
WHUSH!
SRAK!
Ketika mendengar teriakan Yun Xingzhao, Xika langsung mendatangkan angin kencang yang menerbangkan serbuk es yang sebelumnya telah disiapkan oleh Liang Jihua.
Angin kencang yang datang bersamaan dengan serbuk es itu berhasil membuat Elder Xu menutup matanya selama beberapa detik. Tapi itu sudah cukup. Ketika Elder Xu membuka matanya, tampaklah Yun Xingzhao yang tubuhnya telah tertutupi lapisan keras dan diselimuti api.
Elder Xu hanya sempat mengangkat kedua tangannya sebelum pukulan Yun Xingzhao menghantamnya.
BUK!
Ucapan Xika benar. Yun Xingzhao dalam kondisi seperti itu sudah cukup seimbang dengan tubuh kuat Elder Xu. Buktinya saat ini Elder Xu tengah terhempas belasan meter akibat pukulan Yun Xingzhao.
BRAK!
Elder Xu menapakkan kedua kakinya ke tanah untuk menahan dampak dari pukulan Yun Xingzhao. Tapi setelah itupun ia masih mundur beberapa meter. Sang pria tua menurunkan kedua lengannya dan memperlihatkan seringainya yang berhasil membuat Yun Xingzhao bergidik.
"Bocah, kau lumayan juga. Tapi-"
SYUT!
Sebelum Elder Xu menyelesaikan ucapannya, sebuah duri dari bayangan muncul dan mengincar perutnya. Cepat-cepat Elder Xu menghindar sambil berteriak.
"Anak nakal! Dasar tidak tahu sopan santun! Dengarkan aku bicara dulu sampai selesai baru menyerang!"
"Maaf, Elder. Tapi tadi Elder sendiri yang bilang bahwa kami tak perlu terlalu sopan pada Elder. Kalau kami tidak jadi dikeluarkan, maka kali berikutnya kami bertemu, kami pasti akan bertindak sopan." ucap Xika sambil menutup telapak tangannya.
BLAR!
Lima mili di atas pundak kanan Elder Xu, meledaklah angin. Untungnya Elder Xu memiliki refleks yang cepat dan berhasil memiringkan kepalanya. Tapi ledakan itu berhasil melukai bahunya dan membuat bentuk janggutnya tidak sempurna.
"Bocah-"
WHUK!
DUAK!
Yun Xingzhao dengan sigap melayangkan tinjunya sebelum Elder Xu kembali mengomel. Lagi-lagi Elder Xu hanya bisa bertahan. Tapi kali ini ia tidak terhempas belasan meter melainkan hanya tenggelam di tanah sebanyak lima sentimeter.
Tatapan di mata Elder Xu berubah. Ia tak lagi memiliki tatapan dan sikap santai seperti sebelumnya. Tampaknya ia marah karena diserang terus-menerus sebelum menyelesaikan ucapannya. Ia mengepalkan kedua lengannya erat-erat dan otot-otot di tubuhnya mulai membesar hingga merobek bajunya dan memperlihatkan bagian atas tubuhnya yang tak tertutupi.
"Ih." Sebuah komentar yang berhasil menyimpulkan bagaimana penampilan Elder Xu dikeluarkan oleh Liang Jihua.
"Saudara Yun, hati-hat-"
BUAK!
Belum selesai Xika bicara, Elder Xu telah melesat dan melayangkan tinjunya menuju perut Yun Xingzhao. Sayangnya, sekalipun posisi mereka terbalik, tapi Yun Xingzhao tidak dapat menahan tinju Elder Xu. Alhasil, ia melayang belasan meter sampai menghancurkan beberapa pohon.
Xika yang melihat Yun Xingzhao hanya bisa berharap dalam hati bahwa ia tak apa-apa. Sebelumnya, Xika memang mengatakan bahwa Yun Xingzhao-lah kunci dari strategi kali ini. Yah, sebenarnya tidak juga. Xika bisa saja menggantikan tempat Yun Xingzhao karena ia sendiri memiliki tubuh yang cukup kuat juga.
Hanya saja, ia tak ingin mengungkapkan kekuatannya sedini ini. Mengenai Yun Xingzhao, Xika bukannya memaksa pria penjual itu untuk menunjukkan kekuatannya, namun Xika memang sudah mengetahui tekniknya yang satu itu. Ia hanya berimprovisasi sedikit.
Jadi, dalam hati Xika berharap tubuh meteor Yun Xingzhao dapat menahan pukulan Elder Xu atau ia harus menunjukkan kemampuannya. Bagaimanapun juga, lebih baik ia mengungkapkan kekuatannya daripada dikeluarkan dari babak ini. Hanya saja, ia ingin menutupinya selama mungkin kalau bisa.
"Heh. Bagaimana rasanya? Diserang ketika kau belum selesai bicara?" Elder Xu terkekeh puas.
Srak!
Dari balik pepohonan yang hancur, berdirilah sosok Yun Xingzhao masih dengan tubuh meteornya. Xika tak tahu apakah Yun Xingzhao memang baik-baik saja atau tubuh meteornya menyembunyikan luka yang didapat. Tapi Yun Xingzhao tidak mengatakan apa-apa.
Ia berjalan maju secara perlahan. Setelah jaraknya cukup dekat dengan Xika, ia bicara.
"Saudara Xing, aku harus berterima kasih padamu karena telah memberiku ide yang luar biasa untuk menggunakan teknik ini." Kemudian, ia berbalik dan menatap Elder Xu. "Nah, ayo kita lanjutkan!"
"Heh. Bocah, aku suka tekadmu. Maju sini!" Elder Xu menggerak-gerakkan jari telunjukanya meminta Yun Xingzhao datang.
SYUSH!
__ADS_1
Tanpa berbasa-basi, Yun Xingzhao langsung melesat. Dalam sekejap, keduanya kembali bertukar pukulan. Saking keras dan cepatnya pukulan masing-masing, Li Tang dan Liang Jihua jadi tidak bisa memberikan serangan bantuan. Mereka takut serangan yang mereka berikan malah salah sasaran dan mengenai Yun Xingzhao alih-alih Elder Xu.
Xika, yang berhasil melihat pertarungan lebih jelas, mengetahui bahwa sebenarnya Yun Xingzhao kalah cepat dibandingkan Elder Xu. Mungkin ia memiliki kekuatan yang setara, tapi dalam hal kecepatan ia kalah. Ketika Yun Xingzhao baru melayangkan satu pukulan, Elder Xu sudah melayangkan dua pukulan dan sedang bersiap melayangkan pukulan yang ketiga.
Selain itu, Elder Xu memiliki pengalaman bertarung yang lebih banyak dibanding Yun Xingzhao. Jadi ia berhasil menghindari pukulan Yun Xingzhao dan memberikan pukulan sementara Yun Xingzhao, tidak berhasil memberikan pukulan juga tidak berhasil menghindari serangan Elder Xu.
Kalau seperti ini terus, bisa-bisa kita kalah, batin Xika dalam hati dengan kening yang berkerut.
Beberapa saat setelah Xika membatin, Yun Xingzhao berhasil dihempaskan oleh Elder Xu. Ia kembali menabrak beberapa pohon sebelum berhenti.
"Nak, kau mungkin memiliki kekuatan yang sama denganku tapi kau masih kurang dalam hal pengalaman."
"Mengenai itu," Xika melangkah maju dengan senyum di wajahnya sementara tangannya seolah mencengkram sesuatu.
"Akan kami tutupi dengan jumlah." Li Tang menyambung ucapan Xika sambil mengeluarkan duri dari bawah tanah.
Dengan mudah, Elder Xu menghindari serangan Li Tang. Ia tersenyum mengejek. "Heh, hanya itu yang kalian punya dan masih berharap mengalahkanku?"
SYUK!
Di sekitar kepala Elder Xu, sembilan butir serbuk es berubah menjadi duri yang tajam yang menusuk Elder Xu.
"Tepat." Liang Jihua memberikan senyum yang jarang terlihat.
Elder Xu berhasil menghalau lima duri es, sementara sisanya berhasill menusuk punggung dan bahunya menyebabkan darah membasahi pakaiannya. Sambil mengernyit sakit, sang pria tua mencabut duri es yang menancap dan langsung menghancurkannya.
"Baiklah. Kurasa sudah saatnya mengakhiri permainan ini!"
Set! Set!
Dari bawah, melajulah bayangan hingga membelit kaki Elder Xu. Tapi sang pria tua hanya mendengus, ia merobek paksa bayangan Li Tang dengan kakinya kemudian terus melangkah seolah tak ada apapun. Li Tang berdecak kesal melihat tekniknya dapat hancur semudah itu. Tapi ia kembali siap karena Elder Xu sudah mendekat.
Di sisi mereka, Yun Xingzhao juga sudah kembali siap bertarung sekalipun darah masih menetes dari sudut bibirnya. Setelah bertatapan selama beberapa saat, Yun Xingzhao kembali bertarung dengan Elder Xu. Namun kali ini, Elder Xu tak akan memegang keuntungan seperti tadi.
Ketika Elder Xu melayangkan pukulannya, ia terkejut pukulan Yun Xingzhao berhasil mencapai wajahnya lebih dahulu. Saat pukulan berikutnya datang, Elder Xu memilih untuk menghindar sebelum memberikan serangan balasan. Sayangnya, itu adalah pilihan yang salah.
DUAK!
BUK!
Beberapa pukulan berikutnya berhasil menyadarkan Elder Xu. Bukan Yun Xingzhao yang bertambah cepat, melainkan ia yang bertambah lambat. Setelah dipikir-pikir, seluruh tubuhnya terasa berat sejak ia terkena duri es Liang Jihua. Tunggu. Bukan, bukan itu. Sebelumnya.
Tubuhnya terasa memberat ketika Xika bicara. Kalau tidak salah, tangan anak itu seolah sedang mencengkram sesuatu. Elder Xu menoleh dan melihat tangan Xika masih di posisi yang sama. Xika yang menyadari hal itu hanya tersenyum tanpa berkata apapun.
"Dasar bocah-"
DUAK!
Tapi tentu saja Yun Xingzhao tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka lebar. Sebelumnya, ia telah dipukuli berkali-kali tanpa bisa membalas. Kali ini gilirannya untuk balas dendam.
Melihat Yun Xingzhao yang berhasil melayangkan pukulan yang bertubi-tubi ke Elder Xu, Li Tang dan Liang Jihua tidak tinggal diam. Mereka memberikan serangan terus menerus pada Elder Xu. Sekarang, setelah tempo pertempuran melambat, mereka dapat memberikan serangan dengan tepat tanpa harus takut salah sasaran.
Xika lebih memilih fokus saja menahan pergerakan Elder Xu daripada ikut memberikan serangan lain. Lagipula, kalau Elder Xu berhasil bebas, maka keadaan akan kembali kacau. Pertempuran saat ini sedang dikuasai oleh mereka. Elder Xu kesulitan bergerak sehingga hanya bisa menangkis serangan seadanya.
Tapi meskipun begitu, ia berhasil melindungi titik vitalnya. Sekalipun pergerakannya telah ditekan, tapi Elder Xu masih bisa menangkap semua serangan. Ketika Li Tang, Liang Jihua dan Yun Xingzhao memberikan serangan secara bersamaan, ia tidak panik dan berusaha menahan semua serangan.
Ia hanya menahan serangan yang paling berbahaya dan membiarkan sisanya. Itulah sebabnya ia masih bisa berdiri sekalipun telah digempur habis-habisan seperti ini.
WHUSH!
Mendadak Xika merasakan firasat buruk. Awalnya ia mengira ada seorang elder lagi yang datang, tapi setelah menengok beberapa kali, ia menyadari ia salah. Firasat buruknya berasal dari Elder Xu. Xika menyipit menatap pria tua itu.
Normalnya, setelah dihajar habis-habisan seperti ini, seseorang akan kehilangan daya semangatnya dan mulai menyerah. Tapi sebaliknya, daripada keputusasaan, Xika malah menangkap semangat juang yang semakin kuat di mata Elder Xu. Kemudian barulah ia menyadari apa yang membuatnya merasakan firasat buruk.
Aura Elder Xu mulai meningkat secara drastis. Li Tang dan lainnya tampaknya tidak menyadari hal ini karena terlalu senang berhasil menyerang Elder Xu. Mungkin mereka mengira Elder Xu akan tumbang tidak lama lagi setelah mereka terus memberinya serangan seperti ini.
Sayangnya mereka salah. Elder Xu tengah merencanakan sesuatu yang kalau tidak berhasil mereka cegah maka bisa-bisa mereka dalam bahaya. Dan hanya Xika yang tahu Elder Xu tengah merencanakan sesuatu. Jadi ia harus membuat strategi secepatnya sebelum Elder Xu menjalankan rencananya.
Xika berpikir keras selama beberapa saat mencoba menebak apa yang direncanakan Elder Xu. Kalau ia masih berniat bertarung meskipun sudah sejauh ini, artinya Elder Xu masih memiliki sesuatu . Sesuatu yang mampu membalikkan keadaan. Mungkin teknik atau.......
__ADS_1
Oh tidak. Xika kini menyadari apa rencana Elder Xu.
Sesuatu yang mampu membalikkan keadaan? Mudah saja. Bila Elder Xu berhasil membuat Xika tak menahan pergerakannya lagi, maka ia bisa membalikkan keadaan dengan mudah. Sebelumnya juga begitu. Xika berhasil membalikkan keadaan hanya karena ia berhasil menahan pergerakan Elder Xu.
Qi padat yang mulai berkumpul di seluruh tubuh Elder Xu membuat Xika menyadari rencananya. Elder Xu berniat mengumpulkan qi sebanyak-banyaknya kemudian meledakkan qi itu hingga mengenyahkan angin yang menahan tubuhnya selama ini. Rupanya ia sadar bahwa Xika menahan pergerakannya menggunakan angin. Dan ledakan qi yang direncanakannya pasti cukup besar hingga mampu mengenyahkan angin yang menahannya.
Sekarang, setelah Xika mengetahui rencana Elder Xu, ia malah semakin bingung. Apa yang harus ia lakukan? Dilihat dari qi yang terkumpul dalam tubuh Elder Xu saat ini, ia hanya punya beberapa menit lagi sebelum Elder Xu selesai mengumpulkan qi dan meledakkannya.
Pada saat itu, ledakan yang terjadi bukan hanya mengenyahkan angin Xika, tapi juga akan berhasil melukai Li Tang, Liang Jihua, dan terutama Yun Xingzhao yang berjarak paling dekat dengannya.
Pikir, Xika. Pikir! Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia sanggup menahan ledakan qi Elder Xu? Apa yang harus ia lakukan untuk menahannya? Tunggu. Ledakan? Benar juga. Ia tidak perlu menahannya. Ia hanya perlu menggagalkan Elder Xu meledakan qinya alih-alih menahan ledakan qinya.
Setelah itu, Xika terus berpikir. Langkah pertama, gagalkan ledakkan Elder Xu. Beres, ia mampu melakukannya. Tapi setelah itu apa? Meskipun normal bila mengasumsikan bahwa Elder Xu akan kehabisan qi dan energi hingga ia tak akan menjadi ancaman lagi, tapi Xika menolak untuk berpikir seperti itu.
Kalau ia hanya membuat satu rencana tanpa menyiapkan rencana cadangan, suatu saat ia akan mati.
Sambil berpikir, Xika mengamati pertempuran di depannya. Lebih tepatnya, serangan-serangan yang diluncurkan oleh Li Tang, Liang Jihua, dan Yun Xingzhao.
"Kalian berdua, mendekatlah kemari."
Li Tang menatap Xika dengan heran sementara Liang Jihua mendecakkan lidahnya kesal tapi keduanya tetap mendekati Xika.
"Ada apa? Kau tak lihat pergerakan pak tua itu yang semakin lambat? Sedikit lagi kita akan berhasil menumbangkan pak tua itu. Aku akan membunuhmu kalau kau menghancurkan konsentrasiku dan pak tua itu berhasil membalikkan keadaan!"
"Pergerakannya melambat bukan karena ia kelelahan atau sudah menyerah, tapi karena ia sedang merencanakan serangan berikutnya yang akan membalikkan keadaan kalau kita tidak berhasil mencegahnya."
Tatapan Li Tang dipenuhi keterkejutan sementara Liang Jihua menatap Xika tak percaya. Tapi mengingat rencana Xika yang terbilang cukup berhasil sebelumnya, keduanya tak mengatakan apa-apa dan tetap diam mendengarkan.
Dan Xikapun mulai menjelaskan rencananya. Sesekali ia menoleh melihat Elder Xu untuk mengecek berapa lama lagi waktu yang ia alami sebelum Elder Xu selesai mengumpulkan qi.
"Nona Liang, aku perlu memintamu untuk melakukan dua hal di waktu yang berdekatan. Apakah kau mampu melakukannya?"
Liang Jihua memasang tampang cemberut tapi tidak langsung menolak. "Katakan padaku."
"Setelah aku menggagalkan ledakan qi Elder Xu, bisakah kau membuat es untuk menahan pergerakan Elder Xu?"
"Es tidak akan mempan padanya. Pria tua itu pasti akan menghancurkannya paling lama empat detik."
"Karena itulah aku ingin kau bekerja sama dengan Saudara Li. Pertama-tama, Saudara Li akan mengikat kaki Elder Xu dengan bayangannya." Xika menoleh untuk menanyakan kesediaan dan kesanggupan Li Tang yang dibalas dengan anggukan. "Setelah itu aku ingin Nona Liang membekukan kakinya. Harusnya itu bisa menahannya lebih lama."
Setelah berpikir dengan kening berkerut selama beberapa saat, Liang Jihua mengangguk.
"Setelahnya, ada satu lagi yang aku ingin kau lakukan. Serbuk esmu yang masih bertebaran, bisakah kau mengumpulkannya dan menjadikannya satu serangan terakhir? Atau mungkin menempelkannya di seluruh tubuh Elder Xu kemudian mengubahnya menjadi duri pada saat yang bersamaan? Aku yakin itu pasti akan menyakitkan."
Liang Jihua kembali mengangguk.
"Bagus. Tolong diingat, bahwa kau harus melakukan keduanya dalam jeda waktu yang singkat. Tetap jaga fokusmu, jangan sampai terlambat atau terlalu cepat. Terakhir, adalah bagiannya Saudara Yun."
"Bagaimana kau akan menyampaikan rencanamu? Haruskah aku bertukar tempat dengannya lagi?" tanya Li Tang penasaran.
Namun Xika menggeleng. "Tidak perlu. Kali ini aku punya rencanaku sendiri."
Setelah itu, Xika menatap Yun Xingzhao. Mulutnya bergerak-gerak, namun Li Tang dan Liang Jihua tak mampu mendengar suara apapun yang keluar dari mulut Xika.
Sementara itu, Yun Xingzhao yang masih melayangkan pukulannya, mendadak mendengar suara di telinganya. Ia menoleh, namun tak ada siapapun di sampingnya. Ia hanya bisa menebak-nebak pemilik suara itu berdasarkan ingatannya terhadap suara tiap finalis.
'Saudara Yun, kalau kau percaya padaku tolong tahan pukulanmu. Kurangi pemakaian qimu. Beberapa saat lagi, akan ada ledakan besar. Aku ingin kau menahannya sebisa mungkin menggunakan qimu. Kemudian, setelah ledakan, Saudara Li dan Nona Liang akan menahan kaki Elder Xu.'
'Nona Liang juga akan memberikan serangan terakhir untuk menghabisi Elder Xu, tapi sekedar untuk berjaga-jaga, aku ingin kau menyerang Elder Xu dengan seluruh qimu yang tersisa setelah serangan terakhir Nona Liang selesai. Aku tahu ini cukup berisiko, menggunakan seluruh qi ketika kami masih memiliki qi yang tersisa, yang mungkin bisa digunakan untuk menghabisimu.'
'Tolong anggukkan kepalamu bila kau setuju dengan langkah terakhir. Kalau kau tidak setuju, gelengkan saja kepalamu. Aku akan membuat rencana baru-oh, maaf. Perubahan rencana. Karena waktunya tidak cukup, kalau kau tidak setuju maka kita hanya bisa berharap bahwa Elder Xu sudah tumbang dengan serangan terakhir Nona Liang.'
Sekalipun bingung bagaimana suara Xika bisa sampai di telinganya, Yun Xingzhao tetap mempercayai Xika, jadi ia menganggukan kepalanya.
Kemudian beberapa saat setelah Yun Xingzhao mengangguk, terdengarlah teriakan Xika.
"Bersiaplah!"
BLARRRR!
__ADS_1