Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-212


__ADS_3

Mendengar perkataan pria botak itu, keempatnya langsung siaga. Xika mengeluarkan Space Shifter dan mengubahnya menjadi tongkat dengan satu tangan, sementara tangan yang lain masih memeluk Xika tanpa dia sadari.


Sebenarnya Xingli agak malu, tapi ia berusaha tidak memikirkannya untuk saat ini. Gadis itu juga mengambil pedang dari pinggangnya. Kedua tangan Huo Bing memancarkan api dan es. Heiliao, di sekitar tubuhnya berpendar cahaya hitam.


Namun sepertinya pria botak itu tidak mempedulikan Xika dan lainnya sekalipun mereka sudah siap bertempur. Malah, ia tertawa dengan santainya melihat mereka berempat.


"Kalian cukup waspada ya......Tenang saja, aku tak berniat buruk. Kalian bisa bersikap santai."


Dalam hati Xika merasa kepala pria botak itu sama bermasalahnya dengan kepala Penatua Lan. Mana ada maling yang mau mengaku? Tidak mungkin mereka menurunkan kewaspadaan hanya karena sebuah kalimat.


Sama seperti pria botak itu tidak mempedulikan mereka yang bersiap bertarung, keempatnya juga tidak mempedulikan perkataan pria itu. Malah, Xika semakin waspada.


Melihat tak ada yang menurunkan kewaspadaan, pria botak itu kembali tertawa. Kemudian ia menoleh pada Penatua Yan dan Penatua Lan. Tanpa perlu bicara, kedua penatua itu tahu apa yang ada di pikiran si pria botak. Dua orang Pelindung Akademi Mu Zhan sebenarnya kalah oleh seorang murid. Kalau berita ini sampai tersebar......


Kedua Penatua itu hanya bisa menunduk malu. Si pria botak hanya tersenyum tipis. Kemudian ia kembali memandang mereka berempat. Ke arah Huo Bing lebih tepatnya.


"Kawan, kurasa kau telah memberi mereka berdua pelajaran. Bisakah kau melepaskan mereka kali ini?"


Penatua Yan dan Penatua Lan seketika mengangkat kepala mereka. Pandangan mereka dipenuhi protes. Sekalipun mereka memang kalah, mereka tidak mau mengakuinya. Kini bahkan pria itu meminta Huo Bing melepaskan mereka? Kalau mereka tidak protes, maka seluruh harga diri mereka akan hilang.


Tapi sebelum keduanya mampu bersuara, pria botak itu mengangkat tangannya meminta mereka diam. Keduanya terlihat tidak mau, tapi tidak memiliki pilihan lain.


"Lagipula," ucap pria itu, "aku punya beberapa hal yang ingin kubicarakan."


"Yah, kami tidak. Jadi kalau tidak keberatan, kami permisi sekarang." Huo Bing menjawab. Ia merentangkan sayapnya dan bersiap pergi. Begitu pula dengan Xika dan Heiliao. Xika menduga pria itu akan memaksa mereka tetap tinggal, tapi ternyata yang keluar dari mulutnya hanyalah ajakan semata.


"Kawan, ini benar-benar penting. Tidak bisakah kau meluangkan waktumu sebentar? Aku berjanji tak akan menyakiti kalian."


Masalahnya, di dunia ini yang paling tidak bisa dipercaya adalah janji manusia. Apalagi bila janji itu keluar dari mulut seorang pria botak yang muncul entah darimana dan terlihat mencurigakan.


Huo Bing hendak menolak lagi, tapi pria botak itu kembali bicara.


"Aku yakin Nona Yin dapat menjamin perkataanku."


Xika menoleh pada Xingli dan ia langsung tahu bahwa Xingli juga pernah bicara pada pria botak itu. Huo Bing dan Heiliao tidak bisa membaca tatapan Xingli seperti Xika, jadi mereka menatap Xika. Dengan berat hati Xika mengangguk.


Pria botak itu tersenyum lebar melihat anggukan Xika, berbeda terbalik dengan wajah Huo Bing dan Heiliao yang sesuram kuburan.


"Jadi? Sepertinya kalian berubah pikiran." Pria tua itu melambaikan tangannya dan sebuah pilar cahaya muncul di hadapan mereka. "Masuklah. Disini tidak nyaman untuk berbicara."


Selesai bicara, pria tua itu menoleh pada kedua Penatua.


"Kembali dan pulihkan diri kalian."


Keduanya memberi hormat sebelum melesat menghilang. Pria botak itu berbalik menunggu mereka masuk.


Heiliao menatap tajam pada pilar cahaya itu. Meskipun terbuat dari cahaya, tapi ia bisa merasakan elemen ruang dari pilar itu. Ia berbicara pada Huo Bing dan Xika di kepala masing-masing.


'Pilar itu akan membawa kita ke tempat lain. Tapi aku masih bisa menjaga kalian. Berhati-hatilah. Sulit menemukan kultivator cahaya di tempat seperti ini. Keberadaan dirinya membuktikan bahwa akademi ini bukan akademi biasa.'


Secara tidak langsung Heiliao mengatakan bahwa pria botak di hadapan mereka adalah kultivator yang menguasai elemen cahaya. Xika pernah mendengar tentang elemen cahaya, tapi tak pernah melihat kultivator yang menguasainya.

__ADS_1


Heiliao yang pertama masuk ke pilar itu. Ia sengaja begitu agar bisa berjaga-jaga bila ada yang terjadi. Xika bersama Xingli berikutnya. Terakhir, barulah Huo Bing.


Huo Bing memberi tatapan tajam pada pria botak itu sebelum memasuki pilar cahaya.


ZZAP!


Setelah mereka semua masuk, pilar tersebut menghilang. Hanya menyisakan si pria botak di atas langit sendirian. Ekspresinya tak terbaca. Dan perlahan-lahan, tubuhnya terpecah hingga menjadi partikel cahaya yang terbang terbawa angin.


------------------------------------------


Mereka muncul di sebuah tempat yang terlihat seperti ruang tamu. Di sana ada sebuah rak buku, meja dengan perkamen dan penanya, lalu ada juga beberapa sofa dengan meja bundar di tengahnya.


Dari jendela, cahaya yang masuk berkumpul membentuk tubuh seorang pria yang tak memiliki rambut. Kemudian pria itu tertawa dan berkata,


"Duduklah, buat dirimu nyaman."


Dengan penuh kewaspadaan mereka duduk, kecuali Xingli. Xingli tampaknya sudah pernah ke tempat ini dan tahu tidak ada jebakan, jadi ia terlihat tenang. Atau mungkin Xingli juga waspada hanya saja ia tidak menunjukannya. Yang mana yang benar, Xika tidak tahu.


Pria botak itu melambaikan tangannya dan sebuah teko beserta beberapa gelas melayang mendekat.


"Teh?" tawarnya ramah.


"Tidak perlu basa-basi. Katakan saja apa yang ingin kau katakan." Huo Bing tidak tertarik dengan keramah-tamahan yang pria itu tunjukkan.


Tapi pria itu tetap menuangkan teh dan letakannya di meja bundar.


"Tidak perlu terburu-buru."


"Pertama-tama, aku ingin meminta maaf pada kalian mewakili kedua pelindungku tadi. Mereka punya alasan sendiri bertindak seperti itu. Tapi tetap saja," pria botak itu menatap Huo Bing, "kurasa kau sudah memberi mereka pelajaran, jadi kupikir mungkin kita bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini disini."


"Aku tidak peduli dengan mereka. Aku akan menghajar mereka kalau mereka macam-macam lagi."


Pria tua itu tertawa mendengar perkataan Huo Bing, tapi Xika tak merasakan adanya ejekan dalam tawa itu. Apa ia benar-benar tidak peduli dengan kedua penatua itu?


"Itu saja yang ingin kaubicarakan?"


"Temanku, kau sangat terburu-buru. Aku masih punya hal lain untuk dibicarakan. Tapi setidaknya aku lega kau tidak membawa masalah tadi lebih lanjut."


Xika mengangkat tangan. "Apa hal yang ingin kau bicarakan itu terkait dengan murid yang kau utus untuk mengawasi kami?"


Pria botak itu mengangkat kepalanya dan Xika bisa merasakan perasaan bersalah yang terpancar dari pria itu.


"Padahal tidak perlu sampai sebegitunya," ia bergumam.


"Maaf?"


"Aku minta maaf akan hal itu. Kami punya alasan sendiri untuk itu. Begini, apa kalian tahu di Ibukota ini terdapat berbagai kekuatan, besar atau kecil?"


"Kurang lebih." Xika menjawab seadanya. Pria itu cukup terkejut melihat Xika yang menjawabnya. Xika, Heiliao, dan Huo Bing jelas terlihat sebagai teman. Tapi biasanya di antara teman sekalipun ada yang lebih dominan dan bertindak sebagai ketuanya.


Pria itu mengira Huo Binglah ketuanya. Menurutnya, Heiliao tidak terlalu cocok menjadi ketua dinilai dari penampilannya, sementara Xika, yah, dia terlalu muda. Tapi pria itu tidak tahu bahwa Huo Bing dan Heiliao sudah menyerahkan hampir seluruh keputusan pada Xika. Mereka ingin membuat Xika berkembang.

__ADS_1


"Di antara kekuatan yang ada di Ibukota ini, aku tidak bisa mengatakan bahwa Akademi kami adalah yang terkuat, tapi kami memiliki perpustakaan terbaik. Dengan kata lain dalam hal teknik dan pengetahuan, kamilah yang terdepan.


Saat ini banyak kekuatan besar yang mulai berusaha menyusup untuk mencuri teknik kami. Sejujurnya, akademi ini awalnya dibangun untuk orang-orang yang lemah. Jadi kami cukup curiga bila ada seorang murid yang cukup berbeda dengan lainnya.


Karena itulah kami meminta orang untuk mengawasi kalian. Meskipun aku tidak bermaksud mengawasi sedetail itu sampai mengirim seorang murid. Aku harap kalian maklum.


Selain itu, saat ini bukan hanya ada seorang murid yang menonjol, melainkan tiga orang. Mau tidak mau, kami diliputi perasaan cemas dan khawatir."


Pria itu menatap mereka dan tak ada seorangpun yang bicara.


"Jadi mumpung kalian sudah ada di sini, sekalian saja kutanyakan, siapa kalian? Apa tujuan kalian?"


SSSSS!!!!!


Mendadak pria itu terlihat bersinar. Atau ia memang bersinar. Selain itu, dia juga mengeluarkan aura pekat yang menekan mereka. Meskipun pria itu bilang tak akan menyakiti, tapi Xika ragu ia akan berdiam diri seandainya Xika dan yang lainnya menunjukkan niat buruk.


DRRPPP!!!!


Heiliao yang pertama berdiri. Tubuhnya memancarkan aura ruang yang kuat.


KRTT!!!


BLAR!!!


Huo Bing berikutnya. Api yang membara dengan es yang membeku bercampur menjadi satu di tubuh Huo Bing.


TRKK!!!


Xingli juga ikut berdiri. Bisa dibilang saat ini mereka berada di kapal yang sama jadi ia tak akan diam saja. Hawa beku yang dingin seperti milik Huo Bing juga mengitari gadis itu.


Xika yang terakhir berdiri. Tubuhnya mengeluarkan berbagai macam aura dan warna hingga sulit menentukan elemen apa yang sebenarnya ia kuasai. Tatapannya tidak gentar sama sekali melihat pria botak itu. Ia belum pernah merasakan aura pria itu, jadi Xika agak khawatir. Kemudian ia menyadari aura pria itu sama seperti yang pernah Huo Bing sebutkan padanya dulu. Aura seorang raja.


"Kalau kami memang mata-mata dari kekuatan lain, apa kau pikir kami akan mengaku?" tanya Xika.


"Tidak. Tapi kupikir aku dapat membuat kalian menunjukkan dari mana kalian berasal. Hanya satu teknik atau aura saja sudah cukup. Tapi......." Pria itu mengerutkan keningnya.


"Kau tak mengenali aura kami, jadi kau bingung dari mana kami berasal, bukan?" Xika tersenyum.


"Tepat sekali. Aku bahkan sudah menyelidiki latar belakang kalian tapi sayangnya semua nihil. Jadi satu-satunya pilihan yang tersisa adalah bertanya pada kalian langsung."


Senyum Xika semakin lebar meskipun sakitnya terasa perih. Tentu saja pria itu tak bisa mengetahui latar belakangnya karena tak ada orang yang masih hidup yang mengetahui latar belakangnya. Kecuali pamannya dan seorang bajingan.


"Menjawab pertanyaanmu, aku adalah Xika. Dan tujuanku kemari hanyalah untuk menjadi kuat." Xika maju selangkah hingga berhadapan dengan pria itu.


Mereka saling bertatapan selama beberapa saat sebelum Xika menarik auranya kembali. Senyum di wajahnya masih belum menghilang. Pria itu juga menarik auranya beberapa saat setelah Xika menarik auranya, diikuti oleh yang lain.


"Yah, sudah kuduga. Kalian memang bukan berasal dari kekuatan besar. Setidaknya bukan dari Dinasti Lin."


"Jadi, kurasa pembicaraan kita sudah selesai? Selamat tinggal."


"Tunggu!"

__ADS_1


__ADS_2