
Di sebuah kediaman yang disediakan Akademi untuk tamu-tamunya menjelang Kompetisi, seorang pria paruh baya tengah berdiri di depan murid-muridnya. Masing-masing mengenakan seragam yang sama dengan tanda air yang mengarah ke atas.
"Apa kalian sudah ingat siapa saja nama yang kusebutkan tadi? Masing-masing dari mereka berpotensi untuk memenangkan Kompetisi ini. Aku tahu ini mungkin berat bagi kalian, tapi teruslah berusaha. Ingat nama sekte kita. Kalian boleh kalah, tapi kalian tidak boleh mempermalukan nama sekte. Mengerti?"
Semua murid menjawab dengan serempak, "Mengerti!"
Pria itu mengangguk dengan puas. "Bagus. Ada pertanyaan?"
Salah seorang murid mengangkat tangannya. "Guru, kenapa dari semua nama yang anda sebutkan tadi, tak satupun yang berasal dari Akademi? Padahal merekalah tuan rumah Akademi kali ini."
Sang guru terdiam selama beberapa saat sebelum kembali bicara. "Untuk saat ini masih belum ada informasi siapa peserta mereka, dan berapa jumlah mereka. Mu Zhan Academy sangat pandai menyembunyikan hal seperti ini. Beberapa sekte meremehkan Akademi, tapi kita tak akan melakukan hal yang sama. Kita-"
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu berhasil menghentikan ucapan sang guru. Pria itu menoleh agak kesal karena ucapannya terhenti, tapi mempersilahkan muridnya masuk.
"Kau sudah kembali. Apa kau membawa berita yang bagus?"
Sebagai sekte menengah, Rising Flow Sect harus selalu waspada dengan sekitar mereka. Jadi meskipun hanya beberapa murid mereka yang akan berpartisipasi tapi mereka membawa murid-murid lain untuk menambah pengalaman, sekaligus untuk menyelidiki kekuatan lain.
Murid yang baru datang itu adalah salah seorang murid senior yang memang ditugaskan untuk mencari kabar seputar kekuatan sekte-sekte lain. Jadi pria itu menatap muridnya dengan antisipasi.
"Guru, saya mendapatkan berita mengenai Akademi."
"Bagus! Akhirnya ada juga. Sudah kuduga mereka tak akan bisa menutupi informasi selamanya. Berita apa? Apa ini ada kaitannya dengan Kompetisi?"
Murid tersebut menggeleng. "Saya tidak yakin guru. Kabar ini baru saja menyebar beberapa saat yang lalu, jadi mungkin informasi yang saya dapatkan tidak terlalu akurat."
"Tak apa. Katakan saja."
"Mu Zhan Academy memang sudah sering mengelompokkan murid-muridnya menjadi beberapa kategori. Tujuannya untuk membuat tiap muridnya berkembang. Mereka juga mengembangkan sistem peringkat untuk memacu para murid agar berlatih lebih giat lagi.
Kabar yang saya bawakan ini terkait Murid Dalam, jadi saya ragu ini ada kaitannya dengan Kompetisi. Tapi ada juga rumor aneh yang membuat saya bingung.
Saya akan ceritakan dari awal. Para Murid Dalam ini membuat peringkat yang menyatakan Seratus Murid Dalam Terkuat. Peringkat itu selalu berganti-ganti, tapi Sepuluh Besar jarang berganti nama, paling hanya pindah posisi saja.
Beberapa hari yang lalu, ada seorang murid yang membual akan mengalahkan Seratus Terkuat sendirian. Tentunya banyak orang yang tidak percaya padanya. Tapi perlahan-lahan, kekuatannya terbukti bukan omong kosong. Ia mengalahkan banyak nama yang telah akrab di peringkat tersebut.
Meskipun begitu, orang banyak masih meragukan ia akan mampu mengalahkan Sepuluh Besar. Sampai beberapa saat yang lalu, ketika saya mendengar berita ini.
Murid Dalam Terkuat, Hua Zhantian, ia sudah menduduki peringkat pertama selama bertahun-tahun. Posisinya kokoh tak tergoyahkan. Lalu murid yang sama yang mengatakan akan mengalahkan Seratus Terkuat bertarung dengan Hua Zhantian. Sayangnya, saya tidak berhasil menonton pertarungan tersebut.
Tapi hasil akhirnya sangat mengejutkan semua orang."
Murid itu diam sebentar untuk melihat reaksi teman-temannya, tapi ia malah diprotes oleh mereka.
"Sudah cepat lanjutkan!"
"Benar! Bikin penasaran saja!"
Pria paruh baya itupun sebenarnya ingin memaki muridnya itu, tapi ia berusaha menahan diri.
"Hasilnya adalah, murid pembual itu menang."
"Apa kultivasi mereka tidak beda jauh?"
"Tidak. Dari kabar yang beredar, murid pembual itu di tingkat Forming Qi ke-6 sementara Hua Zhantian, si murid terkuat sudah berada di Forming Qi-9 selama bertahun-tahun dan tidak akan lama lagi sebelum menerobos."
"Apa ia curang?"
"Ratusan orang yang menonton bisa menjadi saksi bahwa murid itu tidak melakukan kecurangan sedikitpun. Tidak ada artefak atau orang lain yang ikut terlibat."
"Apa ia menang tipis? Karena keberuntungan mungkin?"
"Hasil pertarungan dapat menegaskan bahwa murid itu menang bukan karena keberuntungan. Hua Zhantian masih terbaring di lokasi pertarungan sampai sekarang. Tubuhnya berlumuran darah. Dan murid pembual itu menulis penghinaan bagi Hua Zhantian menggunakan darah Hua Zhantian sendiri."
"Tulisan apa?"
"'Dikalahkan oleh Xing Xika'"
Semua orang yang hadir serentak melebarkan mata mereka. Apa yang baru saja dikatakan teman mereka terdengar sulit dipercaya. Lagipula semua yang dia katakan hanyalah kabar yang beredar. Kabar selalu dilebih-lebihkan bukan?
"Silahkan kalian lihat sendiri kondisi Hua Zhantian kalau tidak percaya padaku." ucap murid itu menyadari tatapan teman-temannya.
Dan tanpa bisa dicegah, semua murid yang hadir segera bergegas menuju lokasi pertarungan. Bahkan sang guru-pun tidak mau ketinggalan. Selain murid yang membawakan berita, hanya tinggal satu murid yang masih ada di ruangan itu. Murid itu adalah pria yang menanyakan keberadaan Xika pada Xika sendiri.
"Kau tidak pergi?"
"Tidak perlu. Aku percaya berita itu benar."
__ADS_1
Si murid pembawa berita merasa tersentuh padahal bukan itu alasan beritanya dipercaya. Sementara murid yang ditemui Xika sebelumnya tersenyum dalam hati.
'Jadi berita itu benar.'
-------------------------------------
Xika duduk di kamarnya. Di hadapannya Huo Bing dan Heiliao tengah menatapnya dengan tajam.
"Jadi, bisa kau jelaskan mengenai berita yang baru saja beredar ini?"
"Apalagi yang perlu dijelaskan? Berita itu benar." ucap Xika malas. Sebenarnya ia masih tidak dalam suasana hati yang baik untuk bicara. Tapi ia harus menemui Huo Bing dan Heiliao agar tubuhnya bisa pulih secepatnya. Ia punya firasat ia akan bertarung tidak lama lagi.
"Maksudmu, kau benar-benar mengalahkan Hua Zhantian?" tanya Huo Bing agak tidak percaya.
"Bukan, aku membunuhnya. Tentu saja aku mengalahkannya. Bukankah semua orang mengatakan itu? Kenapa kau masih tidak percaya?" balas Xika agak kesal.
"Soalnya kemarin kau baru bercerita padaku bahwa kau menderita luka karena Hua Zhantian dan terpaksa melarikan diri darinya. Kalau kau bisa mengalahkannya, kenapa tidak kau lakukan saja dari awal?"
"Karena aku juga tidak tahu bahwa aku bisa mengalahkannya."
Heiliao dari tadi diam saja, tapi matanya menatap Xika dengan curiga.
"Sebentar, sebentar. Tampaknya aku melewatkan bagian yang penting. Sepertinya kau baru menceritakan bahwa kau terluka karena bocah satu itu dan sayapmu rusak parah. Lalu setelah itu aku memintamu mengumpulkan beberapa tanaman. Apa kau mengumpulkannya?"
Xika mengangguk. Ia melemparkan cincin spasialnya pada Huo Bing. Burung itu melihat isinya dan mengangguk puas. Ia bicara pada Heiliao, meminta serigala itu membuat Hyper Swift Pill.
"Jadi, kau mengumpulkan bahan-bahan yang kuminta. Setelah itu apa?"
"Ng, aku menghabiskan waktu cukup lama untuk menemukan tanaman-tanaman itu sampai melupakan keberadaan Hua Zhantian."
"Itu tidak menjelaskan kenapa kau bisa mengalahkan Hua Zhantian."
"Ceritaku belum selesai. Diamlah sebentar. Sebelumnya aku berhasil memberikan luka pada Hua Zhantian makanya aku berhasil kabur. Sampai saat ini aku masih tidak yakin dengan serangan yang kuberikan. Sayapku rusak dan tubuhku menerima sebagian dampaknya. Kondisiku tidak terlalu bagus saat itu."
Heiliao, sambil membuat Hyper Swift Pill, memberikan tatapan pada Huo Bing yang tak bisa Xika artikan. Sementara burung itu memberikan tatapan 'seperti yang kubilang'.
"Hanya saja, mendadak terpikir olehku. Aku termasuk Kultivator Air, jadi aku bisa mengendalikan air. Bukankah darah juga termasuk air? Itu artinya aku juga bisa mengendalikan darah, bahkan yang berada di tubuh orang lain."
Huo Bing dan Heiliao melebarkan mata mereka secara bersamaan. Keduanya kembali bertatapan, dan sadar bahwa masing-masing memikirkan hal yang sama. Tapi keduanya menunggu Xika menyelesaikan ceritanya dulu.
"Jadi aku berkonsentrasi keras. Dan pada akhirnya aku berhasil mengeluarkan sedikit darahnya. Setelah itu aku lari."
Xika mengangguk.
"Itu menjelaskan 'Hua Zhantian dikalahkan dengan mengerikan'."
Xika tampaknya tidak terganggu dengan ucapan Huo Bing. Tatapannya seolah memikirkan sesuatu.
"Tapi aku masih tidak mengerti beberapa hal Huo Bing."
"Apa?"
Heiliao menyimak pembicaraan mereka sambil melelehkan tanaman-tanaman yang dibawa Xika dan menyatukannya.
"Kau pasti sudah mendengar kabar bahwa sebelumnya aku dikalahkan oleh Hua Zhantian bukan? Lalu setelah itu baru aku bangkit dan menghajarnya."
"Benar. Kenapa?"
"Pertama, Hua Zhantian bersikap sangat berbeda. Pertama kali aku bertarung dengannya di hutan, ia banyak omong dan sombong, jadi aku masih bisa kabur darinya. Kedua kalinya, ketika kami bertarung di malam hari setelah aku mengumpulkan Tanaman Spiritual, ia bagaikan orang yang berbeda.
Ia tak banyak bicara dan langsung menyerangku. Aku terkejut karena perubahannya itu jadi ia berhasil menyerangku. Ketiga kalinya, pertarungan yang baru saja kalian dengar, ia kembali menjadi orang yang sama saat pertama kali aku bertarung melawannya. Ia kembali banyak omong. Bisa kau jelaskan itu?"
Huo Bing mengerutkan keningnya.
"Aku akan menjelaskan itu, tapi tampaknya kau masih punya pertanyaan lain. Dan kau belum selesai bercerita. Lanjutkan."
"Pertanyaan keduaku, saat aku bertarung beberapa saat yang lalu dengan Hua Zhantian, ia memerangkap kakiku dengan tanah. Aku juga Kultivator Tanah seperti dia, tapi kenapa aku tidak bisa melepaskan tanah itu?"
Huo Bing baru membuka mulutnya, tapi Xika kembali bicara.
"Jangan bilang karena tingkat kultivasinya lebih tinggi dariku. Sebelumnya aku berhasil melepaskan perangkap tanahnya di pertarungan pertama kami."
Huo Bing menelan kembali apa yang ingin ia katakan. Hasilnya yang keluar dari mulutnya hanyalah,
"Kau belum menyelesaikan ceritamu. Ada hal lain yang terjadi setelah kau melarikan diri dengan Wu Liao bukan?"
Xika menghela nafas agak kesal. Tampaknya Huo Bing tahu ada yang ia sembunyikan. Burung itu tertawa melihat reaksinya.
"Aku sudah tinggal cukup lama di kepalamu. Mudah saja bagiku untuk tahu ada yang kau sembunyikan."
__ADS_1
Xika mendengus.
"Aku bertemu Xingli."
Mata Huo Bing melebar. Kemudian senyumnya juga. Beberapa kali ia menyikut Heiliao dengan tatapan meledek dan membuat serigala itu hampir meledakkan pil setengah jadinya.
Xika sudah menebak reaksi Huo Bing. Itulah salah satu alasan kenapa ia tidak mau menceritakannya. Alasan lainnya karena ia masih bingung.
"Lanjutkan, lanjutkan." ucap Huo Bing dengan senyum lebarnya sambil menaik-turunkan alisnya.
"Mereka saling beradu tatap hingga aku kabur dari keduanya. Ketika kembali ke tempat persembunyian, mereka sudah pergi. Aku menyusul mereka."
Dan Xika menceritakan kesalahpahaman itu. Tentang bagaimana Wu Liao yang memeluknya, dan Xingli yang melihatnya dari belakang. Tentang dirinya yang berusaha mengejar Xingli tapi ditahan Wu Liao. Tentang dirinya yang akhirnya menegaskan hubungannya dengan Wu Liao tak lebih dari orang asing yang pernah bertemu beberapa kali. Dan tentang dirinya yang meluruskan kesalahpahaman yang terjadi antara ia dan Wu Liao.
Perlahan, senyum Huo Bing memudar. Matanya juga tak dipenuhi sorot keisengan lagi.
"Jadi, kau terlibat cinta segitiga. Nah, aku tidak yakin bisa memberikan saran yang bagus. Aku dan Serigala Gosong tidak pernah terlibat cinta segitiga."
"Aku tidak terlibat cinta segitiga!" Xika langsung membantahnya, "Aku..............." Sayangnya ia tak mampu melanjutkan ucapannya.
"Biar kutebak, kau tidak mengetahui perasaanmu sendiri?"
Xika hendak membantah, tapi tidak menemukan kata-kata yang pas, jadi akhirnya ia hanya mengangguk lesu.
"Kalau begitu aku akan mencoba memperjelasnya. Apa kau suka Wu Liao?"
"Tidak." Xika menjawab dengan tegas. Bahkan tanpa perlu berpikir dulu.
"Apa kau suka Xingli?"
Sekali lagi, Xika membuka mulutnya, tapi tak ada kata yang berhasil keluar. Akhirnya ia menggeleng.
"Tidak suka apa tidak tahu?"
"...................tidak tahu."
"Kalau begitu itulah yang harus kau cari tahu."
Xika langsung mengangkat kepalanya menatap Huo Bing.
"Tunggu dulu. Daritadi kau menanyaiku ini-itu, tapi pada akhirnya kau tidak membantu apa-apa?"
"Aku sedang berusaha menjadi dokter cinta. Rupanya susah juga."
"Sialan!"
Heiliao menggeram mengingatkan Huo Bing dan membuat raut wajah burung itu kembali serius.
"Oke, sekarang aku akan menjawab pertanyaanmu. Pertanyaan kedua dahulu. Kau bingung kenapa tidak bisa menggunakan elemenmu. Jawabannya sederhana, tapi masih banyak kultivator yang tidak tahu."
"Tidak perlu berputar-putar. Jawab saja kenapa."
"Karena hatimu kacau. Hatimu mengacaukan pikiranmu. Pikiranmu gagal mengontrol elemen. Biar kutebak, saat kau berusaha melepaskan perangkap tanah kau tidak fokus bukan? Kau memikirkan hal lain kan?"
Xika menatap Huo Bing dengan bengong. Tampaknya ia baru menyadari beberapa hal.
"Tunggu dulu. Jadi maksudmu aku gagal mengontrol tanah karena kurang berkonsentrasi?"
"Tidak ada penyebab lain." jawab Huo Bing percaya diri.
Raut wajah Xika berubah beberapa kali. Awalnya bingung, kemudian senang seolah menemukan titik terang, lalu pada akhirnya wajahnya kembali kusut tertekuk bingung dan sedih.
Huo Bing memberi jeda beberapa saat agar Xika bisa berpikir. Setelah wajah Xika lebih baik, ia kembali bicara.
"Sekarang, mengenai pertanyaan keduamu. Alasan Hua Zhantian berubah beberapa kali seperti itu karena............. ia takut."
"Apa?"
"Xika, teknik yang kau gunakan itu bukan teknik biasa. Meskipun hanya sebentar, tapi itu sudah cukup untuk membuat Hua Zhantian ketakutan. Kau melakukan teknik itu di pertarungan pertamamu dengan Hua Zhantian bukan? Teknik itu membekas di kepalanya hingga ia ketakutan.
Itulah sebabnya di pertarungan kedua ia tidak banyak bicara dan langsung menyerangmu. Ia takut padamu. Ia menyerangmu lebih dulu agar kau tidak bisa mengontrol darahnya. Tapi karena ia berhasil, ia jadi lupa diri. Dan ia kembali banyak omong di pertarungan ketiga. Karena itu juga kau berhasil mengalahkannya.
Sayangnya, yang menyaksikan teknik itu bukan hanya Hua Zhantian seorang, tapi juga ratusan murid Akademi dan mereka telah menyebarkan kabarmu ke seluruh Akademi.
Ada alasan kenapa teknik itu berhasil membuat Hua Zhantian ketakutan. Alasan yang sama yang membuat banyak orang menyebarkan kabarmu dengan ngeri."
"Kenapa?"
"Karena itu adalah teknik sekte hitam."
__ADS_1