
"................."
Xika menatap kiri dan kanannya dengan canggung sekaligus bingung. Bagaimana ia bisa berada dalam kondisi seperti ini? Di sebelah kirinya Wu Liao menatap bolak-balik antara dirinya dengan Xingli. Di sebelah kanannya, Xingli menatap dirinya dengan tatapan yang tak terbaca, tapi entah kenapa ia merasakan aura berbahaya dari gadis itu.
Sebenarnya mengapa Xingli bisa ada di sini? Dan kenapa kedua gadis itu saling menatap sambil memancarkan aura permusuhan?
Xingli muncul beberapa saat sebelumnya, tepat disaat Wu Liao sedang menjadikan dada Xika sebagai lap ingusnya. Yah, bisa dibilang saat mereka sedang pelukan. Ekhem! Xika tidak bermaksud memeluknya. Wu Liao terlihat rapuh dan sangat butuh dukungan jadi ia berusaha menghiburnya. Itu saja.
Gadis es itu muncul secara tiba-tiba entah dari mana. Mendadak ia tiba di samping Xika dan langsung mengayunkan pedangnya hendak memotong Wu Liao. Untungnya Wu Liao berhasil merasakan serangan Xingli dan menghindar mundur. Tapi entah kenapa gadis itu kelihatannya tidak suka meninggalkan lap ingusnya.
Setelah itu Xingli menatap Xika dan Wu Liao tanpa emosi sama sekali. Tapi setiap kali Wu Liao berusaha mendekat pada Xika, Xingli langsung mengayunkan pedangnya. Alhasil, terciptalah kondisi sekarang. Xika melerai keduanya, jadi ia yang berada di tengah.
Hanya saja ia masih bingung harus melakukan apa atau berbicara mengenai apa.
"Ah, eh, uh.........gunungnya bagus ya?"
"................."
"................."
Kalau Xingli memang sudah biasa tidak pernah menjawab ucapan Xika. Tapi kenapa sekarang Wu Liao ikut-ikutan juga? Dan lagi, bukankah sebelumnya gadis itu sangat rapuh dan lemah? Kenapa mendadak ia terlihat kuat dan tegar?
"Ng......kenapa kau bisa ada di sini Xingli?"
"................."
Entah Xingli sengaja atau tidak, kali ini Xika tidak dapat membaca tatapan gadis itu sama sekali. Xingli menatapnya selama beberapa detik sebelum membuang muka. Wu Liao juga melakukan hal yang sama. Apa-apaan ini? Kenapa ia merasa menjadi pihak yang bersalah? Padahal kan ia tidak melakukan apa-apa.
"Eh,........mau makan?"
"..............."
"..............."
Serius, deh. Kenapa mendadak mereka jadi main diam-diaman sih?
"Uh-oh hari sudah siang. Tampaknya sekarang saatnya makan siang. Aku akan mencari makan dulu, ya? Kalian tunggu saja di sini."
Sring!
Set!
Sayangnya rencana Xika terbaca jelas baik oleh Xingli maupun oleh Wu Liao. Keduanya langsung menahan rute pelarian Xika. Xingli mengacungkan pedangnya sementara Wu Liao merentangkan kedua tangannya.
Xika mengumpat dalam hati. Tadinya ia berencana meninggalkan kedua gadis ini disini dan segera pergi dari gunung ini. Lebih baik ia bertarung lagi dengan Hua Zhantian dibanding bersama dua gadis yang mulai memancarkan tatapan membunuh itu.
Srak! Set!
"AH! Seekor rusa! Kalian lapar, kan? Tunggu ya!"
Xika langsung melompat ke bawah sebelum berhasil dicegah oleh kedua gadis itu.
Wus!
__ADS_1
Set!
Xika jatuh tepat ke atas punggung rusa itu. Tampaknya hewan itu terkejut dengan kedatangan Xika, lalu berubah menjadi marah. Xika berusaha membujuknya baik-baik.
"Stt......Sttt......Kawan, tenang sebentar.......bantu aku sebentar ya? Lari secepat mungkin....nanti akan kukenalkan pada rusa betina yang cantik."
SET!
TAP!
Sayangnya, disaat rusa itu masih berusaha menyingkirkan Xika dari punggungnya, Xingli dan Wu Liao sudah turun tepat ke sampingnya. Keduanya masih mengenakan tatapan penuh hawa membunuh mereka.
Akhirnya, dibawah tatapan ganas kedua gadis itu, Xika membunuh si rusa dan memasak dagingnya untuk di makan bersama-sama. Sambil memasak, ia terus berpikir,
'Kau sih, tidak mau diajak kerja sama. Padahal kan tadi kita bisa lari dari mereka berdua. Sekarang lihat, kan? Kau harus berbahagia dalam perut mereka.'
Xingli nampaknya sudah tak sabar menantikan masakan Xika. Yah, gadis itu memang sudah pernah mencoba masakannya, sih. Tapi kenapa Wu Liao juga terlihat sama tidak sabarnya dengan Xingli? Mereka kan, anggota Empat Wanita Tercantik atau apalah itu. Harusnya menjaga citra mereka sedikit, dong.
Beberapa saat kemudian, daging rusa itu telah habis hingga hanya tulangnya yang tersisa. Xika bahkan tidak mendapat bagian terakhir, padahal ia yang memasak. Kenapa gadis-gadis ini makannya banyak sekali? Bukankah mereka harus menjaga citra mereka sebagai seorang gadis? Bersikap anggun atau semacamnya, kek.
Selesai makan, Xika berusaha bersikap serius. Hua Zhantian masih ada di sini. Entah berapa lama lagi ia akan sembuh. Semakin lama semakin baik, tapi mereka tak bisa bersantai-santai di sini. Melihat Wu Liao saja pria itu sudah menampilkan ekspresi bajingan, bagaimana ketika melihat Xingli? Xika ingin sekali mencabut kedua bola matanya.
"Ekhem! Sekarang karena kita sudah makan, kita harus lanjut bergerak." Xika menoleh pada Xingli, "Kau mungkin tidak tahu, tapi mungkin hanya kita yang ada di hutan ini. Dan seorang bajingan lagi. Kami berhasil lari darinya, entah berikutnya bisa beruntung lagi atau tidak."
Kali ini, tanpa melihat mata Xingli-pun, Xika sudah tahu pertanyaan apa yang gadis itu berikan dalam tatapannya. 'Jadi ini? Alasanmu disini? Kau menyelamatkannya?'
Xika berusaha mengabaikan tatapan Xingli.
"Apa kau tahu tempat persembunyian yang baik? Bajingan itu Kultivator Tanah, kita harus bersembunyi di tempat yang tidak terdapat tanah."
Xika mengikutinya sambil menggaruk kepala.
"Kita mau kemana?" tanya Wu Liao.
"Entahlah."
"Kau tidak tahu kita mau kemana?"
"Tidak. Xingli yang akan memimpin jalan."
"Bagaimana kau bisa tahu hal itu?"
"Bagaimana kau bisa tidak tahu hal itu?"
"........."
"........."
Xingli memimpin di depan, sementara Xika mengikuti di belakang sambil menggendong Wu Liao (Gadis itu bilang kakinya sakit). Tapi entah kenapa ia merasa Xingli agak berbeda dari sebelumnya. Sepertinya gadis itu sengaja mengambil jalan yang sulit. Selain itu, beberapa kali ia mendapati jarum terbang melesat menuju wajahnya.
Saat ditanya mengenai jarum itu, Xingli hanya memberikan tatapan tajam sebelum kembali melesat. Sesekali gadis itu akan menoleh ke belakang dan mendapati Wu Liao yang sedang berada di punggung Xika tengah tersenyum puas sekaligus meledek padanya.
Xika tentu saja tidak menyadari apa yang terjadi. Yang ia tahu hanyalah Xingli bejalan semakin cepat dan semakin kesal (?).
__ADS_1
Mendadak gadis itu berhenti di depan sebuah pohon. Ia memastikan Xika melihatnya, kemudian menendang pohon itu keras-keras.
BUK!
KRAK!
Pohon itu sampai tumbang karena dasarnya hancur terkoyak tendangan Xingli. Gadis itu memperlihatkan kakinya pada Xika dengan tatapan berharap.
"Astaga! Apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh menendang pohon seperti itu. Apa kau tahu butuh berapa lama bagi pohon ini untuk tumbuh sebesar itu?"
Dengan kesal, Xingli memutar bola matanya. Lalu gadis itu kembali melesat pergi. Hanya saja kali ini jauh lebih cepat dan tidak berhenti untuk memastikan Xika ada di belakangnya, seolah ia memang hendak meninggalkan Xika.
Dan Xika memang ketinggalan, pada akhirnya. Ia tiba di depan sebuah danau yang beku dengan Wu Liao masih di punggungnya. Xika menoleh ke kiri dan kanannya mencari keberadaan Xingli tapi tidak berhasil.
DUK!
Mendadak sebuah kaki berhasil menyapu pergelangan kakinya dan membuatnya terjatuh ke dalam danau es itu.
Bruk!
Krak!
Krak!
Danau es itu hanya berhasil menahan mereka selama beberapa saat sebelum akhirnya pecah dan menenggelamkan mereka.
BYUR!
Xika terjatuh sampai ke bagian terdalam dari danau itu. Untungnya, ia termasuk Kultivator Air, jadi ia masih bisa bernafas cukup baik di bawah sini. Ia menoleh untuk melihat keadaan Wu Liao, ternyata gadis itu baik-baik saja. Sepertinya ia juga Kultivator Air.
Set!
Di sampingnya, Xingli muncul dengan wajah datar namun memiliki pandangan agak kesal (?). Kemudian sadarlah Xika bahwa ini adalah tempat persembunyian yang bagus. Sekeliling tempat ini dipenuhi air, sehingga Hua Zhantian yang adalah seorang Kultivator Tanah-pun tidak akan bisa melacak mereka melalui tanah.
Sekalipun ia berhasil menemukan mereka, ia tak akan bisa bertarung dengan leluasa di tempat ini. Xika memiliki peluang kemenangan yang lebih besar. Apalagi ada Xingli di sini bersamanya.
Xika mengangkat kedua jempolnya pada Xingli berniat memberi pujian, tapi yang didapatnya dari gadis itu hanyalaha pandangan sinis.
Blup! Blup! Blup!
Ia berusaha membuka mulutnya dan mencoba berbicara di dalam air. Tidak terlalu sulit tampaknya. Ia hendak mendiskusikan langkah berikutnya ketika mendapati kedua gadis itu sedang adu tatap mata di bawah air ini. Entah kenapa Xika tampaknya melihat ada percikan di antara kedua mata mereka.
Rencananya ia kubur dalam-dalam.
"SHHHTTT!!!"
Dengan panik, Xika mengangkat jari telunjuknya dan menaruhnya di depan mulut.
"Kalian dengar itu?"
Xingli dan Wu Liao berusaha mendengarkan.
"Gawat! Sepertinya pria itu ada di dekat sini! Aku akan segera naik dan mengalihkan perhatiannya. Kalian tunggu saja di bawah sini."
__ADS_1
Dan begitulah cara Xika melarikan diri dari kedua gadis tercantik di Ibukota.