dan akhirnya ia mengeluarkan lima buah kartu sekaligus. Tentu saja, Si Kartu tidak bisa melawan karena kartunya hanya empat.
Kemudian Xika mengeluarkan dua kartu yang tersisa di tangannya dan iapun menang. Seketika itu juga, tali-tali yang mengikat Huo Bing dan Heiliao menghilang dan mereka kembali bergerak. Xika menghela nafas lega. Untung saja ia membuat langkah yang benar.
Kalau ia mengeluarkan dua kartu dulu, alih-alih lima kartu, bisa-bisa mereka sudah terlempar ke celah lain sekarang. Heiliao dan Huo Bing mendekati Xika. Tidak ada yang berbicara di antara mereka, tapi mereka bisa melihat kelegaan di mata masing-masing.
SRAK! SRAK!
Meja yang sebelumnya berupa tugu batu kembali bergerak. Wujudnya kembali membentuk tugu batu, tapi kali ini ada sebuah lubang di tengahnya. Dan bentuk lubang itu menyerupai kartu. Xika mengerutkan keningnya berpikir selama beberapa saat.
Kemudian ia mengambil kartu yang ia mainkan sebelumnya. Tapi ketika tangannya baru menyentuh, kartu itu lenyap jadi ribuan partikel. Begitu juga dengan kartu lainnya sehingga tidak tersisa sama sekali. Xika jadi makin bingung. Lubang di tugu batu itu memiliki arti yang jelas.
Ia harus menaruh kartu di sana. Tapi kartu apa? Awalnya ia menduga kartu yang ia mainkan tapi kartu itu malah menghilang jadi partikel-partikel. Ia memiliki banyak kartu, tapi yang mana kartu yang sesuai? Kemudian sesuatu melintas dalam kepalanya.
Ia memasukkan tangannya ke dalam jubahnya merogoh-rogoh kantung. Ia berhasil menemukan apa yang ia cari dan membawanya keluar. Di tangannya, terdapat setumpuk kartu usang tanpa dek. Kartu yang sama yang telah menjadi senjatanya sekaligus pelindungnya.
Ia tidak berpikir kartu apa yang harus ia taruh. Ia hanya mengambil kartu paling atas dan menaruhnya tepat di lubang itu. Kemudian kartu itu menyala bersama dengan seluruh tugu batu. Kartu-kartu lainnya yang berada di tangan Xika juga ikut menyala.
Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Huo Bing dan Heiliao. Kening Xika juga ikut bersinar. Anak itu sepertinya tidak menyadarinya, tapi hal itu sudah cukup untuk membuat mereka khawatir.
Kartu-kartu di tangan Xika melayang dan bersinar semakin terang sampai ketiganya harus menutup mata.
SRIINGGGG!!! WHUSH!
__ADS_1