Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-288


__ADS_3

Xika kembali ke pintu masuk menuju Gunung. Di sana sudah banyak orang yang menunggu. Ketika kerumunan orang banyak melihat Xika telah kembali, mereka semua bersorak-sorai menyambut dan menyanjungnya. Bahkan tidak sedikit gadis-gadis seusianya yang menatapnya dengan malu-malu.


Tentu saja Xika bingung mengapa semua orang ini berteriak begitu ramai? Tapi kemudian ia menoleh dan melihat sebuah layar besar dari cahaya mengambang di atas pintu masuk menuju Gunung. Di layar itu terpampanglah wajahnya yang saat ini sedang kebingungan.


Kalau begitu, mungkinkah seluruh pertarungannya tadi dilihat semua orang? Hanya itu penjelasan yang masuk akal mengingat semua orang mendadak bersorak untuknya. Namun jujur, ia tak suka semua pertarungannya dipertontonkan kepada orang banyak. Itu artinya seluruh rahasianya, juga seluruh tekniknya ketahuan. Sialan.


Xika melihat orang banyak yang masih terus bersorak-sorai. Ia menatap mereka dan mencoba mencari tahu jika ada yang bersikap mencurigakan. Hampir seluruh kartunya telah ketahuan, ia harus berhati-hati saat ini. Namun kemudian, matanya menatap dua sosok.


Sosok yang pertama tersenyum padanya, sementara sosok yang lain tengah mendengus bangga. Kedua sosok itu adalah saudara-saudaranya. Huo Bing dan Heiliao.


Mendadak perasaan was-wasnya hilang. Kalaupun ada yang bersikap mencurigakan, Huo Bing dan Heiliao pasti sudah menyadarinya duluan. Mungkin ia terlalu lama mengikuti kompetisi, jadi terbiasa untuk waspada dan bertindak sendirian. Untungnya, saat ini ia tak sendirian lagi.


Ia berjalan mendekati keduanya menembus kerumunan. Banyak yang memujinya, atau sekedar berniat untuk menjabat tangannya. Ia menolak semuanya hingga akhirnya sampai ke depan keduanya.


"Heh, kerja bagus." Huo Bing menepuk pundaknya sambil tersenyum bangga.


"Heh." Heiliao hanya mendengus bangga. Tapi tanpa bicarapun Xika tahu apa yang dirasakan serigala itu untuknya.


Kemudian ketiganya berjalan meninggalkan kerumunan dan kembali ke Jade Village, kediaman tercinta mereka. Di belakang Xika, keluarlah Li Tang dan Liang Jihua. Keduanya bukanlah pemenang, tapi mereka tetap disambut dengan sorak-sorai oleh kerumunan.


Li Tang, sekalipun ia tidak menang tapi telah mempertunjukkan kemampuan yang tidak biasa. Selain itu, dari delapan peserta yang ada, selain Xika dan Liang Jihua, bisa dibilang dirinyalah yang berada dalam kondisi paling baik saat ini.


Sementara Liang Jihua, ia tidak menang. Ia juga tidak menunjukkan kemampuan yang sangat luar biasa. Tapi ia cantik. Itu sudah cukup bagi orang banyak untuk menyorakinya.


Selanjutnya, di belakang keduanya, menyusullah Yun Xingzhao dan tiga tubuh lainnya yang berada dalam kondisi mengenaskan yang tampaknya merupakan Zhen Fang, Di Lang, dan Tian Li. Dari penampilannya, Tian Li berada pada kondisi yang paling baik.


Tapi sebenarnya ketiganya menderita luka yang sama. Jalan kultivasi telah tertutup untuk Tian Li. Ia tak memiliki kesempatan untuk berkultivasi lagi. Di Lang juga, sekalipun masih memiliki dantian, tapi seluruh uratnya telah tertutup. Tampaknya mustahil untuk menyembuhkan seluruh uratnya, sehingga mustahil baginya untuk berkultivasi juga.


Sedangkan untuk Zhen Fang, seluruh tubuhnya gosong. Sulit diketahui apakah ia masih hidup atau mati. Kalaupun hidup, rasanya sekedar menjalani hidup sebagai manusia biasa saja juga sudah merupakan keajaiban.


Terakhir, keluarlah Han Feng. Kali ini, tak ada yang bersorak-sorai untuknya. Tidak, bahkan sekedar bersuara saja tidak ada yang berani. Semuanya menahan nafas melihat keadaan pria yang dikatakan akan menjadi pemenang kompetisi tahun ini. Pria ini, yang telah berada di Low-Jack, kalah oleh seorang kultivator Forming Qi 8?


Kemudian, ketika mereka melihat keempat tubuh yang penuh dengan luka itu berjajar, semuanya segera menelan ludah. Memang, Xika adalah kuda hitam kompetisi ini. Ia menunjukkan hal-hal yang luar biasa dalam pertarungannya. Tapi ketika melihat mereka yang menjadi lawannya kini bernasib malang............Memang, kultivasi adalah jalan yang menyakitkan dan penuh dengan penderitaan.


---------------------


Jade Village, kamar Xika.

__ADS_1


Huo Bing dan Heiliao membaringkan Xika di kasurnya. Xika terdiam sejak ia memasuki Jade Village. Suasana terasa berbeda semenjak Xingli pergi. Padahal ia mengharapkan sambutan hangat dari Xingli atas kemenangannya. Sayangnya, gadis itu telah pergi.


Selain itu, apakah pamannya akan mendengar namanya? Kalaupun mendengar, akankah pamannya datang untuk mencarinya? Lalu-


"Sudahlah. Kau sudah menang. Berhenti merenung, rayakanlah kemenanganmu walau hanya sebentar. Aku tahu masih banyak hal yang harus dikhawatirkan, tapi mari berhenti sejenak dan nikmati saat ini. Oke?" ucap Huo Bing melihat Xika yang akan tenggelam ke dalam pikirannya kalau tidak segera dihentikan.


Xika terdiam sesaat lalu tersenyum. Ia mengangguk, kemudian menutup matanya untuk beristirahat. Di kompetisi, ia tak bisa tidur dengan tenang. Sekalipun ia bisa mendeteksi keberadaan musuh, rasanya tetap berbeda saat ia tidur di sini, bersama kedua saudaranya.


---------------------------


Xika bangun dengan segar dari tidurnya. Ia tak menemukan Huo Bing dan Heiliao di sampingnya. Mungkin mereka sedang keluar. Ia meregangkan tubuhnya kemudian berjalan keluar. Entah berapa lama ia tertidur, tapi tubuhnya terasa lebih baik.


Ketika ia membuka pintu kamarnya, sesosok gadis cantik tengah menunggunya. Gadis yang selama ini telah mengisi hati dan pikirannya. Gadis yang selalu diingatnya kemanapun ia pergi dan apapun yang ia lakukan. Gadis pertama yang berhasil meluluhkan hatinya.


Yin Xingli.


Ia bergegas menghampiri Yin Xingli. Ia hendak menggapai kedua tangan Yin Xingli, namun tekanan angin besar muncul di belakangnya. Xika menoleh dan melihat pria yang sama yang membawa Xingli pergi waktu itu. Kini pria itu menghantamkan tinjunya dan Xika kembali terhempas tanpa daya seperti sebelumnya.


Huo Bing dan Heiliao muncul. Mereka menyerang pria itu, tapi seperti sebelumnya, keduanya tak mampu melakukan apapun. Setelah menghempaskan Huo Bing dan Heiliao, pria itu membawa Xingli pergi. Xingli hanya bisa menatapnya tanpa daya sebelum meneteskan air mata.


"AHHH!!!"


Xika terbangun dari mimpinya. Xingli dan........pria itu. Kenapa ia memimpikan mereka? Apa terjadi sesuatu pada Xingli? Rasanya itu mustahil mengingat kekuatan pria pelayan itu. Mungkin, mimpi itu sengaja datang untuk mengingatkannya. Sekalipun ia telah memenangkan kompetisi ini, ia masihlah lemah. Perjalanannya masih panjang. Bukan waktunya untuk berpuas diri.


Ia beranjak dari kasurnya sambil meraba-raba tubuhnya. Kali ini bukan mimpi, meskipun Huo Bing dan Heiliao sama-sama tak terlihat. Ia membuka pintu dan berharap Xingli tengah menunggunya, sama seperti dalam mimpinya. Namun yang ia lihat adalah,


"Selamat!"


Di He menyambutnya pintu keluar. Ia heran dengan wajah Xika yang kecewa, padahal pria itu baru saja menang. Apa yang membuatnya kecewa?


"Di He ya........terima kasih. Sudah berapa lama aku tertidur?"


"Tidak terlalu lama, mungkin hanya sekitar beberapa jam. Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik?"


"Begitulah. Terima kasih. Di mana Huo Bing dan Heiliao?"


"Mereka keluar beberapa waktu yang lalu. Harusnya tak lama lagi mereka kembali. Ah, itu mereka!" ucap Di He sambil menuju dua sosok yang membuka gerbang pintu Jade Village.

__ADS_1


"Dari mana saja kalian?" tanya Xika menyapa keduanya.


"Mengumpulkan informasi. Kau tidak tahu bahwa pertarunganmu barusan menimbulkan kehebohan besar? Banyak petinggi yang kagum tapi banyak juga yang marah atas caramu menghabisi peserta yang tersisa."


"Ahhh...." Xika mengingat kembali pertarungannya beberapa waktu lalu. Tiga dari empat tubuh mengerikan itu bukan salahnya bukan? Ia mengakui kalau kasus Tian Li memang disengaja. Tapi Di Lang? Itu adalah kesalahannya.


Mengenai Zhen Fang dan Han Feng........oke, mungkin dua setengah dari total empat adalah kesalahannya. Tapi itu juga karena Zhen Fang menggunakan armor yang dapat meledak dan Han Feng yang mengonsumsi Berserk Pill.


"Ngomong-ngomong, Jing Wei ingin bertemu denganmu. Ah, dan setelahnya kau diundang untuk makan malam bersama. Esok pagi sekte-sekte akan berangkat dan kembali ke wilayah mereka. Jadi perjamuan malam ini sebagai pesta kemenangan sekaligus pesta perpisahan."


Benar juga. Li Tang, Yun Xingzhao, Liu Shang dan lainnya akan meninggalkan Akademi. Rasanya senang ia bisa bertemu dengan mereka, tapi sedih juga karena mereka akan segera berpisah. Tampaknya ia harus menikmati malam ini sebaik mungkin.


Xika melangkah keluar bersama Huo Bing dan Heiliao. Berbahaya untuk berkeliaran sendiri di saat banyak petinggi yang marah padanya. Selain itu, rasanya sudah lama ia tidak berjalan bersama keduanya sehingga ia cukup merindukan mereka. Namun ia tidak akan mengatakannya, karena mereka pasti akan besar kepala kalau mengetahuinya.


"Ah!" Xika berhenti dan menatap Di He. "Di kompetisi.......aku menemui salah seorang anggota Di Clan. Dia......terluka parah. Mungkin ia tak akan mampu berkultivasi lagi......"


"Ahhhh......Di Lang ya? Biarlah. Ia tak pernah menganggapku ada. Begitu juga denganku. Aku tak peduli apa yang terjadi padanya sekalipun ia mati. Santai saja. Ah, tapi mungkin ayahku tidak akan sepemikiran denganku. Pada saat itu, aku akan mencoba mendukungmu."


"Terima kasih." Xika tersenyum kemudian berbalik dan pergi menuju Jing Wei.


Di perjalanan, banyak yang menatapnya dengan kagum atau ngeri, ada juga yang bersorak atau berteriak memanggilnya dan memberinya ucapan selamat. Xika hanya menanggapi mereka seadanya. Saat ini, kebanyakan warga Akademi menyukainya. Tapi Xika tak akan melupakan sikap mereka ketika ia bertarung dengan Hua Zhantian.


Xika sampai di Gedung Utama. Ia naik ke ruangan Jing Wei.


TOK! TOK!


"Masuk." Terdengar suara dari dalam menjawab.


Xika membuka pintu dan mendapati Jing Wei sedang duduk membelakanginya. Ia tak menemukan orang lain selain Jing Wei di sana. Huo Bing dan Heiliao melangkah masuk kemudian menutup pintu rapat-rapat.


Jing Wei berbalik dan mengerutkan kening melihat Huo Bing dan Heiliao juga ikut datang, tapi tak mempermasalahkannya lebih jauh.


"Ada apa?" tanya Xika memulai percakapan karena Jing Wei hanya diam sedari tadi.


Setelah menghela nafas panjang, akhir Jing Wei berkata,


"Nak, apa kau sudah gila?!"

__ADS_1


__ADS_2