
SWOSH!
ZAP!
Xika tiba tidak jauh dari gerbang Kota Hei Yi (黑翼). Nama kota itu berarti sayap hitam. Ada yang bilang kota ini terbentuk dari ribuan bulu hitam yang saling menumpuk selama ratusan tahun. Ada juga yang bilang bahwa kota ini menyembunyikan rahasia dari burung hitam legendaris.
Yang mana yang benar Xika tak tahu, tapi ia cukup suka dengan nama kota ini karena berkaitan dengan burung. Burung selalu lebih baik dari ular.
Gerbang kota ramai dilalui para pedagang ataupun sekedar turis asing. Sekelompok penjaga berbaris rapi memeriksa kartu identitas tiap orang yang masuk.
"Sial. Aku tak punya kartu identitas. Apa yang harus kulakukan? Apa kupakai kartu Stellar Joker saja?"
Setelah mengantri beberapa menit, tiba giliran Xika. Kota ini begitu besar, begitu juga dengan gerbang yang menjaganya. Jadi banyak orang dapat masuk melewati gerbang secara bersamaan sehingga tidak heran giliran Xika tiba tidak lama setelah ia datang.
"Tunjukkan kartu identitasmu."
"Ah anu....aku tak punya...bisa kau beri aku pengecualian?" ucap Xika sambil memberikan senyum terbaiknya.
Sang penjaga menatap Xika beberapa saat tanpa berkedip.
"Apa kau datang untuk bergabung dengan akademi?"
"Eh? Oh, ya....."
"Masuklah. Kembali setelah kau mendapatkan kartu identitas murid di akademi. Atau pergi dari kota ini bila kau tak diterima di akademi."
Meskipun tak mengerti, Xika melangkah masuk melewati gerbang kota. Ia tak terlalu memikirkan ucapan penjaga tadi. Ada hal lain yang lebih penting yang harus ia pikirkan. Di mana Mu Zhan Academy?
Xika bertanya pada seorang pedagang yang menjual perhiasan. Pedagang itu menunjuk bangunan putih bercampur hijau yang cukup besar dan mudah dilihat dari kejauhan sekalipun. Setelah Xika berterima kasih, ia langsung melesat pergi secepat yang ia bisa.
Tapi karena tak ada jalan lurus yang langsung menuju akademi, Xika cukup kesulitan mencapai tempat itu. Jadi ia berganti pakaian yang tidak mencolok di gang sepi kemudian berpergian melalui atap. Hal itu sangat memudahkannya mencapai akademi.
Beberapa menit berlalu dan ia sudah tiba dihadapan tulisan besar 'MU ZHAN ACADEMY'. Pintu gerbangnya terbuka lebar dan para penjaganya tidak menghentikan orang yang masuk, jadi Xika langsung masuk begitu saja.
Ia melihat orang banyak berkerumun di satu tempat. Tadinya ia ingin bergabung juga, tapi mendadak sebuah pikiran menghentikan kakinya.
Kalau ia pergi sekarang dan ditanya apa identitasnya apa yang harus ia jawab? Karena takut dicurigai oleh para penjaga, Xika pergi ke arah sebaliknya dari tempat yang ramai orang itu untuk berpikir.
Sayangnya, setelah berpikir cukup lama ia masih belum menemukan jawaban yang bagus.
"Bah, masa bodoh. Jawabannya akan kupikirkan nanti saja. Sekarang yang penting aku ikut tes masuk dulu."
Ketika hendak beranjak dari tempatnya diam, Xika menangkap sekelebat sosok samar yang familiar. Auranya juga cukup familiar dan Xika yakin ia pernah bertemu dengan pemilik sosok itu tapi ia tak ingat siapa. Selain itu, ia menangkap benda familiar tergantung di pinggang sosok itu. Benda yang mirip dengan......pisaunya.
Tapi sosok itu sangat cepat, apalagi ia muncul dan pergi dari titik buta Xika, sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas sosok itu.
Xika memutuskan untuk memikirkan sosok itu nanti saja setelah diterima di akademi. Ia menendang tanah dan melesat menuju kerumunan orang banyak itu.
Setelah berusaha keras melewati kerumunan itu, Xika melihat sebuah arena dimana dua orang sedang bertempur. Di samping arena itu, terdapat beberapa pria berusia lanjut yang membawa kertas yang Xika duga adalah lembar penilaian.
BUM!
__ADS_1
BRAK!
Akhirnya pertarungan itu dimenangkan oleh pria berjubah kuning dengan serangan yang berbentuk kepala gajah. Sejujurnya, Xika sangat jarang bertarung dengan manusia dan lebih sering bertarung dengan Spirit Beast jadi ia tidak terlalu familiar dengan teknik-teknik pertarungan yang biasa digunakan oleh manusia.
Pemuda berjubah kuning itu berjalan ke arah elder yang duduk di tengah dan mengenakan jubah putih. Ia memberi hormat kemudian sang elder di sebelah kiri memberinya kartu identitas sementara elder yang di sebelah kanan memberinya seragam akademi.
"Jadi tes masuknya hanya begitu saja? Kalau begitu aku pasti bisa masuk." Xika tersenyum percaya diri. Ia melangkah mendekati penatua yang di tengah.
"Elder, boleh aku maju sekarang?" tanya Xika dengan senyum di wajahnya.
Pria tua yang ditengah mengerutkan keningnya bingung melihat Xika mendekat. Beberapa orang yang didekatnya tertawa kecil melihat tindakan Xika.
"Tunggu giliranmu."
Meskipun elder itu tidak menanyakan nama Xika, ia berkata sambil tersenyum kecil. Ia memalingkan wajah dan kembali menatap arena pertarungan yang telah diisi dua petarung baru.
"Tapi elder-"
"Tunggu saja namamu dipanggil."
Elder yang di sebelah kanan terlihat marah dan tidak suka dengan Xika. Ia mengusir Xika dengan kasar, cocok dengan jubahnya yang berwarna merah membara. Disamping elder putih, duduk seorang elder lain yang mengenakan jubah kuning. Elder itu bahkan tidak melihat Xika sama sekali.
Xika pergi kembali ke tempatnya. Ia tidak berniat meladeni tetua merah yang duduk di kanan itu. Jadi ia hanya menunggu dengan sabar di tempatnya berdiri.
Beberapa jam berlalu dan Xika sudah menyaksikan banyak pertarungan yang membosankan. Ia bahkan akan tertidur kalau tidak mendengar suara,
"Baiklah! Tahun ini yang masuk sedikit lebih banyak dibanding tahun lalu. Aku berharap kalian dapat menjadi masa depan Mu Zhan Academy ini. Bagi kalian yang tidak berhasil masuk, jangan menyerah dan coba lagi tahun depan."
"Tapi elder, namaku belum dipanggil."
Xika segera mendekat sebelum para pria tua itu pergi lebih jauh. Elder berjubah merah tampak semakin tidak suka dengan Xika sementara elder bejubah putih kembali mengerutkan keningnya.
"Namamu tidak ada di daftar? Siapa namamu?"
"Xing Xika."
Si tetua putih meneliti kertas di tangannya sebentar kemudian menggeleng.
"Apa kau sudah mendaftar?"
"Belum. Kupikir tes masuknya hanya pertarungan tadi."
"Bahahaha! Orang kampung dari mana ini? Cepat panggil penjaga untuk mengusir dia!" Si elder berjubah merah langsung tertawa terbahak-bahak, sementara elder berjubah putih memberikan senyum tipis.
"Nak, tes masuk Mu Zhan Academy terdiri dari tiga bagian. Masing-masing diadakan pada hari yang berbeda. Hari ini adalah yang terakhir."
"Apa? Tetua, tidak bisakah anda memberikan pengecualian? Saya yakin saya tidak akan mengecewakan anda."
Terdengar suara tawa dan ejekan dari banyak orang. Kejadian seperti ini sudah biasa mereka lihat tiap tahun. Selalu ada orang yang tak terima dengan nasibnya dan meminta pengecualian untuk diriya. Bagi orang banyak, hal ini sudah menjadi tradisi dan tontonan yang cukup menarik.
Elder berjubah putih ingin menolak Xika secara halus, tapi elder berjubah merah telah bicara lebih dulu.
__ADS_1
"Hah! Memangnya siapa kau? Kenapa kami harus memberikan pengecualian padamu?"
Xika menatap elder berjubah merah dengan pandangan kesal yang tak ditutupi. Sejak ia pertama kali datang, elder itu selalu memperlakukannya dengan buruk tanpa alasan yang jelas. Sebelumnya juga elder itu mengejeknya.
Terhadap orang yang tidak sopan, Xika juga tidak akan memberinya kesopanan. Ia tersenyum percaya diri.
"Kenapa? Sederhana. Karena anda akan menyesal menolak saya."
Biasanya para penatua akan mengabaikan kalau ada murid yang berkata seperti itu. Tapi kali ini berbeda. Elder berjubah merah yang sudah kesal dengan Xika sebelumnya tak akan mengabaikan kesempatan untuk mengejek Xika di depan umum. Ia tak yakin Xika bisa mengejutkan dirinya.
"Benarkah? Menurutku kami tak akan menyesal kalaupun menolak seratus dirimu."
"Anda pasti akan menyesal." Xika memberikan tatapan menantang pada elder berjubah merah itu.
"Dasar bocah keras kepala. Sepertinya kau tidak akan mengerti sebelum kuhajar." Selesai bicara, elder berjubah merah mengeluarkan auranya dan tahulah Xika bahwa pria tua itu berada di tingkat 9 Forming Qi. Kalau hanya segitu, ia tak perlu takut.
"Tunggu!"
Namun sebelum elder berjubah merah itu dapat menyerang Xika, elder berjubah putih menghentikannya.
"Hong Qian, kenapa tidak kita coba saja? Anak ini kelihatannya sangat percaya diri. Aku jadi penasaran dengan kekuatannya."
Elder berjubah merah yang dipanggil Hong Qian terlihat tidak suka, tapi ia tidak berani membantah perkataan pria tua berjubah putih itu.
"Apa ini? Bahkan Elder Bai turun tangan? Apa bocah itu memiliki latar belakang tak terduga?"
"Aku rasa tak mungkin. Kalau ia memiliki latar belakang yang kuat, ia tak mungkin tidak tahu tes masuk akademi ini yang selalu sama tiap tahun."
"Kalau begitu kenapa Elder Bai membantunya?"
"Hahh.....Elder Bai memang terkenal karena kebaikan hatinya. Kau tidak bisa menentukan latar belakang seseorang meskipun Elder Bai bersikap ramah pada seseorang."
"Mmm. Kau benar. Tapi bagaimanapun, Elder Bai telah bicara. Pemuda itu harusnya punya kemampuan bukan?"
"Ya, kalau tidak ia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Aku juga jadi penasaran dengan kekuatannya."
Xika tersenyum mendengar komentar banyak orang mengenai dirinya. Belasan tahun yang lalu, ia mengalami situasi ini setiap hari. Pada saat itu ia tidak memiliki kekuatan dan sering sekali dipukuli, meskipun begitu ia tak pernah takut.
Sekarang, ia memiliki kekuatan dan lebih lagi, ia tidak akan takut hanya pada kerumunan kecil seperti ini. Ia tidak sabar melihat reaksi mereka ketika ia diterima nanti.
"Anak muda, kau bisa menampilkan kekuatanmu sekarang. Tunjukkan kemampuanmu agar kami menyesal bila menolakmu."
Xika sedikit membungkuk pada Elder Bai.
"Elder, saya rasa hanya perkataan tak akan cukup untuk membuat anda terkesan. Bagaimana kalau anda mengutus seseorang untuk berlatih tanding dengan saya?"
Ketika mendengar perkataan Xika, Elder Hong Qian tersenyum keji.
"Heh. Kau sendiri yang mencari aib di depan umum. Jangan salahkan aku bersikap kejam. Han Shan, kau maju."
Seketika itu juga semua penonton terkejut ketika mendengar nama yang disebutkan Elder Hong Qian.
__ADS_1