Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-99


__ADS_3

Suaranya memang tidak keras, tapi bergema di telinga semua orang yang hadir dan membuat mereka semua membelalakkan mata mereka.


SRAT!


Dua buah garis muncul di tubuh Tian Yin dan membuatnya mengucurkan darah.


Tapi ia masih hidup. Tian Yin berhasil melemahkan serangan Xika. Ditambah, Xika sudah kelelahan dan itu merupakan serangan terakhirnya. Serangan itu menguras semua qinya yang tersisa.


Xika jatuh berlutut. Nafasnya tersengal-sengal. Tangannya berusaha meraih pegangan untuk membantunya berdiri tapi ia tidak menemukannya.


Ketika Xika mengangkat kepalanya, kaki Tian Yin menyapa pipinya.


DUAK!


Xika jatuh tersungkur. Tian Yin mendekat dan memberikan tendangan lain di perutnya.


DUAK!


Ia hanya bisa pasrah menerima serangan. Ia sudah tidak memiliki energi lagi untuk bertahan. Berdiri saja sulit, apalagi bertahan.


Tian Yin kembali memberikan tendangan.


DUAK!


DUAK!


DUAK!


"Xika, sudah cukup. Aku tidak tahan lagi. Akan kubunuh bocah sombong itu!"


"Tidak........Huo Bing, kau tidak boleh........Keberadaanmu akan terungkap. Lagipula.......sejak awal ini memang pertarunganku."


"Tapi......."


Huo Bing masih tidak terima, tapi tampaknya Heiliao menghentikannya entah bagaimana.


Dan Tian Yin melanjutkan serangannya tanpa henti. Ia melampiaskan kemarahannya. Tian Yin, jenius paling berbakat di ibukota, berhasil dipermalukan bocah antah berantah?


DUAK!


Kau tidak layak sialan! Kau tidak layak dibandingkan denganku!


DUAK!


Kau tidak layak untuk dibicarakan oleh ayahku!


DUAK!


Kau tidak layak membayangi hidupku!


DUAK!


Kau tidak layak menghirup udara yang sama denganku!


DUAK!


Serangan terakhir Tian Yin itu berhasil membuat Xika terlempar beberapa meter.


"Uhuk....."


Xika mengusap bibirnya yang berdarah. Dengan susah payah, ia bangun. Beruntung, Tian Yin menyerangnya hingga ke pinggir tembok kota. Ia menjadikan benda itu sebagai pegangan.


Kini Xika sejajar dengan Tian Yin. Kakinya gemetar hebat. Tapi di matanya tidak ada ketakutan kali ini. Yang ada hanyalah amarah, kebencian, sekaligus kegilaan. Ia tidak akan tunduk lagi pada Tian Yin dan membiarkan pemuda itu menghancurkan hidupnya lagi. Tidak akan.


Ia tersenyum dengan susah payah.


"Ada apa? Hanya itu yang kau bisa? Kau lebih lemah dari dugaanku."


Tian Yin maju dan melakukan tendangan berputar yang mendarat di perut Xika.

__ADS_1


DUAK!


"OHOK!"


Xika batuk-batuk beberapa kali sampai mengeluarkan darah. Tapi ia tetap berdiri. Di wajahnya, terpampang senyum menghina. Tian Yin melihat senyum itu dan kembali menyerangnya. Kali ini menggunakan tangannya.


DUAK!


Pandangan Xika berputar. Di depannya kini ada tiga Tian Yin. Tapi ia masih berdiri. Dan senyum menghina masih terpampang di wajahnya. Ia membuka mulutnya, tapi sebelum ia bicara, Tian Yin telah menyerangnya. Kali ini dengan tangannya yang membara.


DUAK!


"Heh. Ada apa?...........Terlalu lemah untuk menjatuhkanku?"


Xika mendapat jawaban berupa tendangan di dagunya.


DUAK!


Kepalanya membentur tembok tempatnya bersandar sekaligus pegangannya. Tapi ia masih berdiri. Tian Yin tidak berhenti. Ia melayangkan serangan bertubi-tubi. Tapi tidak peduli serangan apapun yang ia berikan, ia tak mampu menjatuhkan Xika.


Akhirnya ia berhenti karena kelelahan. Aku akan mengambil nafas sebentar sebelum kembali menyerang, pikirnya.


"Hei..........kenapa berhenti? Sudah menyerah?"


Tian Yin kembali menyerangnya. Tapi ia masih gagal menjatuhkan Xika. Memang benar anak itu bersandar pada tembok dan menjadikannya pegangannya. Tapi bahkan kultivator tahap Forming Qi pun tak akan bisa menahan serangan sebanyak itu meskipun ia bersandar pada tembok. Tapi Tian Yin tidak mau berhenti.


"Hei-"


DUAK!


"Apa kau-"


DUAK!


"Percaya-"


DUAK!


"Bahwa aku-"


DUAK!


"Akan-"


DUAK!


"Membunuhmu-"


DUAK!


"Di masa depan?"


Pukulan Tian Yin terhenti. Bersamaan dengan itu, semua orang yang menonton membuka mulut mereka. Suasana hening seketika. Sebelumnya ada banyak orang yang menyoraki keduanya. Tian Yin menurunkan tangannya, tadinya ia hendak memukul Xika. Ia diam sebentar kemudian mencekik Xika.


"Apa kau pikir kau bisa mengalahkanku setelah beberapa tahun?"


"Heh. Aku akan membunuhmu."


Xika tersenyum menghina, seolah hal yang ditanyakan Tian Yin bukanlah apa-apa. Ia yakin akan dapat membunuh Tian Yin dan tatapan Xika tidak goyah sedikitpun ketika ia mengucapkan hal itu.


Tian Yin memiringkan mulutnya. Tersenyum menghina.


"Apa kau memintaku untuk menyelamatkanmu? Memohonlah. Mungkin aku akan berbaik hati."


Xika balas tersenyum menghina.


"Cuh"


Dan ia meludah tepat di wajah Tian Yin.

__ADS_1


"SIALAN!"


Tian Yin kembali menghajar Xika. Kali ini ia berhasil menjatuhkan Xika. Tapi bukannya senang, ia malah merasakan hal lain ketika melihat Xika yang tersenyum meskipun jatuh tersungkur. Ia merasakan.........takut?


Setelah memberikan satu tendangan terakhir di kepala Xika, Tian Yin berkata,


"Heh, pergilah. Bahkan setelah seratus tahun berlalu, kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku tidak peduli apapun yang kau lakukan."


"Kita akan lihat nanti. Kau akan menyesal membiarkanku hidup hari ini."


Jawaban Xika itu membuat Tian Yin kesal dan kembali menendangnya.


Dengan susah payah, Xika berdiri. Tubuhnya bergoyang ke kiri dan kanan hampir jatuh. Banyak orang menatap sosoknya dengan khawatir, tapi tak ada yang berani membantunya. Mereka tidak mau menyinggung baik Tian Yin maupun Xika, jadi lebih baik tetap diam dan menjadi penonton. Xika memang kalah dari Tian Yin baik dari segi kekuatan ataupun latar belakang. Tapi tak ada yang meragukan bahwa anak itu memiliki potensi untuk menyamai Tian Yin. Dan pada akhirnya Xika berhasil bertahan. Ia tidak jatuh.


Ia menggunakan tembok kota untuk membantunya berjalan. Ia berjalan terseok-seok. Tapi tak ada seorangpun yang menghentikannya. Mereka yang melihat pertarungan ini akan mengukir kedua sosok ini di benak mereka. Terutama sosok pemuda antah berantah yang bertarung melawan jenius nomor satu di Dinasti Lin.


Kemudian di masa depan, Kota Yuan akan dikenal sebagai salah satu tempat bersejarah di mana dua jenius teratas Dinasti Lin memulai pertempuran pertamanya. Bekas-bekas pertempuran mereka tidak dibersihkan, bahkan sampai di masa depan. Dan orang-orang dari kota lain akan datang hanya untuk melihat bekas-bekas pertempuran mereka. Orang-orang yang menyaksikan pertarungan hari ini akan menceritakannya dengan bangga di masa depan. Bahkan sampai ke anak cucu mereka dan akan terus menceritakan kisah ini turun temurun ke generasi berikutnya.


Xika sampai di tembok Kota. Ia berbalik dan menatap ribuan pasang mata yang menatapnya. Beberapa mengenalnya, sementara yang lain tidak. Ia sudah berdiri tegak hari ini dan tidak mempermalukan dirinya sendiri. Apa yang tidak diketahui Xika adalah tidak ada satu orangpun yang menyaksikan pertarungan mereka akan berpikir bahwa Xika hanya mempermalukan dirinya. Kemudian ia beralih dan menatap sepasang mata merah membara milik musuh bebuyutannya yang memiliki kebencian setara dengan dirinya sendiri.


"Kalau aku melihatmu lagi, aku akan membunuhmu."


Bahkan meskipun ia lebih lemah, ia tetap menolak untuk menunduk. Bodoh memang kedengarannya. Tapi ia sudah pernah menunduk sekali dan ia menyesali hal itu. Kali ini ia tidak akan menunduk lagi. Pada siapapun itu. Bahkan sekalipun harus mati, ia akan tetap mengangkat kepalanya dan berdiri dengan tegak. Itu adalah kebanggaan sekaligus harga dirinya yang ia dapatkan selama sepuluh tahun terakhir ini. Dan ia tidak akan menyerahkan hal itu.


Tian Yin mengirimkan bola api sebagai jawaban atas ucapan Xika itu.


BLAR!


Bruk!


Xika tersungkur. Pakaiannya yang sebelumnya sudah hancur, kini benar-benar musnah sepenuhnya setelah terkena bola api Tian Yin dan memperlihatkan tubuhnya yang penuh luka dan membuat banyak orang merinding melihatnya. Banyak yang bertanya apakah mereka bisa menerima luka sebanyak itu dan tetap hidup. Kaki Xika kembali bergetar. Tapi ia harus berdiri. Ia tidak bisa jatuh, tidak disini. Itulah kebanggannya. Harga dirinya yang akhirnya ia temukan setelah sepuluh tahun hidup dalam penghinaan dan ketakutan.


Ia berusaha keras untuk berdiri di bawah tatapan Wu Liao, Gong Tao, dan ribuan pasang mata yang menatapnya. Dan ia akhirnya berhasil berdiri.


Xika menatap satu-satu orang-orang yang ia kenali. Pertama, Wu Liao. Gadis itu memiliki pandangan rumit di matanya. Xika sendiri juga memiliki pandangan yang sama rumitnya. Hubungan merekapun agak rumit. Xika akan menolak bila orang berkata bahwa Wu Liao adalah temannya, sementara Wu Liao akan menolak bila orang mengatakan bahwa Xika adalah musuhnya. Tapi ada satu hal yang jelas di antara mereka. Wu Liao sendiri telah membuat jurang yang tak akan bisa diseberangi sampai kapanpun juga.


Kemudian Gong Tao. Pria itu memiliki pilihan sulit. Ia harus memilih diantara Xika atau Tian Yin. Di masa depan keduanya akan membutuhkan sumber daya, pada saat itu salah satu diantara Xika atau Tian Yin tidak akan mencari Paviliun untuk sumber daya lagi bila yang lain sudah mengambilnya lebih dulu. Dan Xika menebak bahwa ia memilih Tian Yin.


Kenapa? Hei Bao dan dirinya sama-sama menuju Immortal Pearl Pavillion. Tapi di dalam, ia tidak melihat Hei Bao sekalipun. Itu berarti ia tidak melewati pintu depan dan langsung masuk ke kamar pribadi Gong Tao. Xika baru sadar akan hal ini beberapa saat setelahnya. Itulah alasan kenapa ia tidak jadi membeli bahan-bahan untuk membentuk tubuh Huo Bing.


Terakhir, Tian Yin. Ia menatap pemuda itu dengan dingin. Orang biasa akan menggigil ketakutan ketika melihat tatapannnya. Tian Yin membalas tatapan Xika dengan tatapan yang sama dinginnya. Mereka saling pandang selama beberapa saat kemudian sadar bahwa masing-masing memiliki pikiran yang sama. Tian Yin tersenyum sinis sementara Xika melambaikan jari tengahnya tanda perpisahan.


'Pada saat kita bertemu lagi, pada saat itulah hari kematianmu.'


Di bawah tatapan banyak pihak yang memiliki berbagai hubungan dengannya, musuh, netral, ataupun hubungan rumit yang masih tidak jelas, Xika meninggalkan Kota Yuan dan menghilang. Bahkan setelah Xika meninggalkan kotapun, orang banyak masih memandang arah ia pergi. Mereka tidak akan percaya dengan pertempuran yang baru saja terjadi kalau tidak melihatnya dengan mata sendiri.


"Tuan Muda, kau baik-baik saja?"


Hei Bao langsung mendekat. Ia menatap Tian Yin dengan tatapan khawatir. Kemudian ia mengeluarkan beberapa pil dan memberikannya pada Tian Yin. Tapi Tian Yin menepis tangannya dan menatapnya dengan dingin.


"Kita pergi."


"Eh? Ta-tapi Tuan Muda, kalau Tuan Muda berniat menunggu sebentar, saya akan pastikan membawa kembali mayat anak itu."


Dan respon yang diberikan Tian Yin adalah,


PLAK!


"Apa kau pikir aku tidak mampu menghabisinya dengan tanganku sendiri? Apa kau pikir aku membutuhkan bantuanmu? Kau tidak melihat pertarunganku tadi? Jelas-jelas aku membiarkannya pergi. Mengerti? AKU MEMBIARKANNYA PERGI!"


Hei Bao menunduk.


"Ma-maaf Tuan Muda........Sa-saya tidak bermaksud......."


Tian Yin tidak mengulangi ucapannya. Ia berjalan pergi menuju ke arah yang berlawanan dengan yang ditempuh XIka. Hei Bao mengikutinya di belakang.


Demikianlah, kedua pemuda yang menjadi sorotan utama hari ini pergi meninggalkan Kota Yuan dan membuat banyak orang tidak bisa melupakan sosok mereka di benak masing-masing. Masing-masing telah memilih jalannya sendiri. Mereka adalah kebalikan, bagai gelap dan terang, siang dan malam, Matahari dan Bulan. Tapi bahkan matahari dan bulanpun pernah bertemu, demikian juga kedua pemuda itu. Suatu saat mereka akan bertemu lagi.


Arc 2: The Journey-finish.

__ADS_1


__ADS_2