Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-210


__ADS_3

Wanita itu mengamati Xika baik-baik dari atas sampai bawah. Tapi senyuman buas di wajah Xika tidak menghilang sedikitpun. Dan ia bahkan tidak repot-repot bertanya 'siapa kau?' atau 'kenapa kau mengganggu?'


Tanpa basa-basi, Xika mengepalkan tangannya yang terarah pada Lu Bei. Ia berkonsentrasi dan gelembung yang menutupi wajah Lu Bei kini hancur. Wajah gadis itu kembali memerah, ia kembali tak bisa bernafas.


Wajah yang dibuat wanita bergaun biru itu cukup baik. Mulutnya terbuka lebar, terlihat jelas sekali bahwa ia tak menyangka Xika dapat menghancurkan gelembung buatannya dengan mudah. Tapi kejutan di wajahnya dengan cepat berubah menjadi kemarahan.


Ia merentangkan kedua tangannya, satu mengarah pada Lu Bei, satu lagi menuju Xika. Dalam sekejap, gelembung air kembali muncul dan memberi nafas pada Lu Bei, sementara dari tangan yang satu lagi, muncul naga air sepanjang belasan meter yang segera meluncur menuju Xika setelah ia terbentuk.


BLAR!


Xika telah berkonsentrasi keras, tapi ia hanya mampu menghancurkan kepala naga air itu. Untuk sesaat, tubuh tanpa kepala itu hanya diam dengan bingung. Namun di saat berikutnya, kepala baru tumbuh dan membawa tubuhnya untuk menyerang Xika. Wanita itu tersenyum puas melihat hal tersebut.


WHUSH!


WHUSH!


Tiga bilah pisau angin meluncur dari tangan Xika, tapi itu hanya mampu memisahkan tubuh naga itu selama sedetik sebelum kembali menyatu.


Dan Xika tak sempat menghindar ketika naga itu menerjangnya. Ia menyilangkan kedua lengannya untuk bertahan dan naga itu menghantamnya begitu saja.


Ia terlempar beberapa meter dari tempatnya semula, tapi masih mampu bersalto di udara dan mendarat dengan aman.


Xika menatap wanita itu dengan waspada. Jelas bahwa wanita itu belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. Siapa sebenarnya wanita itu? Dan kenapa ia mengganggu Xika? Apa ia ibu Lu Bei? Tidak, itu harusnya tak mungkin. Tak ada kemiripan di antara mereka.


Tapi Xika tak tahu bahwa dirinya telah mengejutkan wanita itu lagi. Xika baru saja ditabrak oleh naga airnya, tapi pakaian Xika tak basah sedikitpun. Itu menunjukkan betapa dalam pemahaman Xika terhadap elemen, dan bukan hanya pada angin saja.


Wanita itu melirik Lu Bei dan kelihatannya gadis itu masih belum stabil, jadi ia harus menahan Xika sebentara lagi. Ia mengarahkan tangannya dan naga air yang telah menghempaskan Xika kini kembali menerjangnya.


Xika telah bersiap untuk menghindari naga itu, tapi ketika naga itu tiba di depannya, mendadak naga itu membeku. Membeku dalam arti yang sebenarnya, seluruh air yang membentuknya kini telah berubah menjadi es.


Jelas sekali wanita itu tak mengharapkan hal ini melihat betapa kesal ekspresinya. Di belakang, suara Huo Bing terdengar.


"Wah, wah......ada urusan apa sampai penatua yang terhormat datang kemari?"


Huo Bing melangkah maju dan membuka identitas wanita itu sekaligus memberitahu wanita itu bahwa Huo Binglah yang membekukan naga airnya. Artinya ia juga memiliki kekuatan yang setara dengan wanita itu.


Di kepalanya, Huo Bing berbicara,


'Berhati-hatilah. Wanita itu memiliki aura yang sama dengan satu dari empat orang yang mengawasi kita beberapa hari yang lalu.'


Xika mengangguk paham sambil berpikir. Wanita itu sudah mengawasinya sebelum ini. Sekarang ia menampakkan dirinya untuk mengganggu Xika, apa tujuannya sebenarnya?


Wanita itu menatap Huo Bing dengan hati-hati. Mengukur kemampuan burung itu dan terkejut ketika merasakan auranya tidak kalah dengan aura miliknya sendiri.


"Aku baru saja menyelamatkanmu. Berterima kasihlah sedikit." ucap wanita itu dengan ketus pada Xika.

__ADS_1


"Secara teknis, kau baru saja menyelamatkan Lu Bei, bukan aku. Dan aku tak akan mengucapkan terima kasih kalau yang kau maksud adalah naga air itu." Xika menjawab dengan tenang. Sambil bicara, ia menyentil udara, dan naga es yang baru dibekukan Huo Bing hancur berkeping-keping.


Wanita itu menunjukkan ekspresi terganggu melihat naganya di hancurkan oleh Xika, tapi yah, Xika tak peduli.


"Aku baru saja menyelamatkanmu dari hukuman. Apa kau tidak tahu bahwa akademi melarang pembunuhan?"


Xika menampilkan senyum tidak peduli.


"Kau! Apa kau menganggap remeh akademi? Biar kuajari kau bahwa ada beberapa hal yang tak dapat kau usik!"


Tangan wanita itu berubah menjadi air, tapi sebelum ia melancarkan serangan, empat buah pisau hitam muncul menargetkan lehernya dari empat arah yang berbeda.


Sebagai kultivator berelemen air, kecepatan bukanlah keahliannya. Jadi daripada menghindar, wanita itu lebih memilih untuk mengubah seluruh tubuhnya menjadi air.


Pisau hitam menembus air dan menghilang. Sementara wanita itu, yang masih berwujud air, menjauh sebelum membentuk dirinya kembali.


Namun sepertinya ia tak berhasi menghindari pisau itu sepenuhnya. Kini di sekeliling lehernya terlihat bekas luka sayat pisau, tipis tapi terlihat.


Ia menyentuh bekas luka itu dengan tangannya sambil mengerutkan kening. Sebuah suara dari belakang terdengar dan mengejutkannya.


"Pisau berikutnya tak akan meleset."


Begitulah yang diucapkan Heiliao. Dan Xika tersenyum melihat tindakan Heiliao. Kadang-kadang, tindakan keji nan spontan Heiliao sangat dibutuhkan, terutama dalam situasi seperti ini.


Wanita itu menatap Heiliao selama sedetik, dan detik berikutnya Heiliao sudah menghilang dari pandangannya.


Heiliao muncul kembali di samping Xika. Tanpa ekspresi, tanpa emosi. Sekali itu dia benar-benar mirip dengan Xingli.


Serius, ekspresi terkejut wanita itu membuat Xika ingin tertawa. Matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali. Dan Xika tahu apa yang ada di pikirannya. 'Apakah Heiliao baru saja berpindah ruang?'


"Kurang ajar! Kau berani menyerangku?! Apa kau tak tahu siapa aku?"


"Tidak." ucap Xika tanpa pikir panjang.


Bahunya bergetar menahan amarah. Selama ini ia selalu dipuja sebagai pelindung akademi, kemanapun ia pergi semua murid akan menunduk hormat, bahkan pada elder harus menghormatinya. Tidak ada murid yang tidak tahu dirinya, yang ada hanya tidak pernah melihatnya.


Ucapan Xika yang tanpa pikir panjang itu bagaikan tamparan keras bagi harga diri wanita itu. Entah Xika melakukannya dengan sengaja atau tidak.


Tep!


Xingli berdiri di samping Xika dan dari pandangannya Xika tahu bahwa identitas wanita itu tidaklah biasa.


"Jadi, siapapun kau, bisakah kau menyingkir? Aku punya seseorang yang harus dibunuh."


Sekali lagi, Xika maju tanpa gemetar. Kekhawatiran melintas sesaat di mata Xingli sebelum menghilang.

__ADS_1


SRRRR!!!!


Air mulai berkumpul di sekeliling wanita itu.


"Apa kau tak dengar bahwa pembunuhan dilarang? Apa kau benar-benar menganggap remeh akademi?"


Xika mengerutkan keningnya, seolah sedang berpikir.


"Hm, jadi, kalau kutebak tujuanmu disini adalah mencegahku membunuh Lu Bei?"


"Kau tidak sebodoh yang kukira."


Xika mengabaikan ejekan itu. Ia kembali bicara.


"Jadi, apapun jabatanmu, tugasmu adalah berkeliling mencegah pembunuhan?"


Wanita itu megerutkan alisnya, "Kurang lebih begitu," ia tak bisa menjelaskan apa saja tugas seorang pelindung akademi.


"Dan bagaimana kau bisa tahu bahwa pembunuhan akan terjadi?"


"Dengan menyebarkan auraku ke seluruh akademi. Aku tahu apapun yang terjadi, termasuk apa yang kau lakukan tadi malam. Sekarang, kalau kau sudah selesai bertanya, aku harus menghukummu atas percobaan pembunuhan dan penyerangan terhadap elder."


Xika tersenyum kecil. Sungguh wanita yang bodoh. Kalau ia memang tahu apa yang terjadi tadi malam maka ia tak akan melakukan apa-apa karena jelas-jelas tak ada apapun yang terjadi di antara Xika dan Xingli kecuali mereka tidur bersama. Jadi jelaslah bahwa ia berbohong atau hanya mengada-ngada.


"Sayang sekali, tapi aku belum selesai bertanya. Pertama, kalau kau tahu apapun yang terjadi, dimana kau saat aku dan Xingli bertarung melawan seluruh penghuni Jade Village? Kami berdua bisa saja mati melawan begitu banyak kultivator.


Kedua, dimana kau ketika Xingli bertarung melawan pria sebelumnya? Xingli bisa saja mati melawannya. Lalu saat aku bertarung melawan Lu Bei barusan, antingnya hampir saja membunuhku. Di mana kau saat itu? Kenapa kau baru muncul ketika Lu Bei hendak terbunuh?


Ketiga, percobaan pembunuhan? Lucu sekali. Lu Bei berusaha membunuhku sebelumnya dan dimana dirimu? Kini ketika aku hendak membunuhnya kau muncul dan mengatakan bahwa pembunuhan dilarang? Lucu sekali. Apa kau memintaku hanya diam menunggu ketika hendak dibunuh dan aku tak boleh mempertahankan diri?


Keempat, penyerangan terhadap elder? Seingatku kau yang menyerangku duluan. Temanku hanya muncul untuk membantuku dan aku tidak menyerangmu sama sekali. Atau, apa kau hendak mengatakan bahwa seorang elder diperbolehkan menyerang murid sementara murid tidak diperbolehkan menyerang elder?"


Ekspresi wanita itu sangat buruk. Ia tak menyangka Xika pandai bicara. Sejujurnya, ia memang menyebarkan auranya, tapi tidak ke seluruh akademi. Dan ia tak mengetahui semua yang terjadi di akademi. Lalu ketika pertarungan Xika dan Xingli, ia sengaja membiarkan mereka.


Bagaimanapun juga, Xika dan Xingli adalah murid yang tidak biasa. Ia ingin melihat bagaimana mereka menghadapi murid-murid lain. Sejujurnya, ia tidak menyangka Xika akan menggunakan itu untuk membalikan situasi.


"Aku menyerangmu karena kau berusaha membunuh gadis itu. Konyol. Apa kau berani mempertanyakan keputusanku? Dan dimana rasa hormatmu? Aku adalah seorang Penatua dan umurku jauh lebih tua darimu."


Dalam hati, Xika ingin tertawa mendengar kalimat terakhir. Ia bahkan berani mengatai Huo Bing dan Heiliao yang berusia jauh lebih tua darinya, mengapa ia harus menghormati wanita itu?


"Apa? Jadi para murid dilarang mempertanyakan keputusan seorang Penatua sekalipun keputusannya tidak masuk akal? Luar biasa. Kalau begitu, ketika aku menjadi penatua, aku bisa merampok segala kepunyaan para murid dan mereka dilarang mempertanyakan keputusanku?" Xika menoleh pada Huo Bing. "Huo Bing, Akademi Mu Zhan memang luar biasa. Sudah kuduga kita tidak salah pilih akademi." ucap Xika penuh sarkasme.


Wajah wanita itu semakin buruk.


"Diam! Kau berani membantah? Ikut aku! Akan kubuat kau jera!"

__ADS_1


"Ng, tidak ah. Aku mau di kamarku saja. Terima kasih." ucap Xika dengan senyum, seolah apa yang dikatakan wanita itu adalah ajakan.


Disampingnya, bukan hanya Huo Bing dan Heiliao saja yang tertawa. Tapi Xingli juga ikut tertawa. Dan sejujurnya, murid-murid yang lain merasa geli mendengar percakapan Xika dan wanita itu. Sudah jelas siapa yang benar dan siapa yang salah.


__ADS_2