Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-80


__ADS_3

"Heiliao?"


"Serigala gosong? Kenapa kau bisa ada disini?"


"Yah, aku sudah memilih Xika jadi aku sudah memiliki ikatan dengannya. Ditambah, Xika berperan besar dalam pengulangan hidupku. Aku masuk ke tubuhnya dulu baru keluar dalam bentuk telur kemudian menetas."


Ketiga mahkluk itu mulai mengobrol. Bahkan sesekali mereka bercanda. Sama sekali  melupakan ular yang sebelumnya membahayakan nyawa Xika.


Ular itu tampak kesal.


Beraninya mereka mengabaikanku. Akan kubuat mereka menyesal!


Setidaknya begitulah pikiran ular tua itu. Tapi begitu ia menggeliat sedikit, Huo Bing langsung menguatkan genggamannya sehingga ular itu tidak dapat bergerak.


"Oh, aku hampir lupa. Mau kita apakan cacing ini?"


"Benar juga. Kenapa kau menghentikanku membunuhnya tadi?"


Ular itu semakin kesal mendengar perkataan Xika dan Huo Bing yang menyatakan dengan jelas bahwa mereka benar-benar melupakan keberadaanya.


"Kau tidak boleh membunuhnya. Setidaknya tidak olehmu."


Huo Bing menaikkan sebelah alisnya.


"Apa maksudmu?"


"Begini, di salah satu tempat yang kukunjungi dahulu, aku pernah menemukan sebuah teknik yang cukup buruk. Yah, itu wajar mengingat tempat yang kukunjungi begitu penuh dengan aura negatif.


Dan teknik yang kutemukan itu berguna untuk meningkatkan jiwa kita dengan memakan jiwa mahkluk yang lain."


Heiliao berhenti untuk melihat ekspresi Huo Bing dengan Xika.


"Cukup kejam, aku tahu." katanya. "Tapi ini bisa digunakan olehmu Xika. Aku tidak keberatan bila kau mau juga Burung Setengah Matang."


"Tidak. Aku tidak akan menggunakan teknik kejam seperti itu." kata Huo Bing langsung menolak.


"Aku juga." tambah Xika.


"Pikirkan baik-baik. Teknik ini memang kejam, tapi bila digunakan dengan baik bisa mebawa manfaat yang cukup bagus."


Kemudian Heiliao melihat ular tua yang berada di cakar Huo Bing.


"Ditambah, kita menggunakannya untuk mahkluk seperti dia. Itu tidak buruk juga. Mahkluk sialan ini pantas dimakan jiwanya."


"TIDAK!"


Ular itu berteriak. Kemudian ia langsung mengubah sikapnya. Sebelumnya, meskipun ia berada di cakar Huo Bing, ia tetap memasang ekspresi sombong. Karena ia tahu sekalipun ia kalah, ia masih bisa hidup lagi bila ada mahkluk hidup lain yang datang ke formasinya.


Tapi kali ini ceritanya berbeda. Bila jiwanya dimakan maka sudah benar-benar tak ada harapan untuk bangkit lagi. Formasi yang ditinggalkannyapun akan menjadi tidak berguna setelah ia tidak lagi memiliki jiwa.


"Aduh, kakak-kakak sekalian.......jangan begitu kejam. Bukankah semuanya bisa diselesaikan dengan kata-kata? Aku tahu dimana kalian bisa mendapatkan benda berharga di makam ini. Bagaimana kalau kalian melepaskanku lalu aku akan mengantarkan kalian?"


"Hmph!"


Huo Bing mendengus sebagai tanggapan pada ular itu. Sementara Heiliao mengalihkan pandangannya dengan mata yang cukup malas.


Hanya Xika seorang yang kelihatannya cukup tertarik dengan harta berharga yang dibicarakan ular itu.


"Apa kau benar-benar tahu letak benda berharga itu?"


"Tentu saja." jawab ular itu sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ada berapa banyak?"


"Banyak. Cukup banyak. Benda-benda yang kumiliki dapat membuatmu menjadi ahli tak terkalahkan." ucap ular itu semakin bersemangat bicara karena Xika terlihat tertarik.


Huo Bing dan Heiliao langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ular penipu itu. Tapi tawa mereka tidak berhasil mematahkan harapan ular itu.


"Memangnya ada apa saja?"


"Ada berbagai macam barang. Ada pisau dan pedang yang cukup bagus. Senjata-senjata itu dapat membuatmu tak terkalahkan di alam yang sama."


"Oh. Lalu?" tanya Xika sambil mengangguk.


"Ada juga berbagai macam pil yang bisa menaikkan tingkat kultivasimu. Selain itu, ada juga berbagai tanaman berharga. Bahkan, aku menyimpan warisan dari burung. Bukankah kalian berada di kubu burung? Itu pasti bisa menjadi tambahan kekuatan untukmu."

__ADS_1


"Oh. Hanya itu saja?"


"E-eh?"


Ular itu cukup kaget melihat ekspresi Xika yang sebelumnya tertarik, kini menjadi membosankan.


"Hahhh........Ternyata hanya itu saja......."


"A-apa maksudmu?"


Xika melambaikan tangannya dan berbagai benda muncul.


Mulai dari artefak pedang, pil-pil yang ia kumpulkan sebelumnya sampai tanaman spiritual yang Huo Bing inginkan.


"Apakah ini benda-benda yang kau bicarakan?"


"Benar! Aku dapat mengantarmu!"


"Heh."


Xika tersenyum meremehkan.


"Kau tidak perlu mengantarku. Aku sudah memiliki semua benda-benda ini."


"............"


Ular itu membuka mulutnya tapi tidak mengeluarkan suara sama sekali. Ia terkejut melihat Xika mendapatkan berbagai barang berharga.


Kemudian ia teringat satu hal. Masih ada satu hal yang tidak Xika tunjukkan.


"Tu-tunggu! Bagaimana dengan warisan dari burung yang cukup kuat? Aku bisa mengantarmu kesana!"


"Hm? Warisan burung? Apa ini yang kau bicarakan?" tanya Xika sambil memperlihatkan punggungya yang bersayap.


Ular itu tidak menyadari sayap Xika karena ukurannya yang begitu kecil. Xika memang tidak terlalu memikirkan sayapnya sehingga bentuknya kecil.


"Ka-kau.........bagaimana kau bisa menyatu dengan sayap itu?" tanyanya tidak percaya.


"Entahlah. Aku juga penasaran."


"Ngomong-ngomong, apakah ular lain akan tahu tentang sayapku ini?"


"Emm..........aku tak tahu. Biasanya, ya. Tapi bila kau hendak menyerapnya, mungkin saja beda ceritanya."


"Begitu ya........kalau begitu mari kita coba."


Ular itu menunjukkan ekspresi ketakutan. Kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Ti-tidak. Jangan bunuh aku. Jangan serap jiwaku! Aku dapat memberikan informasi mengenai kaum ular. Aku dapat memberitahu kalian kelemahan mereka masing-masing. Aku dapat menjadi mata-mata kalian. Aku tahu tempat penyimpanan harta para ular, aku bisa memberitahunya pada kalian. Yang penting jangan serap jiwaku!"


Ular itu bicara sangat banyak kali ini. Sepertinya ia begitu mengkhawatirkan hidupnya. Tapi baik Xika, Huo Bing maupun Heiliao tidak peduli.


"Jadi Heiliao? Ajarkan aku teknik itu."


Heiliao mengangguk.


Kemudian gambar-gambar muncul di atas kepala Heiliao dengan ukuran yang cukup besar. Karena ini adalah alam jiwa Xika, maka mudah saja untuk mengajarkan teknik itu dari kepalanya.


Tulisan demi tulisan muncul. Xika dan Huo Bing cukup terkejut sekaligus kagum dengan teknik itu. Sementara ular tua itu memiliki eskpresi yang semakin memburuk seiring berjalannya waktu.


"Hmm.......Berdasarkan apa yang teknik ini katakan, aku dapat melihat ingatan dari jiwa yang kuserap. Cukup berguna, benar bukan, Huo Bing?"


"Ya. Itu cukup berguna. Dengan begini kita bisa mengetahui isi kepala ular ini."


"T-tidak! Aku bisa menjadi mata-mata kalian. Aku dapat membawa kalian masuk ke dalam sarang ular tanpa ketahuan. Kalian tidak akan bisa melakukan itu meskipun menyerap jiwaku."


"Hmm.......masuk akal." kata Xika sambil mengangguk.


Ekspresi ular itu menjadi cerah.


"Tapi aku tidak peduli."


Ekspresi ular itu kembali memburuk.


"Kalau begitu mari kita mulai."

__ADS_1


Xika membaca beberapa tulisan lagi, kemudian berdiri di depan ular tua yang dicengkram Huo Bing.


"Ah, Heiliao. Bukankah aku bisa menyerap ular ini juga dengan lubang hitammu?"


"Memang bisa. Tapi sepertinya tidak akan bisa mengetahui ingatan jiwa yang kau serap. Selain itu, bila kau menyerapnya dengan lubang hitamku, aku tidak tahu jiwa yang kau serap akan diubah menjadi energi jiwa juga atau hal lainnya."


"Begitu ya." Xika mengangguk.


Ia menoleh pada Huo Bing.


"Ah, kau lepaskan saja dia. Aku takut tidak sengaja menghisap jiwamu juga."


Huo Bing mengangguk meskipun ia agak ragu.


Setelah dilepas oleh Huo Bing, ular itu langsung melarikan diri. Ia berusaha pergi secepat mungkin dari alam jiwa Xika. Tapi Xika tidak tampak terganggu dengan hal itu.


"Pertama-tama............ikat jiwa yang akan diserap."


Karena ini alam jiwa Xika, ia dapat melakukan hal itu dengan mudah. Tali muncul dan mengikat ular itu kemudian menyeretnya ke dekat Xika. Ular itu berusaha keras untuk melawan. Ia bergerak ke sana sini untuk menyelamatkan hidupnya. Tapi bagi Heiliao dan Huo Bing, ia terlihat seperti cacing yang sedang menggeliat.


"Selanjutnya, buat gerbang segel di alam jiwa untuk menyerap jiwa."


Xika melihat ke tulisan di atas sebentar kemudian menoleh ke Huo Bing dan Heiliao.


"Teknik ini memintaku membuat gerbang segel. Tapi tidak ada contohnya dan aku tidak tahu bagaimana."


Heiliao dan Huo Bing berdiskusi sebentar. Mereka berdua juga sama-sama tidak tahu karena ini adalah teknik jahat yang jarang digunakan.


"Kami sudah berdiskusi tapi kami tidak tahu bagaimana caranya."


"Apa? Lalu apa yang harus kulakukan?"


"Tenang. Karena tidak disebutkan bagaimana rupa dan bentuk segel itu, maka kami setuju bahwa kau bisa membuat gerbangmu sendiri."


"Gerbangku sendiri?"


"Benar. Pertama-tama, bayangkan sebuah gerbang."


Xika menutup matanya kemudian sebuah gerbang seukuran dirinya muncul.


"Hmm, sepertinya itu cukup. Tapi untuk berjaga-jaga, bayangkan gerbang yang lebih besar."


Gerbang itu membesar.


"Belum, lebih besar lagi."


Gerbang itu kini berukuran dua kali ukuran pertamanya.


"Masih belum."


Gerbang itu kembali membesar. Tapi menurut Huo Bing itu masih belum cukup. Akhirnya setelah sepuluh kali 'belum cukup', Huo Bing akhirnya berhenti.


Kemudian mereka bertiga sama-sama memandangi gerbang yang dibayangkan Xika.


"Ehh.....sepertinya tidak seperti ini bentuk yang seharusnya." ucap Xika agak ragu melihat  gerbang yang ia bayangkan adalah gerbang kota.


"Tenang saja. Tidak ada salah dan benar dalam hal ini. Kalau kau tidak puas, kau bisa membayangkan gerbang lain yang lebih kau sukai."


Xika mengangguk. Kemudian gerbang itu berubah bentuk beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.


"Lebih terlihat seperti lingkaran sihir menurutku. Tapi tak apa kalau kau memang menyukainya."


Xika mengangguk. Kemudian ia membaca tulisan yang melayang-layang di atas kepalanya.


"Selanjutnya.........tambahkan kata-kata penyegelan pada gerbang yang sudah dibuat."


Xika berkonsentrasi dan gerbangnya yang mirip dengan lingkaran sihir mulai memiliki tulisan-tulisan dari berbagai macam bahasa yang terkait dengan penyegelan. Tulisan-tulisan itu menempel di gerbang Xika.


"Bagus!"


Xika kembali membaca tulisan-tulisan itu. Kini ia harus menarik jiwa itu mendekat.


Tali-tali yang mengikat ular itu bergerak mendekat.


Kemudian lingkaran sihir-gerbang buatan Xika mulai bersinar beserta tulisan-tulisan yang menempel di gerbangnya.

__ADS_1


__ADS_2