
"Ahh...sialan....." ucap Xika sambil mengelap darah yang menetes dari bibirnya.
Wu Liao hanya bisa melihat Xika dari jauh. Meskipun pertempuran sudah selesai, tapi ada sesuatu yang menahannya untuk mendekati Xika. Kalau itu Xika yang dulu, maka ia akan langsung mendekat dan memastikan pria itu baik-baik saja.
Saat inipun ia ingin sekali melakukan itu. Hanya saja......kenapa ia tak bisa melakukannya? Hatinya terasa sakit sekaligus berat dan ada sebuah suara yang menahannya agar tidak mendekat.
"Kau baik-baik saja?" Itulah yang ingin diucapkan Wu Liao, tapi kini Huo Binglah yang mengatakan itu.
"Yah, tidak terlalu dalam. Aku hanya lengah sedikit."
"Masih bisa jalan-jalan kan?" tanya Huo Bing bercanda.
Xika juga ikut tersenyum sebelum menjawab, "Tentu saja."
Xingli dan Heiliao sama-sama mendekati Xika. Keduanya sama-sama tak bersuara, tapi memperhatikan Xika dan memastikan bahwa pria itu memang baik-baik saja. Dan mereka menemukan ada sebuah lubang di tubuh Xika. Heiliao menyerahkan pil pada Xika sementara Xingli mengarahkan tangannya ke atas luka Xika.
Krttt......
Dan luka Xikapun membeku.
Xingli melakukan itu dari dekat jadi selain Xika, Heiliao dan, Huo Bing, tak ada yang tahu bahwa Xingli melakukan itu. Ketiganya kini memandang Xingli dengan mata lebar. Xika hendak mengatakan sesuatu tapi pandangan mata Xingli memintanya untuk tidak mengatakan apa-apa. Dan kali ini baik Huo Bing dan Heiliao mengerti arti tatapan itu.
"Yah, kalau begitu ayo kita lanjutkan."
Xika berdiri dari tumpukan murid yang menyerangnya tadi. Dan merekapun kembali mengelilingi akademi, hanya saja jumlahnya jadi berkurang. Dua orang yang tersisa kini hanya bisa menatap dalam diam dari belakang tak berani mengambil langkah maju.
Wu Liao tak bisa maju dan menemani mereka begitu saja seolah tak ada yang terjadi. Ia sadar bahwa tindakannya barusan membuat Xika terluka. Tapi.....kenapa.....? Ia hanya ingin melindungi Xika. Ia hanya tak ingin kejadian yang dulu terulang kembali. Ia hanya tak ingin......berdiam diri tanpa melakukan apapun. Dan kini Xika mengabaikannya.
Qing Hu juga tidak bisa meninggalkan Wu Liao begitu saja. Lagipula saat ini mereka berada dalam kubu yang sama, yaitu sebagai pihak yang tidak disukai Xika.
Kini Xika mengelilingi akademi dengan Xingli sebagai pemandunya. Dan ia tak bisa membayangkan pemandu yang lebih hebat lagi. Bayangkan, ia harus menebak gerakan tangan yang Xingli buat selama lima menit sebelum mengerti bahwa gedung di depan mereka adalah gedung perpustakaan. Tak ada pemandu yang bisa lebih hebat lagi dari Xingli.
"Hmmm....setelah mengalahkan kesepuluh orang sialan itu suasana kini menjadi tenang. Apa sebaiknya dari awal aku mencari mereka?"
"Ya, bisa jadi." Huo Bing mengangguk-anggukan kepalanya.
Tapi tentu saja masa-masa damai mereka itu tidak bertahan lama. Kabar tentang Xika mengalahkan sepuluh orang Murid Dalam menyebar dengan cepat bahkan sebelum hari berganti. Hasilnya? Kini banyak orang yang mengikuti mereka kemanapun mereka pergi.
Banyak yang ingin melihat sosok murid baru yang sanggup menumbangkan sepuluh Murid Dalam, berjalan bersama tiga dari Empat Gadis Tercantik, dan hal-hal lain menakjubkan yang Xika lakukan. Namun, kalau ada yang penasaran, akan ada juga yang iri.
Dan beberapa murid yang iri itu mulai berusaha mencari cara untuk menjatuhkan Xika. Sebenarnya, di dunia kultivasi ini cara menjatuhkan seseorang tidaklah sulit. Kau hanya perlu lebih kuat dan mengalahkannya. Kalau kau lebih lemah? Cari orang yang lebih kuat, minta dia menghajarnya untukmu.
Itulah yang dilakukan beberapa murid yang iri terhadap Xika. Setelah Xika berhasil mengalahkan Murid Dalam, banyak murid yang menjadi penggemar Empat Gadis Tercantik mulai memikirkan kembali rencana mereka menyerang Xika. Setidaknya saat ini Xika setara dengan Murid Dalam, jadi para Murid Dalam sekalipun harus berhati-hati dengan Xika.
Tentu saja, dalam sebuah kekuatan pasti ada yang kuat dan ada yang lemah. Para Murid Dalam yang lemah mulai mewaspadai Xika sementara Murid Dalam yang kuat merasa tertantang dengan keberadaan Xika. Dan Murid Dalam yang kuat inilah yang menjadi target para murid yang iri dengan Xika.
Tapi untuk membuat para Murid Dalam tingkat atas bergerak, perlu sebuah alasan yang kuat. Jadi mereka mulai mencari-cari alasan untuk membuat para Murid Dalam itu menyerang Xika. Tidak butuh waktu lama, mereka menemukannya.
__ADS_1
Xingli menjadi alasan yang tepat. Lagipula memang benar bahwa Xika dekat dengan Xingli. Memang, kalau hanya Xingli tak semua Murid Dalam akan bergerak melawan Xika. Lagipula tak semua Murid Dalam tingkat atas menyukai Xingli. Namun seorang Murid Dalam tingkat atas saja sudah lebih dari cukup untuk membereskan Xika. Atau setidaknya begitulah yang mereka pikirkan.
Mu Zhan Academy memiliki beberapa bangunan penting seperti Perpustakaan, Gedung Kesehatan, Halaman Utama yang barusan Xika kunjungi, Gedung Utama tempat dimana hampir seluruh kegiatan belajar mengajar diadakan, Taman, Pusat Misi, dan tempat tinggal para murid.
Sisanya yang tidak disebutkan adalah bangunan-bangunan kecil yang tidak terlalu penting. Tempat tinggal para murid yang barusan disebutkanpun bukan mengarah ke tempat tinggal seluruh murid di akademi, melainkan hanya tempat tinggal para Murid Inti. Mengapa? Karena hanya Murid Inti saja yang dipandang paling penting.
Dari mana Xika tahu semua itu? Sudah tentu bukan dari Xingli. Kebetulan ia melewati Gedung Utama dan membaca sekilas info yang tertera disana. Para elder biasanya berkumpul dalam Gedung Utama. Gedung utama sendiri terdiri lagi menjadi berberapa bagian. Ada bangunan yang hanya bisa dimasuki oleh para elder, ada yang hanya bisa dimasuki oleh Murid Inti, dan begitu seterusnya sampai Murid Luar.
Jadi posisimu sangat menentukan area apa saja yang bisa kau akses. Sama halnya dengan perpustakaan. Perpustakaan di Akademi Mu Zhan terdiri dari empat lantai. Lantai satu adalah lantai yang bebas dimasuki oleh siapapun dan menjadi batas untuk Murid Luar.
Lantai dua lebih ketat dengan syarat hanya Murid Dalam keatas yang dapat memasukinya. Lantai tiga hanya bisa dimasuki oleh Murid Inti dan lantai empat merupakan area terlarang yang hanya boleh dimasuki oleh para elder. Kabarnya, lantai empat menyimpan berbagai teknik rahasia yang menakjubkan tapi berbahaya. Itulah sebabnya para murid dilarang memasuki lantai tersebut.
Tadinya Xika ingin berjalan mengelilingi kota setelah selesai mengenali gedung-gedung yang ada di akademi. Meskipun ia sudah berjalan dengan Huo Bing dan Heiliao kemarin, tapi kalau ada Xingli maka akan berbeda lagi rasanya.
Sayangnya kini datang lagi pengganggu. Dihadapannya berdiri tiga orang yang mengenakan pin yang sama dengan Xingli. Mereka juga Murid Dalam, hanya saja Xika bisa merasakan aura mereka berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Kalau ia tak salah menebak, ketiganya berada di tahap Forming Qi 7.
Sepertinya kali ini ia harus berhati-hati. Ia pernah berhadapan dengan ratusan ular di tahap yang sama. Tapi dari informasi yang diberikan para serigala, para ular itu hanyalah ular muda yang tidak memiliki banyak pengalaman. Ketiga murid yang berada di depannya ini jelas bukan anak kemarin sore yang tidak memiliki pengalaman.
Meskipun begitu, Xika juga bukannya tidak memiliki pengalaman. Bahkan pengalamannya jauh lebih banyak dari mereka yang seumuran. Lagipula, sampai saat ini Xika masih belum mengungkapkan seluruh kemampuannya. Berhadapan dengan ketiganya, Xika jadi penasaran sejauh mana mereka bisa memaksa Xika mengeluarkan kemampuannya.
"Yah, kau saja yang maju. Aku mau menonton saja." ucap Huo Bing sambil menepi. Heiliao juga berjalan bersamanya.
Xingli tidak bergabung dengan mereka, tapi ia juga tidak menemani Xika. Bukannya ia tidak mau membantu Xika, tapi ia tahu ini adalah pertarungan yang harus dimenangkan oleh Xika tanpa bantuannya sendiri. Xika harus menyelesaikan mereka sendiri agar memiliki pijakan di akademi ini.
"Baiklah. Siapa yang duluan maju?" ucap Xika tak gentar pada ketiga murid di hadapannya itu.
"Yah, aku menantikannya." Xika sudah bosan berbasa-basi. Ia juga mengeluarkan auranya dan menekan lawannya dengan sekejap.
"Heh. Aku ingin melihat apa kemampuan bertarungmu sehebat kemampuan bicaramu."
Selesai bicara, pria itu menarik pedangnya sambil menendang tanah menerjang Xika.
"Aku bahkan tak pernah mengira aku pandai bicara."
Wush!
Serangan pertama datang. Sebuah tebasan cepat yang mengarah ke lehernya. Xika berhasil mengelak, tapi pria itu sudah menyiapkan serangan berikutnya. Kali ini berupa tendangan.
Xika hendak mundur menghindar tapi kakinya tak mau menuruti perintahnya. Ketika ia melihat ke bawah, tanah sudah naik membungkus kakinya mencegahnya bergerak.
DUAK!
Xika terpaksa menahan tendangan pria itu dengan kedua tangannya.
"Wow. Rupanya kau pengguna elemen tanah."
Pria itu mengerutkan keningnya heran melihat Xika masih bisa bersikap santai dalam situasi seperti ini. Ia kembali menyabetkan pedangnya. Harusnya kali ini Xika tak bisa menghindar tapi kenapa pedangnya tidak berhasil mengoyak tubuh Xika?
__ADS_1
Alih-alih tubuh Xika, pedangnya malah bertemu dengan tembok tanah yang kini menutupi Xika.
"Aku juga bisa, loh!" ucap Xika dari balik tembok itu. Kemudian tembok itu beriak dan muncullah sebuah paku tajam yang berhasil menembus tubuh pria berpedang itu karena lengah.
Bruk!
Pria itu langsung berlutut karena serangan yang Xika berikan. Ia berencana untuk mengambil nafas sebentar sebelum kembali menyerang Xika, tapi sayangnya sebuah hantaman di kepalanya mencegahnya melakukan itu. Pria itu berjuang keras, tapi pada akhirnya ia kehilangan kesadaran.
"Hmm.....lebih baik dari sebelumnya, tapi masih kurang...." Xika melihat pria berpedang yang kini tergeletak di tanah hilang kesadaran sambil menilainya.
Kemudian pandangannya beralih pada dua orang lainnya. "Kalian masih mau melanjutkan? Kondisi kalian tidak akan jauh berbeda dengannya nanti, loh!" ucap Xika sambil menunjuk pria berpedang itu.
"Mengenai itu....."
Pria yang berbicara melakukan gerakan seolah meraih sesuatu.
"biar kami yang pastikan!"
Ternyata pria itu membentuk busur angin dan kini menembakkannya menuju Xika.
"Yah, pokoknya sudah kuperingati." ucap Xika tak terlalu peduli. Ia mengarahkan tangannya terhadap panah yang datang, kemudian ketika panah itu berjarak kurang dari semeter darinya, Xika mengepalkan tangannya, dan panah itu meledak begitu saja.
"Apa?!" Pria itu tak percaya dengan apa yang baru saja Xika lakukan.
"Hmm.....panah dari angin ya......boleh juga...."
Selanjutnya, apa yang dilakukan Xika berhasil membuat pria berpanah itu terkejut setengah mati. Di hadapannya kini Xika juga melakukan apa yang ia lakukan sebelumnya, yaitu membuat busur dan panah dari angin.
"Mustahil! Bagaimana.....bagaimana kau bisa-"
Sayangnya pria itu tak sempat menyelesaikan perkataannya karena sudah terkena panah Xika duluan.
"Membuat panah dari angin menambah kecepatan dan kekuatannya ya.....idemu boleh juga....terima kasih ya...."
Kini Xika beralih pada pria-tunggu sebentar ia menurunkan tutup jubahnya-ia ternyata wanita?!
"Yah, kau juga kelihatannya tidak akan mundur kan?"
"Aku tidak tahu apa itu 'mundur'."
Wanita itu melakukan beberapa gerakan tangan dan beberapa saat kemudian muncullah sebuah naga yang terbentuk dari air. Xika menunggu wanita itu menyelesaikan tekniknya karena penasaran dengan apa yang akan ia lakukan.
Hasilnya ternyata biasa saja. Xika pikir wanita itu akan menciptakan sesuatu yang menakjubkan, ternyata hanya menciptakan naga dari air. Ia memejamkan matanya sebentar kemudian kembali membukanya. Hanya saja saat matanya terbuka, naga air sudah terbentuk di sekitarnya.
Tidak hanya itu, naga Xika lebih besar dan terlihat lebih hidup dibanding milik wanita itu. Bahkan auranya juga lebih mengerikan.
"Apa sekarang kau tahu apa itu mundur?" tanya Xika sambil tersenyum.
__ADS_1