
Apa Xingli salah bicara? Tapi raut wajah Xingli tampaknya begitu serius sehingga tak mungkin ia salah bicara. Diminta berjanji agar tidak meninggalkan dirinya oleh seorang gadis es cantik yang hampir tak pernah bicara adalah hal yang tidak pernah terpikirkan sama sekali oleh Xika.
Xika mengorek kuping sekedar mengecek apakah ia salah dengar tapi Xingli menyadari maksudnya dan menggeleng.
"Aku serius."
Ia bicara lagi! Dan apa katanya tadi? Ia serius? Oke, Xika jadi gugup sekarang.
"Yah, emm....mengenai hal itu.....anu.....aku.....harus tahu terlebih dahulu alasannya.........kenapa kau memintaku melakukan hal itu?"
Xingli menunjukkan ekspresi sulit. Ia terdiam cukup lama sebelum kembali menatap Xika.
"Berjanjilah terlebih dahulu. Aku akan bicara."
"Tersenyumlah lebih dahulu." ucap Xika begitu saja tanpa bisa ia tahan.
Mata Xingli membelalak. Jelas gadis itu tak mengharapkan permintaan Xika. Setelah kembali berpikir cukup lama, akhirnya gadis itu setuju. Ia menaikkan salah satu sudut bibirnya, yang pada akhirnya meyakinkan Xika bahwa Xingli memang mengalami cacat tertentu di wajahnya.
"Kau tidak pernah tersenyum ya? Orang lain akan mengira kau cacat kalau melihat senyummu itu."
Xingli terlihat sangat kesal. Bahunya bergetar hebat menahan amarah. Tapi pada akhirnya ia hanya diam saja. Tak ada sabetan pedang, atau jarum terbang yang mengincar lehernya, atau balok es yang menghantam punggungnya. Xingli bisa menahan amarah? Xika tak tahu hal yang satu ini.
Yah, Xingli sudah berusaha keras. Xika juga akan berusaha serius kali ini.
"Ekhem......tahukah kau bahwa janji seperti itu biasanya hanya diucapkan oleh sepasang kekasih? Orang lain, bahkan diriku, akan salah paham mendengarmu memintaku menjanjikan hal semacam itu."
"Aku bersedia menjadi kekasihmu bila itu diperlukan." ucap Xingli tanpa emosi.
Xingli bersedia menjadi kekasihnya? Kalau orang normal yang berada di posisinya pasti akan merasa sangat senang. Tapi entah kenapa Xika malah merasa tidak suka melihat Xingli mengucapkan kekasih bagaikan hal yang dapat dibuang setelah selesai digunakan.
"Hm, kekasih adalah sebutan bagi dua orang yang saling mencintai. Cinta tak mungkin tumbuh tanpa saling mengenal. Dan aku belum mengenalmu, nona. Lalu, apakah kau sadar kau mengucapkan kekasih seperti barang yang dapat dibuang setelah selesai digunakan? Aku tidak suka itu."
__ADS_1
Entah kalimat Xika yang keterlaluan, atau ekspresinya yang menunjukkan amarah hingga membuat Xingli terkejut. Gadis itu mendadak memandang tanah tanpa bicara.
"Melihatmu bersikap seperti itu, sepertinya kau juga tidak mengenal cinta seperti diriku. Tolong jangan lakukan hal itu lagi."
Xingli mengangkat sedikit kepalanya dan Xika dapat melihat gadis itu merasa bersalah. Bahkan saat itupun ia terlihat cantik. Oke, kembali fokus. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Xingli tampaknya tak mau menceritakan alasannya hingga ia berjanji, tapi Xika juga tak bisa berjanji begitu saja. Ia tak bisa mengucapka janji kosong pada Xingli.
Mendadak sebuah ide aneh terbersit di kepala Xika. Karena gadis itu meminta Xika untuk tidak meninggalkannya, kenapa ia tidak melakukan hal yang sama? Ia yakin akan dihina Huo Bing dan Heiliao habis-habisan karena hal ini, tapi biarlah.
Lagipula ditemani gadis cantik seperti Xingli tidak buruk juga kalau tidak menghitung para penggemarnya yang fanatik. 'Terlalu lama menunggu akan membuat segalanya terlambat.' Xika pernah membaca kalimat itu sebelumnya. Ia memang masih tak bisa memastikan perasaannya pada Xingli, jadi sambil memastikan perasaannya, mengapa tidak menjaga Xingli disampingnya saja?
Xika mengulas sebuah senyum yang entah bagaimana membuat firasat Xingli buruk. Tentu saja gadis itu tidak menunjukkannya. Ia ahli dalam menyembunyikan ekspresi.
"Hei. Kau mau aku berjanji untuk tidak meninggalkanmu, dan kau tidak mau memberitahukan alasannya. Dan aku tidak bisa mengucapkan janji semacam itu tanpa tahu alasannya."
Tanpa menunggu kalimat Xika selesai, Xingli sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Xika akan menolaknya. Raut wajahnya jelas menunjukkan gadis itu kecewa.
"Tapi bukan berarti tidak ada cara." ucapnya sambil tersenyum.
Xingli mundur selangkah waspada terhadap senyum aneh Xika.
"..........."
Apa Xingli terkejut? Bagus. Seharian ini Xingli terus yang membuatnya terkejut, akhirnya ia bisa balas dendam.
Gadis itu memberikan ekspresi sulit. Jelas ia tidak mengharapkan Xika akan meminta hal yang sama padanya. Mendadak ia merasakan apa yang dirasakan Xika.
Memikirkan akan terikat dengan sebuah lelaki selamanya itu......adalah hal yang sulit. Apalagi ia belum mengenal Xika, sama seperti Xika belum mengenalnya.
Xika memperhatikan ekspresi Xingli dan tersenyum. Entah mengapa ia merasa gadis ini akan menyetujuinya.
"Sebelum menjawab, kau harus memikirkannya baik-baik. Setelah berjanji kau tidak bisa mengingkarinya, loh! Kau akan terikat terus bersamaku, seumur hidup. Bagaimana kalau ternyata aku tak seperti yang kau lihat? Bagaimana kalau ternyata aku menyembunyikan sesuatu?"
__ADS_1
Xika hanya iseng mengatakan hal itu untuk membuat Xingli ragu, tapi Xingli seolah terkejut mendengarnya. Ia menatap Xika dengan tatapan baru yang......Xika tak tahu tatapan itu. Daripada ragu, ucapan Xika justru malah membuat Xingli semakin yakin. Xika dapat melihat tekad yang sebelumnya tak ada di mata Xingli.
Gadis itu mengangguk. Eh, Xika tak menyangka ia akan setuju secepat ini. Entah kenapa itu membuatnya senang.
"Kalau begitu ayo ucapkan bersama." Xika tersenyum.
Xika mengambil kedua lengan Xingli dan menyatukannya dengan tangannya. Xingli mengeryit karena hal itu tapi tak mengucapkan apa-apa. Gadis itu melihat Xika, memastikan apakah ini semacam permainan lain, tapi matanya berbinar begitu terang hingga Xingli percaya padanya. Percaya bahwa janjinya pada pria ini tak akan sia-sia.
Tanpa aba-aba, keduanya saling menatap, dan pada detik yang sama, mereka bicara.
""Aku berjanji tak akan meninggalkanmu.""
Jari-jari Xika dan Xingli yang saling terhubung memancarkan cahaya. Kemudian cahaya itu merambati kedua tangan mereka dan terus naik hingga ke bahu, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Tak ada yang menghentikan hal itu, dan keduanya tetap berpegangan tangan sampai cahaya itu menyebar ke seluruh tubuh mereka dan akhirnya meredup.
Xika menutup matanya ketika cahaya itu datang. Ketika ia membuka matanya ia melihat Xingli.......dengan wajahnya yang semerah tomat, tapi masih tidak bereskpresi.
Di belakang, terdengar siulan Huo Bing dan tahulah Xika bahwa burung itu sedang melihatnya berpegangan tangan dengan Xingli.
Dengan kikuk, keduanya melepaskan tangan mereka sambil memalingkan wajah, tak berani menatap wajah satu sama lain. Xika mengutuk dirinya sendiri karena mengambil lengan Xingli. "Kenapa aku melakukan itu?" pikirnya.
Ia menoleh dan melihat penghalang elemen yang ia buat sebelumnya telah hilang. Entah sejak kapan penghalang itu hilang. Semoga saja saat tubuh mereka bersinar. Kalau sudah menghilang sebelum mereka bersinar, itu artinya Huo Bing mendengar janji mereka. Sialan, itu memalukan.
"Apa kalian sudah selesai bermesraan? Ah, kami tak keberatan kalian berpegangan tangan, kok. Tidak perlu malu-malu." ucap Huo Bing menggoda mereka.
Secara bersamaan, Xika dan Xingli menyembunyikan kedua tangan mereka di belakang punggung. Keduanya sama-sama mengingat kehagatan yang mereka rasakan sebelumnya. Kali ini wajah Xika juga ikut memerah.
Xika batuk beberapa kali untuk menghilangkan suasana canggung. Kemudian ia menatap Heiliao, setelah itu Xingli.
"Yah, kalau begitu kurasa masalah selesai untuk saat ini?"
Tentu saja, baik Heiliao maupun Xingli tak akan menjawab tapi sepertinya mereka tak akan saling bunuh untuk saat ini.
__ADS_1
"Baiklah. Mari kita kembali. Aku sudah tak sabar ingin mencoba teknik baruku."
Entah Xika yang salah liat atau Xingli memang menatapnya dengan berbinar ketika mengucapkan 'teknik baruku'. Sementara itu, Heiliao mengerutkan kening melihat tubuh Xika. Ia tak menemukan adanya luka di tempat sabetan pedang Xingli dan cakarannya, hanya terdapat bekas luka yang tak lama lagi akan sembuh.