
Setelah melakukan perjanjian darah, kini mereka merupakan saudara. Dan hal itu cukup menghangatkan hati Xika yang kini hampir tidak memiliki siapapun.
Tapi setelah mendengar cerita Huo Bing, Xika masih tidak mengerti apa hubungannya dengan Dark Swifted Serpent yang mengetahui identitas Huo Bing padahal saat itu Huo Bing sendiri sedang bersembunyi dan hanya membantu Xika sedikit.
Tunggu.
Sepertinya Xika tahu mengapa ular itu menyadari keberadaaan Huo Bing. Makhluk itu pasti menyadarinya ketika Huo Bing membantu dirinya.
Tapi itu masih tidak menjawab pertanyaan mengapa ular berkepala dua itu mengenali Huo Bing.
"Ngomong-ngomong Huo Bing."
Huo Bing menoleh.
"Aku masih tidak mengerti apa hubungannya antara ular kemarin dengan ceritamu barusan."
"Ah.... ya.
Aku lupa menceritakannya.
Pemandangan terakhir yang aku lihat adalah orangtuaku yang bertarung melawan ular raksasa. Jadi sejak saat itu aku cukup membenci ular.
Tapi tanpa ada peristiwa itu pun entah kenapa, aku juga memang sudah membenci ular. Aku tidak mengerti, mungkin kebencian itu mengalir dalam darahku.
Setelah berpisah dengan orang tuaku, aku menjalani hidupku sendiri. Latihan ayahku sebelumnya berperan besar dalam kelangsungan hidupku waktu itu.
Aku berhasil bertahan hidup karena menjalani latihan keras yang ayahku berikan.
Selama hidupku, aku sering sekali bertarung dan telah membunuh banyak sekali ular. Kami telah memiliki kebencian yang tak terhingga satu sama lain. Kebencian yang sangat dalam sampai kami tidak akan berhenti sampai salah satu dari kami mati.
Belakangan aku baru tahu bahwa bukan hanya diriku saja yang memiliki kebencian dengan kaum ular. Ternyata kaum burung lainnnya juga membenci kaum ular sebagaimana kaum ular membenci kaumku.
Jadi kami terus bertempur dengan kaum ular.
Sesekali aku akan bergabung dengan kaum burung lainnya, tapi aku lebih sering sendirian.
Sampai suatu ketika aku melihat sebuah mahkluk yang memiliki sayap dengan empat kaki di tubuhnya yang tidak terlalu berbeda dengan ular."
"Naga! Itu pasti naga! Jadi kau pernah bertemu naga asli? Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku?" Xika memasang wajah gembira ketika mendengar Huo Bing pernah bertemu dengan naga. Tapi tidak dengan Huo Bing yang memiliki ekspresi buruk di wajahnya ketika mendengar nama mahkluk itu disebut. Bahkan ada amarah dalam ekspresinya.
"Xika. Dengarkan aku. Di dunia ini tidak ada yang namanya naga. Naga itu bukan mahkluk yang nyata."
"Tapi kau bertemu dengannya bukan?"
Huo Bing tidak menjawab pertanyaan Xika, justru wajahnya semakin memburuk.
Ia melanjutkan ceritanya.
"Aku merasakan ada yang aneh dari mahkluk itu. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu dari tubuhnya yang tidak seharusnya. Dan aku menyadarinya.
Sayapnya.
Sayapnya bukan miliknya.
Sayapnya berwarna biru muda hampir seputih es dengan aura dingin yang sesekali terpancar darinya."
Ekspresi Xika menjadi berubah mendengar cerita Huo Bing.
"Benar.
Itu adalah sayap ayahku."
"!!"
Mata Xika melebar mendengar kalimat terakhir Huo Bing. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Sementara Huo Bing memiliki ekspresi yang sulit dijelaskan di wajahnya.
"Aku tidak berpikir panjang saat itu. Aku langsung menyerang mahkluk itu. Aku hendak merobek sayapnya dari tubuhnya.
Tapi aku gagal.
Mahkluk itu cukup kuat. Cukup untuk melawan 3 diriku dengan kekuatan penuh di saat yang bersamaan."
__ADS_1
Ekspresi Xika semakin memburuk mendengar kuatnya mahkluk itu.
"Aku kalah.
Terlebih mahkluk itu tidak sendiri. Ada beberapa dari mereka. Hampir semuanya memiliki bentuk yang sama. Yang membedakan hanyalah sayapnya.
Aku tidak tahu bagaimana sayap ayahku bisa berakhir di tangan mahkluk itu atau bagaimana nasib ayahku.
Aku sangat marah. Tapi tak ada yang bisa kuperbuat. Jadi aku melarikan diri.
Mahkluk itu mencoba menghentikan diriku, namun aku masih bisa melarikan diri darinya. Tapi aku merasa mahkluk itu hanya bermain-main saja.
Ia bisa menghentikanku melarika diri kalau ia mau, tapi ia tidak melakukannya. Begitu juga dengan teman-temannya. Mungkin aku tidak cukup kuat untuk dianggap sebagai ancaman.
Dengan hati yang panas aku pergi dan berkelana untuk memperkuat diriku.
Tapi setelah beberapa tahun aku kembali dan melawan mahkluk itu lagi.
Hasilnya? Aku kalah.
Aku melawan mahkluk itu sendiri dan aku masih kalah.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila aku bertarung melawan mereka semua pada saat yang bersamaan."
Huo Bing diam sebentar melihat ekspresi Xika.
"Kau pasti bertanya-tanya bukan? Apa hubungan kisahku yang ini dengan ular berkepala dua kemarin?"
Xika mengangguk.
"Belakangan aku mengetahui bahwa mahkluk itu memiliki hubungan keluarga dengan ular. Musuh bebuyutanku.
Dan entah sejak kapan, aku baru tahu setelah kalah melawan mahkluk itu, bahwa ular memiliki cara berkomunikasi yang berbeda dengan cara Spirit Biasa berkomunikasi.
Sepertinya Core mereka sedikit berubah karena cara itu, tapi aku tidak tahu kenapa dan bagaimana.
Dan menggunakan Core mereka, informasi mengenai burung-burung tingkat atas tersebar. Bahkan sampai ke ular tingkat terendah sekalipun."
"Meskipun tidak bisa membantu bertarung, setidaknya bisa berbagi informasi mengenai lokasi.
Itulah mengapa aku benar-benar diam dan hampir tidak membantumu sama sekali.
Karena sekali aku menunjukkan diriku, meskipun ular itu berhasil dibunuh, tapi informasi tentang diriku sudah tersebar.
Tapi aku terpaksa membantumu saat itu. Kondisimu tidak memungkinkan untuk melawan ular itu. Meskipun teknik terakhir diluar dugaanku.
Meskipun hanya sekilas, tapi ular itu mengetahui keberadaanku."
"Apa? Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Kita akan pergi.
Pergi dari hutan ini dan tidak menetap di satu tempat selama lebih dari satu bulan."
Xika mengangguk mendengar perkataan Huo Bing, kemudian ia segera bergegas mandi.
Ketika Xika sedang berjalan menuju sungai, Huo Bing melemparkan sesuatu padanya.
Xika menangkapnya.
Ternyata itu adalah tongkat yang dibuat Huo Bing sebelumnya.
Xika mengerutkan alisnya melihat tongkat itu.
"Apa-apaan ini?"
"Ambil itu sekarang. Kita tunda dulu persyaratannya."
Xika melemparkan kembali tongkat itu ke Huo Bing yang ditangkap dengan mulus oleh burung itu namun dengan ekspresi penuh tanda tanya.
Xika memasang posisi bertarung.
"Karena kita akan meninggalkan tempat ini, maka ayo buat kenang-kenangan.
__ADS_1
Lagipula aku memang tidak bermaksud menerima benda itu secara cuma-cuma. Terlebih aku masih penasaran dengan teknikmu dan ingin mempelajarinya."
Huo Bing diam sebentar kemudian menghela nafas.
"Baiklah.
Hanya satu pertarungan. Kalau kau menang perjanjian masih sama seperti sebelumnya, tapi kalau aku yang menang kau ambil tongkat itu dan akan kupukul kau seratus ribu pukulan di masa mendatang."
"Setuju."
Xika segera maju dan melemparkan beberapa kartu menuju Huo Bing.
Huo Bing menghindar, tapi ketika ia melihat ke tempat Xika sebelumnya Xika sudah hilang.
Xika muncul di belakang Huo Bing dengan 6 kartu yang tersusun menjadi tongkat dan tengah terbakar.
Sesaat sebelum serangan itu mengenai Huo Bing, Huo Bing membuat pelindung.
Meskipun melewati pelindung, tapi serangan Xika masih sukses membuat Huo Bing mundur.
Xika langsung melompat hendak mengambil tongkat yang dipegang Huo Bing.
Tapi Huo Bing menghentikannya dengan mematuk perut Xika hingga terjatuh.
"Uhh...."
Xika memegangi perutnya yang terasa sakit. Tapi ia tidak berhenti.
Ia terus-menerus menyerang Huo Bing, tapi tidak dengan membabi buta.
Huo Bing mengakui bahwa Xika telah tumbuh banyak dalam melawan ular berkepala dua sebelumnya. Serangannya semakin aneh dan sulit diprediksi.
Tapi masih belum cukup untuk merebut tongkat dari Huo Bing.
Huo Bing mengepakkan sayapnya beberapa kali dan area diatas Xika seluas 500 meter tertutup oleh bulu-bulu Huo Bing.
Kemudian bulu-bulu itu jatuh dan mengarah menuju Xika.
Xika tidak bergerak sama sekali dan hanya tersenyum menunggu datangnya serangan Huo Bing.
Simbol angin menyala di mata kanan Xika dan seluruh tubuhnya terselimuti angin tipis yang membelokkan setiap serangan Huo Bing sehingga tidak melukainya.
Tapi Huo Bing tidak diam saja melihat hal itu. Ia terbang dan mengarahkan paruhnya menuju Xika yang dengan mudah dihindari Xika.
Tiba-tiba Huo Bing membuka sayapnya.
Xika segera menundukkan kepalanya.
Hanya ada jeda sedikit antara kepala Xika dengan sayap Huo Bing.
Belum sempat Xika berbalik, Huo Bing sudah melemparkan bulunya dan terbang menuju Xika.
"Bulumu itu benar-benar menyebalkan!"
Xika melempar kartu untuk menangkis bulu Huo Bing sementara ia berurusaan dengan Huo Bing.
Mereka bertukar serangan selama beberapa saat, tapi akhirnya mereka berdua kehabisan tenaga sehingga tidak menghindar lagi.
Mereka saling serang tanpa mempedulikan pertahanan lagi. Mereka tidak mempedulikan serangan musuh dan hanya berfokus menyerang satu sama lain.
Mereka berdua sama-sama mundur menjaga jarak dan mengambil nafas.
"Satu serangan terakhir.
Bagaimana?" usul Huo Bing.
"Baiklah." Xika menyetujuinya karena ia juga memang sudah kehabisan stamina dan qi.
Bulu-bulu Huo Bing mulai bersinar merah biru dan semakin lama semakin terang sementara Xika mengumpulkan qi nya di kartu yang ia pegang, hendak menggunakan Single.
Ketika masing-masing sudah selesai mempersiapkan serangan, mereka melemparkan serangan terakhir mereka.
Serangan yang menentukan kemenangan atau kekalahan.
__ADS_1